Sutan Sjahrir Sang Pendebat

 Nama: Gerald Hendry Briant

NIM: 21.P1.0013

ENTP-A (Extraverted, Intuitive, Thinking, Prospecting, Assertive) merupakan seorang pendebat yang tidak takut dalam berbeda pendapat terhadap apapun dan dengan siapapun. Tipe kepribadian ini terbuka dalam mempelajari hal baru terutama abstrak, berpikir cepat, berkarisma, dan energetik. Tipe kepribadian ini juga memiliki kelemahan seperti tidak peka, tidak suka dengan hal yang praktis, dan intoleran.1 Seorang  pendebat memegang teguh sistem kepemimpinan meritokrasi yang memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memimpin berdasarkan kemampuan atau prestasi, bukan kekayaan, senioritas, dan sebagainya.2 Di tempat kerja, pendebat mengharapkan ide-ide mereka didengar oleh atasan mereka dan menuntut bawahan mereka untuk menawarkan solusi atau ide-ide baru terlepas dari posisi mereka. Pendebat berpotensi memecah belah sebagai rekan kerja, karena hasrat mereka untuk bertukar pikiran dan berdebat secara berlebihan sehingga membuat rekan kerja mereka menjadi jengkel, namun juga dapat menjadi inspirasi bagi mereka yang menghargai inovasi yang diberikan. Meritokratis paling jelas terlihat penerapannya ketika membahas terkait bawahan seorang pendebat, karena mereka merasa nyaman dalam menantang ide-ide atasan dan ketidaksukaan terhadap aturan atau pedoman yang membatasi melalui penyampaian yang baik. Seorang pendebat juga akan dengan senang hati menerima kritik, asalkan logis dan berorientasi pada kinerja.3

Meritrokasi dapat dirumuskan sebagai suatu sistem sosial yang menempatkan imbalan, kedudukan, dan jabatan berdasarkan kemampuan atau kecakapan dan bukan berdasarkan faktor-faktor askriptif seperti kelas sosial, jenis kelamin, suku, atau kekayaan seseorang. Banyak bukti yang menunjukan meritokrasi merupakan suatu cara yang dapat diandalkan untuk membentuk organisasi dan lembaga yang kuat. Dapat dilihat bahwa modernisasi di banyak negara tidak mungkin dapat terwujud tanpa penggunaan azas-azas meritokrasi yang kuat. Tetapi harus diakui bahwa hambatan dalam penerapan meritokrasi tidak sedikit seperti dapat dilihat pada negara-negara besar yang masih menunjuk seseorang dalam tugas masih dilakukan dengan mempertimbangkan ras, agama, atau etnik dan tidak selalu mengutamakan aspek kemampuan.4 

TB-HIV merupakan kondisi di mana penderita mengidap penyakit TB dan HIV sekaligus. Seorang pendebat dapat menggunakan prinsip kepemimpinan meritrokasi dalam penanganan TB-HIV di wilayah puskesmas. Seorang pendebat memiliki inovasi atau ide-ide baru yang dinilai efektif dan efisien dalam penanganan TB-HIV di wilayah puskesmas. Pendebat juga tidak tertutup untuk ide-ide dan masukan dari bawahan yang rasional sehingga dapat mendorong keberhasilan program penanganan TB-HIV di wilayah puskesmas. Penerapan model meritrokasi dalam penanganan TB-HIV di wilayah puskesmas mencakup:

a. Advokasi

Pemimpin meritrokasi mampu memilih seorang dengan kemampuan advokasi yang bagus dan berdasarkan pada kemampuan serta pemahaman mengenai isu TB-HIV. Pemimpin advokasi yang ditunjuk juga harus memiliki kemampuan komunikasi yang efektif kepada berbagai pemangku kepentingan. Hal ini dapat dicapai dengan mengembangkan dan menerapkan strategi advokasi berbasis data untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan terhadap program TB-HIV. Hal ini melibatkan presentasi data epidemiologis dan keberhasilan program kepada pemerintah, masyarakat, dan organisasi non-pemerintah.

b. Penguatan Tim

Mengidentifikasi dan melatih anggota tim berdasarkan kompetensi mereka. Pelatihan meliputi teknik penanganan TB-HIV, keterampilan komunikasi, dan manajemen proyek. Selanjutnya, melakukan pembinaan rutin untuk memaastikan tim tetap termotivasi dan kompeten. Pembinaan ini termasuk pelatihan ulang dan sesi berbagi pengetahuan.

c. Koordinasi Lintas Sektor

Memilih pemimpin yang terbukti mampu mengoordinasikan berbagai sektor seperti kesehatan, sosial, dan pendidikan. Mereka harus memiliki kemampuan negosiasi dan jaringan yang luas. Menyelenggarakan forum koordinasi rutin dengan melibatkan perwakilan dari berbagai sektor. Dalam forum ini, pemimpin mengarahkan diskusi tentang tantangan dan solusi kolaboratif untuk penanganan TB-HIV.

d. Kolaborasi Interprofesional

Membentuk tim yang terdiri dari dokter, perawat, tenaga kesehatan masyarakat, pekerja sosial, dan profesional lain yang relevan. Pemimpin yang dipilih berdasarkan merit memfasilitasi kolaborasi ini. Mengembangkan dan mengimplementasikan protokol kolaborasi yang jelas untuk memastikan setiap profesional memahami peran dan tanggung jawab mereka dalam penanganan TB-HIV.


e. Monitoring dan Evaluasi

Menunjuk pemimpin monitoring dan evaluasi yang memiliki pengalaman dalam penelitian kesehatan dan evaluasi program. Mereka bertanggung jawab atas pengumpulan dan analisis data. Sistem Evaluasi Berkelanjutan: Mengimplementasikan sistem monitoring dan evaluasi berkelanjutan untuk melacak kemajuan program. Hasil evaluasi digunakan untuk perbaikan program dan pelaporan kepada pemangku kepentingan.


Implementasi model kepemimpinan meritrokasi dalam kegiatan penangan TB-HIV di wilayah puskesmas menghadapi berbagai tantangan dan peluang meliputi:

Tantangan

1. Resistensi terhadap Perubahan: Anggota tim yang sudah terbiasa dengan struktur dan cara kerja lama mungkin menolak perubahan yang dibawa oleh pemimpin baru yang dipilih berdasarkan meritokrasi.

2. Keterbatasan Sumber Daya: Terbatasnya sumber daya manusia dan finansial dapat menghambat pelatihan, penguatan tim, dan pelaksanaan program secara optimal.

3. Koordinasi Lintas Sektor: Kurangnya dukungan atau partisipasi dari sektor-sektor lain seperti pendidikan dan sosial bisa menyulitkan koordinasi lintas sektor.

4. Perbedaan Kompetensi: Variasi dalam tingkat kompetensi anggota tim bisa menghambat kerjasama yang efektif dan pencapaian tujuan program.

5. Monitoring dan Evaluasi: Mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi yang komprehensif dan berkelanjutan dapat memerlukan waktu dan sumber daya yang signifikan.

Peluang

1. Dukungan Teknologi: Pemanfaatan teknologi informasi dapat mempercepat komunikasi, koordinasi, dan pengumpulan data untuk program TB-HIV.

2. Pendanaan Eksternal: Mendapatkan dana dari organisasi internasional, NGO, atau pemerintah pusat dapat meningkatkan kapasitas dan sumber daya program.

3. Pelatihan dan Pengembangan: Kesempatan untuk mengembangkan program pelatihan berkelanjutan bagi anggota tim untuk meningkatkan kompetensi dan motivasi.

4. Kolaborasi Global: Memanfaatkan jaringan global dan berbagi best practices dari negara lain yang sukses dalam penanganan TB-HIV.

5. Kesadaran Masyarakat: Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya penanganan TB-HIV dapat meningkatkan dukungan dan partisipasi dalam program.

Upaya Antisipatif

1. Komunikasi Efektif: Menjalankan komunikasi yang transparan dan terbuka dengan semua anggota tim tentang manfaat dan tujuan perubahan untuk mengurangi resistensi.

2. Optimalisasi Sumber Daya: Mengelola sumber daya yang ada secara efisien dan mencari sumber pendanaan tambahan untuk mendukung program.

3. Pembangunan Kemitraan: Membangun dan memperkuat kemitraan dengan sektor-sektor lain melalui perjanjian kerjasama dan forum koordinasi reguler.

4. Pelatihan Inklusif: Menyediakan pelatihan yang inklusif dan berkesinambungan untuk meningkatkan kompetensi semua anggota tim, termasuk pelatihan interprofesional.

5. Sistem Evaluasi yang Fleksibel: Mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi yang fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan program, serta melibatkan semua pemangku kepentingan dalam proses evaluasi.


Model kepemimpinan meritokrasi dalam konteks kesehatan bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan melalui seleksi dan pengembangan individu berdasarkan kemampuan dan kinerja.

Komunikasi Efektif

Memastikan bahwa pemimpin dan staf memiliki keterampilan komunikasi yang kuat, terutama dalam situasi kritis. Menyediakan program pelatihan komunikasi, termasuk teknik SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) untuk memastikan komunikasi yang jelas dan tepat. Menerapkan mekanisme pelaporan insiden komunikasi yang buruk dan memberikan umpan balik untuk perbaikan. Hal ini dapat diterapkan dengan program pelatihan komunikasi untuk meningkatkan kemampuan dalam berkomunikasi secara efektif, terutama dalam situasi darurat. Sistem umpan balik untuk menilai dan memperbaiki komunikasi antar-staf.

Tantangan dan Upaya Antisipatif

1. Perbedaan Bahasa dan Budaya:

Tantangan: Staf dan pasien yang berasal dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda dapat menghadapi kesulitan dalam berkomunikasi dengan jelas dan efektif.

Upaya Antisipatif: Menggunakan penerjemah medis profesional, menyediakan materi edukasi dalam berbagai bahasa, dan pelatihan staf tentang sensitivitas budaya.

2. Teknologi yang Tidak Memadai:

Tantangan: Kurangnya akses ke teknologi komunikasi yang memadai seperti sistem elektronik yang efisien dapat menghambat komunikasi yang cepat dan akurat.

Upaya Antisipatif: Investasi dalam teknologi komunikasi yang modern, seperti sistem rekam medis elektronik (EHR) dan aplikasi komunikasi antar-staf.

3. Beban Kerja yang Tinggi:

Tantangan: Beban kerja yang tinggi dan stres dapat mengurangi kualitas komunikasi antar-staf dan antara staf dengan pasien.

Upaya Antisipatif: Mengelola jadwal kerja dengan baik, memastikan staf memiliki waktu yang cukup untuk berkomunikasi, dan menyediakan dukungan psikologis bagi staf.

4. Hierarki dan Budaya Organisasi:

Tantangan: Budaya organisasi yang hierarkis dapat menghalangi komunikasi terbuka, di mana staf junior merasa tidak nyaman untuk berbicara atau memberikan masukan.

Upaya Antisipatif: Mempromosikan budaya komunikasi terbuka, di mana semua anggota tim didorong untuk berbicara tanpa rasa takut akan sanksi.

5. Kompleksitas Informasi Medis:

Tantangan: Informasi medis yang kompleks dan teknis dapat sulit untuk dijelaskan kepada pasien atau antar-staf yang tidak memiliki latar belakang yang sama.

Upaya Antisipatif: Menggunakan bahasa yang sederhana dan jelas, menyediakan pelatihan tentang cara menyampaikan informasi medis secara efektif, dan memanfaatkan alat bantu visual.


Peluang dan Komunikasi Efektif

1. Peningkatan Teknologi Komunikasi:

Peluang: Teknologi seperti telemedicine, aplikasi pesan instan medis, dan rekam medis elektronik dapat meningkatkan efisiensi dan kecepatan komunikasi.

Upaya Antisipatif: Mengadopsi dan mengintegrasikan teknologi terbaru dalam sistem komunikasi sehari-hari di fasilitas kesehatan.



2. Pelatihan dan Pengembangan Keterampilan:

Peluang: Pelatihan berkelanjutan dalam keterampilan komunikasi dapat meningkatkan kemampuan staf dalam menyampaikan informasi dengan jelas dan efektif.

Upaya Antisipatif: Merancang program pelatihan komunikasi rutin yang meliputi simulasi situasi nyata dan umpan balik konstruktif.

3. Kolaborasi Antar-Profesi:

Peluang: Mendorong kolaborasi dan komunikasi yang baik antar-profesi kesehatan (misalnya, dokter, perawat, apoteker) dapat meningkatkan koordinasi perawatan pasien.

Upaya Antisipatif: Membentuk tim lintas disiplin untuk perawatan pasien, mengadakan pertemuan rutin, dan menggunakan teknik komunikasi standar seperti SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation).

4. Pasien yang Lebih Berinformasi:

Peluang: Pasien yang lebih berinformasi dan terlibat dalam perawatan mereka sendiri dapat berkomunikasi lebih baik dengan penyedia layanan kesehatan.

Upaya Antisipatif: Memberikan pendidikan kesehatan yang jelas dan komprehensif kepada pasien, serta mendorong partisipasi aktif mereka dalam proses pengambilan keputusan.

5. Penelitian dan Inovasi:

Peluang: Penelitian terus-menerus tentang komunikasi medis dapat menghasilkan metode dan alat baru yang lebih efektif.

Upaya Antisipatif: Mendukung penelitian dan inovasi di bidang komunikasi medis, serta mengimplementasikan temuan terbaru dalam praktik sehari-hari.


Upaya Antisipatif dalam Mengatasi Tantangan dan Memanfaatkan Peluang

1. Program Pelatihan Reguler:

Mengadakan pelatihan komunikasi yang berkelanjutan bagi semua staf, dengan fokus pada keterampilan praktis dan simulasi situasi nyata.

2. Penggunaan Teknologi yang Tepat:

Mengadopsi teknologi komunikasi yang dapat mendukung kecepatan dan efisiensi dalam pertukaran informasi, seperti EHR dan aplikasi pesan instan medis.

3. Pengembangan Kebijakan dan Prosedur:

Mengembangkan kebijakan dan prosedur standar untuk komunikasi antar-staf dan dengan pasien, termasuk panduan penggunaan teknologi dan protokol komunikasi.

4. Mendorong Budaya Komunikasi Terbuka:

Membangun budaya organisasi yang mendorong komunikasi terbuka dan transparan, di mana setiap anggota tim merasa aman untuk berbicara dan memberikan masukan.

5. Audit dan Evaluasi:

Melakukan audit dan evaluasi berkala terhadap praktik komunikasi yang ada untuk mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan dan memastikan bahwa standar komunikasi yang efektif diterapkan secara konsisten.


Kesimpulan

Model kepemimpinan meritokrasi yang diterapkan oleh individu dengan kepribadian ENTP-A berpotensi membawa perubahan signifikan dalam penanganan TB-HIV di wilayah puskesmas. Dengan pendekatan yang menekankan pada kemampuan dan prestasi, model ini memungkinkan pemilihan pemimpin dan anggota tim yang kompeten, serta mendorong ide-ide inovatif dan solusi efektif. Dalam pelaksanaan program, meritokrasi memastikan bahwa setiap anggota tim memiliki kesempatan untuk berkontribusi secara maksimal berdasarkan keahlian mereka, sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi penanganan TB-HIV. Kolaborasi lintas sektor, penguatan tim, dan advokasi yang didasarkan pada data menjadi elemen penting dalam model ini, memastikan bahwa strategi yang diterapkan relevan dan berdampak positif.

Namun, penerapan model meritokrasi dalam penanganan TB-HIV juga dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti resistensi terhadap perubahan, keterbatasan sumber daya, dan kompleksitas koordinasi lintas sektor. Upaya antisipatif yang melibatkan komunikasi efektif, pelatihan berkelanjutan, dan penggunaan teknologi modern diperlukan untuk mengatasi hambatan-hambatan ini. Membangun budaya organisasi yang terbuka terhadap kritik dan ide-ide baru, serta mengadopsi pendekatan evaluasi yang komprehensif, dapat membantu memaksimalkan potensi model meritokrasi. Dengan demikian, meritokrasi tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas program penanganan TB-HIV tetapi juga pada pembentukan organisasi yang lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Strengths & Weaknesses | ENTP Personality (Debater) | 16Personalities [Internet]. [dikutip 7 Juli 2024]. Tersedia pada: https://www.16personalities.com/entp-strengths-and-weaknesses

2. Hasil Pencarian - KBBI VI Daring [Internet]. [dikutip 7 Juli 2024]. Tersedia pada: https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/meritokrasi

3. Workplace Habits | ENTP Personality (Debater) | 16Personalities [Internet]. [dikutip 7 Juli 2024]. Tersedia pada: https://www.16personalities.com/entps-at-work

4. Kumorotomo W. DEMOKRASI VS. MERITOKRASI: MENCARI JALAN TENGAH DARI KASUS PENGANGKATAN PEGAWAI HONORER ∗ ). 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader