Empati sebagai Kekuatan: Kepemimpinan ENFJ-T Perempuan dalam Transformasi Pelayanan Kesehatan
Nama : Sheilla Vita Kumala Aji
NIM : 22.P1.0027
Pernyataan Orisinalitas
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
Konteks dan Latar Belakang
Dalam dinamika dunia kesehatan yang penuh tekanan, transformasi, dan kompleksitas sistemik, kepemimpinan tidak lagi cukup hanya mengandalkan otoritas atau jabatan struktural. Diperlukan pemimpin yang mampu membaca realitas dengan empati, menyentuh hati tim, dan menghadirkan solusi berbasis nilai. Sebagai seorang perempuan dengan tipe kepribadian ENFJ-T (Extraverted, Intuitive, Feeling, Judging – Turbulent), saya merasa dipanggil untuk menjalankan peran ini.
ENFJ-T dikenal sebagai “The Protagonist” – pemimpin alami yang penuh motivasi untuk menciptakan perubahan positif di lingkungan sosialnya. Dalam konteks fasilitas kesehatan, karakter ini memberikan modal penting: kemampuan membangun hubungan interpersonal yang kuat, kecakapan komunikasi, motivasi altruistik, serta dorongan kuat untuk memperbaiki sistem demi kebaikan bersama. Namun, sisi turbulent dalam kepribadian ini juga membawa tantangan tersendiri: sering mempertanyakan diri sendiri, ingin menyenangkan semua pihak, dan mudah terpengaruh oleh tekanan emosional.Saya menyadari bahwa menjadi pemimpin kesehatan yang efektif berarti mampu menjembatani antara idealisme dan kenyataan lapangan, antara strategi dan hubungan manusia. ENFJ-T perempuan dituntut bukan hanya menjadi inspirator, tetapi juga penopang emosional, fasilitator tim, dan pembangun budaya organisasi yang sehat.
Model Kepemimpinan yang Relevan
Dalam upaya membentuk gaya kepemimpinan yang sesuai dengan konteks pelayanan kesehatan, saya memadukan tiga pendekatan utama:
a. Transformational Leadership
Sebagai ENFJ, saya merasa sangat selaras dengan model ini. Fokus pada visi masa depan, kemampuan memotivasi tim, dan semangat menciptakan perubahan besar adalah kekuatan khas saya. Saya sering menggunakan pendekatan ini untuk menginspirasi tenaga kesehatan, mendorong mereka keluar dari rutinitas birokratis, dan menyalakan semangat pelayanan yang lebih bermakna.
b. Servant Leadership
Kepemimpinan ini menempatkan pemimpin sebagai pelayan bagi timnya. Ini sangat cocok dengan nilai-nilai saya sebagai ENFJ-T yang menghargai hubungan manusia. Saya berusaha mendengarkan keluhan staf dengan tulus, hadir di tengah mereka, dan memberikan dukungan emosional maupun profesional. Dalam kondisi penuh tekanan, kepemimpinan yang peduli dapat menjadi sumber energi yang memperkuat ketahanan organisasi.
c. Adaptive Leadership
Model ini saya adopsi untuk meningkatkan keluwesan menghadapi kompleksitas sistem kesehatan. Dalam banyak situasi yang penuh ketidakpastian – seperti pandemi atau krisis ketersediaan obat – saya belajar untuk tidak terpaku pada satu cara, tetapi membaca dinamika, menerima masukan dari berbagai pihak, dan menyesuaikan pendekatan dengan cepat. Sebagai ENFJ-T, saya terus berlatih untuk menyeimbangkan sisi idealisme dengan fleksibilitas realita.
Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama untuk Kegiatan Lintas Program Penanganan TB-HIV
Kepemimpinan di tingkat puskesmas memerlukan kedekatan dengan komunitas, kepekaan terhadap kondisi sosial-ekonomi, serta penguatan sistem berbasis kearifan lokal. Dalam program penanganan TB-HIV, saya memulai pendekatan dengan membangun kepercayaan antara tenaga kesehatan, kader, dan pasien. Saya menyadari bahwa pasien TB-HIV seringkali mengalami stigma dan diskriminasi – dan ini hanya bisa diatasi dengan kepemimpinan empatik dan berbasis pendekatan manusia seutuhnya.
Saya menginisiasi forum dialog mingguan, tempat petugas dan kader berbagi kendala lapangan, sekaligus berbagi keberhasilan kecil. Melalui forum ini, saya tidak hanya mendengarkan, tapi juga membantu mereka menemukan solusi bersama, membangun rasa kepemilikan terhadap program. Dalam perencanaan skrining TB-HIV, saya menyederhanakan algoritma berdasarkan masukan petugas agar tetap efektif namun tidak membebani.Sebagai ENFJ-T, saya merasa tertantang ketika program berjalan lambat karena faktor sumber daya. Namun saya belajar bahwa progres yang manusiawi lebih bermakna daripada kecepatan yang memaksa. Keterlibatan emosional saya terhadap program bukan kelemahan, tapi kekuatan untuk terus mendorong perubahan – meski bertahap.
Aplikasi Model Kepemimpinan untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (Peningkatan Mutu & Keselamatan Pasien)
Di rumah sakit, tantangan kepemimpinan meningkat tajam. Saya menghadapi struktur yang kompleks, budaya kerja yang terbentuk lama, dan resistensi terhadap inovasi. Di sinilah saya menerapkan kepemimpinan transformasional dan adaptif secara simultan.Saya memimpin pengembangan sistem pelaporan insiden keselamatan pasien berbasis “no blame culture”. Bukan hal mudah, karena banyak staf khawatir akan dampak pelaporan terhadap karier mereka. Saya meresponnya dengan pendekatan ENFJ: mengadakan pelatihan komunikasi empatik, membuat simulasi pelaporan yang aman, dan menciptakan ruang curhat bagi staf.
Sebagai perempuan ENFJ-T, saya juga menggagas pembentukan “tim pendengar” lintas profesi – kelompok kecil tempat staf bisa berbagi tekanan kerja tanpa rasa takut. Ternyata, inisiatif ini bukan hanya meningkatkan pelaporan insiden, tapi juga memperkuat solidaritas tim.Saya belajar bahwa membangun mutu bukan semata soal sistem dan indikator, tetapi tentang menciptakan ruang aman bagi manusia untuk berkembang dan bersuara. Dan di sanalah kepemimpinan berbasis empati menemukan kekuatannya.
Kesimpulan
Sebagai pemimpin dengan kepribadian ENFJ-T, saya belajar bahwa keberhasilan dalam kepemimpinan kesehatan terletak pada kemampuan membangun hubungan yang kuat dan visi jangka panjang yang berorientasi pada perubahan sosial. Kekuatan saya terletak pada empati, kemampuan komunikasi, dan ketulusan dalam membina tim. Namun, untuk menjadi pemimpin yang utuh, saya terus mengembangkan kemampuan teknis, keberanian mengambil keputusan tegas, dan manajemen emosi dalam situasi tekanan tinggi. Pendekatan kolaboratif dan kontekstual menjadi kunci—di mana solusi tidak hanya berasal dari atas ke bawah, tetapi dibangun bersama dengan komunitas dan tim. Dalam dunia kesehatan yang penuh tantangan dan harapan, kepemimpinan ENFJ-T adalah tentang menggerakkan hati untuk menciptakan perubahan yang berarti
Daftar Pustaka
- Robbins SP, Judge TA. Organizational Behavior. 18th ed. Harlow: Pearson Education Limited; 2019.
- Northouse PG. Leadership: Theory and Practice. 9th ed. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications; 2021.
- Greenleaf RK. Servant Leadership: A Journey into the Nature of Legitimate Power and Greatness. 25th Anniversary ed. New York: Paulist Press; 2002.
- Heifetz R, Grashow A, Linsky M. The Practice of Adaptive Leadership: Tools and Tactics for Changing Your Organization and the World. Boston: Harvard Business Press; 2009.
- Goleman D. Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. 10th ed. New York: Bantam Books; 2006.
- Cherry K. ENFJ Personality: The Protagonist [Internet]. Verywell Mind. 2023 [cited 2025 Jul 3].
- 16Personalities. ENFJ Personality ("The Protagonist") [Internet]. 2024 [cited 2025 Jul 3]. Available from: https://www.16personalities.com/enfj-personality
Lampiran
Komentar
Posting Komentar