Harmoni Kepemimpinan: INFJ-A Menyatukan Tim untuk Kesehatan yang Lebih Baik
Nama: Ivana Gavrila Kristanto
NIM: 22.P1.0001
Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Harmoni Kepemimpinan: INFJ-A Menyatukan Tim untuk Kesehatan yang Lebih Baik
Konteks dan Latar Belakang
Assessment MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) personality merupakan alat refleksi diri yang dirancang untuk memahami karakter dan cara berpikir seseorang secara lebih mendalam. MBTI mengelompokkan individu ke dalam 16 tipe kepribadian, yang menggambarkan kecenderungan alami dalam aspek kehidupan1. Dengan mengenali kepribadian yang dimiliki, seseorang dapat meningkatkan kesadaran diri, memahami perbedaan berpikir dan berperilaku orang lain, serta mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi secara lebih empatik dan efektif. Wawasan ini bermanfaat dalam kehidupan pribadi dan meningkatkan kualitas komunikasi, kerja tim, dan kepemimpinan di lingkungan profesional2.
Setelah mempelajari konsep MBTI, saya melakukan assessment kepribadian ini dan hasilnya menunjukkan bahwa saya termasuk dalam tipe kepribadian INFJ-A. Tipe kepribadian ini terdiri dari empat dimensi utama, yaitu Introversion (I), iNtuition (N), Feeling (F), dan Judging (J), dengan tambahan karakteristik Assertive (A). Kepribadian ini dikenal sebagai “The Advocate”. Individu dengan tipe kepribadian ini umumnya memiliki kecenderungan sebagai pendengar yang reflektif, pemikir yang visioner, dan penggerak perubahan yang berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan.
Individu INFJ-A cenderung introvert, lebih nyaman menarik diri ke dalam dunia batin mereka untuk merenung dan memproses pikiran. Pengambilan keputusan INFJ-A dipandu oleh nilai dan emosi, bukan hanya logika. Mereka sangat empati, peka terhadap perasaan orang lain, dan berusaha menciptakan harmoni. Mereka mengatur kehidupan dengan tujuan jelas dan jadwal terorganisir, meskipun tetap fleksibel dalam visi mereka. INFJ-A memiliki rasa percaya diri yang stabil, tidak mudah terpengaruh oleh stres atau keraguan diri, teguh dalam keyakinan mereka, dan mampu menjalani visi mereka dengan ketenangan. Dalam konteks sosial, INFJ berperan sebagai diplomat atau idealis dengan memahami perspektif orang lain secara mendalam, serta termotivasi untuk menciptakan dampak positif yang bermakna3.
Gaya kepemimpinan INFJ-A berfokus pada pengaruh dari belakang layar. Mereka lebih nyaman untuk memberikan arahan strategis sembari membangun hubungan erat dengan anggota tim. Bagi mereka, kepemimpinan bukanlah tentang sorotan ataupun status pemimpin itu sendiri, melainkan memfasilitasi pertumbuhan anggota tim untuk mengembangkan potensi unik yang dimiliki guna mencapai tujuan bersama. Sifat ini selaras dengan kecenderungan INFJ-A yang lebih suka mendengarkan daripada berbicara, memiliki visi jangka panjang, dan termotivasi untuk menciptakan perubahan positif bagi individu di sekitarnya maupun lingkungan yang lebih luas.
Model Kepemimpinan yang Relevan
Karakteristik seorang INFJ-A selaras dengan model Servant Leadership, sebuah pendekatan kepemimpinan yang menempatkan pelayanan sebagai inti utama. Dalam model ini, seorang pemimpin berfokus pada kebutuhan anggota tim dan komunitas yang dilayani, dengan tujuan memberdayakan mereka untuk mencapai potensi terbaiknya. Seseorang dengan Servant Leadership memimpin melalui 10 karakteristik utama yang diidentifikasi oleh Larry C. Spears berdasarkan tulisan Robert K. Greenleaf, di antaranya mendengarkan secara aktif, empati, penyembuhan hubungan, kesadaran, persuasi, konseptualisasi, pandangan jauh ke depan, stewardship, komitmen pada pertumbuhan individu, dan membangun komunitas4.
Dalam dinamika tim, INFJ berusaha menjadi pendengar aktif, memberikan ruang bagi setiap anggota untuk menyampaikan ide atau kekhawatiran mereka terhadap suatu hal. Kecerdasan intuitif INFJ-A memungkinkan mereka membaca dinamika kelompok dengan sensitif, mengenali potensi konflik, ketimpangan kontribusi, atau kebutuhan yang belum tersampaikan. Dalam diskusi strategi intervensi kesehatan masyarakat, mereka memfasilitasi partisipasi dengan pertanyaan terbuka, membuat anggota merasa dihargai, sekaligus memastikan program mengatasi ketimpangan akses kesehatan secara adil. Sebagai pemimpin, INFJ percaya keberhasilan tim tidak hanya diukur dari hasil proyek, tetapi juga dari pertumbuhan individu di dalamnya. Mereka berupaya untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, di mana setiap anggota tim merasa percaya diri untuk bereksperimen dengan ide baru.
Dalam kepemimpinan tim, mereka selalu berorientasi pada dampak yang berkelanjutan. Saat merancang intervensi kesehatan masyarakat, INFJ mendorong tim untuk mempertimbangkan tidak hanya solusi jangka pendek, tetapi juga keberlanjutan program di komunitas. INFJ percaya bahwa seorang pemimpin harus menjadi teladan bagi timnya, bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan. Dalam setiap proyek, mereka berusaha menunjukkan integritas dengan menjalankan tugas secara konsisten, menghormati tenggat waktu, dan menjaga komunikasi yang terbuka dan penuh penghargaan. Tindakan ini menciptakan energi moral yang menginspirasi anggota tim untuk memberikan yang terbaik5.
Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama untuk Kegiatan Lintas Program Penanganan TB-HIV
Model Servant Leadership dipilih untuk mendukung kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X karena sifatnya yang berfokus pada pelayanan, pemberdayaan, dan kolaborasi. Model ini menekankan pelayanan kepada tim dan komunitas untuk mencapai tujuan bersama, seperti mengurangi beban TB-HIV melalui advokasi, penguatan tim, koordinasi lintas sektor, kolaborasi interprofesional, monitoring, dan evaluasi.
Advokasi
Seorang pemimpin dengan model Servant Leader memanfaatkan empati dan kesadaran sosial untuk memahami kebutuhan pasien TB-HIV dan komunitas. Dengan mendengarkan secara aktif, pemimpin memastikan pesan advokasi relevan dan mudah diterima, seperti mengkampanyekan pemeriksaan TB gratis untuk mengurangi stigma masyarakat. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, menggalang dukungan lintas sektor, dan mendorong perubahan perilaku yang mendukung kepatuhan pengobatan. Melalui pendekatan ini, pemimpin membangun kepercayaan dan menciptakan lingkungan yang mendukung keberlanjutan program TB-HIV, memastikan kebutuhan komunitas terpenuhi dan akses layanan kesehatan lebih inklusif.
Penguatan Tim
Pemimpin berfokus pada pengembangan kapasitas anggota tim. Mereka mendelegasikan tugas sesuai keahlian, seperti menugaskan perawat untuk edukasi pasien dan dokter untuk supervisi klinis, sambil memberikan pelatihan tentang pedoman TB-HIV WHO. Lingkungan yang aman diciptakan untuk mendorong inovasi, seperti ide baru dalam penyuluhan kesehatan, sehingga tim merasa dihargai dan termotivasi.
Koordinasi Lintas Sektor
Koordinasi lintas sektor ditingkatkan melalui keteladanan dan komunikasi terbuka. Pemimpin menghubungkan Puskesmas X dengan sektor lain, seperti dinas sosial dan transportasi untuk mengatasi hambatan akses pasien, seperti biaya transportasi. Misalnya, mereka dapat mengusulkan kartu perjalanan gratis bagi pasien TB-HIV, sebagaimana disarankan dalam studi global tentang dampak COVID-19 pada layanan TB-HIV6.
Kolaborasi Interprofesional
Pemimpin memfasilitasi kerjasama antara dokter, perawat, ahli gizi, dan pekerja sosial dengan pendekatan inklusif. Mereka mengadakan rapat rutin untuk membahas kasus pasien, memastikan setiap profesi berkontribusi sesuai keahlian. Contohnya, saat merancang rencana perawatan pasien TB-HIV dengan komorbiditas diabetes, pemimpin memastikan ahli gizi terlibat untuk menyusun diet yang mendukung pengobatan.
Monitoring
Pemimpin dengan Servant Leadership membangun sistem monitoring berbasis data yang inklusif. Mereka melibatkan tim interprofesional, seperti dokter, perawat, dan kader kesehatan dalam pengumpulan data, misalnya tingkat kepatuhan pengobatan pasien TB-HIV. Dengan mendengarkan secara aktif, pemimpin memastikan kebutuhan tim terpenuhi, seperti menyediakan alat pencatatan sederhana untuk kader. Pemimpin juga menunjukkan keteladanan dengan turut memantau data secara rutin, memastikan akurasi dan memberikan umpan balik yang membangun kepada tim.
Evaluasi
Pemimpin mengadakan sesi debriefing yang reflektif untuk mengevaluasi hasil program bersama tim. Seperti contoh, mereka menganalisis data kepatuhan pengobatan untuk mengidentifikasi kendala, seperti kekurangan stok obat atau rendahnya kesadaran pasien. Dengan pendekatan empati, pemimpin menciptakan lingkungan aman di mana tim merasa nyaman berbagi tantangan tanpa takut dihakimi. Solusi dirumuskan secara kolaboratif dan pemimpin dapat memanfaatkan wawasan tim untuk merancang perbaikan jangka panjang.
Tantangan:
- Tenaga kesehatan di Puskesmas X sering kelebihan beban kerja, sehingga sulit fokus pada kolaborasi antar profesi.
- Masyarakat, terutama di daerah terpencil, kurang memahami TB-HIV (gejala, penularan, pentingnya pengobatan), menyulitkan edukasi dan advokasi.
- Puskesmas X kekurangan dana, peralatan medis, dan obat-obatan yang menghambat program TB-HIV, seperti deteksi dini.
- Pasien TB-HIV sering tidak patuh pada pengobatan karena efek samping, durasi panjang, atau minimnya dukungan sosial, meningkatkan risiko penularan.
Peluang:
- Melibatkan tokoh masyarakat dan kader untuk memperluas jangkauan penyuluhan, mempercepat deteksi dini, dan meningkatkan kepatuhan pengobatan TB-HIV.
- Kolaborasi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk mendukung pendanaan, pelatihan, alat diagnostik, dan edukasi berbasis komunitas guna memperkuat kapasitas Puskesmas X.
- Pemanfaatan media sosial dan aplikasi berbasis ponsel untuk menyebarkan informasi tentang TB-HIV secara cepat dan murah.
- Memanfaatkan Program Eliminasi TB 2030 dari Kementerian Kesehatan untuk mendapatkan dukungan teknis dan finansial, memperkuat advokasi, serta mengakses sumber daya, seperti pelatihan dan obat-obatan.
Upaya Antisipatif:
- Memberikan pelatihan manajemen waktu dan memanfaatkan tenaga sukarelawan terlatih untuk mendukung tugas non-klinis, sehingga tim kesehatan dapat fokus pada kolaborasi dan perawatan.
- Melibatkan tokoh masyarakat dan kader lokal dalam kampanye edukasi yang menggunakan bahasa sederhana dan media visual untuk menjangkau masyarakat dengan literasi rendah.
- Mengadvokasi alokasi anggaran tambahan melalui kerja sama dengan dinas kesehatan atau organisasi non-pemerintah, serta memanfaatkan donasi alat diagnostik dari mitra internasional.
- Menyediakan konseling rutin dan kelompok dukungan pasien untuk meningkatkan motivasi dan kepatuhan, dengan melibatkan pekerja sosial dalam tim.
Tantangan:
- Tekanan waktu pada tenaga kesehatan di FKTL dapat menyebabkan komunikasi terburu-buru, meningkatkan risiko miskomunikasi, seperti kesalahan dalam serah terima pasien.
- Struktur hierarkis di rumah sakit sering membuat staf junior ragu untuk menyampaikan kekhawatiran, sehingga dapat menghambat komunikasi terbuka.
- Tim interprofesional dengan latar belakang berbeda dapat menyebabkan perbedaan gaya komunikasi, mempersulit koordinasi.
Peluang:
- Sistem informasi rumah sakit (SIMRS) dapat digunakan untuk mendokumentasikan komunikasi secara akurat, seperti catatan elektronik SBAR.
- Pedoman akreditasi rumah sakit dari Kementerian Kesehatan, seperti standar JCI untuk keselamatan pasien dapat mendukung implementasi komunikasi efektif.
- Meningkatnya kesadaran akan pentingnya kerja tim interprofesional dapat mendorong dokter, perawat, dan apoteker untuk berkomunikasi lebih baik.
- Komunikasi efektif dapat mengurangi insiden seperti medication error, meningkatkan kepercayaan pasien dan tim.
Upaya Antisipatif:
- Memberikan pelatihan manajemen waktu dan memanfaatkan staf pendukung untuk tugas non-klinis, sehingga tenaga kesehatan fokus pada komunikasi akurat.
- Menerapkan budaya “just culture” melalui sesi pelatihan kepemimpinan yang mendorong staf junior untuk berbicara. Just culture merupakan budaya yang memberikan batasan jelas antara kinerja yang dapat diterima (acceptable) dengan kinerja yang tidak dapat diterima (unacceptable).
- Mengadakan workshop komunikasi lintas profesi untuk menyelaraskan gaya komunikasi, seperti pelatihan SBAR yang melibatkan semua profesi kesehatan.
- Mengintegrasikan alat komunikasi digital dalam SIMRS dan mematuhi pedoman akreditasi untuk memastikan standar komunikasi terpenuhi.
Kesimpulan
Kepribadian INFJ-A yang dikenal sebagai “The Advocate”, memiliki karakteristik reflektif, visioner, dan empatik yang selaras dengan pendekatan Servant Leadership. Dalam konteks fasilitas kesehatan, penerapan Servant Leadership oleh seorang INFJ-A terbukti efektif, baik di tingkat pertama (puskesmas) maupun tingkat lanjut (rumah sakit). INFJ-A mengandalkan empati, komunikasi terbuka, dan visi jangka panjang untuk mengatasi tantangan seperti stigma, keterbatasan sumber daya, dan potensi konflik tim. Melalui pelatihan, pemberdayaan, keteladanan, dan pendekatan kolaboratif, INFJ-A mampu mendorong perubahan yang berkelanjutan. Dengan demikian, kombinasi kepribadian INFJ-A dan Servant Leadership menciptakan model kepemimpinan yang humanis, inklusif, dan berdampak nyata dalam upaya peningkatan layanan kesehatan.
Daftar Pustaka
- Li H, Zhao P. Visual Mapping Analysis of International Research Hotspots and Trends for the MBTI Test. International Journal of Contemporary Education. 2025 Feb 10;8(2):11.
- The Myers-Briggs Company. Myers-Briggs Type Indicator® (MBTI®) | Official Myers Briggs Personality Test [Internet]. Themyersbriggs.com. 2018. Available from: https://www.themyersbriggs.com/en-US/Products-and-Services/Myers-Briggs
- Diab-Bahman R. The Impact of Dominant Personality Traits on Team Roles. The Open Psychology Journal [Internet]. 2021 Feb 16;14(1):33–45. Available from: https://www.sciencedirect.com/org/science/article/pii/S1874350121000262
- Spears L. Character and Servant Leadership: Ten Characteristics of Caring Leaders [Internet]. Regent University. Regent University; 2010. Available from: https://www.regent.edu/journal/journal-of-virtues-leadership/character-and-servant-leadership-ten-characteristics-of-effective-caring-leaders/
- Gandolfi F, Stone S. Leadership, Leadership Styles, and Servant Leadership. Journal of Management Research. 2018;18(4):261–9.
- Tempat kerja yang lebih aman dengan memadukan program pencegahan HIV dan COVID-19 [Internet]. International Labour Organization. 2021 [cited 2025 Jul 1]. Available from: https://www.ilo.org/resource/news/safer-workplaces-integrating-hiv-and-covid-19-prevention-programme?lang=id
Lampiran
Komentar
Posting Komentar