Kepemimpinan INFJ: Visi Intuitif dan Empati Strategis dalam Transformasi Pelayanan Kesehatan

 

Kepemimpinan INFJ: Visi Intuitif dan Empati Strategis dalam Transformasi Pelayanan Kesehatan

Nama : Shella Finurika

NIM   : 22.P1.0037

Konteks dan Latar Belakang Personal

Sebagai seorang individu dengan tipe kepribadian INFJ (Introverted, Intuitive, Feeling, Judging) atau lebih sering dikenal sebagai "Advokat" atau "Penasihat,"  memiliki inti kepemimpinan yang bermula dari kombinasi unik antara intuisi yang mendalam dan empati yang kuat. Karakteristik ini membentuk fondasi untuk pendekatan kepemimpinan yang berorientasi pada visi jangka panjang dan dampak kemanusiaan.


Kepribadian INFJ memiliki visi intuitif (Ni atau Introverted Intuition) yang dominan. Sehingga dapat memungkinkan mereka untuk melihat pola, koneksi, dan implikasi jangka panjang dari suatu situasi dengan cepat. Seorang INFJ tidak hanya memiliki kemampuan untuk berpikir logis, tetapi mereka juga memiliki pemahaman yang mendalam tentang bagaimana segala sesuatu berhubungan, memengaruhi, dan menggambarkan masa depan. Kemampuan ini menjadi aset yang sangat berguna dalam merumuskan visi yang jelas dan komprehensif. Mereka sering kali merasa terdorong oleh tujuan yang lebih besar, melampaui kepentingan pribadinya untuk mewujudkan perubahan yang signifikan dan berkelanjutan.

Kemudian empati strategis (Fe atau Extraverted Feeling) pada INFJ dapat memunculkan empati yang mendalam dan kemampuan untuk memahami serta merespons kebutuhan emosional orang lain. Mereka adalah pendengar yang baik dan sering kali mampu menciptakan harmoni dalam tim, memfasilitasi kolaborasi antar anggota, dan memotivasi orang lain dengan pendekatan yang berpusat pada nilai-nilai kemanusiaan yang baik. Kombinasi anatara intuisi dan empati ini menjadikan INFJ pemimpin yang mampu melihat gambaran besar sambil tetap peka terhadap dinamika interpersonal dan kesejahteraan individu.

Selain itu, karakteristik menilai (J atau judging) memberikan kecenderungan untuk terorganisir, terstruktur, dan berorientasi pada penyelesaian. INFJ cenderung cermat dalam merencanakan, mengambil keputusan yang tegas, dan mendorong follow-through untuk mencapai tujuan. Meskipun seorang introvert, INFJ dapat menjadi komunikator yang persuasif dan inspiratif ketika menyampaikan visi yang mereka yakini sepenuhnya, terutama jika hal itu selaras dengan nilai-nilai inti mereka. Seorang INFJ memiliki tantangan potensial yaitu kecenderungan untuk mengambil terlalu banyak tanggung jawab, berjuang dengan kritik yang tidak konstruktif, atau mengalami burnout akibat terlalu fokus pada kebutuhan orang lain tanpa menjaga keseimbangan diri. Namun, dengan kesadaran diri, tantangan ini dapat diatasi untuk memaksimalkan potensi kepemimpinan mereka.

Lantas, bagaimana jika kepemimpinan bukan hanya tentang manajemen, melainkan tentang visi mendalam dan empati yang mengubah hidup?

Model Kepemimpinan yang Relevan


Karakteristik INFJ yang unik, kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan pelayan (Servant Leadership) adalah dua model yang dapat relevan dan selaras. Kedua model ini secara sinergis mendukung kekuatan inti INFJ dalam memimpin perubahan dan memberdayakan individu.



Kepemimpinan Transformasional berfokus pada menginspirasi dan memotivasi tim untuk mencapai tujuan yang melampaui kepentingan pribadi demi kebaikan organisasi yang lebih besar. Bagi seorang INFJ, model ini sangat relevan karena kemampuan intuisi (Ni) mereka untuk merumuskan visi yang jelas dan meyakinkan. Mereka dapat menjadi pengaruh ideal (idealized influence) yang inspiratif, karena integritas dan komitmen mereka terhadap nilai-nilai yang tinggi. Kemampuan mereka untuk memotivasi (inspirational motivation) datang dari cara mereka mengartikulasikan masa depan yang lebih baik. Selain itu, mereka memiliki kemampuan inspiratif untuk memotivasi karena dapat menyuarakan masa depan yang lebih baik. Stimulasi intelektual mereka bisa disertakan dari keinginan INFJ untuk melihat inovasi dan pemikiran out-of-the-box atau dari lingkungan di mana INFJ tersebut mendapat inspirasi atau informasi. Pertimbangan individual sangat selaras dengan empati INFJ, tetapi mereka punya ambisi uniknya sendiri seiring dengan memahami dan mendukung tim para termasuk INFJ.

Di sisi lain, kepemimpinan pelayan sangat resonan dengan nilai inti INFJ untuk melayani dan memberdayakan orang lain. Model ini menempatkan kebutuhan tim dan komunitas sebagai prioritas utama. Empati  tinggi yang dimiliki, seorang INFJ dapat mendengarkan secara baik dan aktif dalam memahami tantangan yang dihadapi tim. INFJ dapat melihat penyembuhan sebagai upaya menciptakan suasana yang mendukung untuk kesehatan mental dan emosional. Kemampuan bawaan mereka membantu mengidentifikasi kebutuhan yang tidak bisa secara langsung terucapkan dan merancang strategi untuk memengaruhi dan mendorong pertumbuhan pribadi seseorang tanpa menggunakan kekerasan. Keinginan INFJ untuk menumbuhkan keharmonisan dan memberikan dampak positif yang luar biasa tercermin dalam model ini, yang memungkinkan mereka untuk fokus pada perkembangan pribadi dan memungkinkan untuk menciptakan komunitas solid dan saling mendukung.

Memadukan kemampuan seorang INFJ untuk menginspirasi dan mengarahkan perubahan transformatif dengan pendekatan yang berpusat pada pelayanan dan pemberdayaan individu, mereka dapat menciptakan lingkungan yang sangat memberdayakan, inovatif, dan berorientasi pada hasil yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Bagaimana seorang 'Advokat' sejati memimpin transformasi di pusat pelayanan kesehatan?

 

Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)

Kegiatan Lintas Program Penanganan TB-HIV di Puskesmas X

Dalam peran kepemimpinan di Puskesmas X, seorang INFJ akan menerapkan kombinasi Kepemimpinan Transformasional dan Kepemimpinan Pelayan untuk menggerakkan kegiatan lintas program penanganan TB-HIV yang komprehensif. Visi mereka adalah mewujudkan Puskesmas X sebagai pusat terdepan dalam penanganan TB-HIV, dengan tim yang termotivasi dan kolaborasi lintas sektor yang kuat, berlandaskan empati dan data yang akurat.

Advokasi

Pada sisi advokasi yang dimiliki INFJ, seorang INFJ akan menerapkan kepemimpinan transformasional untuk beradvokasi dengan keyakinan mendalam, memanfaatkan visi intuitif mereka untuk menyampaikan urgensi dan dampak jangka panjang penanganan TB-HIV kepada pemangku kepentingan seperti pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan media. Mereka akan menyusun narasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga menyentuh emosi, sehingga mampu menginspirasi dukungan serta sumber daya yang krusial. Selain itu, dengan empati khas seorang INFJ, mereka akan memahami perspektif dan kekhawatiran berbagai pihak, yang pada gilirannya memungkinkan advokasi yang lebih persuasif dan kolaboratif, secara efektif menunjukkan bagaimana penanganan TB-HIV melayani kepentingan komunitas secara luas.

Penguatan Tim (Internal Puskesmas)

Di sisi penguatan suatu tim, seorang INFJ akan menerapkan kepemimpinan transformasional dengan berfokus pada pengembangan potensi setiap anggota tim Puskesmas, melihat melampaui peran mereka saat ini untuk mengidentifikasi bakat tersembunyi. Mereka juga akan mengizinkan dukungan dan pelatihan untuk disediakan, seperti konseling mendalam atau pembaruan dalam protokol TB-HIV, sambil memberikan contoh bagi tim untuk menginspirasi mereka dalam pekerjaan mereka dengan menegaskan bahwa sumbangan mereka dalam menyelamatkan nyawa dan meningkatkan kualitas hidup pasien adalah hal yang paling penting menciptakan bagian rencana yang lebih tinggi. Sebagai pemimpin yang berfungsi sebagai pelayan, mereka juga akan secara aktif mencari masukan dan keluhan dari anggota tim itu terkait dengan beban kerja atau hambatan dan memfasilitasi solusi. Ini akan membangun lingkungan di mana staf merasa dihargai, didengar, dan memiliki ruang untuk berinovasi tanpa takut salah, secara menyeluruh mendukung kesejahteraan tim.




Koordinasi Lintas Sektor

Seorang INFJ akan menerapkan kepemimpinan transformasional untuk membangun jembatan komunikasi dan kepercayaan dengan berbagai pihak seperti Dinas Kesehatan, LSM terkait TB-HIV, sekolah, tokoh agama, dan organisasi komunitas. Visi integratif mereka akan menginspirasi semua pihak untuk berkontribusi sesuai peran masing-masing, menciptakan sinergi yang efektif. Dengan pengalaman dalam memahami dinamika kelompok dan karenanya mampu memfasilitasi konsensus, sebagai pemimpin pelayan, INFJ juga akan memastikan bahwa jadwal pertemuan resmi dilakukan reguler dengan agenda yang jelas, dan catatan telah dibuat tentang argumen serta tindak lanjut yang dipilih dan dilakukan dengan baik untuk alasan kerjasama dan persoalan komunitas.

Kolaborasi Interprofesional

Sebagai seorang pemimpin pelayan, seorang INFJ juga akan memfasilitasi sebuah forum diskusi rutin di Puskesmas, tempat berbagai macam profesi dokter, perawat, bidan, ahli gizi, dan sanitariandan lain-lain dapat berdiskusi, berbagi kasus tantangan, bertukar pengalaman, serta merumuskan rencana penanganan pasien TB-HIV secara holistik. Untuk Institut tersebut, mereka akan memastikan tiap suara didengar dan tiap perspektif diapresiasi, membangun empati antarprofesi dan pemahaman bersama. Melalui perannya sebagai pemimpin transformasional, seorang INFJ juga akan menegakkan standarisasi alur kerja dan protokol kolaborasi yang jelas untuk mencegah adanya tumpang tindih atau celah pada pelayanan, serta menginspirasi tim untuk terus berpikir kreatif dan mendisiplinkan dalam menyusun berbagai cara inovatif pelayanan pasien terintegrasi yang berpusat pada pasien.

Monitoring dan Evaluasi


Peran transformasional, intuisi seorang INFJ akan sangat membantu dalam mengidentifikasi pola dan tren dari data monitoring, melampaui sekadar angka untuk memahami implikasinya terhadap visi jangka panjang. Mereka akan mengembangkan sistem monitoring yang detail, melacak indikator kunci seperti cakupan skrining TB pada pasien HIV, tingkat kepatuhan pengobatan, dan penurunan insiden kasus baru. Hasil evaluasi ini kemudian akan digunakan untuk merayakan keberhasilan dan memotivasi tim, sekaligus mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan demi mencapai visi yang lebih tinggi. Sejalan dengan peran pemimpin pelayan, mereka juga akan memastikan bahwa proses evaluasi mempertimbangkan dampak kemanusiaan dan kesejahteraan pasien. 

 



Tantangan dan peluang yang mungkin terjadi dan upaya antisipatif yang dilakukan di FKTP

Tantangan:

Kepemimpinan seorang INFJ dalam penanganan TB-HIV di FKTP bukannya tanpa hambatan atau tantangan. Salah satu tantangan utama adalah beban emosional yang signifikan; empati mendalam yang dimiliki INFJ sering kali membuat mereka merasakan beratnya cerita pasien, yang bisa memicu kewalahan emosional. Salah satunya dikarenakan penanganan TB-HIV secara langsung seringkali melibatkan cerita-cerita pasien yang berat, yang dapat memicu overwhelm emosional bagi seorang INFJ. Di sisi lain, meskipun seorang INFJ sangat menghargai harmoni, mereka juga bisa menghadapi resistensi terhadap perubahan dan konflik langsung dari anggota tim atau pihak lintas sektor seperti saat memperkenalkan dan pendekatan baru, sebuah situasi ono yang bisa jadi sangat sulit untuk INFJ hadapi. Selain itu, seorang INFJ yang idealisme dan berkeinginan kuat untuk membantu setiap orang dapat menyebabkan kecenderungan burnout karena mereka cenderung mengambil terlalu banyak tanggung jawab. Terakhir, keterbatasan sumber daya, baik finansial maupun sumber daya manusia seperti di FKTP, sehingga dapat menjadi kendala nyata yang menghambat implementasi dari visi idealis mereka.

Peluang:

Di balik setiap tantangan, pasti terdapat peluang signifikan yang dapat dimanfaatkan oleh seorang INFJ. Visi yang jelas dan dukungan empatik mereka mampu menghasilkan loyalitas dan komitmen tim yang baik, kemudian juga bisa memupuk lingkungan kerja yang positif dan produktif. Selain itu, kreativitas dan intuisi INFJ menjadi sumber solusi inovatif yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, seperti pengembangan program peer support yang unik atau kampanye edukasi yang lebih menyentuh hati masyarakat. Kemampuan mereka dalam membangun hubungan pribadi yang tulus dan memahami kebutuhan berbagai pihak juga membuka pintu bagi jaringan kolaborasi yang kuat dengan berbagai sektor. Terakhir, dengan kemampuan intuitif mereka untuk melihat gambaran besar dan sifat terorganisir, seorang INFJ dapat mendorong perbaikan program yang sistematis dan terukur, secara berkelanjutan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan kesehatan.

Upaya Antisipatif:

Untuk mengantisipasi tantangan, seorang INFJ perlu memprioritaskan manajemen diri dan self-care, seperti bermeditasi atau mencari dukungan terbaik darimanapun, sambil belajar mendelegasikan tugas demi mencegah burnout emosional. Mereka juga harus aktif mengembangkan keterampilan manajemen konflik, berlatih menghadapi dan menyelesaikan perbedaan secara konstruktif, serta mengasah kemampuan persuasif yang strategis tanpa mengorbankan nilai. Penting bagi mereka untuk fokus pada progress, bukan kesempurnaan, yaitu belajar menerima bahwa peningkatan adalah proses berkelanjutan dan apresiasi setiap langkah kecil. Terakhir, melalui pemberdayaan tim, seorang INFJ dapat memberikan otonomi dan tanggung jawab yang lebih besar kepada anggota tim, bahkan membangun champion program, sehingga kepemimpinan menjadi lebih terdistribusi dan berkelanjutan.

 

Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL)

Peningkatan Mutu: Keselamatan Pasien dan Petugas Kesehatan – Fokus pada Komunikasi Efektif

Di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL), seorang INFJ akan menerapkan model kepemimpinan transformasional dan pelayan untuk meningkatkan mutu, khususnya dalam aspek Komunikasi Efektif sebagai salah satu dari 6 Sasaran Keselamatan Pasien. Visi seorang INFJ adalah menciptakan budaya di FKTL di mana setiap interaksi komunikasi, baik antar-petugas maupun dengan pasien dan keluarga, berlangsung dengan jelas, akurat, dan tepat waktu, sehingga meminimalkan risiko kesalahan dan meningkatkan keselamatan secara holistik.

Visi dan Inspirasi (Transformasional):

Sebagai INFJ, mereka akan mengartikulasikan visi yang kuat tentang bagaimana komunikasi efektif adalah jantung dari keselamatan pasien, bukan hanya prosedur. Mereka akan menginspirasi staf dengan kisah nyata tentang bagaimana miskomunikasi dapat membahayakan dan bagaimana komunikasi yang tepat dapat menyelamatkan nyawa, menanamkan kesadaran akan pentingnya setiap kata dan informasi yang disampaikan.

Mereka akan mempromosikan nilai transparansi dan keterbukaan dalam komunikasi, mendorong staf untuk merasa aman dalam melaporkan insiden komunikasi atau mengajukan pertanyaan ketika ada keraguan, menciptakan budaya belajar dari kesalahan.

Pengembangan Keterampilan dan Pemberdayaan Staf (Pelayan):

Seorang INFJ akan mengidentifikasi kesenjangan dalam keterampilan komunikasi staf melalui observasi dan umpan balik, lalu memfasilitasi pelatihan yang komprehensif, seperti teknik SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation), closed-loop communication, atau read-back, disesuaikan dengan kebutuhan.


Sebagai pemimpin pelayan, mereka akan mendengarkan masukan dari staf mengenai hambatan komunikasi yang mereka hadapi dalam praktik sehari-hari (misalnya, sistem handover yang tidak efektif, alat komunikasi yang kurang memadai). Mereka akan bekerja untuk menghilangkan hambatan ini, memberikan sumber daya yang dibutuhkan, dan memberdayakan staf untuk menjadi agen perubahan dalam praktik komunikasi yang lebih baik.



Standarisasi dan Pemantauan (J-Komponen INFJ/Transformasional):

Fungsi Judging pada INFJ akan mendukung pengembangan dan implementasi standar prosedur operasional (SPO) yang jelas untuk semua bentuk komunikasi kritis, mulai dari serah terima pasien antar shift, transfer pasien antar unit, hingga komunikasi hasil laboratorium kritis. Ini memastikan konsistensi dan mengurangi variasi.

Mereka akan memastikan ada mekanisme pemantauan yang ketat untuk kepatuhan terhadap SPO komunikasi dan mengukur dampaknya terhadap insiden terkait komunikasi. Data ini kemudian akan digunakan untuk perbaikan berkelanjutan, dengan fokus pada mencapai visi keselamatan.


Membangun Budaya Interprofesional (INFJ/Pelayan):

Seorang INFJ akan memfasilitasi pembicaraan terbuka dan interaksi kolaboratif antara berbagai profesi (dokter, perawat, apoteker, radiografer, ahli gizi) untuk memastikan komunikasi yang lancar dan terintegrasi dalam perawatan pasien. INFJ akan berupaya menciptakan lingkungan di mana setiap profesi merasa dihargai, kontribusinya dalam komunikasi diakui, dan saling mendukung.

Mereka akan mendorong budaya saling menghormati dan mendukung, di mana kritik konstruktif diterima sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu bersama, karena fokus mereka pada harmoni dan efektivitas tim.

 

Tantangan dan peluang yang mungkin terjadi dan upaya antisipatif yang dilakukan di FKTL

Tantangan:

Kepemimpinan seorang INFJ di FKTL menghadapi beragam tantangan, terutama dalam menciptakan komunikasi efektif. Resistensi terhadap perubahan budaya menjadi hambatan signifikan, karena kebiasaan komunikasi yang sudah mengakar—khususnya yang terkait dengan hierarki dan pola tradisional—sulit diubah dan memerlukan kesabaran serta ketekunan INFJ. Selain itu, beban kerja yang tinggi di lingkungan FKTL yang serba cepat dan intens bisa menyulitkan staf untuk konsisten menerapkan protokol komunikasi efektif, menguji kemampuan INFJ dalam menjaga motivasi dan follow-through. Secara emosional, kritik dan konflik juga bisa membebani seorang INFJ karena kecenderungan mereka menghindari konfrontasi. Terakhir, kesenjangan komunikasi antar generasi staf juga menjadi tantangan yang perlu dikelola melalui pendekatan inklusif demi terciptanya kolaborasi yang efektif.

Peluang:


Meskipun tantangan selalu ada, kepemimpinan seorang INFJ di FKTL juga membawa peluang besar. Penerapan komunikasi efektif secara langsung berujung pada peningkatan keselamatan pasien yang nyata, secara signifikan mengurangi insiden seperti medication error, kesalahan prosedur, dan risiko jatuh, sekaligus menegaskan dampak positif dari kepemimpinan INFJ. Komunikasi yang lebih baik juga berkontribusi pada peningkatan kepuasan staf, mengurangi stres, meningkatkan efisiensi kerja, dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih harmonis—semua ini sangat selaras dengan tujuan seorang INFJ. Ada pula peluang pengembangan inovasi digital, seperti pemanfaatan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRs) atau aplikasi komunikasi khusus untuk memperlancar alur informasi dan meningkatkan akurasi, sejalan dengan visi masa depan INFJ. Tak kalah penting, seorang INFJ mampu membangun kepercayaan dan kohesi tim yang kuat di antara staf, menjadi fondasi penting bagi komunikasi terbuka dan efektif, serta menciptakan tim yang lebih solid.


Upaya antisipatif:

Meskipun tantangan selalu ada, kepemimpinan seorang INFJ di FKTL memberikan peluang yang baik, namun tetap akan selalu ada kendala yang harus diatasi.  Untuk mengurangi insiden seperti kesalahan pengobatan, kesalahan prosedur, dan jatuh, komunikasi yang efektif secara langsung meningkatkan keselamatan pasien dan memvalidasi efek menguntungkan dari kepemimpinan INFJ. Komunikasi yang lebih baik juga berkontribusi pada peningkatan kepuasan staf, mengurangi stres, meningkatkan efisiensi kerja, dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih harmonis—semua ini sangat selaras dengan tujuan seorang INFJ. Ada pula peluang pengembangan inovasi digital, seperti pemanfaatan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRs) atau aplikasi komunikasi khusus untuk memperlancar alur informasi dan meningkatkan akurasi, sejalan dengan visi masa depan INFJ. Tak kalah penting, seorang INFJ dapat menumbuhkan rasa percaya yang kuat dan persatuan tim yang kuat di antara staf, yang berfungsi sebagai dasar penting untuk komunikasi terbuka dan efektif, serta menciptakan tim yang lebih solid.

Untuk mengoptimalkan peluang ini dan mengatasi tantangan, berbagai upaya antisipatif dapat dilakukan. Memulai dengan pilot project di unit-unit tertentu yang menunjukkan komitmen, serta mengidentifikasi champion komunikasi di setiap departemen sebagai role model, dapat menginspirasi rekan kerja. Pelatihan berkesinambungan dan adaptif dengan simulasi dan studi kasus nyata yang relevan dengan konteks FKTL esensial untuk meningkatkan efektivitas. Penting juga untuk menciptakan saluran umpan balik yang aman bagi staf untuk melaporkan masalah komunikasi atau memberikan ide perbaikan tanpa takut sanksi. Selain itu, penguatan sistem dan akuntabilitas dengan mengintegrasikan komunikasi efektif ke dalam evaluasi kinerja individu dan tim akan memastikan dukungan yang berkelanjutan. Terakhir, fokus pada dampak nyata dengan terus mengkomunikasikan hasil positif dari komunikasi efektif terhadap keselamatan pasien dan kuSalitas layanan akan mempertahankan motivasi staf dan memvalidasi upaya kepemimpinan seorang INFJ.

 

Kesimpulan

Sebagai seorang individu dengan kepribadian INFJ, kekuatan kepemimpinan berakar pada visi intuitif, empati mendalam, integritas, dan orientasi pada penyelesaian. Kombinasi Kepemimpinan Transformasional dan Kepemimpinan Pelayan memungkinkan seorang INFJ untuk menginspirasi perubahan positif, memberdayakan individu, dan menciptakan lingkungan yang kolaboratif serta berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan yang lebih tinggi.

Dalam kaitan dengan konteks pelayanan kesehatan, baik di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dalam hal penanganan TB-HIV maupun di Fasilitas Kesehatan Tingkat lanjut untuk peningkatan mutu pelayanan melalui komunikasi efektif, karakteristik INFJ akan menjadi aset yang tak ternilai. Dengan berkombinasi visi yang kuat dengan perhatian manja pada tim kebutuhan, dan kemampuan merencanakan secara strategis dengan semangat melayani, seorang INFJ bertekad untuk tidak hanya mengatasi tantangan, tetapi juga untuk membuka peluang baru dalam mewujudkan sistem pelayanan kesehatan yang lebih aman, berkualitas, dan manusiawi. Kepemimpinan yang berlandaskan hati, didukung oleh intuisi yang tajam, dan diimplementasikan dengan strategi yang matang, adalah kunci untuk membentuk masa depan pelayanan kesehatan yang lebih baik.

 

Daftar Pustaka

  1. Myers IB, Myers PB. Gifts differing: understanding personality type. Mountain View: Davies-Black Publishing; 1995
  2. Burns JM. Leadership. New York: Harper & Row; 1978.
  3. Greenleaf RK. Servant leadership: a journey into the nature of legitimate power and greatness. New York: Paulist Press;
  4. Kouzes JM, Posner BZ. The leadership challenge: how to make extraordinary things happen in organizations. 6th ed. San Francisco: Jossey-Bass; 2017.
  5. World Health Organization. Global tuberculosis report 2024. Geneva: WHO; 2024.
  6. Permenkes RI No. 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2017.
  7. United Nations. The fight against AIDS, tuberculosis and malaria: past progress and hope for the future [Internet]. New York: United Nations; [cited 2025 Jul 2]. Available from: https://www.un.org/en/chronicle/article/fight-against-aids-tuberculosis-and-malaria-past-progress-and-hope-future
  8. Relias. How transformational leadership improves patient safety [Internet]. Morrisville (NC): Relias; [cited 2025 Jul 2]. Available from: https://www.relias.com/blog/how-transformational-leadership-improves-patient-safety
  9. HIV.gov. Tuberculosis/HIV coinfection [Internet]. Rockville (MD): U.S. Department of Health and Human Services; [updated 2024 Nov 15; cited 2025 Jul 2]. (HIV Clinical Guidelines: Adult and Adolescent Antiretroviral). Available from: https://clinicalinfo.hiv.gov/en/guidelines/hiv-clinical-guidelines-adult-and-adolescent-arv/tuberculosishiv-coinfection
  10. Desai MM, Göç N, Chirwa T, Manderson L, Charalambous S, Curry LA, Linnander E. Strengthening the Mentorship and Leadership Capacity of HIV/AIDS and Tuberculosis Researchers in South Africa. Am J Trop Med Hyg. 2021 Nov 1;105(5):1317–25.

 

Pernyataan orisinalitas karya tulis 

Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader