"THE CONSULT" SEBAGAI PEMIMPIN

 

"THE CONSULT" SEBAGAI PEMIMPIN

Wahyuvista Sabdo Zendekia/21.P1.0012

Karakteristik Personal

Kepribadian ESFJ (Ekstrovert, Sensing, Feeling, dan Judging)  merupakan tipe kepribadian yang cenderung supel, loyal, terorganisasi, dan lembut hati sehingga dikenal sebagai "The Caregiver" atau "The Consul." Mereka menyukai interaksi dengan orang sekitar dan berperan aktif dalam komunitasnya. "The Consul" ini juga sangat sangat peduli terhadap perasaan orang lain dan akan selalu melakukan yang terbaik untuk memberikan bantuan.

"The Consul" dapat mengemban tanggung jawab dan dapat diandalkan untuk hadir di mana pun dan kapan pun mereka dibutuhkan. Mereka menghargai keteraturan, detail, dan struktur karena ingin mempertahankan lingkungan yang harmonis dan terstruktur dengan baik. Mereka biasanya adalah individu yang sangat rutin, produktif, terorganisasi dan memegang kendali dalam komunitas mereka

Sebagai seorang pemimpin "The Consul" menikmati tanggung jawabnya dalam mengatur situasi sosial dan dapat mengkoordinasi timnya dengan baik. Mereka dapat membuat semua orang dalam timnya merasa terlibat dan tidak menjatukan satu sama lain sehingga terbentuk hubungan yang baik agar segala sesuatunya dapat diselesaikan. Namun, "The Consul" ini juga dapat kehilangan kesabaran dan merasa gelisah apabila ada seseorang menentang otoritasnya. Mereka lebih menyukai situasi di mana setiap orang mengetahui peran mereka masing-masing.

Model Kepemimpinan Yang Relevan

ESFJ atau "The Consuls" sering disebut sebagai "pemimpin yang melayani" karena mereka mengutamakan kebutuhan timnya di atas kebutuhan mereka sendiri. Oleh karena itu, model kepemimpinan yang relevan untuk diterapkan adalah kepimpinan transformasional. Pemimpin transformasional mengendalikan situasi dengan menyampaikan visi yang jelas tentang tujuan kelompok. Pemimpin ini memiliki hasrat yang kuat terhadap pekerjaan dan kemampuan untuk membuat anggota kelompok lainnya merasa bersemangat dan berenergi. Mereka berfokus untuk membantu anggota kelompok dengan saling mendukung dan memberikan motivasi untuk berkinerja baik serta tetap setia kepada kelompok. Sasaran utama kepemimpinan transformasional adalah untuk menginspirasi pertumbuhan, meningkatkan kesetiaan, dan menanamkan rasa percaya diri pada anggota kelompok.

Bagaiaman Cara Penerapannya?

Sebagai seorang pemimpin transformasional untuk mendukung program penanganan TB-HIV, "The Consul" dapat mengawali dengan menciptakan visi dan misi yang jelas agar dapat menginspirasi semua pemangku kepentingan untuk bekerja sama. Visi dan misi ini harus dikomunikasikan secara efektif kepada semua orang yang terlibat dalam penanganan TB HIV, termasuk pasien, petugas kesehatan, pembuat kebijakan, dan masyarakat umum. Setelah tercipta visi dan misi tugas pemimpin transformasional selanjutnya adalah memotivasi orang lain untuk bekerja sama dalam mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan yaitu dengan memberikan pelatihan dan pengembangan yang tepat, menciptakan lingkungan kerja yang positif dan suportif, dan memberikan apresiasi atas pencapaian timnya.

Untuk membantu menemukan pendekatan yang lebih efektif untuk memerangi TB HIV diperlukan inovasi dan kreativitas yang dapat dilakukan dengan menciptakan lingkungan yang aman dan terbuka untuk ide-ide baru, memberikan sumber daya yang diperlukan untuk penelitian dan pengembangan. Pemimpin transformasional juga harus membangun hubungan yang kuat dengan semua pemangku kepentingan sehingga diperlukan adanya komunikasi secara terbuka, kejujuran dan empatiuntuk membantu membangun kepercayaan dan kerjasama

Dalam penanganan TB-HIV terdapat aspek penting yang harus difokuskan diantaranya:

  1. Advokasi, pemimpin tranformasional harus menjadi advokat yang kuat untuk meningkatkan kesadaran mengenai TB-HIV dan berusaha untuk mendapatkan partisipan yang lebih banyak. Contoh: Pemimpin transformasional dapat menggunakan platform mereka untuk berbicara tentang TB-HIV dan mendorong orang lain untuk bertindak.
  2. Penguatan tim, pemimpin transformasional harus menciptakan lingkungan kerja yang positif dan suportif di mana anggota tim merasa dihargai dan diberdayakan. Contoh: pemimpin tranformasional dapat memberikan upaya suportif untuk timnya dengan menyediakan pelatihan dan pengembangan yang dibutuhkan anggota timnya.
  3. Koordinasi lintas sektor, penanganan TB-HIV membutuhkan koordinasi yang efektif antara berbagai sektor, termasuk sektor kesehatan, pemerintah, masyarakat, dan sektor lainnya. Contoh: membentuk satgas dan kerja sama dengan sektor lain
  4. Kolaborasi interprofessional, pemimpin transformasional harus mampu menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif dimana para profesional dari berbagai sektor dapat bekerja sama secara efektif. 
  5. Monitoring, diperlukan pemantauan terhadap program dan layanan yang telah dijalankan untuk mengetahui sejauh mana program yang berjalan sudah sesuai dengan tujuan. 
  6. Evaluasi, diperlukan untuk mengetahui apakah program yang berjalan saat ini sudah baik atau belum serta untuk menemukan apakah ada kesalahan dalam menjalankan program tersebut. 

Tantangan:

  1. Komitmen petugas di dalam melaksanakan layanan TB-HIV, termasuk pencatatan dan pelaporan kegiatan TB-HIV di lapangan berpengaruh dalam rendahnya cakupan kegiatan.
  2. Terbatasnya akses dan jumlah layanan yang menyediakan tes cepat molekular (TCM) dan beberapa alat TCM yang tidak beroperasional dengan baik.
  3. Belum semua petugas di layanan HIV (unit KTS/PDP) tersosialisasi mengenai kegiatan kolaborasi TB-HIV.

Peluang

  1. Petugas TBC yang telah dibekali pengetahuan pelayanan HIV AIDS dan IMS komprehensif dapat meningkatkan penerapan layanan tes
  2. Adanya kerja sama lintas sektor terkait sistem rujukan pasien untuk tata laksana TBHIV dapat meningkatkan temuan dan penanganan kasus.
  3. Kebijakan skrining TBC dan HIV di tempat-tempat orang berkumpul seperti Lapas/Rutan dan LPKA dan pesantren sangat membantu untuk temuan, penanganan dan pencegahan kasus TB-HIV.

Upaya Antisipatif

  1. Memperkuat system kesehatan dengan cara meningkatkan akses ke layanan kesehatan, melatih tenaga kesehatan, dan meningkatkan infrastruktur.
  2. Mempromosikan pencegahan dengan cara meningkatkan edukasi tentang cara penularan penyakit, mendorong perilaku seksual yang aman, dan menyediakan akses ke layanan pencegahan, seperti tes dan vaksinasi.
  3. Membangun kerja sama lintas sektor untuk meningkatkan koordinasi, memobilisasi sumber daya,dan mempromosikan inovasi.


Pemimpin Transformasional Dalam Peningkatan Mutu Untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut 

Fasilitas kesehatan tingkat lanjut memainkan peran penting dalam menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas tinggi kepada masyarakat. Pemimpin transformasional dapat memainkan peran dalam meningkatkan mutu di fasilitas-fasilitas ini dengan mengembangkan tim dengan cara memberikan pelatihan karena tim yang terlatih adalah kunci untuk meningkatkan mutu dan mendorong inovasi dalam semua aspek peningkatan mutu dengan terbuka untuk ide-ide baru

Sasaran Keselamatan

Medication error adalah kejadian yang merugikan pasien akibat pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan, yang sebetulnya dapat dicegah. Medication error dapat terjadi pada 4 tahap, yaitu kesalahan peresepan (prescribing error), kesalahan penerjemahan resep (transcribing error), kesalahan menyiapkan dan meracik obat (dispensing error), dan kesalahan penyerahan obat kepada pasien (administration error). Penyebab terjadinya medication error antara lain ketidaktepatan dalam membaca pesanan obat, kurang jelasnya tulisan resep, kemiripan nama, bentuk dan tampilan obat, ketidaklengkapan penulisan nama obat dan kelalaian lainnya

Tantangan

  1. Tenaga medis yang kelelahan dan harus multitasking dapat meningkatkan risiko medication error sehingga perlu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan mengurangi beban kerja staf untuk membantu mencegah kesalahan.
  2. Obat-obatan yang mirip dalam penampilan atau nama, obat-obatan dengan dosis tinggi, dan obat-obatan yang memerlukan perhitungan dosis yang kompleks.
  3. Kesadaran dan pengetahuan tentang medication error di antara tenaga kesehatan

Peluang

  1. Adanya kemajuan teknologi seperti sistem komputerisasi apat membantu memastikan bahwa obat yang diberikan kepada pasien adalah obat yang benar, dalam dosis yang tepat, dan pada waktu yang tepat.
  2. Mengumpulkan dan menganalisis data tentang medication error dapat membantu mengidentifikasi tren dan pola kesalahan, sehingga memungkinkan FKTL untuk menargetkan intervensi pencegahan dengan lebih efektif.
  3. Tenaga medis yang telah diberikan pelatihan mengenai medication error termasuk cara mengidentifikasi, melaporkan, dan mencegahnya, dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam mencegah kesalahan.

Upaya Antisipatif

  1. Berbagi informasi antar tenaga kesehatan untuk mewaspadai dan mendeteksi tanda-tanda potensial eror dan menyelesaikan dengan cara yang benar
  2. Memperbaiki tulisan agar mudah dibaca
  3. Menghindari singkatan kata karena dapat menghambat komunikasi efektif dan berdampak buruk pada pasien
  4. Memisahkan obat dengan menggunakan label bantuan untuk membedakan jenis-jenis obat
  5. Membuat pedoman kebenaran dosis, kontra indikasi, perkiraan awal dan informasi klinis lainnya dalam pembuatan resep obat.

Kesimpulan:

Kepribadian ESFJ (Ekstrovert, Sensing, Feeling, dan Judging)  merupakan tipe kepribadian yang cenderung supel, loyal, terorganisasi, dan lembut hati sehingga dikenal sebagai "The Caregiver" atau "The Consul." Sebagai seorang pemimpin "The Consul" menikmati tanggung jawabnya dalam mengatur situasi sosial dan dapat mengkoordinasi timnya dengan baik. Model kepemimpinan yang relevan untuk diterapkan adalah kepimpinan transformasional yaitu pemimpin yang memiliki hasrat kuat terhadap pekerjaan dan kemampuan untuk membuat anggota kelompok lainnya merasa bersemangat dan berenergi.

 

Daftar Pustaka

  1. Workplace Habits | Debater (ENFJ) Personality [Internet]. 16Personalities. Available from: https://www.16personalities.com/esfjs-at-work
  2. Limited NA. ESFJ Personality (ConsuL): Workplace Habits [Internet]. 16Personalities. 2024. Available from: https://www.16personalities.com/esfjs-at-work
  3. Kemenkes RI. Rencana Aksi Nasional Kolaborasi TB-HIV 2020-2024 [Internet]. 2021. Available from: https://tbindonesia.or.id/wp-content/uploads/2022/09/RAN-Kolaborasi-TB-HIV-2020-2024.pdf
  4. Handoko N, Theofika E, Andriani H. Analisis Penerapan Keselamatan Pasien Dalam Pemberian Obat Terhadap Terjadinya Medication Error di Instalasi Farmasi RS X Tahun 2023. Media Bina Ilmiah. 2023 Dec 7;18(4):829-36.5.
  5. User S. Meningkatkan Patient safety dengan Menurunkan Medication Errors [Internet]. Available from: https://mutupelayanankesehatan.net/sample-levels/22-editorial/1665-meningkatkan-patientsafety-dengan-menurunkan-medication-errors

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader