ISTP dalam kepemimpinan

Oleh: Ajeng Sekar Kinanti/22.P1.0004

Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) merupakan alat psikologis yang digunakan untuk memahami kepribadian individu berdasarkan teori Carl Jung. Salah satu tipe yang cukup unik adalah ISTP (Introversion, Sensing, Thinking, Perceiving). Individu dengan tipe ini dikenal sebagai “The Virtuoso” atau “The Crafter” yang cenderung logis, efisien, dan berorientasi pada solusi teknis.

Dalam konteks organisasi kesehatan, pemahaman terhadap tipe kepribadian seperti ISTP menjadi penting. Kepemimpinan dalam layanan kesehatan tidak hanya membutuhkan kemampuan manajerial, tetapi juga pendekatan yang sesuai dengan karakter dan kepribadian. ISTP, meskipun tidak selalu tampil dominan secara sosial, memiliki potensi besar sebagai pemimpin situasional yang efektif dalam kondisi krisis atau teknis.


Model kepemimpinan yang relevan

ISTP cocok dengan Model Kepemimpinan Situasional yang dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard. Model ini menekankan bahwa tidak ada satu gaya kepemimpinan yang ideal dalam semua situasi, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan tim. Gaya ini sangat sesuai dengan ISTP yang fleksibel dan fokus pada tindakan nyata.

ISTP juga cocok dengan Transformational Leadership dalam aspek inovasi dan efisiensi teknis, meski tidak terlalu menonjol dalam aspek emosional. Mereka sering menjadi “problem solver” dalam tim yang membutuhkan efisiensi dan penyelesaian krisis.


Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan penangan TB-HIV 


Meski transformational leadership cenderung idealis, ISTP mengimplementasikan versi yang berfokus pada efisiensi teknis, keselamatan kerja, dan manajemen risiko. Dalam konteks FKTP, penanganan TB-HIV membutuhkan ketelitian, koordinasi lintas sektor, dan penyelesaian masalah yang cepat. 

Peran seorang pemimpin ISTP :

Menyusun alur penatalaksanaan TB-HIV yang logis dan praktis, memastikan pengambilan keputusan berbasis data, bukan asumsi, cepat merespons hambatan di lapangan, seperti ketidakhadiran tenaga medis atau keterbatasan obat, mengembangkan sistem monitoring teknis sederhana untuk evaluasi program TB-HIV.

Kompleksitas rumah sakit yang bersifat hierarkis sering kali menjadi hambatan dalam penerapan program keselamatan. Koordinasi antarprofesi yang membutuhkan sensitivitas sosial juga kerap kali tidak berjalan lancar, terutama jika tidak ada jembatan komunikasi yang memadai. Tantangan lain mencakup rendahnya kepatuhan pada standar keselamatan pasien, kelelahan petugas akibat beban kerja tinggi, serta stigma internal terhadap pasien TB-HIV dari sebagian tenaga medis.

Dalam lingkungan seperti ini, ISTP yang dikenal tenang dalam tekanan, logis, dan praktis, justru dapat memainkan peran penting. Mereka tidak terpaku pada teori atau hirarki semata, melainkan cenderung langsung menuju solusi yang paling efisien dan realistis.

Seorang pemimpin bergaya ISTP dapat mengambil langkah konkret dengan mengembangkan protokol keselamatan pasien berbasis data insiden yang aktual, bukan sekadar berdasarkan instruksi birokratis. Misalnya, jika terjadi peningkatan infeksi nosokomial TB pada tenaga kesehatan, ISTP akan segera menganalisis pola insiden, mengidentifikasi titik rawan transmisi, lalu menyusun SOP baru yang lebih efektif dan mudah dijalankan di lapangan.

ISTP juga cocok untuk menerapkan audit mutu sederhana berbasis data, seperti memantau compliance terhadap penggunaan APD atau efektivitas triase TB-HIV. Mereka dapat menginisiasi simulasi manajemen risiko klinis, yang menekankan pada latihan nyata di lapangan daripada hanya seminar teoritis.

Pemanfaatan teknologi juga menjadi keunggulan ISTP. Mereka dapat mendorong penggunaan sistem triase otomatis berbasis algoritma untuk pasien TB-HIV, mempercepat pengambilan keputusan dan mengurangi eksposur petugas. Selain itu, mereka cenderung mengembangkan SOP yang ringkas, efisien, dan berbasis realitas kerja, bukan prosedur panjang yang tidak aplikatif.

Kesimpulan

ISTP adalah tipe kepribadian yang tenang, praktis, dan sangat baik dalam memecahkan masalah teknis. Dalam dunia kesehatan, mereka cocok menempati peran strategis di balik layar atau dalam situasi krisis, khususnya melalui model kepemimpinan situasional. Dalam penanganan TB-HIV di FKTP, ISTP unggul dalam ketepatan dan efisiensi, sementara di FKTL mereka berperan penting dalam inovasi teknis untuk peningkatan mutu dan keselamatan.

Namun, perlu adanya upaya pengembangan interpersonal skill dan kolaborasi lintas kepribadian agar peran kepemimpinan ISTP dapat optimal. Memahami dan mengintegrasikan potensi kepribadian dalam sistem kesehatan akan membuka peluang menuju pelayanan yang lebih adaptif, aman, dan berkualitas.



Daftar Pustaka:

  1. Myers, I. B., & Briggs, K. C. (1998). MBTI Manual: A Guide to the Development and Use of the Myers-Briggs Type Indicator. Palo Alto, CA: Consulting Psychologists Press. Jung, C. G. (1971). Psychological Types. Princeton University Press. Hersey, P., & Blanchard, K. H. (1988). Management of Organizational Behavior: Utilizing Human Resources. Prentice Hall.

  2. Bass, B.M., & Riggio, R.E. (2006). Transformational Leadership. Psychology Press.

  3. WHO (2021). Consolidated Guidelines on TB and HIV Collaborative Activities. https://www.who.int

  4. Kemenkes RI. (2022). Petunjuk Teknis Program Pengendalian TB-HIV Terpadu di Fasilitas Kesehatan. Jakarta: Direktorat P2PML.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader