ESTJ: Pemimpin Tegas di Balik Layanan Kesehatan Berkualitas

 Oleh: Jaiza Alya- 22.P1.0043

Konteks dan Latar Belakang Personal

        Berdasarkan tes MBTI Tipe kepribadian ESTJ (Extraverted, Sensing, Thinking, Judging) dikenal sebagai sosok yang tegas, logis, dan sangat terorganisir dan sangat berorientasi pada tindakan. Sebagai pribadi yang ekstrovert, ESTJ senang berinteraksi dan bekerja dalam tim, namun tetap fokus pada hasil dan efisiensi. Mereka mengandalkan data dan pengalaman konkret dalam mengambil keputusan, serta mengedepankan logika dibandingkan emosi. ESTJ sangat menghargai struktur, aturan, dan rutinitas yang jelas, serta tidak segan mengambil alih tanggung jawab ketika situasi membutuhkan ketegasan. Meskipun terkadang bisa terlihat dominan atau kaku, karakter ini menjadikan ESTJ sebagai inisiator yang efektif dalam lingkungan kerja yang membutuhkan kepemimpinan yang sistematis dan berorientasi hasil. Mereka cenderung menjadi pemimpin karena memiliki dorongan kuat untuk menciptakan keteraturan dan memastikan segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Dengan prinsip kerja keras, disiplin, dan konsistensi, ESTJ sangat cocok memimpin program atau organisasi yang membutuhkan ketegasan, seperti dalam bidang administrasi, manajemen kesehatan, atau koordinasi pelayanan lintas sektor di fasilitas kesehatan.

        Tipe kepribadian ESTJ dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi keteraturan dan disiplin, serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai etika dan norma sosial secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menjadikan prinsip-prinsip tersebut sebagai fondasi kuat dalam membangun keharmonisan dan kerja sama, baik di lingkungan keluarga, organisasi, maupun masyarakat yang lebih luas. Karena komitmennya yang tinggi ESTJ dikenal mampu menyusun dan menjalankan rencana yang bersifat sistematis dan konsisten. Mereka tidak hanya mampu mengatur tugas dengan efisien, tetapi juga mendorong orang lain untuk mengikuti arah yang jelas dan terorganisir. Dalam menghadapi tantangan atau tekanan, kepribadian ESTJ cenderung tidak mudah goyah oleh hambatan, justru akan tampil sebagai pemimpin yang siap mengambil keputusan tegas, mempertahankan stabilitas, dan menginspirasi orang lain untuk tetap fokus dan bertindak secara bertanggung jawab.

Model Kepemimpinan yang Relevan

        Kepemimpinan merupakan proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok. Salah satu tantangan yang dihadapi oleh pemimpin adalah bagaimana seorang pemimpin dapat mengarahkan anggotanya agar mau dan bersedia mengerahkan kemampuannya untuk kepentingan organisasi. Gaya kepemimpinan merupakan serangkaian karakteristik dan pendekatan yang digunakan oleh seorang pemimpin untuk mempengaruhi, membimbing, dan mengarahkan bawahannya dalam mencapai tujuan organisasi. Secara lebih luas, gaya kepemimpinan mencerminkan pola perilaku, strategi, atau prinsip yang konsisten diterapkan oleh pemimpin dalam menjalankan perannya. Gaya ini tidak hanya tampak dari tindakan langsung seorang pemimpin, tetapi juga dari cara ia memandang dan mempercayai kemampuan timnya. Pilihan gaya kepemimpinan yang diterapkan akan sangat mempengaruhi dinamika kerja, motivasi anggota, serta efektivitas pencapaian tujuan bersama.

        Model kepemimpinan yang paling relevan dengan tipe kepribadian ESTJ-A (Assertive Executive) adalah kepemimpinan transaksional dan otoritatif, dengan fleksibilitas menggunakan gaya delegatif dan demokratis secara situasional. ESTJ-A dikenal sebagai sosok yang tegas, logis, terorganisir, dan sangat berorientasi pada tindakan yang efisiensi. Dalam kepemimpinan transaksional, seorang ESTJ-A akan membangun sistem kerja yang terstruktur dengan target yang jelas, melakukan pemantauan kinerja secara rutin, serta memberikan penghargaan atau koreksi berdasarkan hasil kerja. Gaya ini sangat cocok dalam lingkungan kerja seperti puskesmas atau rumah sakit yang membutuhkan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur. Sementara dalam kepemimpinan otoritatif, ESTJ-A berperan sebagai pemimpin visioner yang menetapkan arah dan tujuan secara tegas sambil tetap memberikan motivasi dan alasan yang kuat kepada timnya. Ini sangat berguna dalam situasi perubahan kebijakan atau pelaksanaan program jangka panjang, seperti akreditasi fasilitas kesehatan atau integrasi pelayanan promotif-preventif.

Aplikasi Model Kepemimpinan ESTJ dalam Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama untuk Kegiatan Lintas Program Penanganan TB-HIV

        Dalam program penanganan TB-HIV di Puskesmas, seorang dengan kepribadian ESTJ cenderung menerapkan model kepemimpinan otoriter-transaksional. Gaya ini menekankan pengambilan keputusan yang cepat dan tegas berdasarkan prosedur serta data yang logis. Pemimpin menetapkan standar yang jelas, memberikan instruksi langsung, dan mengharapkan kepatuhan dari tim dalam menjalankan tugas-tugas teknis. Pendekatan ini sejalan dengan karakter ESTJ yang menghargai ketertiban, efisiensi, serta pembagian peran yang terstruktur dalam mencapai tujuan organisasi.

        Kegiatan-kegiatan akan dilaksanakan dengan program seperti membentuk tim koordinasi TB-HIV dengan peran dan tanggung jawab yang jelas untuk setiap anggota, mencakup petugas TB, petugas HIV, farmasi, laboratorium, promkes, serta kader. Selain itu akan dilakukan penyusunan jadwal koordinasi rutin lintas program untuk membahas evaluasi capaian, kendala lapangan, dan tindak lanjut. Hal yang tidak kalah penting adalah melakukan advokasi internal kepada kepala puskesmas dan pemangku kepentingan eksternal untuk menjamin ketersediaan logistik (obat, reagen, ARV, dll.) dan memastikan adanya standar prosedur operasional (SPO) yang seragam, serta sistem pelaporan terpadu TB-HIV. Kegiatan penanganan TB-HIV akan lebih difokuskan untuk advokasi, penguatan tim, koordinasi lintas sektor, kolaborasi interprofesional, monitoring, dan evaluasi.

        Dalam mendukung keberhasilan program penanganan TB-HIV di Puskesmas, pendekatan advokasi menjadi langkah awal yang penting dilakukan, khususnya kepada pimpinan puskesmas dan pemegang kepentingan lintas sektor seperti Dinas Kesehatan, tokoh masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan. Pemimpin dengan karakter ESTJ akan mendorong terwujudnya komitmen bersama melalui penyampaian data yang terstruktur dan argumentatif, serta menekankan urgensi integrasi layanan TB-HIV berbasis bukti. Penguatan tim dilakukan melalui pembagian tugas yang jelas, pelatihan internal berkala agar semua anggota tim memiliki kompetensi yang seimbang dan merasa memiliki tanggung jawab kolektif. Koordinasi lintas sektor dan kolaborasi interprofesional dijalankan melalui forum komunikasi rutin yang melibatkan dokter, perawat, farmasi, petugas TB dan HIV, promkes, serta laboratorium, guna memastikan semua proses berjalan selaras tanpa tumpang tindih. Monitoring dilaksanakan melalui pencatatan dan pelaporan kegiatan dalam sistem dengan evaluasi berkala yang menekankan hasil terukur, termasuk capaian indikator dan hambatan yang muncul.

        Dalam implementasi kegiatan lintas program penanganan TB-HIV, sejumlah tantangan potensial dapat muncul dan perlu diantisipasi secara sistematis. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya koordinasi antara petugas TB dan HIV, yang sering kali disebabkan oleh perbedaan beban kerja dan tingkat pemahaman terhadap integrasi layanan. Untuk menjawab tantangan ini, perlu dilakukan pelatihan lintas program guna menyamakan persepsi, memperkuat komunikasi, serta mendorong kerjasama antar sektor. Tantangan lain yang sering dijumpai adalah stigma dari pasien terhadap pemeriksaan HIV yang dilakukan bersamaan dengan pengobatan TB. Stigma ini dapat menghambat deteksi dini dan penatalaksanaan yang menyeluruh. Oleh karena itu, diperlukan penguatan edukasi oleh promosi kesehatan dan kader dengan pendekatan berbasis komunitas yang mampu membangun kepercayaan dan meningkatkan pemahaman pasien akan pentingnya terapi komprehensif. Selain itu, tingkat drop-out pengobatan juga menjadi tantangan besar, mengingat pasien sering kali enggan menjalani terapi jangka panjang. Untuk mengantisipasinya, strategi yang dapat diterapkan adalah menunjuk PMO (pengawas minum obat) dari lingkungan sekitar pasien, seperti keluarga atau tokoh masyarakat yang dipercaya, serta melakukan monitoring kepatuhan secara periodik untuk memastikan pengobatan berjalan optimal. Pendekatan yang sistematis dan berbasis struktur seperti ini sangat sejalan dengan karakter ESTJ yang cenderung terorganisir dan berorientasi pada hasil.

Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut dalam Peningkatan Mutu

        Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL) sebagai institusi pelayanan kesehatan rujukan memiliki tanggung jawab besar dalam menjamin mutu layanan, khususnya terkait keselamatan pasien dan petugas kesehatan. Untuk mendukung upaya tersebut, penerapan model kepemimpinan  otoriter-transaksional  menjadi salah satu pendekatan yang relevan. Model kepemimpinan transaksional-otoriter merupakan pendekatan yang menekankan pada struktur kerja yang jelas, kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), serta hubungan kerja yang berbasis pada sistem yang terstruktur dan diterapkan secara konsisten. Di lingkungan Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL), di mana layanan kesehatan bersifat kompleks dan berisiko tinggi, peran kepemimpinan menjadi sangat penting untuk memastikan keselamatan pasien dan petugas kesehatan. Dalam hal ini, gaya kepemimpinan transaksional-otoriter dapat menjadi pilihan yang tepat. Gaya ini membantu memastikan bahwa setiap tenaga kesehatan menjalankan tugas sesuai dengan prosedur yang berlaku, menjaga ketelitian dalam tindakan medis, dan meminimalkan risiko kesalahan yang dapat membahayakan baik bagi pasien maupun tenaga kesehatan.

        Sasaran keselamatan pasien di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL) merupakan elemen penting dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada pasien. Salah satu unsur sasaran keselamatan pasien adalah di FKTL adalah Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), yang berperan krusial dalam menurunkan angka infeksi nosokomial dan menjaga lingkungan pelayanan yang aman. Pemimpin dengan gaya transaksional-otoriter akan menetapkan standar operasional prosedur (SOP) PPI yang jelas dan wajib diikuti oleh seluruh tenaga kesehatan, seperti kewajiban mencuci tangan dengan benar, penggunaan alat pelindung diri (APD), sterilisasi alat medis, serta pemisahan limbah infeksius. Kepatuhan terhadap prosedur ini dipantau secara ketat melalui supervisi langsung, audit kepatuhan, dan pelaporan insiden secara berkala. Setiap pelanggaran terhadap protokol akan mendapatkan tindak lanjut sesuai kebijakan, sedangkan tenaga kesehatan yang menunjukkan kepatuhan tinggi dapat diberi penghargaan atau penguatan positif. Meskipun terkesan tegas, pendekatan ini sangat efektif dalam menciptakan budaya kerja yang disiplin, tertib, dan terkontrol, terutama di area berisiko tinggi seperti ruang operasi, ICU, dan ruang isolasi. Dengan adanya peraturan yang konsisten dan  terstruktur, risiko infeksi silang antar pasien, maupun antara pasien dan tenaga kesehatan, dapat dikurangi secara signifikan. Hal ini tidak hanya meningkatkan keselamatan pasien, tetapi juga memberikan perlindungan yang optimal bagi petugas kesehatan sebagai garda terdepan pelayanan medis.

Kesimpulan

Tipe kepribadian ESTJ (Extraverted, Sensing, Thinking, Judging) memiliki karakteristik kepemimpinan yang kuat dan terorganisir. Dengan latar belakang yang menekankan logika, struktur, dan kedisiplinan, ESTJ sangat cocok mengadopsi model kepemimpinan transaksional-otoriter, khususnya dalam konteks pelayanan kesehatan yang membutuhkan kepatuhan terhadap standar dan sistem yang konsisten. Dalam fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas, model kepemimpinan ini sangat relevan diterapkan dalam program penanganan TB-HIV yang memerlukan koordinasi antar profesi, pembagian peran yang jelas, serta sistem evaluasi dan pelaporan yang terstruktur. Kepemimpinan ESTJ mendorong terbentuknya tim kerja yang efisien, berorientasi pada capaian, dan siap menghadapi tantangan seperti stigma, kurangnya koordinasi, hingga kepatuhan terapi.

Pada fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL) yang memiliki beban kasus lebih kompleks dan risiko klinis yang tinggi, gaya kepemimpinan transaksional-otoriter membantu menciptakan lingkungan kerja yang tertib, disiplin, dan fokus pada keselamatan pasien dan tenaga kesehatan. Salah satu implementasi utamanya adalah pada sasaran keselamatan pasien seperti Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), yang menuntut kepatuhan ketat terhadap SOP. Pendekatan ini secara signifikan menurunkan risiko infeksi nosokomial dan menjaga standar mutu pelayanan.

Dengan kepemimpinan yang tegas namun sistematis, ESTJ mampu menghadirkan keteraturan dalam sistem pelayanan kesehatan, membangun budaya kerja yang bertanggung jawab, serta mengarahkan organisasi menuju pencapaian tujuan secara konsisten. Baik dalam skala kecil seperti tim program maupun cakupan yang lebih luas seperti manajemen fasilitas, pendekatan ini membuktikan efektivitasnya dalam menjamin mutu layanan yang berorientasi pada keselamatan pasien dan perlindungan tenaga kesehatan.

Pernyataan Orisinalitas Karya Tulis

            Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.


Daftar Pustaka

  1. 16Personalities. ESTJ personality (Executive) [Internet]. 16Personalities; [cited 2025 Jul 3]. Available from: https://www.16personalities.com/estj-personality

  2. Typology Central. ESTJ Personality Type [Internet]. TypologyCentral. 2024 [cited 2025 Jul 3]. Available from: https://www.typologycentral.com/index.php/ESTJ 

  3. Yukl G. Leadership in organizations. 8th ed. Boston: Pearson; 2013.

  4. Kartini T. Pengaruh gaya kepemimpinan transaksional terhadap kinerja pegawai di Puskesmas Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. J Ilmiah Koordinasi. 2025;3(2):149–54.

  5. Supriati T, Rachmawati W, Utami SW. Kesiapan integrasi layanan TB-HIV di Puskesmas Kabupaten Kulon Progo. J Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2021;24(2):81–87.

  6. World Health Organization. WHO policy on collaborative TB/HIV activities: guidelines for national programmes and other stakeholders. Geneva: WHO; 2012.

  7. Kementerian Kesehatan RI. Panduan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan; 2022.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader