ENTJ sebagai pemimpin di Fasilitas Kesehatan

 

Nama: Angelie Atmoko

NIM: 22.P1.0033

Karakteristik Personal

Karakteristik personal seseorang dapat diidentifikasi melalui tes psikologi, salah satunya adalah dengan menggunakan tes Myers-Briggs Type Indicator (MBTI). Tes MBTI dapat berfungsi untuk menilai bagaimana seseorang dapat membuat keputusan dalam permasalahan yang ada di kehidupan sehari-hari. Tes MBTI membagi kepribadian seseorang dalam 16 tipe yang berbeda. Kepribadian ini dibagi menjadi 4 dimensi, dilihat dari beberapa poin, antara lain1,2:

a.   Extraverted dan Introverted: dimensi yang digunakan untuk menilai fokus seseorang.

b. Sensing dan Intuitive: dimensi yang digunakan untuk melihat cara seseorang memahami suatu informasi.

c. Thinking dan Feeling: dimensi yang digunakan untuk melihat bagaimana cara seseorang dalam membuat keputusan.

d. Judging dan Perceiving: dimensi yang digunakan untuk menilai bagaimana seseorang menghadapi dunia.

Setelah dilakukannya tes MBTI, saya memiliki tipe kepribadian ENTJ, atau Extraverted, Intuitive, Thinking, dan Judging. Kepribadian ENTJ sering disebut sebagai komandan, dimana orang-orang dengan kepribadian ENTJ ini merupakan pemimpin yang terlahir secara alami. ENTJ dapat melihatkan bahwa mereka yang memiliki kuasa atau otoritas di dalam suatu kelompok dengan cara menyatukan banyak orang untuk mencapai tujuan bersama. Kepribadian ini dijabarkan sebagai seseorang yang memiliki tingkat rasionalitas yang tinggi, memiliki tekad yang kuat, dan pemikiran yang tajam untuk mencapai tujuan yang telah mereka tetapkan untuk diri sendiri. ENTJ menyukai tantangan yang dirasa bagus mulai dari tantangan yang besar maupun tantangan kecil. ENTJ memiliki keyakinan terhadap diri sendiri bahwa mereka dapat menyelesaikan suatu tantangan dengan waktu dan sumber daya yang cukup. Selain itu, ENTJ juga memiliki kemampuan untuk berpikir secara strategis dan dapat mempertahankan fokus dalam jangka panjang sehingga rencana yang sudah mereka buat sebelumnya dapat dilaksanakan sesuai rencana. ENTJ bersifat dominan, tidak pemaaf, dan seseorang yang tidak mudah menyerah. Seorang ENTJ memiliki keterampilan khusus dalam mengenali potensi orang lain yang dapat membantu dalam upaya membangun suatu tim3

Model Kepemimpinan yang Relevan


Model kepemimpinan yang relevan untuk seseorang dengan tipe kepribadian ENTJ adalah kepemimpinan visioner dan demokratis. Model kepemimpinan visioner adalah model kepemimpinan yang sesuai dengan ENTJ dikarenakan model kepemimpinan ini menekankan pada pembuatan visi dalam jangka panjang. Seorang ENTJ memiliki tingkat rasionalitas yang tinggi dan keinginan atau tekad yang kuat untuk mencapai tujuan, kemampuan ENTJ ini dapat menjadi keunggulan dimana mereka dapat menetapkan visi yang jelas sehingga bawahan dapat diarahkan untuk kedepannya perlu dilakukan apa saja dan bagaimana tahapan atau cara melakukannya. ENTJ juga memiliki keyakinan yang tinggi terhadap dirinya sendiri dalam menghadapi tantangan, oleh karena itu visi yang tadinya telah dibuat dapat dikomunikasikan dengan jelas oleh bawahan agar memiliki persepsi dan tujuan yang sama hingga tujuan tercapai. Tetapi kepercayaan terhadap dirinya sendiri untuk menetapkan visi dapat mengabaikan bawahan. Oleh karena itu ENTJ dapat digabung dengan model kepemimpinan demokratis sebagai pelengkap, dimana kepemimpinan demokratis menekankan pada peran anggota lain selain dirinya termasuk bawahannya. Dengan cara ini, ENTJ dapat melihat pendapat dari anggota lain yang mereka rasa memiliki kemampuan atau potensi untuk memberikan ide dalam mencapai tujuan. Selain itu, model kepemimpinan ini dapat membantu ENTJ dalam membangun hubungan personal dengan anggota-anggotanya sehingga anggotanya dapat merasa dihargai dan cenderung akan lebih termotivasi dengan ide-ide mereka di dengar dan bisa menjadi lebih loyal kepada pemimpinnya4,5.

Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV (di wilayah Puskesmas X)

Kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di wilayah Puskesmas X dapat didukung dengan model kepemimpinan visioner dan demokratis. Kepemimpinan visioner berfokus dalam pembuatan visi dan komunikasi antar anggota yang bertujuan untuk menjelaskan bagaimana implementasi visi yang telah dibuat dalam situasi yang sedang dihadapi dan tetap termotivasi dalam segala hal yang dilakukan demi penanggulangan penyakit. Saya sebagai ENTJ dengan model kepemimpinan visioner akan menginisiasi program layanan TB-HIV di Puskesmas serta membentuk sistem rujukan yang cepat dan program pemantauan terhadap pasien TB-HIV, dengan pembentukan program tadi, diharapkan adanya penurunan kasus TB-HIV, pengelolaan kasus TB-HIV yang lebih memadai dan efektif6. Pelaksanaan penanganan TB-HIV ini akan lebih difokuskan dalam berbagai hal berikut:

a.       Advokasi: Pemimpin perlu untuk menginisiasi advokasi terhadap pemerintah di daerah puskesmas X, kader yang ada di sekitar masyarakat, dan orang maupun organisasi lainnya yang ada di area masyarakat agar memiliki kesadaran mengenai penyakit TB-HIV dan diharapkan dapat memberikan bantuan maupun dukungan dari pemerintah maupun masyarakat sekitar.

b.      Penguatan tim: Pemimpin dengan kepemimpinan demokratis akan menerima pendapat anggota-anggota dan membangun komunikasi yang baik antar anggota serta mengarahkan bawahan agar dapat memberikan layanan yang lebih memadai serta pelayanan yang terintegrasi dan menciptakan lingkungan kerja yang saling mendukung satu sama lain untuk mendapatkan tujuan yang sama.

c.       Koordinasi lintas sektor: Pemimpin perlu untuk menginisiasi serta mengkoordinasi seluruh hubungan lintas sektor yang ada, dimana pemimpin perlu menginisiasikan pembentukan tim koordinasi yang melibatkan berbagai sektor untuk mendukung adanya upaya penanggulangan penyakit TB-HIV.

d.      Kolaborasi interprofesional: Pemimpin perlu untuk menginisiasi adanya kerja sama antara sesama tenaga kesehatan terutama dokter-dokter yang terlibat sehingga dapat memimpin kelompok kecil yang dapat mengelola penyakit lebih terperinci dengan bantuan teanaga kesehatan lainnya seperti perawat, petugas laboratorium, apoteker, dll.

e.       Monitoring dan evaluasi: Pemimpin perlu untuk selalu mengawasi program-program yang sudah dibuat dan sedang dilaksanakan sehingga dapat mengarahkan lebih lanjut ketika ada kesalahpahaman maupun program yang tidak berjalan secara efisien. Pemimpin perlu untuk bertanya dengan anggota-anggotanya terkait apa yang dapat ditingkatkan maupun kendala yang ada selama kegiatan dilakukan.

Kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di wilayah Puskesmas X tentunya memiliki tantangan-tantangan yang ada, mulai dari stigmatisasi masyarakat terhadap penderita TB-HIV yang masih buruk, adanya keterbatasan sumber daya, dan kurangnya koordinasi. Stigmatisasi masyarakat terhadap penderita TB-HIV masih buruk ini sangat sulit diubah, namun terdapat peluang untuk perbaikan dengan adanya pemberian edukasi kepada masyarakat terkait apa itu penyakit TB-HIV, bagaimana penularannya, dan bagaimana cara terapinya agar pandangan masyarakat terhadap penderita tidak lagi buruk, namun sebaliknya diharapkan masyarakat sekitar memiliki empati terhadap pasien dan memperlakukan pasien seperti orang pada normalnya dan tidak menjauh ataupun mengucilkan. Kurangnya sumber daya di puskesmas mulai dari sumber daya manusia atau tenaga medis, obat-obatan, dan alat-alat pendukung dapat menyebabkan masalah. Oleh karena itu pemimpin perlu untuk tegas menangani masalah ini, dimulai dari penjadwalan masing-masing tenaga kerja dengan jam yang wajar sehingga tenaga kesehatan yang jumlahnya terbatas ini tidak ada yang imunitas tubuhnya menurun dan menjadi sakit, serta dapat diberikan vitamin untuk menunjang kesehatan tenaga kesehatan yang ada, untuk keterbatasan obat dan alat tentunya memerlukan bantuan dari pemerintah untuk pasokan obat dan alat, namun sebagai pemimpin perlu adanya pengelompokkan pasien agar mengetahui pasien mana saja yang memerlukan penanganan lebih intensif maupun dalam keadaan darurat (menetapkan pasien prioritas)6.

 

Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)

Terdapat  sasaran keselamatan pasien di FKTL yang termasuk dalam upaya peningkatan mutu, salah satunya adalah medication error. Medication error adalah setiap kesalahan yang terjadi dalam proses pengobatan yang dapat membahayakan pasien. Medication error sangatlah berbahaya, namun kejadian ini dapat dicegah dengan penataan tahapan pemberian obat di fasilitas kesehatan tingkat lanjut. Kepemimpinan visioner berperan dalam menciptakan visi jangka panjang untuk memastikan adanya peningkatan keselamatan dalam penggunaan obat di FKTL. Pemimpin dengan kepemimpinan demokratis dan visioner dapat melibatkan seluruh anggota yang ada mulai dari dokter, apoteker, perawat, dan petugas administrasi agar dapat menjelaskan terkait masalah yang ada, mendengarkan pendapat atau saran dalam menanganani masalah yang ada, serta menyatakan dengan tegas kepada seluruh anggota terkait apa visi dan apa yang akan dilakukan selanjutnya untuk mencegah adanya peningkatan kasus Medication error. Terdapat beberapa opsi yang dapat diterapkan, antara lain: penetapan visi berupa zero tolerance fo error karena masalah ini terkait dengan keselamatan pasien dimana pasien datang untuk berobat dan sembuh, tidak sebaliknya; diadakannya pengembangan dalam proses pelaporan obat dengan peresepan elektronik atau e-prescribing yang ada; pencatatan terhadap kasus Medication error agar dapat memantau apakah ada kenaikan atau penurunan kasus agar dapat diintervensi dan dievaluasi lebih lanjut.

Tantangan dalam penerapannya adalah kurangnya pelatihan terhadap tenaga kesehatan yang ada terkait teknologi terbaru, beban kerja yang tinggi, dan sikap tenaga kesehatan dalam menangani kasus dimana adanya ketakutan dalam pelaporan kesalahan peresepan karena takut untuk di cap sebagai malpraktik. Seluruh hal ini dapat untuk diantisipasi dengan cara pemberian edukasi terkait hal-hal baru yang akan dilakukan untuk menangani masalah yang sedang terjadi yaitu dengan penggunaan alat elektronik baru, beban kerja yang tinggi dapat diturunkan dengan cara pembagian jadwal maupun penetapan jumlah maksimal pasien yang diperiksa oleh dokter dalam satu hari sehingga dokter tidak terlalu terbebani dengan banyaknya pasien dan melakukan kesalahan dalam peresepan obat, dan adanya ketakutan ini dapat diberikan edukasi terkait pentingnya pelaporan adanya kekeliruan terhadap peresepan obat agar pasien maupun tenaga kesehatan lainnya dapat melakukan tindakan lebih lanjut untuk mencegah adanya komplikasi dari Medication error tersebut.

 

Kesimpulan

Penerapan model kepemimpinan yang tepat adalah indikator yang sangat penting dalam peningkatan mulu pelayanan di fasilitas kesehatan untuk keselamatan pasien maupun tenaga medis. Penerapan model kepemimpinan yang tepat ini perlu disesuaikan pula dengan kepribadian pemimpin agar menjadi efektif. Model kepemimpinan visioner memberikan arahan yang strategis dalam jangka panjang untuk mendukung adanya inovasi, biasanya dengan pembuatan visi untuk penyakit atau permasalahan yang sedang terjadi seperti TB-HIV maupun Medication error. Selain model visioner, model demokratis sesuai dengan kepribadian ENTJ dimana model kepemimpinan demokratis membantu untuk memperkuat adanya partisipasi dari anggota, kolaborasi antar profesi maupun lintas sektor, dan secara keseluruhan membantu untuk mengambil keputusan yang mempertimbangkan pendapat anggota. Meskipun dalam kasus-kasus yang ada selalu ada tantangan, namun tetap semuanya ada jalan keluar. Oleh karena itu, pemimpin memiliki peran yang penting dalam mengarahkan anggotanya dalam proses penyelesaian masalah.

 

Daftar Pustaka

1.The Myers–Briggs Type Indicator (MBTI) - Explained [Internet]. RACC Indonesia. [dikutip 4 Juli 2025]. Tersedia pada: https://racc.co.id/the-myersbriggs-type-indicator-mbti-explained/

2.MBTI personality types. The Myers-Briggs. 2025.

3.ENTJ Personality (Commander) 16 Personalities [Internet]. Tersedia pada: https://www.16personalities.com/entj-personality, https://www.16personalities.com/entj-personality

4.ENTJ As Transformational Leader: Bridging Vision And Action. 2023.

5.K E. The ENTJ Personality – The Bold and Strategic Leader. MBTI blogZ. 2025.

6.Primary health care and HIV: convergent actions: policy considerations for decision-makers. World Health Organization.

 

Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader