The provider and the caregiver

AMELIA CALLISTA HARTANTO
21.P1.0021


        Kepribadian ESFJ merujuk pada Extraversion (E), Sensing (S), Feeling (F), dan Judging (J). Kepribadian ini sering disebut sebagai "The Provider" atau "The Caregiver”. ESFJ diartikan sebagai perasa yang ekstrover dengan dibantu oleh pegindera, mereka menggambarkan pendekatan yang hangat dan responsif terhadap emosi orang lain dengan memperhatikan detail-detail konkret dari situasi tersebut.Kepribadian ESFJ sering menonjol dalam peran-peran yang membutuhkan kemampuan untuk berempati dan membantu, seperti dalam profesi perawatan kesehatan, pengajaran, atau manajemen. ESFJ sering disukai dalam situasi sosial karena mereka memiliki kemampuan untuk menciptakan suasana yang nyaman dan mereka cenderung ramah. Mereka biasanya menempatkan perhatian pada kebutuhan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri, kadang-kadang hingga pada titik di mana mereka dapat mengorbankan kepentingan pribadi mereka demi keharmonisan kelompok atau hubungan.2  

        Dalam konteks kepemimpinan mereka mudah beradaptasi dan terbuka terhadap masukan dan ide dari anggota tim mereka (ekstrovert). ESFJ memiliki kecenderungan untuk menggunakan indra praktis berarti cenderung fokus pada detail konkret dan realitas saat mengambil keputusan. Mereka memahami kebutuhan dan harapan anggota tim mereka dengan baik, sehingga dapat mengarahkan tim menuju tujuan yang jelas dan terukur (sensing). Orang dengan kepribadian ESFJ sering dianggap sebagai sosok yang hangat, peduli, dan penuh perhatian terhadap kebutuhan orang lain (feeling), sehingga dalam kepemimpinan ESFJ mendengarkan saran dari bawahannya, menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan harmonis. Cara kerja mereka terstruktur, terorganisir, dan suka membuat keputusan yang cepat. ESFJ selalu menerapkan perencanaan dan tujuan yang jelas (judging).2 

Apa model kepemimpinan yang relevan dan saya gunakan  ? 

         Model kepemimpinan yang saya gunakan selama ini adalah kepemimpinan demokratis (Democratic Leadership) dan model ini cocok dengan Kepribadian saya (ESFJ). Kepemimpinan  demokratis   menitik  beratkan  pada  bimbingan   yang  efesien  kepada  para anggota/bawahannya. Koordinasi pekerjaan terjalin dengan baik, terutama pada penekanan rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama antar anggota/bawahannya yang baik. Mereka cenderung berorientasi pada hubungan sosial dan kebutuhan kelompok. Model kepemimpinan demokratis memungkinkan partisipasi aktif dari semua anggota tim dalam proses pengambilan keputusan. Karakteristik mereka dalam memimpin menekankan pada kolaborasi, menghargai perspektif orang lain, dan membangun konsensus di antara anggota tim.3 

Cara democratic Leadership mempimpin suatu kasus 


Gambaran model kepemimpinan demokratis (Democratic Leadership)

  • Kasus TB-HIV di Puskesmas X 

        Ketika saya menjadi kepala puskesmas X, saya menggunakan model kepemimpinan demokratik dalam menerapkan program penanganan TB- HIV. Saya akan mendorong partisipasi aktif dari pihak staf kesehatan, masyarakat, dan organisasi non-pemerintah dalam merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi program-program kesehatan seperti penanganan TB-HIV. Saya menerapkan komunikasi terbuka yaitu memastikan adanya aliran informasi yang jelas dan terbuka antara semua pihak terlibat. Diadakannya rapat rutin, forum diskusi, dan sesi tanya jawab untuk memastikan semua informasi terbaru mengenai penanganan TB_HIV dan dipahami oleh semua anggota tim. Dalam forum diskusi saya akan mendorong inisiatif dan kreativitas dari anggota tim penanganan TB-HIV untuk mencari solusi kreatif dalam menangani masalah yang muncul, Memberikan ruang untuk eksperimen dan penemuan solusi baru dapat meningkatkan efektivitas program. Saya akan memantau pembagian tanggung jawab yang jelas, mulai dari peran, tanggung jawab setiap anggota tim dalam pelaksanaan program pencegahan TB-HIV serta memastikan bahwa semua tugas terkait dengan penanganan TB-HIV dilaksanakan dengan baik dan tepat waktu. Saya akan mendorong anggota tim puskesmas untuk terus belajar dan mengembangkan keterampilan mereka dalam penanganan TB-HIV. Ini dapat dilakukan melalui pelatihan berkala, workshop, atau pertukaran pengetahuan antar puskesmas atau tim kesehatan yang lain.

        Program pelaksanaan penanganan TB-HIV yang komprehensif membutuhkan pendekatan yang terstruktur dan terkoordinasi dengan baik, meliputi berbagai aspek seperti advokasi, penguatan tim, koordinasi lintas sektor, kolaborasi interprofesional, monitoring, dan evaluasi.  

  1. Advokasi: melibatkan upaya untuk memperjuangkan kebijakan yang mendukung, alokasi anggaran yang memadai, dan perlindungan hak-hak individu yang terkena TB-HIV. Advokasi juga mencakup kampanye kesadaran publik untuk mengurangi stigma dan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penyakit ini. 
  2. Penguatan Tim: Penguatan tim melibatkan peningkatan kapasitas dan keterampilan anggota tim kesehatan yang terlibat dalam penanganan TB-HI. Ini meliputi pelatihan berkala, pengembangan profesional, dan penyediaan sumber daya yang diperlukan untuk meningkatkan efektivitas layanan kesehatan.
  3. Koordinasi lintas sektor: Karena penanganan TB-HIVmemerlukan pendekatan holistik, koordinasi lintas sektor sangat penting. Ini melibatkan kerjasama antara departemen kesehatan, lembaga pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan sektor swasta untuk memastikan bahwa semua aspek penanganan dari pencegahan hingga perawatan terkoordinasi dengan baik.
  4. Kolaborasi Interprofesional: Kolaborasi interprofesional mengacu pada kerja sama antara berbagai profesional kesehatan dan non-kesehatan dalam tim multidisiplin. Hal ini membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik, perencanaan perawatan yang komprehensif, dan pengelolaan kasus yang kompleks.
  5. Monitoring: Monitoring yang efektif memungkinkan pemantauan terus-menerus terhadap implementasi program. Ini melibatkan pengumpulan data secara teratur untuk mengukur kemajuan, mengidentifikasi masalah yang muncul, dan mengambil tindakan korektif yang diperlukan.
  6. Evaluasi: Evaluasi program yang terstruktur membantu dalam mengevaluasi dampak dan efektivitas intervensi yang dilakukan. Evaluasi ini melibatkan analisis mendalam terhadap data dan umpan balik dari stakeholder untuk memastikan bahwa tujuan yang ditetapkan tercapai dan untuk mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan. 

☝Tantangan apa saja yang akan dihadapi ? Bagaimana cara antisipasi ?

        Dalam penanganan kasus TB-HIV terdapat berbagai tantangan diantaranya Keterbatasan akses ke layanan kesehatan (bila di daerah terpencil/perdesaan), Kesulitan dalam diagnosis yang tepat (kelengkapan untuk menunjang diagnosis tidak lengkap ), Kekurangan sumber daya. Bila Puskesmas X ini berada daerah pedesaan atau terpencil, aksesibilitas terhadap layanan kesehatan untuk diagnosis, pengobatan, dan pemantauan TB-HIV dapat menjadi masalah, bila ada pasien gawat darurat membutuhkan waktu yang lama hingga sampai ke rumah sakit rujukan, pengiriman obat-obatan yang lambat. Terdapat pula tantangan keterbatasan dalam kelengkapan alat untuk menunjang diagnosis kemudian obat-obatan yang tidak memadahi. Tantangan selanjutnya adalah tentang kekurangan sumber daya meliputi sumber daya finansial, infrastruktur kesehatan yang memadai, obat-obatan, dan tenaga kesehatan yang terlatih.4 

        Bisa saja Puskesmas X ini belum memiliki cukup dokter, tenaga laboratorium, apoteker dan pencatatan pelaporan. Ketersediaan tenaga dokter dan laboratorium  sangat  berperan  dalam  pemeriksaan  laboratorium  untuk  diagnostik  sedangkan  pencatatan pelaporan  menjadi  faktor  utama  dalam  ketersediaan  data  dan  informasi  TB-HIV di  Puskesmas,  hingga pada proses pemberian obat TB-HIV. Kekurangan  tenaga  TB-HIV juga  terjadi  pada  tenaga  apoteker  dan  tenaga  konselor.  Beberapa puskesmas  belum  memiliki  tenaga  apoteker,  padahal  tenaga  ini  sangat  berhubungan  dengan  pemberian obat  TB-HIV bagi  penderita.  Begitu pula  tenaga  konselor  yang  berperan dalam  pendampingan  dan  konseling bagi penderita dan keluarganya. Tantangan yang mungkin bisa terjadi adalah dari segi pendanann dalam penanganan TB-HIV. 

        Peluang yang mungkin bisa didapatakan yaitu kolaborasi antara sektor kesehatan, pendidikan, pemerintah, dan masyarakat sipil dapat meningkatkan aksesibilitas dan kualitas layanan dalam penanganan kasus TB-HIV. Peluang Inovasi dalam teknologi diagnostic, Pengembangan teknologi diagnostik yang lebih cepat dan akurat dapat membantu dalam deteksi dini dan pengobatan yang lebih efektif. Peluang dalam meningkatan pendanaan dan dukungan internasional dengan Investasi lebih lanjut dari pemerintah, organisasi internasional, dan lembaga donor dapat memperkuat infrastruktur kesehatan dan memastikan tersedianya obat-obatan yang diperlukan.
    
        Upaya yang dilakukan untuk memenuhi tenaga kesehatan, melakukan perekrutan tenaga tidak tetap untuk tenaga dokter, bidan, perawat, analis, farmasi  dan  tenaga  pengelolah  data  informasi  kesehatan.  Perekrutan  dan  penggajian  menggunakan  dana APBD yang telah disiapkan oleh pemerintah daerah. Selain itu, melakukan perekrutan tenaga 8  Tim,  yang  terdiri dari tenaga dokter, tenaga bidan, tenaga perawat, tenaga analis, tenaga farmasi,  tenaga  gizi dan tenaga kesling yang ditempatkan di 8 tempat pelayanan yang jauh dari jangkauan pelayanan kesehatan. Peningkatan aksesibilitas layanan kesehatan dengan mengidentifikasi dan mengatasi hambatan yang menghalangi akses masyarakat ke layanan kesehatan, seperti transportasi yang tidak memadai atau biaya yang tinggi. Monitoring dan evaluasi berkelanjutan dengan menerapkan sistem monitoring yang kuat untuk mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul dan mengukur efektivitas intervensi yang dilakukan. Melakukan penyuluhan rutin tentang bahaya TB-HIV dan bila yang telah terkena tidak perlu takut untuk memeriksakan diri. Terakhir Monitoring dan evaluasi  untuk mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul dan mengukur efektivitas intervensi yang dilakukan.

  • Kasus di fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)

       
         Dalam meningkatkan keselamatan pasien maka harus memahami 6 sasaran penting keselamatan pasien, 6 sasaran keselamatan pasien tersebut saya sebagai pemimpin Fasilitas tingkat lanjut saya memilih Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur dan tepat operasi. Sebagai seorang pemimpin di Fasilitas Tingkat Lanjut Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur dan tepat operasi merupakan hal yang penting bagi keselamatan pasien, mengapa hal ini penting untuk diketahui? Agar tidak terjadinya kesalahan yang tentunya akan meningkatkan angka kecelakaan dirumah sakit. Kepastian lokasi merupakan hal penting yang harus diperhatikan  pertama kali, sebagai dokter harus mengetahui mana bagian yang harus dioperasi, jangan sampai terjadi kesalahan yang seharusnya dioperasi bagian perut sebelah perut kanan karena kurangnya perhatian dokter mengetahui lokasi yang akan dioperasi malah terjadi pembedahan diperut sebelah kiri, selain itu memperhatikan lokasi operasi bukan hanya diperhatikan oleh dokter namun semua tenaga medis yang akan membantu tindakan operasi termasuk perawat. Setelah mengetahui lokasi operasi selanjutnya yang harus diketahui adalah prosedur yang akan dilakukan, ketepatan prosedur merupakan langkah kedua setelah mengetahui lokasi, jangan sampai karena dokter lalai untuk memahami prosedur yang akan dilakukan sehingga berakibat buruk pada pasien pacsa atau pra operasi, setelah lokasi sudah benar, prosedur yang akan dilakukan sudah diketahui dan sudah tepat maka selanjutnya adalah tepat operasi. Tepat operasi bisa terjadi seiring bersamaan dengan sudah terjadinya ketepatan lokasi, ketepatan prosedur sehingga terciptalah ketepatan operasi, untuk mencapai ketepatan operasi dokter harus mendata ulang ataupun mengecek data ulang apakah benar pasien, tepat lokasi dan tepat prosedur yang dilaksanakan. Kita sebagai seorang pemimpin harus selalu menekanankan dan mengingatkan lewat bawahan-bawahan kita, kita harus saling Kerjasama antara tim di Faskes tingkat lanjut. 5

☝Tantangan apa saja yang akan dihadapi ? Bagaimana cara mengambil peluang dan antisipasi ?

Adapaun tantangan yang akan dihadapi sebagai seorang pemimpin di fasilitas tingkat lanjut yaitu : 
  1. Keterbatasan Sumber Daya: Fasilitas kesehatan tingkat lanjut sering menghadapi tantangan dalam hal sumber daya finansial, peralatan medis yang mutakhir, dan tenaga medis yang terlatih dengan baik
  2. Kompleksitas Kasus dan Penanganan: Pasien di fasilitas kesehatan tingkat lanjut sering kali memiliki kondisi yang kompleks dan memerlukan perawatan intensif, yang memerlukan koordinasi yang baik dan pengelolaan risiko yang cermat.
  3. Perubahan Kebijakan dan Regulasi: Adanya perubahan dalam kebijakan kesehatan, regulasi pemerintah, atau tuntutan hukum dapat mempengaruhi operasional dan strategi fasilitas kesehatan.
  4. Teknologi dan Inovasi: Mengadopsi teknologi baru dan inovasi dalam pelayanan kesehatan bisa menjadi tantangan, terutama dalam hal integrasi sistem dan pelatihan staff.

Setiap tantangan pasti ada Peluang yang Dapat Dimanfaatkan yaitu sebagai berikut :
  1. Penggunaan Teknologi untuk Peningkatan Efisiensi: Memanfaatkan teknologi informasi dan sistem manajemen rumah sakit untuk meningkatkan pengelolaan data pasien, manajemen stok obat, dan perencanaan operasional.
  2. Kolaborasi dengan Komunitas dan Pihak Eksternal: Membangun kemitraan dengan lembaga akademis, organisasi non-pemerintah, dan perusahaan swasta untuk mendukung pengembangan dan inovasi dalam pelayanan kesehatan.
  3. Peningkatan Kualitas dan Keselamatan Pasien: Fokus pada implementasi praktik terbaik dalam keselamatan pasien, pencegahan infeksi nosokomial, dan pengelolaan risiko untuk meningkatkan hasil perawatan. 
Upaya- upaya Antisipatif yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Perencanaan Strategis Jangka Panjang: Mengembangkan rencana strategis yang komprehensif untuk menanggapi tantangan masa depan, termasuk pembaruan infrastruktur, pengadaan sumber daya, dan pengembangan sumber daya manusia.
  2. Pelatihan Berkelanjutan: Melakukan pelatihan rutin untuk staf mengenai praktik keselamatan pasien, penggunaan peralatan medis baru, dan peraturan terbaru.
  3. Evaluasi dan Peningkatan Berkelanjutan: Melakukan evaluasi berkala terhadap kinerja fasilitas, termasuk pengukuran mutu pelayanan, kepuasan pasien, dan kepatuhan terhadap standar keselamatan.

Kesimpulan

        Kepribadian ESFJ dalam model kepemimpinan demokratik menyoroti karakteristik utama ESFJ, yakni kedermawanan, kepedulian pada tim/bawahan dan keterlibatan aktif dalam membangun hubungan yang harmonis. Sebagai pemimpin demokratik, ESFJ cenderung memperhatikan Kebutuhan Tim, mengedepankan Kolaborasi, membangun Budaya Kerja yang Solid, menjaga Konsistensi dan stabilitas dan menyediakan dukungan dan pemahaman. Dengan memanfaatkan kekuatan alami mereka dalam hubungan interpersonal dan empati, ESFJ dalam peran kepemimpinan demokratik mampu menciptakan lingkungan kerja yang inklusif, responsif terhadap perubahan, dan berfokus pada kesejahteraan bersama.


 Daftar pustaka 

  1. Utami G. Aplikasi Pengenalan Kepribadian Tipe Myers Briggs Menggunakan Metode Fuzzy Saw Berbasis Android. Masyarakat informatika. 2022;11(1):59–67. 
  2. Solutions CLT. Myers-Briggs Type Indicator ( MBTI ) Agenda : Myers-Briggs Type Indicator. 2019; Available from: https://gms.lngvtycnslt.com/images/competitions/2019/CSR2019/MBTI_kk_2019.pdf
  3. Mirnawati, Khan I, Lestari NR. Educational Journal of Islamic Management ( EJIM ) Educational Journal of Islamic Management ( EJIM ). Educational Journal of Islamic Management (EJIM). 2021;1(2):31–40. ) 

  4. Sahiddin M, Resubun T. Sumber Daya Manusia Dalam Program Penanggulangan Hiv/Aids Di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Jurnal Keperawatan Tropis Papua. 2018;1(1):1–7. 
  5. Syafridayani F. 6 Sasaran Penting Keselamatan Pasien yang Harus Diketahui dan Dipahami oleh Seorang Perawat. ResearchGate. 2023;8. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader