ENFJ-T: Si Karismatik yang Rentan
NAMA : Nabila Kayana Restriyani
NIM : 22.P1.0044
Profil Pemimpin ENFJ-T
ENFJ-T merupakan singkatan dari Extraverted (E), Intuitive (I), Feeling (F), Judging (J), dan Turbulance (T). ENFJ-T adalah tipe kepribadian yang hangat dan suka menolong orang lain, seorang ENFJ-T cenderung memiliki ide yang kuat dan selalu mendukung perspektif mereka dengan energi yang kreatif untuk mencapai tujuan mereka. ENFJ selalu berusaha untuk memberikan dampak yang positif kepada orang lain dan lingkungan sekitar mereka. Kepribadian ini selalu melakukan hal-hal yang benar tanpa memikirkan resikonya.
ENFJ
terlahir sebagai seorang pemimpin yang penuh dengan semangat dan kharismatik
yang menyebabkan mereka menjadi inspirasi untuk orang lain dalam setiap bidang
kehidupan mereka, termasuk di dalam suatu hubungan. Kepribadian ini cenderung
berani untuk menyampaikan hal-hal yang tidak adil ataupun salah tanpa terlihat
kurang ajar atau agresif karena wawasan mereka membimbing mereka untuk
berbicara dengan cara yang sesuai dengan orang lain. Kepribadian ENFJ
dapat memahami perasaan orang lain hanya dengan melihatnya sehingga menyebabkan
ENFJ menjadi komunikator yang sangat persuasive dan inspiratif. Seseorang
dengan kepribadian ini sangat berdedikasi dan siap menghadapi rintangan dan
cobaan untuk membela orang dan gagasan yang mereka yakini.
Disisi
lain, kepribadian ENFJ juga memiliki kekuatan dan kelemahan. Kekuatan ENFJ yang
pertama reseptif, kepribadian ini memiliki pendapat yang kuat tetapi mereka
tidak berpikiran tertutup dengan membiarkan orang lain untuk menyuarakan
kebenaran mereka. Yang kedua dapat diandalkan, kepribadian ini merupakan
pribadi yang menepati janji dan tanggung jawab mereka meskipun terkadang sulit
untuk melakukannya. Yang ketiga karismatik, ENFJ sering kali menduduki peran
sebagai seorang pemimpin karena keunggulannya dalam percakapan, memikat
perhatian orang, dan menyatukan di balik tujuan bersama.
Selain
kekuatan, ENFJ juga memiliki kelemahan ENFJ. Yang pertama tidak realistis,
banyak kepribadian ENFJ yang menekan diri mereka untuk memperbaiki setiap
kesalahan tanpa memikirkan seberapa keras kepribadian ini berusaha. Yang kedua
terlalu idealis, ENFJ cenderung memiliki gagasan yang jelas tentang apa yang
benar dan apa yang salah. Yang ketiga terlalu berempati, rasa belah kasih
merupakan salah satu kekuatan terbesar kepribadian ini yang menganggap masalah
orang lain sebagai masalah mereka sendiri yang terkadang membuat mereka
kelelahan secara emosional dan fisik.
Kepemimpinan
ENFJ-T
Kepemimpinan merupakan aspek penting dalam berbagai aspek kehidupan, seorang pemimpin tidak hanya bertugas mengarahkan dan mengambil keputusan, tetapi juga menjadi penggerak, penginspirasi, dan penyatu tim. Salah satu tipe yang menarik untuk dikaji dalam konteks kepemimpinan adalah ENFJ-T (Extraverted, Intuitive, Feeling, Judging – Turbulent).
Individu dengan tipe ini dikenal sebagai sosok yang karismatik, komunikatif, empatik, dan peduli terhadap kesejahteraan orang lain. Kepribadian ENFJ paling cocok dengan gaya kepemimpinan demokratis, ENFJ selalu mengedepankan proses pengambilan keputusan secara partisipatif dan memberikan ruang terbuka antara pemimpin dan anggota tim, hal ini selaras dengan kepribadian ENFJ yang reseptif. Kepemimpinan demokratis adalah gaya kepemimpinan yang menekankan partisipasi aktif anggota tim dalam proses pengambilan keputusan, komunikasi dua arah, dan kolaborasi kolektif antar anggota organisasi. Kepemimpinan demokratis juga disebut sebagai participative leadership, karena pemimpin tidak memaksakan kehendak, melainkan bertindak sebagai fasilitator dalam proses deliberasi dan perumusan kebijakan.
Aplikasi
model kepemimpinan ENFJ-T untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk
kegiatan lintas program penanganan TB-HIV
Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama memiliki peran penting dalam menangani berbagai penyakit menular, termasuk TB dan HIV. Penanganan penyakit tersebut tidak dapat dilakukan hanya dengan satu program saja, melainkan dengan dilakukan kerja sama oleh berbagai pihak, mulai dari petugas TB, petugas HIV, laboratorium, farmasi, hingga promosi kesehatan. Di sinilah kepemimpinan demokratis menjadi sangat penting. Pemimpin yang menganut gaya ini tidak tipe pemimpin yang “harus dituruti tanpa diskusi” namun, justru mendorong semua pihak untuk terlibat dan didengar. Dengan gaya kepemimpinan demokratis, komunikasi menjadi lebih terbuka, ide-ide baru dari staf lapangan lebih mudah diterima, dan kebijakan yang dibuat lebih sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Bahkan, bukan hanya petugas internal saja yang dilibatkan, komunitas, kader, dan LSM juga dapat diajak diskusi dan dilibatkan dalam kegiatan edukasi atau pendampingan pasien. Di tengah banyaknya tantangan, seperti keterbatasan tenaga, beban kerja tinggi, dan stigma terhadap pasien, model kepemimpinan yang terbuka dan partisipatif justru bisa menjadi kekuatan utama. Semua program tidak lagi bekerja sendiri-sendiri, tapi saling menguatkan demi tujuan yang sama: "pasien tertangani dengan baik dan tidak ada yang tertinggal".
Ketika model ini diterapkan di puskesmas, pemimpin ENFJ-T akan mendorong terbentuknya tim lintas program yang terdiri dari petugas TB, HIV, laboratorium, farmasi, dan promosi kesehatan. Melalui pertemuan rutin, pemimpin akan memfasilitasi dialog terbuka untuk menyatukan strategi, menyelesaikan kendala lapangan, dan membangun alur kerja yang sinergis seperti skrining HIV bagi pasien TB dan sebaliknya, serta penyaluran ARV atau OAT. Kepemimpinan demokratis dalam diri ENFJ-T juga sangat efektif dalam memberdayakan kader dan melibatkan komunitas. Dengan pendekatan yang humanistik, mereka mampu menumbuhkan semangat kader untuk aktif dalam tracing kasus, menjalin kerja sama dengan LSM, serta membangun hubungan yang hangat dengan pasien dan keluarganya. Keterlibatan aktif masyarakat ini sangat penting dalam penanganan TB-HIV yang memerlukan keberlanjutan layanan dan dukungan psikososial.
Advokasi
Dalam hal ini semua pihak baik dari dalam puskesmas maupun mitra luar paham betapa pentingnya penanganan TB-HIV secara terintergrasi.
Penguatan tim
Penangangan TB-HIV bukan tanggung jawab perorangan saja melainkan tanggung jawab tim yang perlu diperkuat agar pekerjaan menjadi lebih efektif.
Koodinasi lintas sektor
Penyakit TB-HIV tidak hanya menyangkut aspek kesehatan, melainkan aspek sosial, ekonomi, dan pendidikan maka, penting bagi puskesmas untuk membangun koordinasi dengan sektor lain agar penangangan pasien lebih menyeluruh.
Kolaborasi interprofessional
Antarprofesi di puskesmas seperti dokter, perawat, petugas farmasi dan sebagainya harus saling bekerja sama agar layanan yang diberikan kepada pasien TB-HIV tidak tumpang tindih.
Monitoring dan evaluasi
Kegiatan ini berguna untuk melihat apakah kegiatan yang dilakukan sudah berjalan sesuai rencana sehingga, program terus berkembang dan hasilnya semakin baik.
Tantangan
dan peluang yang mungkin terjadi dan upaya antisipatif yang dilakukan
Tantangan
- Perfeksionisme dan self-doubt ENFJ-T. ENFJ-T cenderung terlalu menekan diri untuk memastikan semua anggota tim merasa didengar dan puas, yang bisa memicu kelelahan emosional dalam konteks lintas program yang kompleks seperti TB-HIV. Dalam FKTP yang penuh keterbatasan, hal ini dapat mengganggu efektivitas pengambilan keputusan cepat dan tegas.
- Kesulitan dalam mengelola konflik antarprogram. ENFJ-T sangat menghindari konflik terbuka dan cenderung menunda konfrontasi langsung, yang menjadi kendala saat harus menyatukan dua program besar (TB dan HIV) yang sering berbeda target, pendekatan, dan struktur pelaporan.
- Over-empathetic leadership. Pemimpin ENFJ-T mungkin terlalu fokus pada kebutuhan individu (misalnya kader atau staf yang burnout), sehingga mengabaikan batasan objektif seperti waktu, anggaran, atau indikator program.
Peluang
- Kemampuan membangun aliansi antarprogram. ENFJ-T dikenal sangat mahir membangun hubungan interpersonal dan menjembatani perbedaan. Dalam konteks TB-HIV, mereka dapat menghubungkan tim DOTS dengan layanan HIV/AIDS agar lebih terintegrasi dan harmonis.
- Inspirasi dan motivasi kader serta petugas lapangan. Gaya inspiratif dan penuh semangat yang dimiliki ENFJ-T mampu meningkatkan keterlibatan (engagement) petugas TB, kader HIV, dan komunitas dalam kegiatan skrining, edukasi, dan tracking.
- Fleksibilitas dan kecerdasan emosional tinggi. ENFJ-T cenderung adaptif dan memahami dinamika sosial masyarakat serta stigma, sehingga cocok untuk mengembangkan strategi penjangkauan berbasis komunitas bagi pasien TB-HIV dengan pendekatan yang humanistic.
Upaya
- Pelatihan manajemen konflik dan pengambilan keputusan berbasis data, mengasah sisi Thinking (T) dari ENFJ agar mampu menghadapi dinamika konflik antarprogram (TB vs HIV) dengan pendekatan objektif dan berbasis regulasi.
- Pendampingan dan coaching psikososial untuk pemimpin FKTP, memberikan ruang refleksi dan dukungan emosional bagi pemimpin ENFJ-T agar tidak mengalami burnout, terutama karena kecenderungan perfeksionisme dan rasa tanggung jawab tinggi.
- Pembuatan forum kolaboratif lintas program berbasis nilai-nilai empati, mengoptimalkan kekuatan empatik ENFJ untuk membentuk forum TB-HIV berbasis dialog, storytelling pasien, dan refleksi tim lintas unit.
Aplikasi
model kepemimpinan demokratis untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk
peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)
Dalam
Upaya meningkatkan mutu pelayanan di fasilitas Kesehatan Tingkat lanjut,
dibutuhkan peran dari seorang pemimpin yang dapat menciptakan budaya
keselamatan dan peningkatan mutu pelayanan di fasilitas kesehatan tingkat
lanjut. Keselamatan pasien dan tenaga kesehatan merupakan elemen fundamental
dalam sistem pelayanan kesehatan, terutama di fasilitas kesehatan tingkat
lanjut (FKTL) seperti rumah sakit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan
bahwa keselamatan pasien adalah dasar dari mutu layanan kesehatan dan harus
menjadi prioritas dalam setiap tatanan pelayanan. Model kepemimpinan demokratis mejandi salah satu model
kepemimpinan yang cocok dalam meningkatkan mutu keselamatan pasien dan petugas
kesehatan di FKTL karena model kepemimpinan ini memiliki ciri keterlibatan
aktif dalam pengambilan keputusan, komunikasi dua arah yang terbuka, serta
penciptaan lingkungan kerja kolaboratif.
Selain itu, penerapan kepemimpinan demokratis dapat meningkatkan mutu pelayanan
Kesehatan melalui penguatan dimensi keselamatan pasien dan perlindungan
terhadap tenaga Kesehatan. Seorang pemimpin demokratis tidak hanya bertindak
sebagai pengarah, tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong partisipasi
lintas profesi dalam proses pengambilan keputusan strategis.
Penerapan
kepemimpinan demokratis secara langsung mendukung pencapaian beberapa sasaran
keselamatan pasien, termasuk peningkatan efektivitas komunikasi antar petugas
kesehatan—yang merupakan salah satu penyebab utama insiden keselamatan di rumah
sakit. Dalam koneteks ini, kepemimpinan demokratis
memiliki peran strategi dalam memastikan komunikasi yang efektif antar lini
pelayanan. Pemimpin dengan gaya demokratis membangun lingkungan yang mendukung
adanya diskusi terbuka, pertukaran informasi dua arah, serta pemberdayaan
seluruh anggota tim untuk menyampaikan pendapat dan melaporkan risiko tanpa
rasa takut.
Tantangan
dan peluang yang mungkin terjadi dan upaya antisipatif yang dilakukan
Tantangan
- Budaya hierarkis dan kurangnya psychological safety, budaya organisasi klinis yang masih sangat hierarkis cenderung menghambat komunikasi terbuka.
- Proses pengambilan keputusan yang lambat, konsensus yang diharapkan dalam gaya kepemimpinan ini dapat memperlambat respons dalam situasi kritis, dan berpotensi mengurangi kecepatan intervensi klinis
- Ketidakseimbangan kekuasaan antar profesi, perbedaan status dan kedudukan profesional (misalnya dokter vs. perawat) bisa menyebabkan dominasi kelompok tertentu dalam diskusi, sehingga gagasan dari staf non-dominan sulit diserap secara efektif .
Peluang
- Meningkatkan engagement dan motivasi staf, terbukti meningkatkan kepuasan kerja, motivasi tim, dan rasa memiliki terhadap proses pengambilan keputusan serta mutu layanan.
- Memperkuat budaya safety dan pelaporan dini, democratic leadership menciptakan psychological safety lingkungan.
- Pemanfaatan informasi dari garda depan, karena pihak medis tingkat pertama (nurse, perawat, teknisi) sering berada paling dekat dengan pasien, gaya demokratik yang memberi ruang suara mereka mampu mengidentifikasi celah keselamatan lebih awal .
Upaya antisipatif
- Pendidikan & pelatihan demokratis, implementasi program pelatihan untuk membangun kemampuan fasilitasi diskusi, struktur komunikasi yang jelas, serta pengelolaan konflik agar pengambilan keputusan kolektif tetap cepat.
- Penerapan struktur formal & SOP, menetapkan prosedur komunikasi resmi (SBAR, huddles, board‑level safety dashboards), serta mekanisme pelaporan aman dan tindak lanjut.
- Meminimalkan power distance antarpersonal, workshop dan simulasi interprofesional dapat membangun mutual respect, mengurangi dominasi profesi tertentu, dan meningkatkan kepercayaan tim .
Pemimpin dengan kepribadian ENFJ-T cocok menerapkan kepemimpinan demokratis karena memiliki empati tinggi, mampu membangun hubungan, dan mendorong partisipasi tim. Di FKTP, ENFJ-T efektif mengintegrasikan layanan lintas program seperti TB-HIV melalui kolaborasi dan pendekatan humanistik. Sedangkan di FKTL, gaya kepemimpinan ini memperkuat budaya keselamatan pasien dan staf melalui komunikasi terbuka dan kerja tim. Namun, sifat perfeksionis dan sensitif ENFJ-T perlu diimbangi dengan struktur kerja yang jelas dan pelatihan kepemimpinan agar tetap efektif dalam pengambilan keputusan. Dengan dukungan yang tepat, ENFJ-T mampu menjadi motor penggerak peningkatan mutu layanan kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Myers IB, McCaulley MH, Quenk NL, Hammer AL. MBTI® Manual: A Guide to the Development and Use of the Myers-Briggs Type Indicator. 3rd ed. Palo Alto (CA): Consulting Psychologists Press; 1998.
2. Khumalo, G. et al. (2021). Integrated TB-HIV service delivery in primary health care: a qualitative study of leadership practices in South Africa. BMC Health Services Research, 21:1247. https://doi.org/10.1186/s12913-021-07192-y
3. 16Personalities. ENFJ Personality (“The Protagonist”). [Internet]. [cited 2025 Jul 3]. Available from: https://www.16personalities.com/enfj-personality
4. World Health Organization. World Health Organization report 2021. Geneva: WHO; 2021.
Pernyataan
orisinalitas karya tulis
Saya
menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam
pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan
menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya
kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap
pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai
perilaku.



Komentar
Posting Komentar