Bekerja dalam Senyap, Berdampak dalam Diam: Pemimpin ala INFP

 Nama    : Josephine Marcella Putri Ersani

NIM        : 22.P1.0035

Pernyataan orisinalitas karya tulis
Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.

 Bekerja dalam Senyap, Berdampak dalam Diam: Pemimpin ala INFP

Sebagai individu dengan hasil yaitu INFP-T (introverted, Intuitive, Feeling, Perceiving Turbulent). Tipe ini dikenal sebagai "Mediator" individu yang idealis, reflektif, dan sangat peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Sebagai seorang INFP, yaitu individu yang cenderung menikmati waktu menyendiri untuk merenung, memproses pikiran dan perasaan dengan mendalam, serta menemukan makna dalam berbagai hal yang dilakukan. Bekerja dalam lingkungan yang tenang, menghargai keaslian, dan menjunjung tinggi integritas. Dalam berinteraksi dengan orang lain, saya berusaha menjadi pendengar yang baik dan penuh empati, karena meyakini bahwa setiap orang memiliki kisah dan perjuangannya masing-masing1.

Sebagai tipe turbulent, saya sering melakukan refleksi diri yang intens dan memiliki dorongan kuat untuk selalu berkembang menjadi versi terbaik dari diri. Namun, sisi ini juga membuat mudah merasa cemas terhadap penilaian dan sering mempertanyakan apakah keputusan yang dibuat sudah tepat. Walaupun terkadang memunculkan keraguan, karakteristik ini justru memotivasi untuk terus belajar, terbuka terhadap umpan balik, dan lebih hati-hati dalam mengambil langkah. Dalam konteks apapun bai dalam bidang akademik, organisasi, maupun sosial cenderung fokus pada makna di balik tugas, bukan hanya hasil akhir. Kepekaan, ketulusan, dan kesediaan untuk memahami orang lain adalah kekuatan yang menonjol dalam kepribadian1.

Gambar 1.1 INFP-T1


Servant Leadership atau Kepemimpinan yang melayani

Melihat karakteristik pribadi yang cenderung empatik, idealis, dan reflektif, model kepemimpinan yang paling sesuai adalah Servant Leadership, atau kepemimpinan berbasis pelayanan. Berlandaskan pada prinsip bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang lebih dahulu melayani. Alih-alih memposisikan diri sebagai figur yang berkuasa atau mendominasi, pemimpin dalam pendekatan ini berfokus pada kebutuhan tim, mendengarkan aspirasi anggotanya, serta membantu setiap individu berkembang secara pribadi dan profesional. Model ini sangat relevan dan lebih suka menciptakan hubungan kerja yang setara, saling menghargai, dan dipenuhi rasa tanggung jawab kolektif2.

Seorang pemimpin dengan gaya Servant Leadership tidak hanya memikirkan keberhasilan organisasi secara jangka pendek, tetapi juga berfokus pada pembangunan karakter, kesejahteraan emosional tim, dan terciptanya lingkungan kerja yang sehat. Karakteristik utama dari model ini yaitu empati, mendengarkan secara aktif, kesadaran diri, keterbukaan terhadap masukan, serta komitmen pada pertumbuhan dan pemberdayaan orang lain. Dalam konteks organisasi pelayanan atau kesehatan masyarakat, kepemimpinan seperti ini sangat dibutuhkan untuk membangun sistem yang tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga berakar pada rasa kemanusiaan dan keadilan sosial. Dengan mempraktikkan model ini yaitu dengan berusaha menjadi pemimpin yang tidak hanya menyelesaikan tugas, tetapi juga meninggalkan dampak positif dan bermakna bagi orang-orang disekitar2.

Gambar 1.2 Servant Leadership5


Penerapan Model Kepemimpinan di Puskesmas X untuk Program Terpadu TB-HIV

Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memastikan keselamatan pasien dan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL), mengadopsi model servant leadership sebagai pendekatan utama. Model ini menempatkan pemimpin bukan sebagai pusat otoritas, melainkan sebagai pendukung dan pemberdaya tim. Di lingkungan rumah sakit yang kompleks, pendekatan ini efektif dalam membangun budaya organisasi yang kolaboratif, terbuka, dan berorientasi mutu berkelanjutan3.

Penerapan model ini difokuskan pada sasaran keselamatan pasien terkait komunikasi efektif, salah satu dari enam elemen penting dalam upaya peningkatan mutu di FKTL. Komunikasi yang kurang jelas, tidak terstruktur, atau tidak tersampaikan dengan baik dapat menjadi penyebab utama insiden keselamatan, seperti kesalahan identifikasi pasien, pemberian obat yang tidak sesuai, hingga kegagalan dalam pengambilan keputusan klinis. Oleh karena itu, pemimpin berperan krusial dalam menanamkan budaya komunikasi yang konsisten, saling menghargai, dan terstandar di seluruh lini pelayanan3.

Sebagai pemimpin yang mengedepankan pelayanan, memfasilitasi terciptanya sistem komunikasi yang lebih baik melalui pertemuan rutin lintas unit serta mendorong penerapan metode komunikasi seperti SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) dalam proses serah terima pasien maupun diskusi tim medis. Dalam memastikan semua staf mendapatkan pelatihan komunikasi yang relevan, baik saat orientasi maupun dalam program pengembangan berkelanjutan. Selain itu, menyediakan ruang bagi setiap anggota tim untuk menyampaikan pendapat, kendala, maupun ide perbaikan tanpa rasa takut akan dihakimi4.


Kendala dan Strategi dalam Menghadapi Tantangan

Dalam pelaksanaannya, terdapat sejumlah hambatan, salah satunya adalah struktur organisasi yang hierarkis, yang sering kali membuat tenaga kesehatan junior ragu untuk menyuarakan pendapat. Di sisi lain, beban kerja yang tinggi dan tekanan waktu membuat komunikasi efektif menjadi tantangan tersendiri di ruang-ruang pelayanan4.

Meski begitu, terdapat peluang besar untuk mendorong perbaikan. Regulasi akreditasi nasional kini semakin menekankan pentingnya komunikasi dalam keselamatan pasien. Selain itu, kemajuan teknologi informasi membuka jalan bagi sistem komunikasi digital yang dapat meningkatkan efektivitas pertukaran informasi antar profesi.

Untuk mengantisipasi tantangan tersebut, membangun lingkungan kerja yang mendorong keterbukaan, saling percaya, dan penghargaan terhadap kontribusi semua anggota tim. Selain memperkuat keterampilan teknis, juga menanamkan nilai-nilai empati dan mendengarkan aktif sebagai bagian dari pelatihan komunikasi. Penggunaan platform digital internal memudahkan pelaporan dan klarifikasi, serta mendorong respon cepat terhadap potensi insiden.

Referensi:

  1. NERIS Analytics Limited. Kepribadian INFP (Mediator) [Internet]. 16Personalities; 2025 [cited 2025 Jul 3]. Available from: https://www.16personalities.com/id/kepribadian-infp

  2. Kumari K, Abbas J, Hwang J, Cioca LI. Does Servant Leadership Promote Emotional Intelligence and Organizational Citizenship Behavior among Employees? A Structural Analysis. Sustainability. 2022;14(9):5231. doi:10.3390/su14095231

  3. Supriati T, Mahendrahata Y, Probandari AN. Kesiapan integrasi layanan TB‑HIV Puskesmas di Kabupaten Kulon Progo. J Manajemen Pelayanan Kesehatan [Internet]. 2021 Mar 31 [cited 2025 Jul 3];24(01):24–32. Available from: https://jurnal.ugm.ac.id/v3/JMPK/article/view/4058

  4. Supriati T, Mahendrahata Y, Probandari AN. Kesiapan integrasi layanan TB‑HIV Puskesmas di Kabupaten Kulon Progo. J Manajemen Pelayanan Kesehatan [Internet]. 2021 Mar 31 [cited 2025 Jul 3];24(01):24–32. Available from: https://jurnal.ugm.ac.id/v3/JMPK/article/view/4058

  5. Moffitt D. Exploring Servant Leadership: Characteristics, Benefits, and Examples [Internet]. Kumospace Blog; 2024 Apr 21 [cited 2025 Jul 3]. Available from: https://www.kumospace.com/blog/servant-leadership


Lampiran

Lampiran 1. Hasil MBTI




Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader