The provider and the caregiver
AMELIA CALLISTA HARTANTO
21.P1.0021
Model kepemimpinan yang saya gunakan selama ini adalah kepemimpinan demokratis (Democratic Leadership) dan model ini cocok dengan Kepribadian saya (ESFJ). Kepemimpinan demokratis menitik beratkan pada bimbingan yang efesien kepada para anggota/bawahannya. Koordinasi pekerjaan terjalin dengan baik, terutama pada penekanan rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama antar anggota/bawahannya yang baik. Mereka cenderung berorientasi pada hubungan sosial dan kebutuhan kelompok. Model kepemimpinan demokratis memungkinkan partisipasi aktif dari semua anggota tim dalam proses pengambilan keputusan. Karakteristik mereka dalam memimpin menekankan pada kolaborasi, menghargai perspektif orang lain, dan membangun konsensus di antara anggota tim.3
Cara democratic Leadership mempimpin suatu kasus
- Kasus TB-HIV di Puskesmas X
Ketika saya menjadi kepala puskesmas X, saya menggunakan model kepemimpinan demokratik dalam menerapkan program penanganan TB- HIV. Saya akan mendorong partisipasi aktif dari pihak staf kesehatan, masyarakat, dan organisasi non-pemerintah dalam merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi program-program kesehatan seperti penanganan TB-HIV. Saya menerapkan komunikasi terbuka yaitu memastikan adanya aliran informasi yang jelas dan terbuka antara semua pihak terlibat. Diadakannya rapat rutin, forum diskusi, dan sesi tanya jawab untuk memastikan semua informasi terbaru mengenai penanganan TB_HIV dan dipahami oleh semua anggota tim. Dalam forum diskusi saya akan mendorong inisiatif dan kreativitas dari anggota tim penanganan TB-HIV untuk mencari solusi kreatif dalam menangani masalah yang muncul, Memberikan ruang untuk eksperimen dan penemuan solusi baru dapat meningkatkan efektivitas program. Saya akan memantau pembagian tanggung jawab yang jelas, mulai dari peran, tanggung jawab setiap anggota tim dalam pelaksanaan program pencegahan TB-HIV serta memastikan bahwa semua tugas terkait dengan penanganan TB-HIV dilaksanakan dengan baik dan tepat waktu. Saya akan mendorong anggota tim puskesmas untuk terus belajar dan mengembangkan keterampilan mereka dalam penanganan TB-HIV. Ini dapat dilakukan melalui pelatihan berkala, workshop, atau pertukaran pengetahuan antar puskesmas atau tim kesehatan yang lain.
Program pelaksanaan penanganan TB-HIV yang komprehensif membutuhkan pendekatan yang terstruktur dan terkoordinasi dengan baik, meliputi berbagai aspek seperti advokasi, penguatan tim, koordinasi lintas sektor, kolaborasi interprofesional, monitoring, dan evaluasi.
- Advokasi: melibatkan upaya untuk memperjuangkan kebijakan yang mendukung, alokasi anggaran yang memadai, dan perlindungan hak-hak individu yang terkena TB-HIV. Advokasi juga mencakup kampanye kesadaran publik untuk mengurangi stigma dan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penyakit ini.
- Penguatan Tim: Penguatan tim melibatkan peningkatan kapasitas dan keterampilan anggota tim kesehatan yang terlibat dalam penanganan TB-HI. Ini meliputi pelatihan berkala, pengembangan profesional, dan penyediaan sumber daya yang diperlukan untuk meningkatkan efektivitas layanan kesehatan.
- Koordinasi lintas sektor: Karena penanganan TB-HIVmemerlukan pendekatan holistik, koordinasi lintas sektor sangat penting. Ini melibatkan kerjasama antara departemen kesehatan, lembaga pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan sektor swasta untuk memastikan bahwa semua aspek penanganan dari pencegahan hingga perawatan terkoordinasi dengan baik.
- Kolaborasi Interprofesional: Kolaborasi interprofesional mengacu pada kerja sama antara berbagai profesional kesehatan dan non-kesehatan dalam tim multidisiplin. Hal ini membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik, perencanaan perawatan yang komprehensif, dan pengelolaan kasus yang kompleks.
- Monitoring: Monitoring yang efektif memungkinkan pemantauan terus-menerus terhadap implementasi program. Ini melibatkan pengumpulan data secara teratur untuk mengukur kemajuan, mengidentifikasi masalah yang muncul, dan mengambil tindakan korektif yang diperlukan.
- Evaluasi: Evaluasi program yang terstruktur membantu dalam mengevaluasi dampak dan efektivitas intervensi yang dilakukan. Evaluasi ini melibatkan analisis mendalam terhadap data dan umpan balik dari stakeholder untuk memastikan bahwa tujuan yang ditetapkan tercapai dan untuk mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan.
☝Tantangan apa saja yang akan dihadapi ? Bagaimana cara antisipasi ?
- Kasus di fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)
☝Tantangan apa saja yang akan dihadapi ? Bagaimana cara mengambil peluang dan antisipasi ?
- Keterbatasan Sumber Daya: Fasilitas kesehatan tingkat lanjut sering menghadapi tantangan dalam hal sumber daya finansial, peralatan medis yang mutakhir, dan tenaga medis yang terlatih dengan baik
- Kompleksitas Kasus dan Penanganan: Pasien di fasilitas kesehatan tingkat lanjut sering kali memiliki kondisi yang kompleks dan memerlukan perawatan intensif, yang memerlukan koordinasi yang baik dan pengelolaan risiko yang cermat.
- Perubahan Kebijakan dan Regulasi: Adanya perubahan dalam kebijakan kesehatan, regulasi pemerintah, atau tuntutan hukum dapat mempengaruhi operasional dan strategi fasilitas kesehatan.
- Teknologi dan Inovasi: Mengadopsi teknologi baru dan inovasi dalam pelayanan kesehatan bisa menjadi tantangan, terutama dalam hal integrasi sistem dan pelatihan staff.
- Penggunaan Teknologi untuk Peningkatan Efisiensi: Memanfaatkan teknologi informasi dan sistem manajemen rumah sakit untuk meningkatkan pengelolaan data pasien, manajemen stok obat, dan perencanaan operasional.
- Kolaborasi dengan Komunitas dan Pihak Eksternal: Membangun kemitraan dengan lembaga akademis, organisasi non-pemerintah, dan perusahaan swasta untuk mendukung pengembangan dan inovasi dalam pelayanan kesehatan.
- Peningkatan Kualitas dan Keselamatan Pasien: Fokus pada implementasi praktik terbaik dalam keselamatan pasien, pencegahan infeksi nosokomial, dan pengelolaan risiko untuk meningkatkan hasil perawatan.
- Perencanaan Strategis Jangka Panjang: Mengembangkan rencana strategis yang komprehensif untuk menanggapi tantangan masa depan, termasuk pembaruan infrastruktur, pengadaan sumber daya, dan pengembangan sumber daya manusia.
- Pelatihan Berkelanjutan: Melakukan pelatihan rutin untuk staf mengenai praktik keselamatan pasien, penggunaan peralatan medis baru, dan peraturan terbaru.
- Evaluasi dan Peningkatan Berkelanjutan: Melakukan evaluasi berkala terhadap kinerja fasilitas, termasuk pengukuran mutu pelayanan, kepuasan pasien, dan kepatuhan terhadap standar keselamatan.
Kesimpulan
Kepribadian ESFJ dalam model kepemimpinan demokratik menyoroti karakteristik utama ESFJ, yakni kedermawanan, kepedulian pada tim/bawahan dan keterlibatan aktif dalam membangun hubungan yang harmonis. Sebagai pemimpin demokratik, ESFJ cenderung memperhatikan Kebutuhan Tim, mengedepankan Kolaborasi, membangun Budaya Kerja yang Solid, menjaga Konsistensi dan stabilitas dan menyediakan dukungan dan pemahaman. Dengan memanfaatkan kekuatan alami mereka dalam hubungan interpersonal dan empati, ESFJ dalam peran kepemimpinan demokratik mampu menciptakan lingkungan kerja yang inklusif, responsif terhadap perubahan, dan berfokus pada kesejahteraan bersama.
Daftar pustaka
- Utami G. Aplikasi Pengenalan Kepribadian Tipe Myers Briggs Menggunakan Metode Fuzzy Saw Berbasis Android. Masyarakat informatika. 2022;11(1):59–67.
- Solutions CLT. Myers-Briggs Type Indicator ( MBTI ) Agenda : Myers-Briggs Type Indicator. 2019; Available from: https://gms.lngvtycnslt.com/images/competitions/2019/CSR2019/MBTI_kk_2019.pdf
Mirnawati, Khan I, Lestari NR. Educational Journal of Islamic Management ( EJIM ) Educational Journal of Islamic Management ( EJIM ). Educational Journal of Islamic Management (EJIM). 2021;1(2):31–40. )
- Sahiddin M, Resubun T. Sumber Daya Manusia Dalam Program Penanggulangan Hiv/Aids Di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Jurnal Keperawatan Tropis Papua. 2018;1(1):1–7.
- Syafridayani F. 6 Sasaran Penting Keselamatan Pasien yang Harus Diketahui dan Dipahami oleh Seorang Perawat. ResearchGate. 2023;8.





Komentar
Posting Komentar