Diam Bukan Berarti Pasif: Gaya Visioner INTJ dalam Meningkatkan Sistem Kesehatan
Nama: Maria Adnyana Dentang K.
NIM: 22.P1.0021
Pernyataan Orisinalitas
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.
1. Konteks dan latar belakang personal:
Berdasarkan hasil tes MBTI, saya termasuk individu dengan tipe kepribadian INTJ-T (Introvert, Intuitive, Thinking, Judging - Turbulent) yang dalam klasifikasi MBTI dikenal sebagai “Arsitek” seorang pemikir strategis yang lebih suka mengarahkan daripada tampil dominan (1). Kombinasi kepribadian ini mencerminkan preferensi kuat saya dalam merancang solusi jangka panjang yang logis, efisien, dan terukur. Saya merasa lebih produktif ketika dapat bekerja dalam keheningan dan menjauh dari keramaian, karena dalam ruang itulah saya bisa menganalisis suatu permasalahan dari akar hingga ke detail terkecilnya. Dengan kecenderungan 56% introvert, 72% rasional, dan 88% perencanaan, saya menyusun segala sesuatu secara sistematis, dan cenderung memprioritaskan efektivitas dalam setiap langkah yang saya ambil.
Tipe kepribadian INTJ juga ditandai dengan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sistem dan bagaimana sistem tersebut dapat ditingkatkan. INTJ tidak puas hanya dengan pemahaman awal, namun terdorong untuk menemukan pola, celah, dan kemungkinan pengembangan dalam setiap aspek yang dipelajari (3). Karena itu, saya cenderung melihat permasalahan bukan hanya sebagai sesuatu yang harus diatasi, tetapi sebagai peluang untuk menyempurnakan proses dan pendekatan yang digunakan.
b. Model kepemimipinan yang relevan
Model kepemimpinan yang paling sesuai dengan karakteristik INTJ adalah kepemimpinan visioner. Pemimpin visioner tidak hanya fokus pada efisiensi saat ini, tetapi memiliki orientasi jangka panjang dengan visi yang jelas dan inspiratif. Gaya ini memungkinkan saya menyampaikan tujuan bersama secara konkret, sekaligus merancang jalur rasional dan sistematis untuk mencapainya (4).
c. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV
Dalam konteks kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di wilayah Puskesmas X, saya menerapkan kepemimpinan visioner dengan cara menyusun visi kolektif jangka panjang: “Eliminasi stigma dan perkuatan sistem layanan integratif untuk pasien TB-HIV.” Dengan pendekatan ini, saya menginisiasi beberapa langkah:
- Advokasi kebijakan lokal: Membangun dukungan dari perangkat desa dan tokoh masyarakat agar skrining TB-HIV tidak lagi dianggap sebagai hal yang tabu.
- Penguatan tim berbasis kompetensi dan nilai bersama: Merekrut kader kesehatan dengan pendekatan berbasis komunitas dan pelatihan intensif.
- Koordinasi lintas sektor: Menghubungkan layanan TB, HIV, gizi, dan kesehatan jiwa dalam satu rantai rujukan dan pelaporan.
- Kolaborasi interprofesional: Membangun forum komunikasi rutin antara dokter, perawat, bidan, sanitarian, dan tenaga lab.
- Monitoring dan evaluasi berbasis indikator target capaian: Tidak hanya kuantitas pasien yang diperiksa, tetapi juga kepatuhan minum obat, kepuasan layanan, dan angka drop out terapi (5).
Tantangan dan Peluang:
Beberapa tantangan utama mencakup: terbatasnya dana operasional, resistensi budaya terhadap pemeriksaan HIV, serta beban kerja yang tinggi di Puskesmas. Namun, peluang muncul dari adanya program nasional TB-HIV yang memberikan kebijakan dan insentif kader. Dengan pendekatan visioner, tantangan ini dapat diantisipasi melalui edukasi masyarakat berbasis tokoh lokal, digitalisasi pelaporan, dan integrasi layanan berbasis teknologi.
d. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)
Sasaran Keselamatan Pasien yang Dipilih: Medication Error
Sebagai pribadi dengan tipe kepribadian INTJ, saya memilih menerapkan model kepemimpinan visioner untuk mendukung peningkatan mutu pelayanan di FKTL, khususnya dalam mencegah medication error. Medication error merupakan salah satu penyebab insiden keselamatan yang paling sering terjadi di rumah sakit, baik pada pasien rawat inap maupun rawat jalan, dan seringkali terjadi akibat kelemahan sistem, bukan hanya kesalahan individu.
Pemimpin visioner akan memulai dari pemetaan akar masalah secara sistemik. Dalam konteks medication error, pendekatan saya adalah:
- Menyusun visi bersama lintas profesi: “Zero medication error melalui sistem terintegrasi, budaya aman, dan komunikasi efektif.”
- Mendorong transformasi sistem pencatatan manual ke digitalisasi berbasis barcode, mulai dari penginputan resep dokter hingga pengeluaran obat oleh apoteker.
- Menyusun alur komunikasi klinis yang jelas antara dokter, perawat, dan apoteker, termasuk format komunikasi SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation).
- Melatih seluruh tenaga kesehatan tentang High Alert Medication dan LASA (Look Alike Sound Alike) untuk meningkatkan awareness kolektif (6).
Tantangan dan Peluang
Tantangan
- Kultur organisasi yang belum terbuka terhadap kesalahan. Banyak tenaga kesehatan masih takut melaporkan insiden karena takut disalahkan. Ini memperparah under-reporting.
- Keterbatasan SDM dan infrastruktur teknologi. Implementasi barcode dan e-prescribing membutuhkan biaya dan pelatihan awal yang tidak kecil.
- Komunikasi antar profesi belum optimal. Banyak kesalahan terjadi saat transisi shift atau pengalihan pasien antar unit.
- Kurangnya integrasi sistem informasi klinis. Data dari farmasi, rawat inap, dan rekam medis sering tidak sinkron.
Peluang
- Dukungan regulasi nasional dan internasional. WHO melalui Global Patient Safety Challenge: Medication Without Harm memberi kerangka kerja dan justifikasi yang kuat.
- Adanya inisiatif transformasi digital di fasilitas kesehatan. Hal ini membuka peluang untuk mengintegrasikan sistem pemesanan obat, verifikasi, hingga pemberian secara elektronik.
- Peningkatan kesadaran tenaga kesehatan muda terhadap keselamatan pasien. Generasi baru cenderung lebih terbuka dengan pembaruan sistem dan penggunaan teknologi.
Upaya Antisipatif
Sebagai pemimpin visioner, saya menyusun beberapa strategi antisipatif:
- Penerapan sistem pelaporan medication error non-punitif, yang tidak fokus pada menyalahkan individu, melainkan pada perbaikan sistem (just culture).
- Pilot project di satu bangsal/unit sebelum skala rumah sakit, untuk menguji sistem baru dan mengukur efektivitasnya.
- Pelatihan interprofesional reguler, dengan simulasi kasus medication error dan diskusi reflektif sebagai bagian dari Continuous Quality Improvement (CQI).
- Evaluasi berkala berbasis indikator mutu seperti angka medication error, waktu tunda pemberian obat, dan indeks kepatuhan terhadap SOP.
Dengan kepemimipinan visioner yang kuat, saya percaya bahwa transformasi ini tidak hanya meningkatkan keselamatan pasien tetapi juga memperkuat kultur kerja yang profesional, terbuka, dan kolaboratif.
e. Kesimpulan
Kepribadian INTJ memungkinkan saya untuk memimpin dengan cara yang berbeda: bukan dari podium, tetapi dari pemikiran dan sistem yang menggerakkan. Dengan model kepemimpinan visioner, saya dapat menyusun peta perubahan dalam penanganan TB-HIV dan peningkatan mutu keselamatan pasien secara konkret, strategis, dan berkelanjutan. Tantangan akan selalu ada, tetapi dengan visi yang kuat, struktur yang jelas, dan evaluasi yang konsisten, perubahan bukan hanya mungkin tetapi pasti terjadi.
f. Daftar Pustaka
- Myers-Briggs Company. MBTI® Manual: A Guide to the Development and Use of the Myers-Briggs Type Indicator. 4th ed. CPP Inc; 2020.
- Nadeem M, Zainab F, Rehman R. Personality traits and academic performance among medical students: an MBTI-based study. J Pak Med Assoc. 2023;73(2):263–267.
- Robbins S, Judge T. Organizational Behavior. 19th ed. Pearson; 2021.
- Sosik JJ, Jung DI. Full range leadership and MBTI personality type: An examination of leadership outcomes in healthcare. Leadership Health Serv. 2023;36(1):14–28.
- World Health Organization. Integrated person-centred care for TB, HIV and other co-morbidities. Geneva: WHO; 2021.
- Institute for Safe Medication Practices (ISMP). Targeted Medication Safety Best Practices for Hospitals 2023–2024.Horsham, PA: ISMP; 2023.
Komentar
Posting Komentar