Perubahan di Fasilitas Kesehatan: Peran Gaya Kepemimpinan ENTJ-A

Nama : Pryanggadanie Hoetomo Putra

NIM : 22.P1.0034


Karakteristik Personal


Berdasarkan hasil tes Myers–Briggs Type Indicator (MBTI), saya memiliki tipe kepribadian ENTJ-A, yaitu Extraverted, Intuitive, Thinking, Judging, Assertive. Tipe ini dianggap sebagai commander atau pemimpin karena memiliki kecenderungan kuat dalam hal organisasi, pengambilan keputusan, dan visi ke depan. Sebagai seorang ENTJ (Komandan), saya merasa memiliki bakat dalam memimpin dan dorongan untuk mewujudkan visi menjadi kenyataan. Pola pikir strategis saya membuat saya mampu melihat gambaran besar, merumuskan tujuan jangka panjang, serta menyusun langkah-langkah efektif untuk mencapainya. Hal ini karena perpaduan antara kepercayaan diri, karisma, dan ketegasan yang mampu menarik serta memotivasi orang lain untuk mengikuti saya. Dalam menjalani kehidupan, saya selalu dipenuhi dengan ambisi dan semangat tinggi untuk meraih kesuksesan. Saya memiliki kemampuan alami dalam mengatur orang maupun sumber daya, menciptakan keteraturan dari situasi yang kacau, serta mewujudkan ide-ide menjadi hasil nyata. Ketajaman berpikir dan kemampuan mengambil keputusan secara rasional membuat saya mampu menghadapi situasi yang kompleks dengan mudah, tanpa kehilangan fokus pada tujuan akhir yang ingin saya capai1. Dalam pengelompokan kepribadian MBTI yang saya dapatkan yaitu ENTJ-A, hal ini juga berkaitan dengan pengalaman saya yang dijelaskan sebagai berikut:

  1. Extraverted (E)
    Saya cenderung aktif berinteraksi dengan orang lain dan nyaman dalam lingkungan sosial. Dalam konteks kepemimpinan, sifat ekstrovert membantu saya membangun komunikasi yang efektif dengan tim, mudah membentuk jaringan kerja, serta mampu memotivasi dan mengarahkan orang lain menuju tujuan bersama. Contohnya, saat saya menjadi ketua bagian pendekatan di acara Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) Wilayah 3, saya memperkenalkan diri terlebih dahulu dan menanyakan satu sama lain agar dapat membangun hubungan dalam kerjasama kedepannya.

  2. Intuitive (N)
    Sebagai individu yang intuitif, saya lebih suka berpikir secara konseptual dan fokus pada gambaran besar. Saya cenderung memiliki visi jangka panjang dan mampu melihat berbagai peluang serta potensi inovasi. Dalam kepemimpinan, saya terbiasa mengembangkan strategi baru dan berpikir kreatif dalam menyelesaikan masalah. Contohnya, jika ada masalah dalam satu tim kerja, saya tidak hanya memikirkan satu keputusan, namun ada berbagai pilihan yang harus saya kembangkan dan menjadi alternatif bila ada keputusan yang tidak tepat sasaran sehingga berbagai keputusan sudah saya pikirkan dalam jangka panjang untuk dampaknya.

  3. Thinking (T)
    Karakteristik ini menjadikan saya lebih mengedepankan logika dan analisis objektif dalam mengambil keputusan. Saya menilai situasi secara rasional, mempertimbangkan data, dan fakta sebelum menentukan langkah. Hal ini sangat penting dalam kepemimpinan, terutama dalam situasi yang membutuhkan keputusan tegas dan solusi yang efektif. Contohnya, saat saya mengatasi masalah dalam kerjasama tim, saya akan menjelaskan data dan fakta yang tertera untuk menjelaskan suatu kebenarannya.

  4. Judging (J)
    Sifat ini membuat saya lebih terorganisir, terstruktur, dan suka dengan perencanaan. Saya cenderung membuat target yang jelas, mengatur prioritas, dan memastikan setiap anggota tim bekerja sesuai rencana yang telah disusun. Hal ini membantu menjaga efisiensi dan produktivitas tim. Hal ini selalu saya utamakan baik untuk diri sendiri maupun berkelompok karena saya menginginkan segala sesuatu tepat pada sasaran dan waktu. Untuk itu, saya mencegah terjadinya kelalaian dan keterlambatan. Jika suatu hal bisa diselesaikan lebih awal dari waktu yang ditentukan, ini akan memudahkan saya dan tim untuk melakukan aktivitas lain tanpa terbebani.

  5. Assertive (A)
    Sebagai ENTJ-A (Assertive), saya memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan mampu menghadapi tantangan dengan tenang. Saya tidak mudah terpengaruh oleh tekanan atau kritik sehingga bisa tetap fokus pada pencapaian tujuan. Sifat asertif ini membantu saya dalam mengambil risiko yang terukur dan mengatasi hambatan dalam proses kepemimpinan. Contohnya, saat saya menjadi pemimpin, saya menerima kritikan yang membangun untuk meningkatkan kinerja tetapi jika kritikan itu hanya untuk merendahkan kinerja, saya tetap fokus pada kinerja saya tanpa terpengaruh pihak manapun.


Model Kepemimpinan


Berdasarkan karakteristik pribadi saya sebagai seorang ENTJ, model kepemimpinan yang paling relevan adalah kepemimpinan visioner, demokratik, dan koleris. Kepemimpinan visioner adalah model kepemimpinan yang menekankan pada kemampuan pemimpin dalam menciptakan, mengomunikasikan, dan mewujudkan visi masa depan yang jelas bagi organisasi atau tim. Pemimpin visioner mampu menginspirasi anggota tim dengan tujuan jangka panjang yang ambisius, memberikan arahan strategis, serta memotivasi orang lain untuk bersama-sama mencapai visi tersebut. Kesesuaian dengan karakteristik pribadi saya seperti dalam berpikir strategis, menyusun rencana jangka panjang, dan mengkomunikasikan visi secara efektif. Hal ini membuat model kepemimpinan visioner sangat relevan dengan gaya kepemimpinan saya, terutama dalam mengarahkan dan menginspirasi tim untuk mencapai perubahan besar2. Kepemimpinan demokratik adalah model kepemimpinan yang mengutamakan partisipasi aktif dari anggota tim dalam proses pengambilan keputusan. Pemimpin demokratik mendorong diskusi terbuka, mendengarkan masukan dari berbagai pihak, dan berupaya menciptakan suasana kerja yang kolaboratif. Dalam model ini, pemimpin tetap memegang kendali akhir tetapi keputusan diambil berdasarkan musyawarah dan pertimbangan bersama. Dalam konteks kepemimpinan demokratik, saya dapat memanfaatkan kemampuan berpikir kritis dan analitis untuk menilai berbagai pendapat dan ide dari anggota tim secara objektif sebelum mengambil keputusan akhir. Dengan demikian, model kepemimpinan demokratik sangat mendukung saya dalam membangun tim yang solid, meningkatkan kreativitas, dan memperkuat komitmen bersama untuk mencapai tujuan organisasi3. Model kepemimpinan koleris berasal dari konsep kepribadian klasik, di mana tipe koleris dikenal tegas, ambisius, berorientasi pada hasil, dan suka mengambil kendali. Pemimpin koleris cenderung memiliki energi tinggi, percaya diri, serta tidak ragu mengambil keputusan penting demi tercapainya tujuan. Kesesuaian dengan karakteristik pribadi saya, hal ini dicontohkan dengan ketegasan, dorongan kuat untuk mencapai target, dan kemampuan dalam mengorganisasi serta mengarahkan tim dan saya cenderung mengambil inisiatif, berani menghadapi tantangan, dan tidak mudah goyah oleh tekanan. Model kepemimpinan koleris sesuai dengan kepribadian saya yang selalu ingin bergerak maju dan memastikan segala sesuatu berjalan sesuai rencana4.

Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV


Dalam mendukung pelaksanaan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, saya menggabungkan tiga model kepemimpinan, yaitu visioner, demokratik, dan koleris. Ketiga model ini saling melengkapi dalam menghadapi tantangan lapangan yang dinamis serta memastikan tercapainya tujuan program secara efektif dan efisien. Kepemimpinan Visioner memberikan arah yang jelas dengan merumuskan visi jangka panjang terkait integrasi penanganan TB-HIV sehingga seluruh tim memahami tujuan utama dan termotivasi untuk mencapainya. Kepemimpinan Demokratik menekankan pada keterlibatan aktif seluruh anggota tim dan pemangku kepentingan dalam proses pengambilan keputusan, mendorong dialog terbuka, dan memperkuat rasa memiliki terhadap program. Kepemimpinan Koleris membantu saya mengambil keputusan tegas dan cepat di situasi kritis, menggerakkan tim dengan energi dan ketegasan, serta menjaga fokus pada hasil dan pencapaian target. Dalam pelaksanaan kegiatan lintas program penanganan TB-HIV ada beberapa kegiatan utama yang saya fokuskan, antara lain:

  1. Advokasi
    Saya menginisiasi advokasi yang terarah dan berkelanjutan kepada pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Melalui visi yang jelas, saya mampu meyakinkan stakeholder akan pentingnya integrasi TB-HIV dan memperjuangkan dukungan kebijakan serta sumber daya. Hal ini sesuai dengan pendekatan koleris dan  visioner.

  2. Penguatan Tim
    Saya melibatkan seluruh anggota tim dalam diskusi, pembagian tugas, dan evaluasi. Setiap anggota diberikan kesempatan menyampaikan pendapat sehingga tercipta kolaborasi dan rasa tanggung jawab bersama. Hal ini sesuai dengan pendekatan demokratik.

  3. Koordinasi Lintas Sektor
    Saya memimpin koordinasi aktif dengan berbagai program dan sektor, memastikan tidak ada tumpang tindih peran serta mempercepat proses integrasi pelayanan. Hal ini sesuai dengan pendekatan koleris dan visioner.

  4. Kolaborasi Interprofesional
    Saya mendorong kolaborasi antara tenaga medis, laboratorium, farmasi, dan kader masyarakat secara terbuka dan inklusif, memastikan pelayanan yang komprehensif dan holistik. Hal ini sesuai dengan pendekatan koleris dan demokratik.

  5. Monitoring dan Evaluasi
    Saya memastikan kegiatan monitoring dan evaluasi berjalan secara rutin dan transparan. Setiap hasil evaluasi menjadi bahan diskusi bersama untuk menentukan langkah perbaikan, dan jika diperlukan, saya mengambil keputusan strategis secara cepat dan tegas. Hal ini sesuai dengan pendekatan koleris dan demokratik.


   Dalam implementasi lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, masih terdapat beberapa tantangan signifikan yang harus dihadapi. Stigma terhadap pasien TB-HIV di masyarakat masih tinggi sehingga menghambat upaya deteksi dini dan penanganan yang optimal. Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia, waktu, dan fasilitas di Puskesmas seringkali menjadi kendala dalam menyediakan layanan yang berkualitas. Kurangnya keterlibatan aktif dari sebagian anggota tim atau stakeholder juga dapat memperlambat proses koordinasi dan integrasi program. Tidak jarang pula terjadi rotasi atau mutasi petugas yang menuntut adanya proses adaptasi ulang dan dapat mempengaruhi kontinuitas pelayanan. Di sisi lain, terdapat berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pelaksanaan program. Dukungan regulasi pemerintah yang semakin jelas terhadap integrasi TB-HIV memberikan dasar yang kuat untuk pelaksanaan program secara menyeluruh. Potensi jejaring dan kolaborasi dengan berbagai organisasi masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), serta komunitas lokal dapat dimanfaatkan untuk memperluas advokasi dan edukasi kepada masyarakat. Kemajuan teknologi informasi juga sangat membantu dalam proses edukasi, advokasi, serta monitoring dan pelaporan kasus secara lebih efisien. Selain itu, semangat gotong royong masyarakat yang masih kuat dapat digerakkan untuk mendukung berbagai inisiatif program di lapangan.
        Menghadapi berbagai tantangan tersebut, saya menerapkan serangkaian upaya antisipatif dengan memadukan pendekatan visioner, demokratik, dan koleris dalam kepemimpinan. Saya melakukan edukasi dan sosialisasi berkelanjutan kepada masyarakat untuk menurunkan stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB-HIV. Selain itu, saya membentuk forum komunikasi lintas program dan sektor guna memperkuat sinergi dan membangun visi bersama di antara seluruh pemangku kepentingan. Pemberian pelatihan dan penghargaan bagi anggota tim yang berprestasi juga menjadi fokus, agar motivasi dan kompetensi tim tetap terjaga. Pemanfaatan teknologi informasi dioptimalkan untuk meningkatkan efektivitas pelaporan dan pemantauan kasus. Saya juga merancang road map jangka panjang agar seluruh pihak memahami serta terlibat dalam pencapaian visi yang sama, serta menegakkan sistem kerja yang disiplin dengan pembagian tugas yang jelas dan mengambil tindakan tegas bila terdapat hambatan tanpa solusi. Dengan perpaduan strategi ini, diharapkan program penanganan TB-HIV di Puskesmas X dapat berjalan secara optimal, adaptif, dan berkelanjutan.

Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan) 


        Untuk mendukung peningkatan mutu keselamatan pasien dan petugas kesehatan, saya menerapkan kombinasi kepemimpinan visioner, demokratik, dan koleris. Visioner memformulasikan visi jangka panjang untuk menciptakan budaya komunikasi yang terbuka, jelas, dan sistematis di lingkungan FKTL, sehingga seluruh tim memiliki tujuan bersama dalam meningkatkan keselamatan. Demokratik mengutamakan partisipasi aktif dan kolaborasi seluruh anggota tim medis dan non-medis, mengakomodasi berbagai ide, serta membangun suasana kerja yang terbuka dalam menyampaikan saran atau kritik terkait proses komunikasi. Koleris memastikan setiap kebijakan, standar, dan protokol komunikasi dijalankan dengan tegas, melakukan supervisi langsung, serta mengambil keputusan cepat jika terjadi hambatan dalam komunikasi yang dapat berisiko pada keselamatan pasien. Implementasi dalam sasaran komunikasi efektif, saya melakukan beberapa langkah berikut:
  1. Menyusun Visi Bersama
    Saya mengajak seluruh tim untuk memiliki visi bersama bahwa komunikasi efektif adalah kunci utama dalam keselamatan pasien dan petugas. Selain itu, visi ini saya komunikasikan secara rutin melalui rapat, poster edukasi, dan reminder digital di ruang kerja.

  2. Membangun Sistem Komunikasi Terstandar
    Saya menginisiasi penerapan tools komunikasi efektif, seperti SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation), pada setiap shift pergantian dan handover pasien. Melibatkan semua anggota tim untuk memberikan masukan tentang hambatan yang dihadapi dalam komunikasi sehari-hari

  3. Mendorong Budaya Feedback
    Dengan pendekatan demokratik, saya membuka ruang diskusi rutin agar setiap anggota tim dapat menyampaikan pengalaman, hambatan, atau saran terkait komunikasi.
    Setiap masukan dievaluasi bersama untuk perbaikan proses.

  4. Eksekusi dan Penegakan Disiplin
    Dengan sikap tegas (koleris), saya memastikan setiap SOP komunikasi dijalankan tanpa kompromi.
    Jika ditemukan pelanggaran, saya mengambil langkah korektif secara cepat namun tetap proporsional.


        Dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien dan petugas kesehatan melalui sasaran komunikasi efektif di FKTL, masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diatasi. Budaya komunikasi vertikal yang masih mengakar menyebabkan staf junior merasa enggan untuk menyampaikan pendapat atau masukan, sehingga informasi penting kerap tidak tersampaikan secara optimal. Selain itu, adanya multitasking atau beban kerja yang tinggi sering kali membuat proses komunikasi menjadi kurang efektif, bahkan memicu terjadinya miss komunikasi yang dapat berdampak pada keselamatan pasien. Tantangan lain yang dihadapi adalah kurangnya pelatihan atau sosialisasi mengenai komunikasi efektif yang dilakukan secara rutin, sehingga keterampilan komunikasi staf tidak selalu terasah dan terstandar. Dalam berbagai tantangan tersebut, terdapat peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat implementasi komunikasi efektif di FKTL. Saat ini, telah tersedia beragam teknologi komunikasi seperti aplikasi digital dan sistem informasi pasien yang dapat mempermudah pertukaran informasi secara cepat dan akurat. Dukungan manajemen dalam menyediakan pelatihan komunikasi efektif secara rutin juga menjadi peluang besar untuk meningkatkan kompetensi staf. Selain itu, kesadaran tim medis dan non-medis akan pentingnya keselamatan pasien semakin meningkat, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih terbuka untuk melakukan perbaikan berkelanjutan dalam hal komunikasi.
        Sebagai upaya antisipatif terhadap tantangan yang ada, saya mengambil beberapa langkah strategis. Salah satunya adalah dengan mengadakan pelatihan komunikasi efektif secara berkala bagi seluruh staf, agar kemampuan komunikasi mereka tetap terjaga dan sesuai standar. Saya juga membentuk tim “Sigap” komunikasi efektif yang bertugas mengingatkan serta memberi contoh pelaksanaan komunikasi yang baik di lingkungan kerja. Selain itu, sistem pelaporan insiden komunikasi diintegrasikan ke dalam sistem mutu FKTL, sehingga setiap permasalahan komunikasi dapat diidentifikasi dan dievaluasi bersama secara transparan. Untuk mendorong budaya komunikasi yang positif, saya memberikan penghargaan kepada tim atau individu yang konsisten menerapkan komunikasi efektif dalam keseharian kerja. Melalui berbagai langkah ini, diharapkan budaya komunikasi efektif dapat tertanam kuat, sehingga mutu pelayanan dan keselamatan pasien serta petugas kesehatan dapat terus meningkat secara berkelanjutan.

Kesimpulan

        Kepemimpinan yang efektif di fasilitas kesehatan, baik tingkat pertama maupun tingkat lanjut, sangat dipengaruhi oleh karakteristik personal dan gaya kepemimpinan pemimpinnya. Berdasarkan hasil asesmen kepribadian MBTI, tipe ENTJ-A atau “Komandan” sangat relevan dalam menghadapi tantangan di bidang kesehatan, karena mengedepankan visi strategis, kemampuan pengambilan keputusan, serta ketegasan dalam mengorganisasi sumber daya dan tim. Model kepemimpinan visioner, demokratik, dan koleris terbukti saling melengkapi dalam pelaksanaan program kesehatan. Kepemimpinan visioner memberikan arah dan motivasi jangka panjang, demokratik memastikan partisipasi dan kolaborasi tim, sedangkan koleris menonjolkan ketegasan dan fokus pada pencapaian target. Penerapan kombinasi ketiga model ini memungkinkan pemimpin untuk adaptif dalam menghadapi dinamika di lapangan, meningkatkan komitmen dan rasa memiliki tim, serta memperkuat efektivitas koordinasi lintas sektor dan interprofesional. Dalam konteks penanganan program lintas TB-HIV di puskesmas, perpaduan ketiga model ini terbukti membantu dalam advokasi, penguatan tim, kolaborasi, serta monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan. Begitu pula pada fasilitas kesehatan tingkat lanjut, strategi kepemimpinan yang sama mampu meningkatkan budaya komunikasi efektif demi keselamatan pasien dan petugas kesehatan. Walaupun masih ada tantangan seperti stigma masyarakat, keterbatasan SDM, budaya komunikasi vertikal, hingga beban kerja yang tinggi, peluang kemajuan tetap terbuka melalui dukungan regulasi, pemanfaatan teknologi informasi, serta pelatihan dan penghargaan bagi staf. Implementasi berkelanjutan dari model kepemimpinan visioner, demokratik, dan koleris diharapkan mampu mewujudkan pelayanan kesehatan yang adaptif, berorientasi pada mutu, serta berkelanjutan demi keselamatan pasien dan tenaga kesehatan.

Daftar Pustaka

  1. Kepribadian ENTJ (Komandan) [Internet]. 16Personalities. [cited 2025 Jul 3]. Available from: https://www.16personalities.com/id/kepribadian-entj
  2. Jaqua E, Jaqua T. VISIONARY LEADERSHIP. Quantum J Soc Sci Humanit. 2021. 2021 Nov 18;2(6):89-92.
  3. Sharma DrLJK, Singh DrSK. A Study on the Democratic Style of Leadership. Int J Manag Inf Technol. 2013 Jan 23;3(2):54-7.
  4. Fransius Kusmanto, Oci M, Serenity FA. KEPEMIMPINAN Kepemimpinan Dengan Kepribadian Koleris. J Apokal. 2024 Jun 30;15(1):106-21.
Lampiran

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pernyataan orisinalitas karya tulis         Saya menyatakan bahwa seluruh konten dan sumber referensi yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau naskah tersebut merupakan hasil karya sendiri dan menggunakan sumber informasi yang valid dan reliabel. Jika ditemukan adanya kecurangan, penggunaan bantuan teknologi dan tindakan plagiasi terhadap pekerjaan orang lain maka saya bersedia mengulang dan pengurangan nilai perilaku.

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader