SANTAI DULU GAK SIH??!
KEPEMIMPINAN
Ujian Blok 6.3 IKM 2024
Nama: Yesa Hutabalian Nainggolan
NIM: 21.P1.0034
Tipe kepribadian extrovert menyukai
kegiatan berkelompok sehingga mudah beradaptasi dalam kelompok, memiliki
komunikasi yang aktif juga koneksi interpersonal yang baik. Individu dengan
tipe kepribadian ini memastikan semua pihak memahami prioritas, tujuan, dan
harapan realistis yang perlu dicapai. Akan tetapi, kepemimpinan yang
dipimpin oleh individu dengan tipe kepribadian ESFP-T memiliki tantangan dalam
hal mempertahankan fokus, mengelola waktu, atau menghadapi situasi yang
membutuhkan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Gaya kepemimpinan yang
efektif dapat bervariasi tergantung pada konteks dan situasi yang sedang
dihadapi. Kepemimpinan yang berhasil sering kali mencakup beberapa
karakteristik dari berbagai jenis kepribadian untuk memenuhi kebutuhan dan tantangan
yang berbeda dalam berbagai situasi.4
Pemimpin
menghargai pendapat serta pengambilan keputusan dari anggota timnya. Model
kepemimpinan ini memberikan kesempatan bagi anggota tim untuk
mengembangkan kemandirian, tetapi memiliki tantangan yang perlu diatasi yakni
kurangnya pengawasan yang dapat menyebabkan kurangnya koordinasi antar tim atau
kesalahan dalam pekerjaan. Model kepemimpinan laissez-faire tidak disarankan
pada situasi yang membutuhkan arahan yang lebih tegas atau pemantauan yang
lebih ketat. Sebagai pemimpin yang baik perlu mempertimbangkan konteks dan
kebutuhan untuk memenuhi tujuan bersama tim ketika memilih model kepemimpinan
yang tepat. Kepemimpinan laissez faire lebih disarankan pada
tim yang memiliki anggota yang berpengalaman dan skillfull.5,6
Tantangan
yang mungkin terjadi pada model kepemimpinan ini ialah pemimpin harus
memastikan terjaganya koordinasi yang efektif antar berbagai sektor dan
disiplin tim dalam penanganan TB-HIV. Keterbatasan sumber daya juga akan
menjadi tantangan yang mungkin dapat terjadi, contoh kekurangan tenaga kerja
yang terlatih dalam menangani kasus TB-HIV dan anggaran yang kurang juga dapat
menjadi hambatan dalam menjalankan kegiatan. Peluang dan upaya antisipatif
seperti membangun hubungan kolaborasi yang kuat dengan lintas sektor dan
interprofesional untuk mendukung program penanganan TB-HIV. Jika kekurangan
pada sumber daya manusia seperti tenaga yang terlatih, pemimpin dapat
mengadakan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan anggota tim. Pada hambatan
kekurangan sumber daya lainnya seperti keuangan pemimpin dapat mencari sumber
pembiayaan tambahan lain seperti mencari sponsor dan dapat juga membuka donasi
untuk program penanganan TB-HIV di Puskesmas X.7–9
Dalam konteks menjadi pemimpin FKTL, pemimpin dengan laissez-faire akan menggunakan model kepemimpinan transformasional atau dapat didefinisikan sebagai model kepemimpinan yang memberdayakan individu lain. Pemimpin akan meminta anggota tim mengidentifikasi masalah dan merencanakan perbaikan dengan menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk upaya meningkatkan mutu. Pemimpin tetap memfasilitasi kolaborasi antar fasilitas kesehatan lainnya, jika FKTP tidak dapat menangani kasus tersebut maka akan dilakukan rujukan ke FKTL dan memastikan bahwa tempat rujukan tersebut memiliki sumber daya atau solusi yang diperlukan. Meskipun memberikan kebebasan dalam mengambil keputusan, pemimpin tetap menginspirasi anggota tim agar menggunakan bukti atau jurnal terbaru dan mengikuti pedoman pelayanan untuk meningkatkan mutu dan keselamatan dari pasien.10
Kepemimpinan
laissez faire yang didasarkan untuk sasaran keselamatan pasien di FKTL pada medication
error. Medication error atau bisa didefinisikan sebagai kesalahan
medis ialah kegagalan untuk menyelesaikan rencana tindakan dan penerapan
rencana yang salah untuk mencapai hasil yang diinginkan. Dalam sistem laissez-faire,
setiap anggota tim memiliki hak untuk mengambil keputusan terkait tindakan atau
pemberian obat pada pasien, yang akan tetap diawasi untuk meminimalkan risiko
terjadinya kesalahan dalam tindakan maupun pemberian obat.
Tantangan
yang dialami yaitu anggota tim diminta untuk memiliki komunikasi yanh baik pada
saat melakukan prosedur atau saat pemberian obat pada pasien agar informasi
yang penting dapat tersebar dengan baik pada anggota tim lain. Manajemen risiko
terhadap kesalahan bergantung pada kemampuan anggota tim untuk mengenali dan
mengurangi risiko tersebut secara mandiri. Dalam konteks medication error,
sangat penting bagi pemimpin untuk mempertimbangkan bahwa kepemimpinan laissez-faire
dapat memberikan kebebasan yang diperlukan untuk inovasi dan tindakan yang cepat,
tetapi juga memerlukan hal-hal pendukung lainnya untuk memastikan dapat
meminimalisir kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi.11
Peluang yang mungkin terjadi pada kepemimpinan ini yaitu dapat mendorong inovasi dan kreativitas di antara anggota, dapat merespon dengan cepat tanpa harus menunggu pengawasan langsung dari pemimpin, serta dapat mengembangkan kemandirian dan tanggung jawab dalam tim. Upaya antisipatifnya ialah FKTL dapat mengantisipasi risiko kesalahan dengan membuat pedoman dan peraturan yang jelas untuk pelayanan kesehatan, memastikan tetap ada pengawasan terhadap pelayanan klinis, memfasilitasi komukasi dan kolaborasi di antara anggota tim untuk mencegah kesalahan dan meningkatkan pelayanan.9
- Mulyono H. KEPEMIMPINAN (LEADERSHIP) BERBASIS KARAKTER DALAM PENINGKATAN KUALITAS PENGELOLAAN PERGURUAN TINGGI. J Penelit Pendidik Sos Hum. 2018 May 19;3(1):290–7.
- Choong EJ, Varathan KD. Predicting judging-perceiving of Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) in online social forum. PeerJ. 2021 Jun 23;9:e11382.
- ESFP Personality (Entertainer) | 16Personalities [Internet]. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://www.16personalities.com/esfp-personality
- Zhang J, Yin K, Li S. Leader extraversion and team performance: A moderated mediation model. PLOS ONE. 2022 Dec 9;17(12):e0278769.
- Zhang J, Wang Y, Gao F. The dark and bright side of laissez-faire leadership: Does subordinates’ goal orientation make a difference? Front Psychol. 2023 Mar 15;14:1077357.
- Robert V, Vandenberghe C. Laissez-Faire Leadership and Affective Commitment: the Roles of Leader-Member Exchange and Subordinate Relational Self-concept. J Bus Psychol. 2021;36(4):533–51.
- Sfantou DF, Laliotis A, Patelarou AE, Sifaki- Pistolla D, Matalliotakis M, Patelarou E. Importance of Leadership Style towards Quality of Care Measures in Healthcare Settings: A Systematic Review. Healthcare. 2017 Dec;5(4):73.
- Ahmed Iqbal Z, Abid G, Arshad M, Ashfaq F, Athar MA, Hassan Q. Impact of Authoritative and Laissez-Faire Leadership on Thriving at Work: The Moderating Role of Conscientiousness. Eur J Investig Health Psychol Educ. 2021 Jul 5;11(3):667–85.
- Ali M, Ullah MS. Role of laissez-faire leadership in talent management: Evidence from the pharmaceutical industry of Bangladesh. Heliyon. 2023 Jun 15;9(6):e17234.
- van Diggele C, Burgess A, Roberts C, Mellis C. Leadership in healthcare education. BMC Med Educ. 2020 Dec 3;20(Suppl 2):456.
- Rodziewicz TL, Houseman B, Vaqar S, Hipskind JE. Medical Error Reduction and Prevention. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024 [cited 2024 Jul 7]. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499956/
Komentar
Posting Komentar