INTP: Ahli Logika Sebagai Pemimpin

 Laura Florencia Sugiharto

22.P1.0040


INTP: Ahli Logika Sebagai Pemimpin

INTP merupakan salah satu dari 16 kepribadian dari Myers-Briggs Type Indicator, yang berarti Introverted, Intuitive, Thinking, and Perceiving. Kepribadian ini sering disebut sebagai “Si Ahli Logika” atau “Si Pemikir”. Kepribadian INTP dikenal dari pendekatannya yang analitis dan logis untuk memecahkan masalah, dan suka eksplorasi ide-ide, rasa ingin tahu yang tinggi membuat kepribadian ini memandang masalah yang ditemui sebagai tantangan yang menarik¹.

Bagian Introverted (I) dari kepribadian ini senang bekerja sendirian preferensinya untuk bekerja secara independen. Intuitive (N) pada INTP membuat orang dengan kepribadian ini lebih senang dengan memproses informasi berdasarkan pola, kemungkinan, dan ide abstrak, daripada berfokus kepada fakta konkrit dan detail. Thinking (T) pada kepribadian ini identik dengan pribadi yang objektif dan tidak terpengaruh emosi. Perceiving (P) merujuk kepada cara INTP berinteraksi dengan dunia luar. Tipe Perceiving lebih mudah beradaptasi, fleksibel, dan suka membiarkan pilihan mereka sendiri terbuka, sering menunda keputusan dan menikmati spontanitas¹.



Model kepemimpinan yang sesuai dengan kepribadian INTP adalah gaya kepemimpinan demokratis. INTP sangat menghargai sudut pandang orang lain karena tipe kepribadian ini senang mendengar ide-ide baru. Kepemimpinan demokratis adalah gaya kepemimpinan yang melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan. Dalam kepemimpinan ini, INTP berperan sebagai fasilitator ide dan pendorong diskusi terbuka. Model ini memungkinkan tim bekerja dengan iklim yang kolaboratif serta terbuka terhadap inovasi dan ide baru¹.


Aplikasi Model Kepemimpinan untuk FASKES Tingkat Pertama dalam Kegiatan Lintas Program Penanganan TB-HIV

Kepemimpinan demokratis mengedepankan input dari seluruh anggota tim, lalu menentukan keputusan bersama¹. Dalam aplikasi gaya kepemimpinan ini dalam kegiatan lintas program penanganan TB-HIV, tidak hanya mengandalkan analisis objektif dan rasional, tetapi juga membuka ruang untuk partisipasi aktif.
Advokasi
Meningkatkan dukungan terhadap penerapan layanan one stop service dan keterlibatan masyarakat dalam case finding serta pendampingan pasien². Hal ini dilakukan berdasarkan data asli lapangan dan disampaikan kepada kepala wilayah, lembaga sosial masyarakat, kader dan mungkin tokoh agama setempat. Melakukan diskusi terbuka antara divisi dan petugas, atau dengan memfasilitasi forum edukasi agar pemahaman merata dan dimengerti oleh semua pihak. Selain itu, dengan memfasilitasi komunikasi antar divisi, petugas, dan semua yang terlibat, diharapkan dapat melihat dari berbagai sudut pandang sehingga program yang terlaksana sesuai dengan tujuan, standar pemerintah, dan dapat diterima oleh masyarakat.

Penguatan Tim
Melakukan koordinasi tim internal. Inisiasi forum diskusi lintas divisi dan klaster, untuk mendorong keterlibatan seluruh yang terlibat dalam menyusun program layanan terpadu².

Koordinasi Lintas Sektor
Menyusun agenda koordinasi rutin dengan sektor sosial, pendidikan, dan lainnya². Hal ini dilakukan untuk menjebatani gap antar lembaga. Pembangunan sistem komunikasi yang efektif dan penggunaan media informasi informal namun fungsional juga diperlukan untuk mempercepat komunikasi antar sektor².

Kolaborasi Interprofesional
Melakukan rapat kecil interprofesi yang meninjau kasus sulit. Menyediakan ruang diskusi untuk setiap profesi untuk menyampaikan pendapatnya tanpa dominasi. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkan keputusan berbasis keputusan bersama lintas profesi².

Monitoring
Sistem monitoring disusun berdasarkan indikator sistem informasi TBC (SITB) dan sistem informasi HIV/AIDS (SIHA) namun tetap menyesuaikan dengan kebutuhan yang terjadi sebenarnya di lapangan. Membuat dashboard visual untuk memvisualisasikan data tren capaian maupun kasus². Pelibatan semua anggota tim diperlukan untuk pembacaan dan analisis data secara bersama.

Evaluasi
Evaluasi dilakukan bersama dengan metode seperti refleksi bulanan bersama tim, pengumpulan feedback dari pasien TB-HIV, dan komunitas pendamping², serta melakukan diskusi terbuka mengenai hambatan implementasi program. Hal ini dilakukan untuk memodifikasi proses evaluasi menjadi kesempatan untuk menumbuhkan inovasi.

Aplikasi Model Kepemimpinan untuk FASKES Tingkat Lanjut untuk Peningkatan Mutu


Copyright: Yuliya Pauliukevich

Identifikasi Pasien

Identifikasi pasien yang tepat adalah salah satu patient safety paling penting. Identifikasi pasien merupakan suatu sistem yang membedakan antara pasien yang satu dengan pasien lainnya. Hal ini bertujuan untuk memastikan ketepatan pemberian layanan atau tindakan kepada pasien³. Selain itu, juga untuk memudahkan proses administrasi.

Bersama tim manajemen risiko, perawat, dokter, dan staf rekam medis, akan dilakukan diskusi untuk penyusunan ulang SOP identifikasi pasien sebelum tindakan medis, pemberian obat, pengambilan spesimen, dan prosedur lainnya. Selain itu, penyusunan pelatihan simulasi kasus kesalahan identifikasi pasien dan membuka sesi refleksi juga diperlukan untuk melihat kemungkinan kasus skenario terburuk yang mungkin terjadi. Mendorong penggunaan barcode, gelang identitas pasien, dan rekam medis elektronik dengan fitur konfirmasi dua langkah (seperti nama dan tanggal lahir)³. Diskusi teknis dapat dilakukan bersama dengan tim IT dan petugas pelayanan pasien agar solusi bisa disesuaikan dengan kondisi asli di lapangan. Selain itu, pemberian ruang saran dari perawat dan petugas administrasi lain yang terlibat sangat diperlukan untuk melihat hambatan apa yang mereka alami selama implementasi sistem identifikasi pasien (contohnya ketika pasien sedang tidak sadar, kembar, dengan nama sama, dan lainnya).

Tantangan yang mungkin terjadi adalah rendahnya kesadaran staf terhadap pentinngnya verifikasi identitas, keterbatasan sarana seperti gelang identitas atau sistem barcode, serta beban kerja tinggi yang kerap membuat prosedur ini terlewati³. Hal-hal ini walau menjadi tantangan namun juga dapat menjadi peluang untuk meningkatkan keikutsertaan staf melalui pelatihan yang interaktif, pemanfaatan teknologi identifikasi sederhana yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Upaya antisipatif yang dapat dilakukan adalah mengintegrasikan simulasi kasus dengan diskusi terbuka, lalu mendorong pengembangan SOP hasil diskusi lintar profesi, serta mengusulkan penyediaan logistik yang berdasarkan dari laporan kejadian nyata untuk memastikan sistem identifikasi berjalan efektif dan konsisten³.


Kesimpulan
Model kepemimpinan demokratis yang berbasis karakter INTP mendorong partisipasi aktif, pemikiran kritis, dan inovasi dalam pelayanan kesehatan. Pendekatan yang logis, terbuka terhadap ide baru, dan berorientasi pada pemecahan masalah, adalah kekuatan seorang pemimpin INTP, yang kemudian hal ini juga berkesinambungan dengan model kepemimpinan demokratis dimana diskusi dan pengambilan keputusan bersama yang inklusif adalah inti dari model ini. Pada fasilitas kesehatan tingkat pertama, model ini mendukung keberhasilan integrasi lintas program penanganan TB-HIV melalui advokasi, penguatan tim, kolaborasi interprofesional, monitoring, dan evaluasi. 

Daftar Referensi
1. 16Personalities. INTP Personality (“The Logician”). [Internet]. 2023 [cited 2025 Jul 3]. Available from: https://www.16personalities.com/intp-personality
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Kolaborasi TBC HIV. Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit; 2023.
3. World Health Organization (WHO). Patient Safety Curriculum Guide: Multi-professional Edition. Geneva: WHO; 2011.

Pernyataan Orisinalitas Karya Tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya tulis sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader