"THE CAREGIVER"

"The Caregiver"

Francisca Preciosa/ 21.P1.0017   

LATAR BELAKANG PERSONAL
ESFJ (Extraverted Sensing Feeling Judging) adalah tipe kepribadian yang dikenal sebagai "The Caregiver" atau "The Consul". Orang dengan kepribadian ini cenderung supel, loyal, lembut hati dan terorganisir. Caregiver memiliki bakat untuk membuat orang-orang dalam kehidupan mereka merasa didukung, diperhatikan dan aman. Mereka menganggap serius tanggung jawab yang dimilki untuk memberi kembali, melayani orang lain dan melakukan tanggung jawab tersebut dengan benar dan sebaik mungkin. 1,2 

Caregiver adalah orang yang suportif dan ramah. Pribadi yang dasarnya setia ini, biasanya membangun hubungan yang langgeng dan dapat diandalkan. Mereka selalu hadir saat orang lain membutuhkan bantuan dan lebih sering mencurahkan banyak energi untuk membuat orang lain istimewa dan dirayakan. Caregiver biasanya dapat menemukan kedamaian dan kepuasan dengan berfokus pada hal terbaik yang bisa mereka lakukan, memberikan teladan kepedulian, perhatian, dan tanggung jawab. 1 

Caregiver memiliki keterampilan praktis yang kuat. Mereka adalah manajer yang sangat baik dalam tugas sehari-hari dan senang memastikan bahwa orang-orang yang dekat dengan mereka diperlakukan dengan baik. Caregiver juga memiliki rasa tanggung jawab yang kuat dan selalu berusaha memenuhi kewajibannya, sangat menjunjung tinggi ketekunan dan konsistensi, serta sangat setia dan dapat dipercaya. Selain itu mereka sangat pandai berhubungan dengan orang lain. Dibalik kelebihan yang ada terdapat kekurangan yang dimiliki oleh "The Cargiver". Mereka terlalu mengaitkan identitas mereka dengan harapan orang lain sehingga kehilangan rasa akan diri mereka sendiri. Selain itu mereka tidak fleksibel, lebih mementingkan apa yang diterima secara sosial dan tidak mau keluar dari zona nyaman karena takut menjadi berbeda. Dalam kehidupannya, mereka juga cenderung rentan terhadap kritik serta sering mengabaikan kebutuhan mereka sendiri.1,2 

"The Cargiver" dalam hal kepemimpinan, mereka cenderung menyukai ketertiban dan keharmonisan sosial. Mereka menggunakan kehangatan dan kecerdasan sosial yang dimilikinya untuk memastikan bahwa setiap orang dalam timnya mengetahui tanggung jawabnya dan mampu menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan. Mereka merasa nyaman dengan hierarki dan peran yang jelas antara atasan dan bawahan. Selain itu sebagai pemimpin tim, mereka dapat menemukan cara untuk membuat semua orang merasa telibat dan menyatukan setiap orang dalam tim sehingga segala sesuatunya dapat diselsesaikan dengan baik. Mereka lebih menyukai situasi dimana setiap orang mengetahui peran mereka. Selama harapan dan masukan diutarakan secara jelas, mereka adalah manajer yang menyenangkan.1,2 


MODEL KEPEMIMPINAN YANG COCOK UNTUK THE CAREGIVER?
1. Coaching Leadership
    The Cargiver merupakan individu yang peduli, suka mengasuh dan senang membantu orang lain            menjadi berkembang dan berhasil. Melalui Coaching Leadership ini The Cargiver dapat                        mewujudkan keinginannya untuk dapat mendukung dan membimbing anggota tim mereka melalui        bimbingan dan umpan balik yang membangun serta membantu mereka dalam mencapai potensi            mereka.3 

2. People Oriented Leadership
    The Cargiver cenderung sangat peduli pada kebutuhan dan perasaan orang lain. Mereka memiliki            kemampuan yang kuat untuk memahami dan memotivasi orang lain, sehingga sering kali menjadi           pemimpin yang hangat, penuh perhatian, dan empatik.3 

3. Servant Leadership
    The Cargiver cenderung memiliki naluri alami untuk melayani dan membantu orang lain.                       Pendekatan ini memungkinkan mereka untuk menjadi pemimpin yang mengutamakan kesejahteraan      dan perkembangan orang lain di tim mereka.3  

4. Collaborative Leadership
     The Cargiver sangat suka bekerja dalam tim dan membangun hubungan yang kuat dengan anggota          tim mereka. Mereka mendorong kerjasama dan keterlibatan aktif dari setiap anggota tim untuk                mencapai tujuan bersama.3 

5. Values-Based Leadership
    The Cargiver memiliki nilai-nilai yang kuat terkait dengan keadilan, harmoni, dan kebaikan, mereka     sering kali menjadi pemimpin yang memimpin dengan integritas dan mempromosikan nilai-nilai ini     dalam setiap keputusan dan interaksi mereka.3 

6. Motivational Leadership
    The Cargiver cenderung efektif dalam memotivasi orang lain dengan cara memberikan pengakuan        atas kontribusi mereka, memberikan dukungan emosional, dan menciptakan lingkungan kerja yang        ramah dan menyenangkan.3 
 


APLIKASI MODEL KEPEMIMPINAN
A. Kasus 1: Penanganan TB-HIV

Model Kepemimpinan
Model kepemimpinan yang cocok untuk Caregiver dalam penanganan TB- HIV adalah Colllaborative Leadership. Kepemimpinan kolaboratif merupakan kepemimpinan dimana pemimpin bekerja sama secara aktif bersama dengan timnya. Dalam pelaksanaan penanganan TB-HIV terdapat  beberapa kegiatan meliputi advokasi, pemguatan tim, koordinasi lintas sektor, kolaborasi interprofesional, monitoring, dan evaluasi. Untuk dapat mewujudkan semua kegiatan tersebut diperlukan adanya kerja sama yang baik antara pemimpin dan leader.3,4 

Pemimpin dalam Collaborative Leadership, mereka tidak hanya memberi arahan tetapi juga mau mendengarkan ide dari anggora tim serta menekankan partisipasi aktif daei anggota timnya. Hal ini sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan penanganan TB-HIV. Ide dari anggota dalam tim berfungsi sebagai sumber masukan dalam kebaikan pelaksanaan tugas tersebut. Selain itu pada Collaborative Leaadership pemimpin tidak hanya membagi tugas tapi ikut bertanggung jawab untuk mencapai tujuan bersama. Pembagian tugas ini memudahkan dalam pelaksanaan suatu tugas. Pembagian tugas yang tepat dan baik menghasilkan pelaksanaan penanganan TB-HIV yang semakin efektif dan cepat dalam mencapai tujuan yang dinginkan.3,4  

Collaborative Leadership juga menekankan kepemimpinan kolaboratif dan timwork. Artinya, pemimpin tidak hanya mendorong kerja sama tim yang erat saja. Tetapi pemimpin juga mendukung dan menghargai kontribusi dari timnya. Dengan kepemimpinan kolaboratif dan team work ini, seorang anggota tim akan merasa dihargai dan diapresiasi. Harapannya, dengan apresiasi tersebut, anggota dalam tim akan semakin semangat dalam menjalankan tugasnya berkaitan dengan pelaksanaan tugas penanganan TB-HIV. 3,4 

Collaborative Leadership mengedepankan pendekatan berbasis tim dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Dalam penanganan TB-HIV pemimpin dapat mengaplikakasikan cara ini melalui diskusi terbuka dan brainstorming untuk mencapai solusi terbaik dalam pemecahan sautu masalah.3,4 

Collaborative Leadership juga mengedepankan komunikasi terbuka dan jelas. Artinya, dalam menyelesaikan masalah pemimpin menekankan komunikasi yang terbuka dan jelas. Mereka selalu mengkomunikasikan apa yang menjadi tujuan, visi dan misi yang ingin dicapai sehingga setiap anggota timnya.3,4 

Kegiatan Pelaksanaan Penanganan TB-HIV
Advokasi
Advokasi dalam hal ini dimaksudkan untuk mempengaruhi kebijakan, penerapan program, mobilisasi   sumber daya dan masyarakat untuk mempercepat pelaksanaan kegiatan kolaboratif TB/HIV. Advokasi ini dapat diwujudkan dengan melakukan komunikasi dengan masyarakat cdalam bentuk penyuluhan. Tujuan komunikasi ini adalah untuk menciptakan kesadaran tentang penyakit TB-HIV dan memastikan bahwa pasien mau mencari layanan untuk berobat. Selain itu, komunikasi tersebut berfungsi untuk membentuk persepsi dan sikap masyarakat mengenai TB-HIV, mengurangi stigma buruk tentang TB-HIV, menciptakan permintaan dalam hal  pelayanan pasein TB-HIV, membentuk hubungan yang lebih kuat dengan layanan dan sistem kesehatan,  dan memantau serta mengevaluasi kegiatan TB/HIV. 3,4 

Penguatan Tim
Penguatan tim dimaksudkan untuk memperkuat badan koordinasi untuk semua kegiatan kolaboratif TB-HIV. Pelaksanaan penguatan tim ini dilakukan dengan membuat dan memperkuat badan koordinasi TB/HIV nasional bersama baik ditingkat regional, distrik,lokal dan fasilitas, termasuk kementrian sektor lainnya. Dalam penguatan tim ini, badan koordinasi bertanggung jawab atas tata kelola, perencanaan, koordinasi dan implementasi kegiatan kolaboratif TB/HIV serta mobilisasi sumber daya keuangan.3,4 

Koordinasi Lintas Sektor
Koordinasi lintas sektor dalam penanganan TB-HIV dilakukan dengan kerja sama antara sektor pemerintah, non pemerintah, swasta dan masyarakat. Sebagai contoh, kerja sama lintas sektor dapat dilakukan dengan beberapa kementrian seperti kementrian dalam negeri, kementrian tenagaberperan dalam penenganan TB-HIV.3,4 

Kolaborasi Interprofesional
Kolaborasi interprofesi adalah kerjasama antar antar profesi kesehatan dengan latar belakang berbeda contohnya seperti kerja sama antara dokter, perawat, ahli gizi, farmasi dan lainnya tujuannya untuk melakukan pelayanan kesehatan dalam penanganan TB-HIV sehingga dapat terwujud suatu kesehatan, keamanan, dan keselamatan pasien.3,4 

Monitoring
Monitoring penenaganan TB-HIV ini dialkukan dengan melakukan pemantauan kenerja layanan dan program yang sudah dijalankan. Praktik konkret dari kegiatan ini dapat berupa pencatatan rutin, sistem pelaporan dan pengawasan rutin, serta pengamatan fasilitas kesehatan dan survei klien. Informasi yang dapatkan nantinya digunakan untuk menilai sejauh mana suatu kebijakan atau program sudah mencapai target yang diharapkan.3,4 

Evaluasi
Evaluasi dalam penanganan TB-HIV bertujuan untuk menilai apakah suatu program sudah berjalan baik atau belum. Evaluasi dapat berguna untuk menemukan suatu penyebab  kegagalan
suatu program. Selain itu, dengan evaluasi efektivitas dari kegiatan kolaborasi TB-HIV dapat dinilai. Dalam pelaksanaanya evaluasi tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan data yang tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan, hasil monitoring, hasil surveilans lainnya, pemodelan, atau melakukan pengukuran atau penilaian dengan menggunakan pendekatan baik data kuantitatif maupun kualitatif. 3,4 

Tantangan 
Tantangan dalam penangananan TB-HIV antara lain sebagai berikut:
1. Kebijakan tentang wajib pelaporan kasus termasuk dari penyedia layanan swasta masih belum optimal.  Selain itu, penerapan kebijakan pada dokter praktik mandiri terkendala karena kurangnya pengetahuan mereka tentang kebijakan tersebut.3,4  

2. Akses tes HIV pada layanan tuberkulosis belum merata di semua
kota/kabupaten dan masih terpusat di rumah sakit.3,4 

3. Faktor risiko tinggi terhadap kejadian tuberkulosis di Indonesia adalah merokok, kekurangan gizi, dan diabetes. Adanya risiko Diabetes mellitus juga diketahui meningkatkan kejadian TB MDR.
4. Belum ada rekomendasi untuk mendorong orang dengan tuberkulosis resistan obat untuk melakukan pengobatan.3,4 

5. Keterlambatan untuk mencari pengobatan pada orang dengan gejala
tuberkulosis terjadi pada laki-laki dan perempuan.3,4 

6. Tatalaksana terintegrasi TB-HIV masih menghadapi kendala peraturan 
tentang kewenangan terapetik.3,4  

7. Beban ekonomi akibat tuberkulosis cukup tinggi dan menjadi alasan pasien
tuberkulosis untuk tidak menyelesaikan pengobatan.3,4  

8. Stigma dan diskriminasi dari petugas kesehatan yang berakibat pada motivasi untuk menggunakan layanan.3,4  

9. Tuberkulosis menimbulkan permasalahan sosial seperti kehilangan
pekerjaan.3,4  

10. Regulasi terkait tarif pemeriksaan di Puskesmas berbeda di setiap daerah.3,4 

Peluang
Peluang dalam penanganan TB-HIV ini antara lain sebagai berikut:
1. Petugas TBC yang telah dibekali pengetahuan pelayanan HIV AIDS dan IMS komprehensif dapat meningkatkan penerapan layanan tes, pencegahan HIV, pemberian PPK, perawatan, dukungan dan pengobatan serta pemberian ART pada pasien TB-HIV.
3,4 
2. Kebijakan skrining TBC dan HIV di tempat-tempat orang berkumpul seperti 
Lapas/Rutan dan LPKA dan pesantren sangat membantu untuk temuan, penanganan dan pencegahan kasus TB-HIV.3,4 

3.  Petugas penjangkau dan pendamping berperan dalam membantu memastikan pasien TBC untuk tes HIV, mendapatkan ARV, dan TPT.3,4 

4. Adanya kerja sama lintas sektor terkait sistem rujukan pasien untuk tata laksana TB-HIV dapat meningkatkan temuan dan penanganan kasus.3,4 

5. Kedua program memiliki sistem informasi yang semakin berkembang dan menguat sehingga memungkinkan bridging kedua sistem tersebut.3,4 

6.  Validasi data pasien TBC dan HIV dilakukan mulai dari tingkat layanan sehingga lebih mempermudah dalam penelusurannya.3,4 

Upaya Antisipasif
1. Kajian multisektoral melibatkan seluruh pemangku kepentingan di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota. Kajian menggunakan pendekatan PCF menggunakan data-data epidemiologi, sistem kesehatan dan lain yang dapat menggambarkan pencapaian dan akar masalahnya.3,4  

2. Perlu adanya penguatan implementasi regulasi/aturan yang mengharuskan setiap fasilitas pelayanan kesehatan tuberkulosis untuk mampu melakukan tes HIV, yang disertai dengan kegiatan perencanaan dan penyiapan sumber daya.3,4 

3. Melakukan koordinasi dengan lintas program dan sektor untuk melakukan skrining pada populasi berisiko tinggi (perokok, malnutrisi, diabetes melitus, lanjut usia dan orang dengan HIV/AIDS).3,4  

4. Melakukan advokasi dan diseminasi informasi kepada Kementerian Hukum & HAM untuk penetapan regulasi wajib pengobatan bagi pasien dengan tuberkulosis resistan obat.3,4 

5. Mengembangkan media KIE tentang tuberkulosis, tuberkulosis resistan obat dan TB-HIV dengan konten lokal perlu untuk dikembangkan, termasuk penyesuaian konten sesuai dengan jender.3,4  

6. Perlu dilakukan revisi Peraturan Menteri Kesehatan agar distribusi spesialis paru merata, tidak hanya di rumah sakit tipe B ke atas.3,4 

7. Perlu adanya dukungan pelayanan dan perlindungan sosial bagi orang yang dilaporkan sebagai kasus tuberkulosis.3,4  

8. Perlunya umpan balik komunitas atas layanan tuberkulosis sehingga pasien dapat menyampaikan keluhan pelayanan tuberkulosis secara cepat.3,4 

9. Perlu dilakukan pemenuhan hak asasi manusia dengan melakukan kampanye kesadaran hak pasien tuberkulosis.3,4  

10. Perlu adanya advokasi kepada pemerintah daerah untuk menerbitkan peraturan daerah untuk setiap Warga Negara Indonesia untuk tidak dipungut biaya pemeriksaan terduga tuberkulosis.3,4 

B. Kasus 2: Fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan dalam komunikasi efektif)

Model Kepemimpinan
Komunikasi efektif merupakan komunikasi yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan dapat dipahami penerima. Tujuan komunikasi efektif ini untuk mengurangi kesalahan, dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Dalam melakukan komunikasi yang efektif, setiap pemimpin dan anggota tim harus memiliki skill untuk bisa berkomunikasi secara terbuka. Sehingga model kepemimpinan yang cocok adalah People Oriented Leadership.
1,2 
Mengapa People Oriented Leadership??
Model kepemimpinan ini berfokus pada penyampaian pesan yang jujur ​​dan terbuka kepada bawahan. Dengan gaya kepemimpinan ini, secara tidak langsung seorang pemimpin sudah memberikan contoh dalam berkomunikasi yang baik. Sehingga seorang bawahan dapat meneladani cara komunikasi tersebut dan dapat mempraktikkan komunikasi yang efektif berkaitan dengan keselamatan pasien dan petugas kesehatan.1,2 

Tantangan5 
1. Gaya komunikasi beragam oleh karena perbedaan latar belakang.
Ragam gaya komunikasi dapat dipengaruhi oleh latar belakang yang berbeda seperti perbedaan negara, suku, budaya, dan adat istiadat.
  
2. Respon dari penerima informasi
Dalam menyampaikan suatu informasi baik informasi buruk atau baik. Penerima informasi akan menunjukkan suatu respon emosi.

3. Perbedaan pendapat atau persepsi
Setiap orang memiliki pemikiran dan cara pandang akan sesuatu yang berbeda-beda. Dalam suatu komunikasi, perbedaan pemdapat adalah hal yang normal.

4. Keterbukaan dalam menyampaikan informasi
Keterbukaan dalam menyampaikan informasi harus tetap dijaga. Tujuannya agar informasi yang disampaikan sifatnya akurat tanpa dikurang atau ditambah.

Peluang5 
1. Menciptakan komunikasi terbuka antara penyedia layanan kesehatan  dan pasien 
2. Menciptakan hubungan yang kuat dan dalam antara penyedia layanan kesehetan dan pasien
2. Menciptakan lingkungan kerja yang efektif, produktif
3. Menciptakan lingkungan kerja yang memuaskan bagi semua pihak
4. Menyediakan dukungan emosional bagi pasien terkait demgan kondisi kesehatan.

Upaya Antisipasif5 
1. Mengadakan pertemuan untuk pelatihan komunikasi yang efektif 
2.Membangun empati dalam berkomunikasi
3. Membangun dukungan emosi yang baik terhadap penerima informasi
4. Memastikan keterbukaan dalam komunikasi

Kesimpulan
Orang dengan kepribadian ESJF atau The Cargiver adalah  orang yang cenderung supel, loyal, lembut hati dan terorganisir. Sebagai seorang pemimpin mereka memiliki bakat untuk membuat orang-orang dalam kehidupan mereka merasa didukung, diperhatikan dan aman. Mereka selalu berusaha untuk melakukan tanggung jawabnya sebaik mungkin. Namun dibalik kelebihan yang dimiliki The Cargiver  terlalu mengaitkan identitas mereka dengan harapan orang lain, tidak fleksibel, lebih mementingkan apa yang diterima secara sosial dan tidak mau keluar dari zona nyaman karena takut menjadi berbeda. Namun, balik semua kekurangan yang dimiliki, ESJF tetap menjadi pribadi yang dapat diandalkan.1,2 


Daftar Pustaka
1. The 16 MBTI® Personality Types [Internet]. [dikutip  7 Juli 2024]. Tersedia pada: https://www.myersbriggs.org/my-mbti-personality-type/the-16-mbti-personality-types/
2. Tipe Kepribadian ESFJ: MBTI [Internet]. 2024 [dikutip 7 Juli 2024]. Tersedia pada: https://www.simplypsychology.org/istj-personality.html
3. Storm S. The leadership styles of every Myers-briggs® personality type [Internet]. Psychology Junkie. 2024 [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://www.psychologyjunkie.com/leadership-skills-every-myers-briggs-personality-type/
4.Tbindonesia.or.id. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://tbindonesia.or.id/wp-content/uploads/2021/06
5. Kemkes.go.id. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://yankes.kemkes.go.id













Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader