Kepemimpinan INFJ: Visi Intuitif dan Empati Strategis dalam Transformasi Pelayanan Kesehatan
Kepemimpinan INFJ: Visi Intuitif dan
Empati Strategis dalam Transformasi Pelayanan Kesehatan
Nama
: Shella Finurika
NIM
: 22.P1.0037
Konteks dan Latar Belakang Personal
Sebagai seorang individu dengan tipe kepribadian INFJ (Introverted, Intuitive, Feeling, Judging) atau lebih sering dikenal sebagai "Advokat" atau "Penasihat," memiliki inti kepemimpinan yang bermula dari kombinasi unik antara intuisi yang mendalam dan empati yang kuat. Karakteristik ini membentuk fondasi untuk pendekatan kepemimpinan yang berorientasi pada visi jangka panjang dan dampak kemanusiaan.
Kepribadian INFJ memiliki visi intuitif
(Ni atau Introverted Intuition) yang dominan. Sehingga dapat memungkinkan
mereka untuk melihat pola, koneksi, dan implikasi jangka panjang dari suatu
situasi dengan cepat. Seorang INFJ tidak hanya memiliki kemampuan untuk
berpikir logis, tetapi mereka juga memiliki pemahaman yang mendalam tentang
bagaimana segala sesuatu berhubungan, memengaruhi, dan menggambarkan masa depan.
Kemampuan ini menjadi aset yang sangat berguna dalam merumuskan visi yang jelas
dan komprehensif. Mereka sering kali merasa terdorong oleh tujuan yang lebih
besar, melampaui kepentingan pribadinya untuk mewujudkan perubahan yang
signifikan dan berkelanjutan.
Kemudian empati strategis (Fe
atau Extraverted Feeling) pada INFJ dapat memunculkan empati yang mendalam
dan kemampuan untuk memahami serta merespons kebutuhan emosional orang lain.
Mereka adalah pendengar yang baik dan sering kali mampu menciptakan harmoni
dalam tim, memfasilitasi kolaborasi antar anggota, dan memotivasi orang lain
dengan pendekatan yang berpusat pada nilai-nilai kemanusiaan yang baik.
Kombinasi anatara intuisi dan empati ini menjadikan INFJ pemimpin yang mampu
melihat gambaran besar sambil tetap peka terhadap dinamika interpersonal
dan kesejahteraan individu.
Selain itu, karakteristik menilai (J
atau judging) memberikan kecenderungan untuk terorganisir, terstruktur,
dan berorientasi pada penyelesaian. INFJ cenderung cermat dalam merencanakan,
mengambil keputusan yang tegas, dan mendorong follow-through untuk
mencapai tujuan. Meskipun seorang introvert, INFJ dapat menjadi komunikator
yang persuasif dan inspiratif ketika menyampaikan visi yang mereka yakini
sepenuhnya, terutama jika hal itu selaras dengan nilai-nilai inti mereka. Seorang
INFJ memiliki tantangan potensial yaitu kecenderungan untuk mengambil terlalu
banyak tanggung jawab, berjuang dengan kritik yang tidak konstruktif, atau
mengalami burnout akibat terlalu fokus pada kebutuhan orang lain tanpa
menjaga keseimbangan diri. Namun, dengan kesadaran diri, tantangan ini dapat
diatasi untuk memaksimalkan potensi kepemimpinan mereka.
Lantas, bagaimana
jika kepemimpinan bukan hanya tentang manajemen, melainkan tentang visi
mendalam dan empati yang mengubah hidup?
Model Kepemimpinan yang Relevan
Karakteristik INFJ yang unik, kepemimpinan
transformasional dan kepemimpinan pelayan (Servant Leadership) adalah
dua model yang dapat relevan dan selaras. Kedua model ini secara sinergis
mendukung kekuatan inti INFJ dalam memimpin perubahan dan memberdayakan
individu.
