SEORANG AHLI LOGISTIK MENJADI PEMIMPIN DALAM BIDANG KESEHATAN

 

“SEORANG AHLI LOGISTIK MENJADI PEMIMPIN DALAM BIDANG KESEHATAN”

 

Nama   : Vanessa Karoline Hermawan

NIM    : 21.P1.0042

 

Menurut assessment MBTI personality, karakteristik personal saya adalah ISTJ-T atau seorang ahli logistik. Kepribadian ISTJ-T memiliki karakter yang introvert, intuitif, pemikir, penilai, dan turbulen. Seorang introvert lebih menyukai suasana tenang dan interaksi sosial yang lebih sedikit. Pola pikir intuitif cenderung memiliki perhatian besar terhadap kondisi yang sedang terjadi atau sangat berpotensi terjadi. Sifat yang pemikir biasanya berfokus pada objektivitas dan rasionalitas sehingga kerap mengesampingkan emosi demi logika. Seorang penilai memiliki sifat tegas, cermat, teratur, menghargai kejelasan, dan perencanaan daripada spontanitas. Dan karakter turbulen artinya dapat merasakan desakan dalam emosi dan cenderung mengejar kesuksesan, bersifat perfeksionis, dan memiliki hasrat untuk berkembang. Ahli logistik adalah kepribadian yang dimiliki sebagian besar populasi namun tidak terlalu mencolok atau mencari perhatian. Seseorang dengan kepribadian ini adalah individu yang praktis dan mengutamakan fakta serta akan melakukan lebih dari apa yang menjadi tugas mereka untuk menjaga kestabilan masyarakat. Ahli logistik selalu bersungguh-sungguh dengan apa yang mereka katakan dan ketika sudah berkomitmen melakukan sesuatu, mereka pasti menepatinya. Hal ini sejalan dengan salah satu karakter yang dimiliki ahli logistik yaitu pemikir, dimana seorang ahli logistik akan memikirkannya dengan matang sebelum melakukan sesuatu. Ahli logisik juga dikenal sebagai orang yang bertanggung jawab, jujur, berdedikasi, dan mampu bekerja dalam situasi penuh tekanan. Menurut saya seorang pemimpin harus memiliki sifat-sifat di atas terutama pada situasi yang terdesak oleh waktu. Namun seorang pemimpin juga harus fleksibel tergantung pada situasi yang dihadapinya.1

Model kepemimpinan yang sesuai dengan kepribadian ISTJ-T atau ahli logistik yaitu demokratis dan/atau autokratik. Kepemimpinan demokratis cenderung mendukung partisipasi tim dalam pengambilan keputusan sambal mempertahankan struktur yang terorganisir. Hal ini menyebabkan pengambilan keputusan yang lebih lama, sehingga membutuhkan waktu yang cukup panjang karena ada banyak ide dari anggota. Seorang ahli logistik mempunyai sifat perfeksionis dan menghindari risiko sehingga cenderung melihat dari beberapa sudut pandang untuk mengambil keputusan yang terbaik dan logis. Hal ini membutuhkan waktu yang lama sehingga tidak dapat diterapkan dalam kondisi yang mendesak seperti wabah. Seorang ahli logistik juga sesuai dengan kepemimpinan autokratik saat situasi yang mendesak. Ahli logistik dapat bekerja pada situasi penuh tekanan, selain itu ahli logistik juga dapat diandalkan, disiplin, terstruktur, dan berorientasi pada prosedur yang jelas. Sehingga pemimpin dengan kepribadian ini dapat mengambil keputusan dengan cepat dan mengkoordinasi setiap anggotanya sesuai perannya masing-masing. Sebagai pemimpin autokratik, ISTJ-T dapat memberikan arahan untuk anggotanya berdasarkan pemahaman yang kuat terhadap konteks dan fakta-fakta yang relevan. Meskipun autokratik, pemimpin ISTJ-T akan tetap menjaga komunikasi yang jelas dan langsung dengan tim, menyampaikan instruksi dengan jelas dan memastikan bahwa tujuan dan ekspektasi dipahami dengan baik oleh semua anggota tim.2

Dalam kegiatan lintas program penanganan TB-HIV, model kepemimpinan yang sesuai yaitu kepemimpinan demokratis untuk mengkoordinasikan kegiatan tersebut. Kepemimpinan demokratis mendorong partisipasi aktif dari seluruh anggota tim dalam pengambilan keputusan. Dalam konteks penanganan TB-HIV, ini berarti melibatkan petugas kesehatan dari berbagai departemen (TB dan HIV) dalam merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi program-program kesehatan. Model kepemimpinan ini mendorong kolaborasi yang kuat antar tim TB dan HIV. Kepemimpinan demokratis akan menerapkan dialog terbuka dan kolaboratif untuk mengintegrasikan praktik terbaik dari masing-masing program dan mengatasi tantangan yang mungkin timbul dalam implementasi lintas program. Kepemimpinan demokratis mendorong pengembangan rencana kerja bersama yang mencakup tujuan-tujuan lintas program yang jelas dan terstruktur. Ini dapat mencakup pengembangan protokol bersama untuk pencegahan, pengujian, pengobatan, dan dukungan bagi pasien yang terkena TB-HIV. Melakukan komunikasi terbuka dan transparan dalam kepemimpinan demokratis untuk memastikan bahwa informasi tentang program, kebijakan, dan perkembangan terbaru dalam penanganan TB-HIV dapat dengan cepat dan efektif disebarkan di seluruh fasilitas kesehatan. Kemudian melibatkan penyediaan fasilitas dan pelatihan yang tepat untuk staf/tenaga kesehatan dalam mengelola kasus TB-HIV dengan efektif. Selain itu, perlu dilakukan monitoring dan evaluasi berkala terhadap program-program, dengan melibatkan semua pihak terlibat. Hasil evaluasi digunakan untuk memperbaiki strategi dan praktik kerja sama lintas program yang ada. Melalui penerapan model kepemimpinan demokratis ini, fasilitas kesehatan tingkat pertama dapat meningkatkan koordinasi, efisiensi, dan efektivitas dalam penanganan TB-HIV. Ini juga membantu membangun budaya kerja yang inklusif dan berorientasi pada hasil yang dapat mengoptimalkan pelayanan kesehatan bagi pasien yang membutuhkan perawatan TB dan HIV secara bersamaan.3

Mutu pelayanan kesehatan saja tidak cukup untuk memenuhi standar pelayanan kesehatan, namun diperlukan juga mutu keselamatan pasien yang akan menunjang pelayanan kesehatan. Keselamatan pasien adalah system yang dibuat agar pasien merasa lebih aman, mencegah terjadinya risiko yang mungkin dapat terjadi saat dilakukan suatu tindakan terutama saat tindakan operasi (safety surgery). Supaya keselamatan pasien dapat berjalan dengan baik maka diperlukan pemimpin yang sesuai. Mode kepemimpinan yang sesuai untuk hal ini yaitu kepemimpinan demokratis karena operasi dilakukan dalam tim dengan perannya masing-masing. Sebelum melakukan operasi, pemimpin harus memastikan bahwa pasien dan keluarga yang bersangkutan sudah mengerti mengenai harapan, proserdur, dan risiko yang mungkin terjadi dalam tindakan. Di dalam ruang operasi, segala keputusan tetap berada di tangan pemimpin operasi maka pemimpin harus memikirkan dengan matang tindakan yang dilakukan serta melihat dari beberapa sudut pandang, disini peran kepemimpinan demokratis dapat diaplikasikan. Meskipun seluruh anggota berpartisipasi secara aktif, namun pemimpin harus tetap memastikan jalannya operasi sesuai prosedur dan aturan yang ada karena berkaitan dengan keselamatan pasien dan melibatkan petugas kesehatan lainnya.4

Dalam bidang kesehatan, peran kepemimpinan sangat penting dalam melakukan dan meningkatkan pelayanan kesehatan. Seorang pemimpin harus cepat beradaptasi dalam segala situasi dan kondisi sehingga tidak terpaku pada satu model kepemimpinan saja namun dapat fleksibel atau mengkombinasikan dua model sekaligus untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Di samping itu, pemimpin tetap harus memperhatikan anggotanya dan mengedepankan kepentingan organisasi daripada kepentingan sendiri.


 

DAFTAR PUSTAKA

1.          1. Wijaya A, Novita N, Yulita H. MBTI PERSONALITY TYPES for CAREER DEVELOPMENT (SMK Santo Lukas - Jakarta). Jurnal Pengabdian dan Kewirausahaan. 2019 Nov 21;3(2).

2.          2. Dewi R, Sari A, Suprapto, Saripah E, Ashari A, Suwetty A, et al. KEPEMIMPINAN  DALAM PELAYANAN KESEHATAN. Rosyad Y, editor. Media Sains Indonesia; 2022.

3.          3. Merta IK, Nyoman Usadha ID, Purna IN. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Demokratik Dan Fasilitas Kesehatan Terhadap Kepuasan Pasien Pada Uptd Puskesmas Nusa Penida I Kabupaten Klungkung. Jurnal Ilmiah Satyagraha. 2020 Aug 20;3(2):82–118.

4.          4. Mardani R. Peran Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Keselamatan Pasien. 2019;

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader