Kepemimpinan Adaptif Berbasis Kepribadian ISTP-T
Setiap individu memiliki karakteristik yang khas dalam menjalani peran kepemimpinan, yang dipengaruhi oleh kepribadian, pengalaman hidup, dan dinamika lingkungan tempat ia berada. Dalam tulisan ini, saya akan membahas bagaimana kepribadian saya sebagai ISTP-T berdasarkan hasil asesmen MBTI dapat membentuk pendekatan kepemimpinan yang relevan dan bermanfaat, khususnya di lingkungan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL).
Setiap individu memiliki karakteristik yang khas dalam menjalani peran kepemimpinan, yang dipengaruhi oleh kepribadian, pengalaman hidup, dan dinamika lingkungan tempat ia berada. Dalam tulisan ini, saya akan membahas bagaimana kepribadian saya sebagai ISTP-T berdasarkan hasil asesmen MBTI dapat membentuk pendekatan kepemimpinan yang relevan dan bermanfaat, khususnya di lingkungan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL).
Sebagai pribadi dengan tipe kepribadian ISTP-T, yang dikenal juga dengan julukan Virtuoso, saya memiliki kecenderungan untuk berpikir logis, bertindak secara mandiri, dan menanggapi tantangan dengan solusi praktis. Individu ISTP dikenal memiliki pendekatan yang fleksibel dan efisien, serta cenderung menghindari struktur yang terlalu kaku. Dalam praktik kepemimpinan, saya cenderung menunjukkan gaya yang fokus pada tindakan langsung dan pemecahan masalah secara konkret dibandingkan retorika atau teori yang berlebihan. ISTP juga dikenal responsif terhadap perubahan mendadak serta mampu mengambil keputusan secara cepat berdasarkan evaluasi situasi yang rasional1. Karakteristik ini sangat penting dalam dunia layanan kesehatan yang dinamis dan menuntut kecepatan adaptasi.
Model kepemimpinan yang paling sesuai dengan karakteristik ISTP-T adalah perpaduan antara kepemimpinan transformasional dan situasional. Kepemimpinan transformasional memotivasi tim dengan membangun visi bersama dan mendorong perubahan melalui peningkatan kapasitas individu maupun sistem2. Di sisi lain, model situasional memungkinkan pemimpin untuk menyesuaikan gaya kepemimpinan dengan situasi serta tingkat kesiapan tim3. Gabungan kedua model ini sangat relevan dengan pendekatan ISTP yang pragmatis dan berorientasi pada hasil.
Dalam konteks FKTP, pendekatan ini dapat diimplementasikan dalam penanganan program terintegrasi TB-HIV di Puskesmas X yang memerlukan kolaborasi lintas sektor dan lintas profesi. Sebagai pemimpin, saya menggunakan prinsip transformasional untuk menginisiasi advokasi kepada tokoh masyarakat, pemuka agama, dan pemangku kebijakan lokal guna membangun komitmen bersama. Sementara itu, gaya situasional digunakan dalam membentuk dan memperkuat tim, dengan melakukan pemetaan kompetensi anggota, pelatihan berbasis kebutuhan, serta penciptaan lingkungan kerja yang terbuka terhadap evaluasi.
Penerapan model ini mencakup kegiatan seperti pembentukan forum koordinasi lintas program, pelatihan gabungan bagi petugas TB dan HIV, penggunaan alat bantu visual seperti dashboard pemantauan kasus berbasis data real-time, hingga pertemuan reguler dengan komunitas lokal. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah stigma terhadap penderita TB-HIV dan keterbatasan petugas yang mampu menangani dua program sekaligus4. Untuk menjawab tantangan tersebut, strategi yang digunakan meliputi pemberdayaan penyintas sebagai pendamping sebaya dan pelibatan tokoh agama dalam kegiatan edukasi publik. Langkah ini membuka peluang besar untuk mengurangi stigma dan meningkatkan literasi kesehatan di masyarakat.
Pada tataran FKTL, saya menyoroti pentingnya peningkatan mutu layanan melalui penerapan sasaran keselamatan pasien, terutama dalam hal komunikasi efektif. Komunikasi yang buruk antar tenaga medis merupakan penyebab umum dari berbagai insiden keselamatan, termasuk kesalahan pemberian obat, keterlambatan diagnosis, dan tindakan medis yang keliru5.
Untuk mengatasi hal ini, model kepemimpinan transformasional-situasional saya terapkan melalui pelaksanaan briefing harian antar petugas, pelatihan penggunaan metode komunikasi SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation), dan simulasi penanganan krisis secara berkala. Saya juga mendorong pelaporan kejadian "near miss" sebagai bagian dari budaya keselamatan berbasis sistem, bukan individu. Tantangan yang dihadapi di antaranya adalah budaya hierarki yang kaku dan kurangnya pemahaman tentang pentingnya dokumentasi komunikasi. Peluang perbaikan terdapat pada penguatan pelatihan komunikasi dan pemberian apresiasi non-materi bagi petugas yang menerapkan standar keselamatan secara konsisten.
Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa kepribadian ISTP-T memberikan fondasi bagi gaya kepemimpinan yang responsif, efisien, dan strategis. Dengan mengadopsi model kepemimpinan transformasional dan situasional, pemimpin seperti saya dapat memberikan kontribusi bermakna, baik dalam integrasi program TB-HIV di FKTP maupun dalam mendorong keselamatan pasien di FKTL. Kepemimpinan yang efektif bukan hanya tentang mengarahkan orang lain, tetapi juga tentang memahami diri sendiri dan menggunakan kekuatan tersebut untuk menciptakan perubahan positif.
Pernyataan Orisinalitas
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Daftar Pustaka
1. 16Personalities. ISTP-T Personality: Virtuoso [Internet]. 2023 [cited 2025 Jul 2]. Available from: https://www.16personalities.com/istp-personality
2. Bass BM, Riggio RE. Transformational Leadership. 2nd ed. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates; 2006.
3. Hersey P, Blanchard KH, Johnson DE. Management of Organizational Behavior: Utilizing Human Resources. 10th ed. Pearson Education; 2012.
4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Manajemen Terpadu TB-HIV. Jakarta: Kemenkes RI; 2021.
5. World Health Organization. Patient Safety: Making Health Care Safer. Geneva: WHO; 2017.
Lampiran
Komentar
Posting Komentar