KEPEMIMPINAN INFJ SEBAGAI TENAGA KESEHATAN TERHADAP PENANGANAN TB-HIV
Nama : Klara Edita Karissa
NIM : 22.P1.0014
Kepemimpinan dalam sektor kesehatan bukan hanya tentang kemampuan mengatur
orang lain, melainkan juga tentang memahami kebutuhan, nilai, dan tujuan
bersama untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat1. Setiap individu membawa latar belakang
personal yang berbeda, termasuk dalam cara mereka memimpin. Dalam hal ini, saya
adalah individu dengan tipe kepribadian INFJ-T (Advokat) berdasarkan hasil tes
MBTI. Karakteristik dominan saya mencakup 65% introvert, 61% visioner, 51%
emosional, 74% perencana, dan 64% waspada. Kombinasi ini menjadikan saya
pribadi yang cenderung bekerja di balik layar, menyukai refleksi mendalam, dan
memiliki perhatian tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Sebagai INFJ, saya percaya bahwa kepemimpinan bukanlah soal mendominasi
forum, tetapi tentang menjadi katalisator perubahan melalui nilai-nilai yang
kita pegang. Saya lebih memilih memengaruhi dengan mendengarkan, membangun
hubungan interpersonal yang bermakna, dan menyusun rencana jangka panjang yang
berlandaskan empati dan keadilan sosial. Dalam dunia kesehatan, terutama di
wilayah-wilayah kerja dengan tantangan sosial tinggi, seperti penanganan
TB-HIV, kepribadian INFJ sangat relevan karena memiliki kepekaan terhadap
kelompok rentan, dorongan kuat untuk membantu, dan strategi berpikir sistemik dalam
menyelesaikan masalah.
Kepemimpinan yang paling sesuai dengan karakter INFJ adalah kepemimpinan demokratis dan kolaboratif. Model kepemimpinan demokratis menekankan pentingnya partisipasi seluruh anggota tim dalam proses pengambilan keputusan. Sementara itu, kepemimpinan kolaboratif menekankan integrasi peran antarprofesi untuk mencapai tujuan bersama secara harmonis2. Dalam praktiknya, kedua model ini menuntut pemimpin untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga memahami dan menghargai kontribusi dari setiap elemen dalam sistem.
Model kepemimpinan ini selaras dengan pendekatan Interprofessional
Collaborative Practice (IPC) dari WHO (2010), yang mendorong kerja sama lintas
profesi demi meningkatkan hasil layanan kesehatan2. Seorang INFJ
dengan pendekatan demokratis-kolaboratif akan secara aktif membangun iklim
saling percaya dan saling menghargai di antara anggota tim. Ia mampu
menyelaraskan visi jangka panjang dengan kebutuhan nyata di lapangan melalui
perencanaan strategis, komunikasi dua arah yang terbuka, dan pendekatan
emosional yang kuat namun terkendali.
Dalam pelayanan kesehatan, di mana kesenjangan akses, stigma penyakit,
serta keterbatasan sumber daya masih menjadi masalah utama, kepemimpinan
kolaboratif memberi ruang untuk membangun solusi bersama, tidak semata-mata
dari otoritas satu orang. Pemimpin INFJ cenderung menggabungkan aspek strategis
dengan nilai-nilai etik dan kemanusiaan, menjadikan kepemimpinannya sebagai
jembatan antara sistem, individu, dan komunitas.
Penanganan TB-HIV di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), seperti
Puskesmas, membutuhkan pendekatan kepemimpinan yang tidak hanya responsif
terhadap program, tetapi juga mampu mengintegrasikan berbagai sumber daya dan
kepentingan. Dalam konteks ini, saya sebagai pemimpin dengan kepribadian INFJ
akan menerapkan gaya kolaboratif dan demokratis untuk mengorkestrasi berbagai
elemen dalam penanganan TB-HIV mulai dari tim internal, lintas sektor, hingga
komunitas.
Langkah pertama yang akan saya lakukan adalah menginisiasi advokasi
internal kepada seluruh petugas puskesmas untuk meningkatkan pemahaman dan
kepedulian terhadap pentingnya integrasi program TB dan HIV. Hal ini dilakukan
melalui forum reflektif, pelatihan lintas program, serta diskusi kasus untuk
membangun pemahaman kolektif. Pendekatan INFJ yang intuitif dan strategis
memungkinkan saya menyusun program advokasi yang tidak hanya informatif, tetapi
juga menyentuh nilai-nilai personal tenaga kesehatan seperti empati terhadap
pasien, keadilan sosial, dan semangat kolektif.
Langkah kedua adalah penguatan tim kerja interprofesional. Saya akan
memfasilitasi kolaborasi antara dokter, perawat, tenaga laboratorium, apoteker,
dan konselor HIV dalam suatu sistem komunikasi terpadu menggunakan CPPT
(Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi), dan menyusun alur rujukan serta
layanan bersama. Komunikasi akan dikembangkan berdasarkan prinsip SBAR dan
teknik Sajakku (Sapa, Ajak Bicara, Diskusi) untuk meningkatkan efektivitas
kerja tim dan keselamatan pasien. Di sinilah peran INFJ sebagai pemimpin yang
peka dan komunikatif sangat dibutuhkan menjadi penghubung antarprofesi, bukan
sekadar atasan yang memerintah.
Tantangan yang sering dihadapi adalah rendahnya pemahaman lintas program,
tumpang tindih peran, serta budaya kerja sektoral yang masih kuat. INFJ sebagai
pemimpin cenderung mengantisipasi hal ini dengan pendekatan jangka panjang seperti menyusun SOP kolaboratif, melakukan pelatihan interprofesional, dan
mengembangkan sistem penghargaan berbasis tim. Di sisi lain, peluangnya adalah
adanya regulasi dan dukungan nasional terhadap integrasi layanan TB-HIV serta
potensi besar tenaga kesehatan di puskesmas yang memiliki semangat pengabdian
tinggi.
Di fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL), tanggung jawab pemimpin tidak
hanya pada pencapaian program, tetapi juga pada peningkatan mutu layanan dan
keselamatan pasien serta tenaga kesehatan3. Dalam hal ini, saya akan
menerapkan model kepemimpinan demokratis dan kolaboratif dengan fokus pada
salah satu dari enam sasaran keselamatan pasien, yaitu mengurangi risiko cedera
akibat jatuh.
Sebagai pemimpin, langkah awal saya adalah menginisiasi pembentukan tim
keselamatan pasien lintas profesi. Tim ini terdiri dari dokter, perawat, tenaga rehabilitasi medik, petugas
kebersihan, dan manajemen risiko. Kami akan menganalisis data insiden jatuh,
mengidentifikasi pola, serta mengembangkan protokol pencegahan berbasis risiko.
Saya akan mendorong pelibatan semua pihak melalui pertemuan rutin, refleksi
kasus, dan pelatihan bersama. Pendekatan ini didasarkan pada prinsip shared
leadership, di mana setiap anggota tim memiliki kontribusi dan akuntabilitas
yang jelas.
Selanjutnya, saya akan mengintegrasikan prinsip komunikasi efektif dengan
menerapkan teknik seperti call-out untuk situasi emergensi, serta check-back
untuk memastikan pemahaman informasi yang benar di antara anggota tim. Selain
itu, saya akan menekankan pentingnya handoff yang baik dalam setiap pergantian
shift sebagai bentuk upaya pencegahan insiden keselamatan pasien.
Tantangan utama adalah adanya hierarki profesi yang masih kaku, ketimpangan
komunikasi antara profesi medis dan non-medis, serta resistensi terhadap
perubahan. Pemimpin INFJ dapat mengatasi ini dengan membangun iklim kerja yang
terbuka, aman, dan menghargai masukan semua pihak. Di sisi lain, peluang datang
dari komitmen institusi terhadap akreditasi, standar SPM, serta adanya
indikator mutu nasional yang mendukung gerakan peningkatan mutu dan keselamatan
pasien.
Saya juga akan mengadvokasi budaya pelaporan insiden yang non-punitif
sebagai bagian dari budaya keselamatan (safety culture), di mana tenaga
kesehatan merasa aman untuk melaporkan kesalahan atau nyaris cedera sebagai
pembelajaran bersama. Hal ini
selaras dengan pendekatan learning organization dalam kerangka akreditasi rumah
sakit yang terbaru
Kepemimpinan yang efektif dalam pelayanan kesehatan bukan hanya tentang
keahlian teknis, melainkan juga kemampuan untuk menyatukan nilai, visi, dan
manusia dalam satu arah yang sama. Tipe kepribadian INFJ yang dikenal visioner,
empatik, dan perencana strategis mampu menjadi dasar kuat bagi seorang pemimpin
di sektor kesehatan, baik di FKTP maupun FKTL. Melalui pendekatan kepemimpinan
demokratis dan kolaboratif, saya percaya bahwa integrasi program TB-HIV dan
peningkatan mutu pelayanan dapat dijalankan secara lebih manusiawi,
berkelanjutan, dan berpusat pada pasien. Tantangan yang ada bukan untuk
dihindari, tetapi dihadapi dengan pendekatan yang terencana dan penuh nilai. Bagi
seorang INFJ, kepemimpinan terbaik bukan hanya soal berada di depan, tetapi
juga tentang menjadi cahaya bagi tim dan masyarakat, bahkan saat tidak
terlihat.
DAFTAR PUSTAKA
- Mardizal J, Anggriawan F, Al Haddar G, Arifudin O. Model Kepemimpinan Transformational, Visioner dan Authentic Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Era 4.0. Innovative: Journal Of Social Science Research. 2023 Oct 15;3(5):2994-3003.
- Pertiwiwati E, Agianto SK, Rusli R. Kolaborasi Interprofesional: Membangun Budaya Keselamatan Pasien yang Kuat. Uwais Inspirasi Indonesia; 2025 Jun 12.
- Mangindara SK, Suci Rahmadani SK, Sri Devi SK. Manajemen Jaminan Mutu Kesehatan. Feniks Muda Sejahtera; 2022 Nov 8.


Komentar
Posting Komentar