ISTP-T dalam Aksi
Oleh : Sultan Sherdy/22.P1.0009
Konteks dan Latar Belakang Personal
Kepribadian seseorang memiliki peran penting dalam membentuk gaya kepemimpinannya. Berdasarkan hasil asesmen MBTI (Myers-Briggs Type Indicator), saya memiliki tipe kepribadian ISTP-T (Introverted, Sensing, Thinking, Perceiving – Turbulent). Tipe ini dikenal sebagai pribadi yang mandiri, logis, dan pragmatis dalam menyelesaikan permasalahan. ISTP cenderung tenang di bawah tekanan, responsif terhadap tantangan, serta cepat dalam mengambil keputusan berbasis analisis.
Dalam kehidupan sehari-hari, saya cenderung lebih nyaman bekerja di balik layar, mengamati, kemudian mengambil tindakan langsung saat dibutuhkan. Saya tidak terlalu menyukai formalitas panjang, namun lebih suka pada hal-hal yang konkret, efektif, dan efisien. Dalam konteks pelayanan kesehatan, karakter seperti ini menjadi penting, terutama saat harus bergerak cepat di lapangan dan menyikapi tantangan multidimensi seperti penanganan penyakit menular, koordinasi lintas sektor, dan sistem rujukan.
Model Kepemimpinan yang Relevan
Melihat kecenderungan kepribadian ISTP-T yang lebih menyukai pendekatan praktis, fleksibel, dan sistematis, saya merasa kepemimpinan adaptif (adaptive leadership) merupakan model yang paling sesuai. Kepemimpinan adaptif menekankan pentingnya kemampuan pemimpin untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, merespons krisis secara fleksibel, serta memberdayakan anggota tim untuk bersama-sama mencari solusi.
Model ini tidak mengandalkan otoritas hirarkis, melainkan lebih pada pengaruh melalui tindakan nyata, pemahaman konteks, serta kemampuan mengelola konflik dan kompleksitas. Pemimpin adaptif juga mampu membimbing tim menghadapi masalah-masalah sistemik yang tidak memiliki solusi tunggal, dan ini sangat cocok dengan konteks kerja di fasilitas kesehatan baik tingkat pertama maupun tingkat lanjut.
Aplikasi Model Kepemimpinan di FKTP untuk Kegiatan Lintas Program Penanganan TB-HIV
Di Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama, keberhasilan penanganan TB-HIV sangat bergantung pada efektivitas koordinasi lintas program. Implementasi kepemimpinan adaptif dapat mendukung kegiatan tersebut melalui langkah-langkah berikut:
1. Advokasi
Sebagai pemimpin, saya akan memanfaatkan data lokal untuk menyampaikan pentingnya integrasi layanan TB-HIV kepada pihak kelurahan, tokoh masyarakat, serta organisasi mitra seperti Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan LSM. Advokasi dilakukan melalui forum musyawarah, infografis, serta pendekatan sosial budaya yang sesuai dengan komunitas setempat.
2. Penguatan Tim
Saya akan membentuk tim TB-HIV lintas program yang terdiri dari petugas TB, HIV, Gizi, Promkes, dan laboratorium. Pelatihan bersama dan diskusi rutin akan meningkatkan pemahaman bersama dalam menangani pasien TB-HIV secara komprehensif.
3. Koordinasi Lintas Sektor
Membangun kerja sama dengan rumah sakit rujukan, dinas sosial, dan organisasi kemasyarakatan untuk mendukung pelacakan pasien, keberlanjutan terapi, serta pemulihan sosial bagi pasien dengan HIV dan TB kronis.
4. Kolaborasi Interprofesional
Saya akan mendorong penggunaan sistem informasi yang dapat diakses bersama antar profesi untuk menghindari kesalahan informasi dan meningkatkan kecepatan layanan. Pertemuan mingguan antar profesi akan difasilitasi untuk berbagi kendala dan solusi.
5. Monitoring dan Evaluasi
Penerapan dashboard sederhana menggunakan Google Sheet atau aplikasi Kemenkes akan dilakukan untuk melacak indikator kinerja (cakupan skrining, pengobatan, keberhasilan terapi). Evaluasi dilakukan bulanan dengan melibatkan semua anggota tim.
Tantangan yang mungkin terjadi antara lain keterbatasan SDM, duplikasi pencatatan, dan stigma masyarakat terhadap ODHA. Peluang yang tersedia adalah dukungan dari regulasi nasional, pemanfaatan teknologi sederhana, serta potensi kader kesehatan sebagai penghubung komunitas. Upaya antisipatif meliputi pelatihan lintas kompetensi, pembentukan forum warga peduli TB-HIV, dan supervisi terpadu.
Aplikasi Model Kepemimpinan di FKTL untuk Peningkatan Mutu (Keselamatan Pasien dan Petugas Kesehatan)
Di fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL), keselamatan pasien dan tenaga kesehatan merupakan indikator penting dalam sistem mutu layanan. Dari enam sasaran keselamatan pasien, saya memilih fokus pada identifikasi pasien secara tepat, karena aspek ini mendasari seluruh proses tindakan medis selanjutnya.
Langkah-langkah yang saya terapkan antara lain:
Penggunaan gelang identitas dengan QR code yang terintegrasi dengan sistem informasi rumah sakit untuk memastikan pasien terverifikasi sejak awal masuk.
Verifikasi dua langkah sebelum pemberian obat, tindakan, atau prosedur medis—melalui pengecekan identitas secara lisan dan sistem elektronik.
Pelatihan rutin kepada tenaga kesehatan mengenai pentingnya verifikasi identitas, disertai simulasi kasus untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan.
Audit mutu harian oleh tim keselamatan pasien, dengan umpan balik langsung ke unit terkait dan laporan berkala ke manajemen.
Tantangan: Resistensi terhadap perubahan kebiasaan lama, keterbatasan perangkat pendukung (scanner QR code), serta tekanan beban kerja harian.
Peluang: Komitmen manajemen terhadap akreditasi rumah sakit, dukungan sistem digital, serta semangat perbaikan berkelanjutan dari tim mutu.
Upaya antisipatif: Penyusunan SOP yang sederhana dan jelas, pelatihan singkat berbasis unit kerja, serta sistem reward and recognition untuk unit yang berhasil menerapkan standar dengan konsisten.
Kesimpulan
Kepemimpinan adaptif memberi ruang bagi saya, sebagai individu dengan kepribadian ISTP-T, untuk mengembangkan gaya kepemimpinan yang tidak kaku, responsif, dan solutif. Dalam konteks pelayanan kesehatan, baik di FKTP untuk penanganan TB-HIV maupun di FKTL untuk peningkatan keselamatan pasien, model ini terbukti fleksibel dan relevan. Kolaborasi lintas program, kemampuan merespons perubahan, serta fokus pada tindakan nyata adalah kekuatan utama dari pendekatan ini. Ke depan, saya percaya bahwa kepemimpinan semacam ini akan menjadi fondasi penting dalam membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh, inklusif, dan adaptif terhadap tantangan global.
Daftar Pustaka
1. Heifetz R, Grashow A, Linsky M. The Practice of Adaptive Leadership: Tools and Tactics for Changing Your Organization and the World. Harvard Business Press; 2009.
2. Northouse PG. Leadership: Theory and Practice. 8th ed. SAGE Publications; 2018.
3. WHO. Patient Safety: Making health care safer. Geneva: World Health Organization; 2017.
4. Kementerian Kesehatan RI. Panduan Nasional Program Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta: Kemenkes; 2021.
5. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Integrasi Layanan TB-HIV. Jakarta: Kemenkes; 2022.
Pernyataan Orisinalitas
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi, dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan menerima pengurangan nilai perilaku.

Komentar
Posting Komentar