Di sisi lain, kepemimpinan pelayan
sangat resonan dengan nilai inti INFJ untuk melayani dan memberdayakan orang
lain. Model ini menempatkan kebutuhan tim dan komunitas sebagai prioritas
utama. Empati tinggi yang dimiliki,
seorang INFJ dapat mendengarkan secara baik dan aktif dalam memahami tantangan
yang dihadapi tim. INFJ dapat melihat penyembuhan sebagai upaya menciptakan
suasana yang mendukung untuk kesehatan mental dan emosional. Kemampuan bawaan
mereka membantu mengidentifikasi kebutuhan yang tidak bisa secara langsung terucapkan
dan merancang strategi untuk memengaruhi dan mendorong pertumbuhan pribadi seseorang
tanpa menggunakan kekerasan. Keinginan INFJ untuk menumbuhkan
keharmonisan dan memberikan dampak positif yang luar biasa tercermin dalam
model ini, yang memungkinkan mereka untuk fokus pada perkembangan pribadi dan
memungkinkan untuk menciptakan komunitas solid dan saling mendukung.
Memadukan kemampuan seorang INFJ untuk
menginspirasi dan mengarahkan perubahan transformatif dengan pendekatan yang
berpusat pada pelayanan dan pemberdayaan individu, mereka dapat menciptakan
lingkungan yang sangat memberdayakan, inovatif, dan berorientasi pada hasil
yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Bagaimana seorang 'Advokat' sejati
memimpin transformasi di pusat pelayanan kesehatan?
Aplikasi Model Kepemimpinan untuk
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)
Kegiatan
Lintas Program Penanganan TB-HIV di Puskesmas X
Dalam peran kepemimpinan di Puskesmas
X, seorang INFJ akan menerapkan kombinasi Kepemimpinan Transformasional dan
Kepemimpinan Pelayan untuk menggerakkan kegiatan lintas program penanganan
TB-HIV yang komprehensif. Visi mereka adalah mewujudkan Puskesmas X sebagai
pusat terdepan dalam penanganan TB-HIV, dengan tim yang termotivasi dan
kolaborasi lintas sektor yang kuat, berlandaskan empati dan data yang akurat.
Advokasi
Pada sisi advokasi yang dimiliki INFJ,
seorang INFJ akan menerapkan kepemimpinan transformasional untuk beradvokasi
dengan keyakinan mendalam, memanfaatkan visi intuitif mereka untuk menyampaikan
urgensi dan dampak jangka panjang penanganan TB-HIV kepada pemangku kepentingan
seperti pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan media. Mereka akan menyusun
narasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga menyentuh emosi, sehingga mampu
menginspirasi dukungan serta sumber daya yang krusial. Selain itu, dengan
empati khas seorang INFJ, mereka akan memahami perspektif dan kekhawatiran
berbagai pihak, yang pada gilirannya memungkinkan advokasi yang lebih persuasif
dan kolaboratif, secara efektif menunjukkan bagaimana penanganan TB-HIV
melayani kepentingan komunitas secara luas.
Penguatan Tim (Internal Puskesmas)
Di sisi penguatan suatu tim, seorang INFJ
akan menerapkan kepemimpinan transformasional dengan berfokus pada pengembangan
potensi setiap anggota tim Puskesmas, melihat melampaui peran mereka saat
ini untuk mengidentifikasi bakat tersembunyi. Mereka juga akan
mengizinkan dukungan dan pelatihan untuk disediakan, seperti konseling mendalam
atau pembaruan dalam protokol TB-HIV, sambil memberikan contoh bagi tim untuk
menginspirasi mereka dalam pekerjaan mereka dengan menegaskan bahwa sumbangan
mereka dalam menyelamatkan nyawa dan meningkatkan kualitas hidup pasien adalah
hal yang paling penting menciptakan bagian rencana yang lebih tinggi. Sebagai
pemimpin yang berfungsi sebagai pelayan, mereka juga akan secara aktif mencari
masukan dan keluhan dari anggota tim itu terkait dengan beban kerja atau
hambatan dan memfasilitasi solusi.
Ini akan membangun lingkungan di mana
staf merasa dihargai, didengar, dan memiliki ruang untuk berinovasi tanpa takut
salah, secara menyeluruh mendukung kesejahteraan tim.
Koordinasi Lintas Sektor
Seorang INFJ akan menerapkan kepemimpinan transformasional untuk membangun jembatan komunikasi dan kepercayaan dengan berbagai pihak seperti Dinas Kesehatan, LSM terkait TB-HIV, sekolah, tokoh agama, dan organisasi komunitas. Visi integratif mereka akan menginspirasi semua pihak untuk berkontribusi sesuai peran masing-masing, menciptakan sinergi yang efektif. Dengan pengalaman dalam memahami dinamika kelompok dan karenanya mampu memfasilitasi konsensus, sebagai pemimpin pelayan, INFJ juga akan memastikan bahwa jadwal pertemuan resmi dilakukan reguler dengan agenda yang jelas, dan catatan telah dibuat tentang argumen serta tindak lanjut yang dipilih dan dilakukan dengan baik untuk alasan kerjasama dan persoalan komunitas.
Kolaborasi Interprofesional
Sebagai seorang pemimpin pelayan, seorang INFJ juga akan memfasilitasi sebuah forum diskusi rutin di Puskesmas, tempat berbagai macam profesi dokter, perawat, bidan, ahli gizi, dan sanitariandan lain-lain dapat berdiskusi, berbagi kasus tantangan, bertukar pengalaman, serta merumuskan rencana penanganan pasien TB-HIV secara holistik. Untuk Institut tersebut, mereka akan memastikan tiap suara didengar dan tiap perspektif diapresiasi, membangun empati antarprofesi dan pemahaman bersama. Melalui perannya sebagai pemimpin transformasional, seorang INFJ juga akan menegakkan standarisasi alur kerja dan protokol kolaborasi yang jelas untuk mencegah adanya tumpang tindih atau celah pada pelayanan, serta menginspirasi tim untuk terus berpikir kreatif dan mendisiplinkan dalam menyusun berbagai cara inovatif pelayanan pasien terintegrasi yang berpusat pada pasien.
Monitoring dan Evaluasi
Tantangan dan peluang yang mungkin terjadi dan upaya antisipatif yang dilakukan di FKTP
Tantangan:
Kepemimpinan seorang INFJ dalam
penanganan TB-HIV di FKTP bukannya tanpa hambatan atau tantangan. Salah satu tantangan
utama adalah beban emosional yang signifikan; empati mendalam yang
dimiliki INFJ sering kali membuat mereka merasakan beratnya cerita pasien, yang
bisa memicu kewalahan emosional. Salah satunya dikarenakan penanganan TB-HIV secara langsung seringkali melibatkan cerita-cerita pasien yang berat, yang dapat memicu overwhelm
emosional bagi seorang INFJ. Di sisi lain, meskipun seorang INFJ sangat
menghargai harmoni, mereka juga bisa menghadapi resistensi terhadap perubahan
dan konflik langsung dari anggota tim atau pihak lintas sektor seperti saat
memperkenalkan dan pendekatan baru, sebuah situasi ono yang bisa jadi sangat
sulit untuk INFJ hadapi. Selain itu, seorang INFJ yang idealisme dan berkeinginan kuat untuk
membantu setiap orang dapat menyebabkan kecenderungan burnout
karena mereka cenderung mengambil terlalu banyak tanggung jawab. Terakhir, keterbatasan
sumber daya, baik finansial maupun sumber daya manusia seperti di FKTP, sehingga dapat
menjadi kendala nyata yang menghambat implementasi dari visi idealis mereka.
Peluang:
Di balik setiap tantangan, pasti terdapat peluang signifikan yang dapat dimanfaatkan oleh seorang INFJ. Visi yang jelas dan
dukungan empatik mereka mampu menghasilkan loyalitas dan komitmen tim yang baik, kemudian juga bisa memupuk lingkungan kerja yang positif dan produktif. Selain
itu, kreativitas dan intuisi INFJ menjadi sumber solusi inovatif yang
berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, seperti pengembangan program peer
support yang unik atau kampanye edukasi yang lebih menyentuh hati
masyarakat. Kemampuan mereka dalam membangun hubungan pribadi yang tulus dan
memahami kebutuhan berbagai pihak juga membuka pintu bagi jaringan
kolaborasi yang kuat dengan berbagai sektor. Terakhir, dengan kemampuan
intuitif mereka untuk melihat gambaran besar dan sifat terorganisir, seorang
INFJ dapat mendorong perbaikan program yang sistematis dan terukur,
secara berkelanjutan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan
kesehatan.
Upaya Antisipatif:
Untuk mengantisipasi tantangan, seorang
INFJ perlu memprioritaskan manajemen diri dan self-care, seperti
bermeditasi atau mencari dukungan terbaik darimanapun, sambil belajar mendelegasikan
tugas demi mencegah burnout emosional. Mereka juga harus aktif mengembangkan
keterampilan manajemen konflik, berlatih menghadapi dan menyelesaikan
perbedaan secara konstruktif, serta mengasah kemampuan persuasif yang strategis
tanpa mengorbankan nilai. Penting bagi mereka untuk fokus pada progress,
bukan kesempurnaan, yaitu belajar menerima bahwa peningkatan adalah proses
berkelanjutan dan apresiasi setiap langkah kecil. Terakhir, melalui pemberdayaan
tim, seorang INFJ dapat memberikan otonomi dan tanggung jawab yang lebih
besar kepada anggota tim, bahkan membangun champion program, sehingga
kepemimpinan menjadi lebih terdistribusi dan berkelanjutan.
Aplikasi
Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL)
Peningkatan Mutu: Keselamatan Pasien
dan Petugas Kesehatan – Fokus pada Komunikasi Efektif
Di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut
(FKTL), seorang INFJ akan menerapkan model kepemimpinan transformasional dan
pelayan untuk meningkatkan mutu, khususnya dalam aspek Komunikasi Efektif
sebagai salah satu dari 6 Sasaran Keselamatan Pasien. Visi seorang INFJ adalah
menciptakan budaya di FKTL di mana setiap interaksi komunikasi, baik
antar-petugas maupun dengan pasien dan keluarga, berlangsung dengan jelas,
akurat, dan tepat waktu, sehingga meminimalkan risiko kesalahan dan
meningkatkan keselamatan secara holistik.
Visi dan Inspirasi (Transformasional):
Sebagai INFJ, mereka akan
mengartikulasikan visi yang kuat tentang bagaimana komunikasi efektif adalah
jantung dari keselamatan pasien, bukan hanya prosedur. Mereka akan
menginspirasi staf dengan kisah nyata tentang bagaimana miskomunikasi dapat
membahayakan dan bagaimana komunikasi yang tepat dapat menyelamatkan nyawa,
menanamkan kesadaran akan pentingnya setiap kata dan informasi yang
disampaikan.
Mereka akan mempromosikan nilai
transparansi dan keterbukaan dalam komunikasi, mendorong staf untuk merasa aman
dalam melaporkan insiden komunikasi atau mengajukan pertanyaan ketika ada
keraguan, menciptakan budaya belajar dari kesalahan.
Pengembangan Keterampilan dan
Pemberdayaan Staf (Pelayan):
Seorang INFJ akan mengidentifikasi
kesenjangan dalam keterampilan komunikasi staf melalui observasi dan umpan
balik, lalu memfasilitasi pelatihan yang komprehensif, seperti teknik SBAR (Situation,
Background, Assessment, Recommendation), closed-loop communication,
atau read-back, disesuaikan dengan kebutuhan.
Standarisasi dan Pemantauan (J-Komponen INFJ/Transformasional):
Fungsi Judging pada INFJ akan
mendukung pengembangan dan implementasi standar prosedur operasional (SPO) yang
jelas untuk semua bentuk komunikasi kritis, mulai dari serah terima pasien
antar shift, transfer pasien antar unit, hingga komunikasi hasil laboratorium
kritis. Ini memastikan konsistensi dan mengurangi variasi.
Mereka akan memastikan ada mekanisme
pemantauan yang ketat untuk kepatuhan terhadap SPO komunikasi dan mengukur
dampaknya terhadap insiden terkait komunikasi. Data ini kemudian akan digunakan
untuk perbaikan berkelanjutan, dengan fokus pada mencapai visi keselamatan.
Membangun Budaya Interprofesional (INFJ/Pelayan):
Seorang INFJ akan memfasilitasi pembicaraan
terbuka dan interaksi kolaboratif antara berbagai profesi (dokter, perawat,
apoteker, radiografer, ahli gizi) untuk memastikan komunikasi yang lancar dan
terintegrasi dalam perawatan pasien. INFJ akan berupaya menciptakan lingkungan
di mana setiap profesi merasa dihargai, kontribusinya dalam komunikasi diakui,
dan saling mendukung.
Mereka akan mendorong budaya saling
menghormati dan mendukung, di mana kritik konstruktif diterima sebagai bagian
dari upaya peningkatan mutu bersama, karena fokus mereka pada harmoni dan
efektivitas tim.
Tantangan dan peluang yang mungkin
terjadi dan upaya antisipatif yang dilakukan di FKTL
Tantangan:
Kepemimpinan seorang INFJ di FKTL menghadapi beragam tantangan, terutama dalam menciptakan komunikasi efektif. Resistensi terhadap perubahan budaya menjadi hambatan signifikan, karena kebiasaan komunikasi yang sudah mengakar—khususnya yang terkait dengan hierarki dan pola tradisional—sulit diubah dan memerlukan kesabaran serta ketekunan INFJ. Selain itu, beban kerja yang tinggi di lingkungan FKTL yang serba cepat dan intens bisa menyulitkan staf untuk konsisten menerapkan protokol komunikasi efektif, menguji kemampuan INFJ dalam menjaga motivasi dan follow-through. Secara emosional, kritik dan konflik juga bisa membebani seorang INFJ karena kecenderungan mereka menghindari konfrontasi. Terakhir, kesenjangan komunikasi antar generasi staf juga menjadi tantangan yang perlu dikelola melalui pendekatan inklusif demi terciptanya kolaborasi yang efektif.
Peluang:
Meskipun tantangan selalu ada,
kepemimpinan seorang INFJ di FKTL juga membawa peluang besar. Penerapan
komunikasi efektif secara langsung berujung pada peningkatan keselamatan
pasien yang nyata, secara signifikan mengurangi insiden seperti medication
error, kesalahan prosedur, dan risiko jatuh, sekaligus menegaskan dampak
positif dari kepemimpinan INFJ. Komunikasi yang lebih baik juga berkontribusi
pada peningkatan kepuasan staf, mengurangi stres, meningkatkan efisiensi
kerja, dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih harmonis—semua ini sangat
selaras dengan tujuan seorang INFJ. Ada pula peluang pengembangan inovasi
digital, seperti pemanfaatan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRs) atau
aplikasi komunikasi khusus untuk memperlancar alur informasi dan meningkatkan
akurasi, sejalan dengan visi masa depan INFJ. Tak kalah penting, seorang INFJ
mampu membangun kepercayaan dan kohesi tim yang kuat di antara staf,
menjadi fondasi penting bagi komunikasi terbuka dan efektif, serta menciptakan
tim yang lebih solid.
Upaya antisipatif:
Meskipun tantangan selalu ada,
kepemimpinan seorang INFJ di FKTL memberikan peluang yang baik, namun tetap akan selalu ada kendala yang
harus diatasi. Untuk mengurangi insiden
seperti kesalahan pengobatan, kesalahan prosedur, dan jatuh, komunikasi yang
efektif secara langsung meningkatkan keselamatan pasien dan memvalidasi efek
menguntungkan dari kepemimpinan INFJ. Komunikasi yang lebih baik juga
berkontribusi pada peningkatan kepuasan staf, mengurangi stres,
meningkatkan efisiensi kerja, dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih
harmonis—semua ini sangat selaras dengan tujuan seorang INFJ. Ada pula peluang
pengembangan inovasi digital, seperti pemanfaatan Sistem Informasi Rumah
Sakit (SIRs) atau aplikasi komunikasi khusus untuk memperlancar alur informasi
dan meningkatkan akurasi, sejalan dengan visi masa depan INFJ. Tak kalah
penting, seorang INFJ dapat menumbuhkan rasa percaya yang kuat dan persatuan
tim yang kuat di antara staf, yang berfungsi sebagai dasar penting untuk
komunikasi terbuka dan efektif, serta menciptakan tim yang lebih solid.
Untuk mengoptimalkan peluang ini dan
mengatasi tantangan, berbagai upaya antisipatif dapat dilakukan. Memulai
dengan pilot project di unit-unit tertentu yang menunjukkan
komitmen, serta mengidentifikasi champion komunikasi di setiap
departemen sebagai role model, dapat menginspirasi rekan kerja. Pelatihan
berkesinambungan dan adaptif dengan simulasi dan studi kasus nyata yang
relevan dengan konteks FKTL esensial untuk meningkatkan efektivitas. Penting
juga untuk menciptakan saluran umpan balik yang aman bagi staf untuk
melaporkan masalah komunikasi atau memberikan ide perbaikan tanpa takut sanksi.
Selain itu, penguatan sistem dan akuntabilitas dengan mengintegrasikan
komunikasi efektif ke dalam evaluasi kinerja individu dan tim akan memastikan dukungan
yang berkelanjutan. Terakhir, fokus pada dampak nyata dengan terus
mengkomunikasikan hasil positif dari komunikasi efektif terhadap keselamatan
pasien dan kuSalitas layanan akan mempertahankan motivasi staf dan memvalidasi
upaya kepemimpinan seorang INFJ.
Kesimpulan
Sebagai seorang individu dengan
kepribadian INFJ, kekuatan kepemimpinan berakar pada visi intuitif,
empati mendalam, integritas, dan orientasi pada penyelesaian. Kombinasi Kepemimpinan
Transformasional dan Kepemimpinan Pelayan memungkinkan seorang INFJ
untuk menginspirasi perubahan positif, memberdayakan individu, dan menciptakan
lingkungan yang kolaboratif serta berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan
yang lebih tinggi.
Dalam
kaitan dengan konteks pelayanan kesehatan, baik di Fasilitas Kesehatan Tingkat
Pertama dalam hal penanganan TB-HIV maupun di Fasilitas Kesehatan Tingkat lanjut
untuk peningkatan mutu pelayanan melalui komunikasi efektif, karakteristik INFJ
akan menjadi aset yang tak ternilai. Dengan berkombinasi visi yang kuat dengan
perhatian manja pada tim kebutuhan, dan kemampuan merencanakan secara strategis
dengan semangat melayani, seorang
INFJ bertekad untuk tidak hanya mengatasi tantangan, tetapi juga untuk membuka
peluang baru dalam mewujudkan sistem pelayanan kesehatan yang lebih aman,
berkualitas, dan manusiawi. Kepemimpinan yang
berlandaskan hati, didukung oleh intuisi yang tajam, dan diimplementasikan
dengan strategi yang matang, adalah kunci untuk membentuk masa depan pelayanan
kesehatan yang lebih baik.
Daftar Pustaka
- Myers IB, Myers PB. Gifts differing: understanding personality type. Mountain View: Davies-Black Publishing; 1995
- Burns JM. Leadership. New York: Harper & Row; 1978.
- Greenleaf RK. Servant leadership: a journey into the nature of legitimate power and greatness. New York: Paulist Press;
- Kouzes JM, Posner BZ. The leadership challenge: how to make extraordinary things happen in organizations. 6th ed. San Francisco: Jossey-Bass; 2017.
- World Health Organization. Global tuberculosis report 2024. Geneva: WHO; 2024.
- Permenkes RI No. 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2017.
- United Nations. The fight against AIDS,
tuberculosis and malaria: past progress and hope for the future [Internet]. New
York: United Nations; [cited 2025 Jul 2]. Available from:
https://www.un.org/en/chronicle/article/fight-against-aids-tuberculosis-and-malaria-past-progress-and-hope-future - Relias. How transformational leadership
improves patient safety [Internet]. Morrisville (NC): Relias; [cited 2025 Jul 2].
Available from:
https://www.relias.com/blog/how-transformational-leadership-improves-patient-safety - HIV.gov.
Tuberculosis/HIV coinfection [Internet]. Rockville (MD): U.S. Department of Health
and Human Services; [updated 2024 Nov 15; cited 2025 Jul 2]. (HIV Clinical
Guidelines: Adult and Adolescent Antiretroviral). Available from:
https://clinicalinfo.hiv.gov/en/guidelines/hiv-clinical-guidelines-adult-and-adolescent-arv/tuberculosishiv-coinfection - Desai MM, Göç N, Chirwa T, Manderson L, Charalambous S, Curry LA, Linnander E. Strengthening the Mentorship and Leadership Capacity of HIV/AIDS and Tuberculosis Researchers in South Africa. Am J Trop Med Hyg. 2021 Nov 1;105(5):1317–25.



.jpg)



.jpg)

Komentar
Posting Komentar