SANTAI DULU GAK SIH??!

KEPEMIMPINAN 

Ujian Blok 6.3 IKM 2024

Nama: Yesa Hutabalian Nainggolan

NIM: 21.P1.0034

 

    Kepemimpinan adalah kemampuan seorang pemimpin untuk memimpin, mengendalikan, dan menginspirasi individu lain untuk mencapai tujuan tertentu. Sebagai seorang pemimpin, hal penting yang perlu diketahui oleh seorang individu ialah memahami karakteristik diri sendiri.1 Untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan tipe kepribadian seseorang dapat digunakan suatu alat ukur yaitu Myers-Briggs Type Indicator (MBTI).2 Setelah melakukan asessment MBTI personality didapatkan hasilnya adalah ESFP-T(Extraverted, Observant, Feeling, dan Prospecting) atau dikenal sebagai "The Entertainer" tipe kepribadian ini memiliki kemampuan untuk selalu menjadi penghibur dan umumnya dianggap ramah.3

Tipe kepribadian extrovert menyukai kegiatan berkelompok sehingga mudah beradaptasi dalam kelompok, memiliki komunikasi yang aktif juga koneksi interpersonal yang baik. Individu dengan tipe kepribadian ini memastikan semua pihak memahami prioritas, tujuan, dan harapan realistis yang perlu dicapai. Akan tetapi, kepemimpinan yang dipimpin oleh individu dengan tipe kepribadian ESFP-T memiliki tantangan dalam hal mempertahankan fokus, mengelola waktu, atau menghadapi situasi yang membutuhkan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Gaya kepemimpinan yang efektif dapat bervariasi tergantung pada konteks dan situasi yang sedang dihadapi. Kepemimpinan yang berhasil sering kali mencakup beberapa karakteristik dari berbagai jenis kepribadian untuk memenuhi kebutuhan dan tantangan yang berbeda dalam berbagai situasi.4

 

    Model kepemimpinan yang relevan sebagai seorang ESFP-T ialah Laissez Faire. Laissez Faire yang memiliki arti 'membiarkan melakukan' adalah model kepemimpinan di mana pemimpin memberikan kebebasan penuh kepada anggota. Pemimpin dalam kepemimpinan ini memang tidak memiliki banyak peran atau disebut sebagai pemimpin dengan gaya kepemimpinan yang pasif, tetapi dengan pendekatan kepemimpinan laissez-faire ini dapat memberikan ruang untuk anggota tim mengeksplorasi ide-ide baru, mengambil inisiatif sendiri, pemimpin ESFP-T memfasilitasi kolaborasi antara anggota tim.

Pemimpin menghargai pendapat serta pengambilan keputusan dari anggota timnya. Model kepemimpinan ini memberikan kesempatan bagi anggota tim untuk mengembangkan kemandirian, tetapi memiliki tantangan yang perlu diatasi yakni kurangnya pengawasan yang dapat menyebabkan kurangnya koordinasi antar tim atau kesalahan dalam pekerjaan. Model kepemimpinan laissez-faire tidak disarankan pada situasi yang membutuhkan arahan yang lebih tegas atau pemantauan yang lebih ketat. Sebagai pemimpin yang baik perlu mempertimbangkan konteks dan kebutuhan untuk memenuhi tujuan bersama tim ketika memilih model kepemimpinan yang tepat. Kepemimpinan laissez faire lebih disarankan pada tim yang memiliki anggota yang berpengalaman dan skillfull.5,6

 

    Pemimpin akan memberikan kebebasan pada tim untuk merencanakan dan melaksanakan penanganan TB-HIV. Para anggota tim dan pihak lain yang membantu dalam penanganan akan diberi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan melalui pelatihan untuk meningkatkan kemampuan dalam menangani TB-HIV. Tim akan diminta untuk bekerja dengan pihak lain seperti kolaborasi lintas sektor dengan dinas kesehatan, lembaga pemerintah, dan lembaga non pemerintah, serta kolaborasi interprofesional dengan dokter, perawat, apoteker, dan ahli lainnya dan diharapkan dapat berkolaborasi secara efektif. Sebagai pemimpin yang baik akan tetap melakukan monitoring dan melakukan evaluasi terhadap kerja tim agar penanganan yang dilakukan dapat memberikan hasil yang baik. Monitoring dapat dilakukan juga oleh anggota tim untuk mengawasi kemajuan program yang dilakukan untuk menangani TB-HIV dan mengevaluasi efektivitas strategi dan kegiatan yang dilaksanakan.

Tantangan yang mungkin terjadi pada model kepemimpinan ini ialah pemimpin harus memastikan terjaganya koordinasi yang efektif antar berbagai sektor dan disiplin tim dalam penanganan TB-HIV. Keterbatasan sumber daya juga akan menjadi tantangan yang mungkin dapat terjadi, contoh kekurangan tenaga kerja yang terlatih dalam menangani kasus TB-HIV dan anggaran yang kurang juga dapat menjadi hambatan dalam menjalankan kegiatan. Peluang dan upaya antisipatif seperti membangun hubungan kolaborasi yang kuat dengan lintas sektor dan interprofesional untuk mendukung program penanganan TB-HIV. Jika kekurangan pada sumber daya manusia seperti tenaga yang terlatih, pemimpin dapat mengadakan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan anggota tim. Pada hambatan kekurangan sumber daya lainnya seperti keuangan pemimpin dapat mencari sumber pembiayaan tambahan lain seperti mencari sponsor dan dapat juga membuka donasi untuk program penanganan TB-HIV di Puskesmas X.7–9


 

Dalam konteks menjadi pemimpin FKTL, pemimpin dengan laissez-faire akan menggunakan model kepemimpinan transformasional atau dapat didefinisikan sebagai model kepemimpinan yang memberdayakan individu lain. Pemimpin akan meminta anggota tim mengidentifikasi masalah dan merencanakan perbaikan dengan menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk upaya meningkatkan mutu. Pemimpin tetap memfasilitasi kolaborasi antar fasilitas kesehatan lainnya, jika FKTP tidak dapat menangani kasus tersebut maka akan dilakukan rujukan ke FKTL dan memastikan bahwa tempat rujukan tersebut memiliki sumber daya atau solusi yang diperlukan. Meskipun memberikan kebebasan dalam mengambil keputusan, pemimpin tetap menginspirasi anggota tim agar menggunakan bukti atau jurnal terbaru dan mengikuti pedoman pelayanan untuk meningkatkan mutu dan keselamatan dari pasien.10

Kepemimpinan laissez faire yang didasarkan untuk sasaran keselamatan pasien di FKTL pada medication error. Medication error atau bisa didefinisikan sebagai kesalahan medis ialah kegagalan untuk menyelesaikan rencana tindakan dan penerapan rencana yang salah untuk mencapai hasil yang diinginkan. Dalam sistem laissez-faire, setiap anggota tim memiliki hak untuk mengambil keputusan terkait tindakan atau pemberian obat pada pasien, yang akan tetap diawasi untuk meminimalkan risiko terjadinya kesalahan dalam tindakan maupun pemberian obat.

Tantangan yang dialami yaitu anggota tim diminta untuk memiliki komunikasi yanh baik pada saat melakukan prosedur atau saat pemberian obat pada pasien agar informasi yang penting dapat tersebar dengan baik pada anggota tim lain. Manajemen risiko terhadap kesalahan bergantung pada kemampuan anggota tim untuk mengenali dan mengurangi risiko tersebut secara mandiri. Dalam konteks medication error, sangat penting bagi pemimpin untuk mempertimbangkan bahwa kepemimpinan laissez-faire dapat memberikan kebebasan yang diperlukan untuk inovasi dan tindakan yang cepat, tetapi juga memerlukan hal-hal pendukung lainnya untuk memastikan dapat meminimalisir kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi.11

Peluang yang mungkin terjadi pada kepemimpinan ini yaitu dapat mendorong inovasi dan kreativitas di antara anggota, dapat merespon dengan cepat tanpa harus menunggu pengawasan langsung dari pemimpin, serta dapat mengembangkan kemandirian dan tanggung jawab dalam tim. Upaya antisipatifnya ialah FKTL dapat mengantisipasi risiko kesalahan dengan membuat pedoman dan peraturan yang jelas untuk pelayanan kesehatan, memastikan tetap ada pengawasan terhadap pelayanan klinis, memfasilitasi komukasi dan kolaborasi di antara anggota tim untuk mencegah kesalahan dan meningkatkan pelayanan.9

      Model kepemimpinan laissez-faire pada individu dengan MBTI ESFP-T dapat memberikan kesempatan untuk anggota timnya untuk mengembangkan kreativitas, inisiatif, serta kolaborasi. Individu dengan kepribadian ESFP-T mudah berinteraksi sosial dan memiliki kemampuan untuk memotivasi anggota tim melalui sifat ceria dan kehangatan seorang ESFP-T. Namun tetap diperlukan pengawasan dan pemahaman akan tantangan, peluang, serta upaya antisipatif oleh pemimpin dan anggota tim untuk mencapai tujuan dan keberhasilan.


Daftar Pustaka:

  1. Mulyono H. KEPEMIMPINAN (LEADERSHIP) BERBASIS KARAKTER DALAM PENINGKATAN KUALITAS PENGELOLAAN PERGURUAN TINGGI. J Penelit Pendidik Sos Hum. 2018 May 19;3(1):290–7. 
  2. Choong EJ, Varathan KD. Predicting judging-perceiving of Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) in online social forum. PeerJ. 2021 Jun 23;9:e11382.
  3. ESFP Personality (Entertainer) | 16Personalities [Internet]. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://www.16personalities.com/esfp-personality
  4. Zhang J, Yin K, Li S. Leader extraversion and team performance: A moderated mediation model. PLOS ONE. 2022 Dec 9;17(12):e0278769.
  5. Zhang J, Wang Y, Gao F. The dark and bright side of laissez-faire leadership: Does subordinates’ goal orientation make a difference? Front Psychol. 2023 Mar 15;14:1077357.
  6. Robert V, Vandenberghe C. Laissez-Faire Leadership and Affective Commitment: the Roles of Leader-Member Exchange and Subordinate Relational Self-concept. J Bus Psychol. 2021;36(4):533–51.
  7. Sfantou DF, Laliotis A, Patelarou AE, Sifaki- Pistolla D, Matalliotakis M, Patelarou E. Importance of Leadership Style towards Quality of Care Measures in Healthcare Settings: A Systematic Review. Healthcare. 2017 Dec;5(4):73.
  8. Ahmed Iqbal Z, Abid G, Arshad M, Ashfaq F, Athar MA, Hassan Q. Impact of Authoritative and Laissez-Faire Leadership on Thriving at Work: The Moderating Role of Conscientiousness. Eur J Investig Health Psychol Educ. 2021 Jul 5;11(3):667–85.
  9. Ali M, Ullah MS. Role of laissez-faire leadership in talent management: Evidence from the pharmaceutical industry of Bangladesh. Heliyon. 2023 Jun 15;9(6):e17234.
  10. van Diggele C, Burgess A, Roberts C, Mellis C. Leadership in healthcare education. BMC Med Educ. 2020 Dec 3;20(Suppl 2):456.
  11. Rodziewicz TL, Houseman B, Vaqar S, Hipskind JE. Medical Error Reduction and Prevention. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024 [cited 2024 Jul 7]. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499956/


Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader