I’m Born to Be a Leader
Natalia Rahardjo (22.P1.0013)
@myimaginatalia world
Salam kenal semuanya, saya Natalia dan ini hasil assessment kepribadian saya
Kepribadian saya berdasarkan MBTI adalah ENTJ-A
E = Ekstrovert
N = Intuitive
T = Thinking
J = Judging
A = Assertive
Seorang ENTJ-A adalah pemimpin alami, komandan yang tegas, percaya diri dan memiliki berbagai strategi inovasi yang kreatif. ENTJ-A mampu bertahan ditengah berbagai tekanan dan memiliki tujuan yang jelas untuk karir di masa depan. ENTJ-A memiliki kepemimpinan yang kuat, mampu mengkoordinir anggotanya dengan baik dan mampu mengatasi krisis dengan emosi yang stabil. Kemampuan kepribadian ENTJ-A dalam otoritasi dan demokratis mampu membuat sebuah tim berjalan dengan efisien. Fakta yang harus diketahui bahwa kepribadian ini termasuk kepribadian terlangka kedua dengan prevalensi 3% dari total populasi di dunia dan pada wanita terdapat 1% dari populasi dunia.
Kepemimpinan yang Relevan dengan Kepribadian ENTJ-A
ENTJ dikenal sebagai The Commander yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam menghadapi segala tantangan. ENTJ merupakan pengambil keputusan terbaik secara logika karena pemikirannya yang rasionaldan mudah bergaul dengan banyak teman karena energi ekstrovert yang dimilikinya. Dalam perencanaan strategi menyelesaikan tantangan, ENTJ dapat menyusun strategi dengan matang dan dapat menjalankan strateginya secara efektif. ENTJ mampu mengemban tanggung jawab yang besar dan dengan idenya yang kreatif, ENTJ mampu menikmati setiap proses yang dihadapi hingga mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan jiwa yang penuh dengan percaya diri, pemberani dan visioner, ENTJ dapat menginspirasi semua orang akan gaya kepemimpinannya.
Aplikasi model kepemimpinan ENTJ-A untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV
Sebagai ENTJ-A, kolaborasi lintas program bukan hanya sebuah kebutuhan, tapi kewajiban strategis untuk menuntaskan permasalahanTB-HIV di Puskesmas X.
Menyusun struktur kerja lintas program yang jelas dan terukur. Baik untuk penanganan TB maupun HIV, harus memiliki indikator kinerja yang saling mendukung. Saya akan menyatukan pemangku kepentingan dari program TB, HIV, gizi, dan promosi kesehatan dalam satu forum mingguan untuk saling koordinasi agar tidak terjadi tumpang tindih persepsi melakukan layanan.
Mendorong integrasi sistem informasi agar data pasien TB-HIV tetap berada di program tersendiri. Saya akan meminta pengembangan pemantauan real-time berbasis SIMPUS, sehingga keputusan bisa diambil cepat, berbasis bukti, dan terhindar dari bias subjektif.
Sebagai ENTJ-A, saya bekerja dengan target yang spesifik. Saya akan memimpin penyusunan rencana aksi selama 6 bulan dengan peningkatan skrining HIV pada pasien TB hingga 100% dan penurunan angka putus obat pada pasien terinfeksi. Setiap program bertanggung jawab atas , dan evaluasi target yang akan dicapai dan diperlukan evaluasi rutin secara mingguan untuk mengetahui apakah kinerja tim masih efektif. Dibutuhkan keterlibatan kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan LSM untuk memperkuat edukasi untuk masyarakat dam survei jumlah kasus. Strategi jangka panjang terus dikedepankan agar terciptanya budaya kerja kolaboratif di Puskesmas. Di situasi ini, saya memastikan bahwa setiap anggota tim merasa dihargai kontribusinya. Walaupun saya seorang ENTJ-A yang dominan, saya paham bahwa keberhasilan bukan dicapai oleh satu orang, tapi oleh tim yang bergerak dengan satu visi.
Tantangan
Koordinasi antarprogram yang seringkali berjalan sendiri yang menyebabkan tumpang tindih kegiatan, pemborosan sumber daya, dan pelayanan yang tidak efisien.
Banyak tenaga kesehatan belum memiliki pelatihan gabungan TB-HIV yang menyebabkan pasien tidak mendapatkan layanan komprehensif dalam satu waktu dan tempat.
Stigma terhadap pasien TB dan HIV masih tinggi yang dapat memperburuk survei, kepatuhan berobat, dan penerimaan layanan di masyarakat.
Data TB dan HIV masih terpisah dalam sistem yang berbeda yang menyulitkan dalam pelaporan dan pengambilan keputusan cepat.
Peluang
Pemerintah sudah menetapkan kebijakan integrasi layanan TB-HIV dan mendorong pendekatan kolaboratif lintas sektor.
Adanya teknologi layanan berupa BPJS atau website penanganan TB-HIV bisa menjadi dasar integrasi sistem pelaporan TB-HIV.
Banyak organisasi masyarakat yang siap membantu survei, edukasi, dan pendampingan pasien jika difasilitasi secara terstruktur.
Puskesmas bisa memfasilitasi pertemuan lintas program dan lintas sektor untuk menyatukan visi dalam penanganan TB-HIV.
Aplikasi model kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL) untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)
`ENTJ-A memiliki karakter yang tegas, sistematis, dan berorientasi pada hasil dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, khususnya pada keselamatan pasien yaitu identifikasi pasien secara akurat. ENTJ-A akan mengambil langkah cepat dan strategis dengan menstandarkan prosedur identifikasi dua faktor di setiap unit pelayanan di Fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjutan (FKTL). Penggunaan teknologi seperti QR code pada gelang pasien dapat meminimalisir risiko kesalahan identitas secara signifikan.
ENTJ-A juga mendorong pelaksanaan pelatihan interprofesional untuk seluruh tenaga kesehatan, serta membangun kebiasaan keterlibatan pasien dalam proses verifikasi identitas. Setiap tindakan yang melibatkan pasien harus diawali dengan konfirmasi nama dan tanggal lahir secara aktif dari pasien itu sendiri. Evaluasi dan monitoring dilakukan secara berkala dengan pendekatan berbasis data.
Tantangan yang sering muncul dalam implementasi identifikasi pasien adalah masih adanya staf yang kurang memahami pentingnya prosedur ini, sistem informasi yang belum terintegrasi, serta beban kerja tinggi yang menyebabkan identifikasi sering terlewat. Namun, peluang besar juga terbuka, seperti tersedianya teknologi dan sistem digital rekam medis, serta adanya kebijakan nasional yang mendukung digitalisasi mutu pelayanan.
Upaya yang dilakukan oleh ENTJ-A untuk mengantisipasi adalah penerapan teknologi identifikasi, pelatihan e-learning, edukasi pasien dan keluarga, serta rapat evaluasi berkala. Seluruh langkah tersebut diarahkan untuk menciptakan budaya keselamatan pasien yang berkelanjutan, terukur, dan melibatkan semua pihak. Dengan pendekatan ENTJ-A yang berani mengambil keputusan, mampu menggerakkan tim lintas sektor, dan fokus pada pencapaian target mutu, identifikasi pasien dapat dilakukan dengan lebih aman, akurat, dan konsisten.
Kesimpulan
Kepribadian ENTJ-A dalam dunia pelayanan kesehatan karena punya karakter tegas, visioner, dan sistematis. Baik di Puskesmas (FKTP) untuk menangani TB-HIV maupun di rumah sakit (FKTL) dalam meningkatkan keselamatan pasien, ENTJ-A bisa menggerakkan tim lintas program, menyusun strategi jelas, dan menentukan keputusan berbasis data. Meski terdapat tantangan seperti kurangnya pelatihan, sistem yang belum terintegrasi, dan stigma masyarakat masih ada, tapi dengan gaya kepemimpinan ENTJ-A yang kuat dan solutif, semuanya dapat dihadapi lewat kolaborasi, teknologi, dan evaluasi rutin. ENTJ-A bukan hanya pemimpin yang hebat, tapi juga mampu menciptakan sistem kerja yang efektif dan berdampak langsung ke mutu layanan kesehatan.
Pernyataan Orisinalitas
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Referensi
16Personalities. Komandan (ENTJ) [Internet], 16Personalities; [diakses 2025 Jul 4]. Tersedia dari: https://www.16personalities.com/id/kepribadian-entj
Satupersen. Fakta Menarik Kepribadian ENTJ [Internet]. Satupersen; [diakses 2025 Jul 4]. Tersedia dari: https://satupersen.net/blog/fakta-menarik-kepribadian-entj
SimplyPsychology.org. ENTJ personality [Internet]. SimplyPsychology.org [diakses 2025 Jul 4]. Tersedia dari: https://www‑simplypsychology‑org.translate.goog/entj‑personality.html?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=imgs
World Health Organization. World Health Organization guidance on integrating the prevention and control of noncommunicable diseases in HIV/AIDS, tuberculosis, and sexual and reproductive health programmes [Internet]. Geneva: WHO; 2023 Apr 5 [cited 2025 Jul 4]. Available from: https://www.who.int/news/item/05-04-2023-world-health-organization-guidance-on-integrating-the-prevention-and-control-of-noncommunicable-diseases-in-hiv-aids-tuberculosis-and-sexual-and-reproductive-health-programmes
World Health Organization. WHO policy on collaborative TB/HIV activities: guidelines for national programmes and other stakeholders [Internet]. Geneva: WHO; 2012 [cited 2025 Jul 4].
WHO Consolidated Guidelines on Tuberculosis: Module 6 - Tuberculosis and Comorbidities [Internet]. Geneva: World Health Organization; 2024. HIV: introduction. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK603415/?report=classic&utm_source=chatgpt.com
Kementerian Kesehatan RI. Kebijakan nasional kolaborasi TB-HIV di Indonesia [Internet]. 201? [cited 2025 Jul 4]. Available from: NSP TB-HIV kolaborasi.
Supriyanti et al. Peran Monitoring dan Evaluasi dalam keberhasilan program TBC Indonesia. 2024.
Panduan TB 2020–2024 [Internet]. 2020 [cited 2025 Jul 4].
de Melo DN, et al. Interventions to reduce patient identification errors in hospital: systematic review. Open Nurs J. 2021;15:109-23.
Harsvardhan R, et al. Leadership style and patient safety culture. J Indira Gandhi Inst Med Sci. 2023;9(1):56-61.
Komentar
Posting Komentar