ENTJ : Sang Komandan
Alfonso Septian Sianturi
21.P1.0024
Latar belakang personal
Orang
dengan tipe kepribadian ENTJ (Komandan) adalah pemimpin yang terlahir alami.
Dengan karisma dan kepercayaan diri yang dimilikinya, ENTJ memproyeksikan
otoritas dengan cara yang menyatukan banyak orang di balik tujuan bersama. Bagi
orang dengan tipe kepribadian ENTJ (Komandan), tempat kerja adalah habitat
alami. Efisiensi dan komunikasi yang jelas dari ENTJ merupakan keunggulannya,
kepemimpinan mereka dikagumi, dan kemampuan mereka untuk menyelesaikan sesuatu masalah.1 Orang
dengan tipe kepribadian ENTJ sering kali dicirikan sebagai orang yang memiliki
kepercayaan diri tinggi, berorientasi pada tujuan dan bersemangat, sangat loyal
dan bertanggung jawab, serta menghargai integritas, kecerdasan, dan fakta. Individu
dengan tipe kepribadian ENTJ biasanya memiliki keterampilan komunikasi verbal
yang kuat dan berinteraksi dengan baik dengan orang lain.2
Model
kepemimpinan yang relevan
Kepemimpinan
adalah kemampuan seseorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi dan
menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan.3
Tipe kepemimpinan dibagi menjadi lima yaitu Otoritas (Autocrat),
Peternalistik, Kharismatik, Demokratis, Militeristis, dan Laissez Faire. Kepribadian
ENTJ menurut saya, memiliki tipe kepemimpinan demokratis karena, tipe
kepemimpinan demokratis merupakan faktor manusia sebagai faktor utama yang
terpenting dalam setiap kelompok atau organisasi. Tipe demokrasi ini lebih
menunjukan dominasi perilaku sebagai sosok pelindung serta perilaku menunjukan
dan mengembangkan organisasi atau kelompok. Seorang pemimpin mengikut sertakan
seluruh anggota kelompok dalam mengambil keputusan. Pemimpin yang bersifat
demikian akan selalu menghargai pendapat atau kreasi bawahannya. Pemimpin
memberikan sebagian para bawahannya turut bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan program yang akan dicapai.4
Aplikasi
model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan pertama untuk kegiatan lintas
program penanganan TB-HIV
Pemimpin
dengan model kepemimpinan demokratis memiliki keunggulan dalam menangani program
penanganan TB-HIV karena pemimpin tersebut bersedia bekerja sama dalam mencapai
tujuan yang sudah ditetapkan. Kebijakan dan keputusan itu dibuat bersama antara
bawahan dan pimpinan, komunikasi dapat berlangsung dua arah dimana pimpinan ke
bawahan dan begitupun sebaliknya, pengawasan terhadap (sikap, perbuatan,
tingkah laku atau kegiatan) terhadap bawahan, dan pemimpin memperhatikan dalam
bertindak dan bersikap juga saling menghormati. Sehingga program akan terorganisir
dengan kepemimpinan yang demokratis dengan tujuan yang disetujui berdasarkan
keputusan bersama.4
Kegiatan
yang akan difokuskan untuk pelaksanaan penanganan TB-HIV :
1. Advokasi
a. Peningkatan
Kesadaran: Mengadakan kampanye kesadaran untuk masyarakat tentang pentingnya
penanganan TB-HIV dan cara mencegah serta mengobatinya.
b. Pendekatan
kepada Pembuat Kebijakan: Melibatkan pemimpin lokal dan pembuat kebijakan untuk
mendapatkan dukungan dan sumber daya yang diperlukan untuk program TB-HIV.
2. Penguatan
Tim
a. Pelatihan
dan Pengembangan: Mengadakan pelatihan rutin bagi staf kesehatan tentang
diagnosis, perawatan, dan pengelolaan TB-HIV.
b. Motivasi
dan Penghargaan: Memberikan penghargaan kepada staf yang menunjukkan kinerja
baik dalam penanganan TB-HIV untuk memotivasi tim.
3. Koordinasi
Lintas Sektor
a. Kemitraan
dengan Organisasi Lokal: Bekerja sama dengan organisasi non-pemerintah,
komunitas, dan sektor swasta untuk memperluas jangkauan dan dampak program.
b. Konsolidasi
Sumber Daya: Mengintegrasikan sumber daya dan layanan untuk meminimalkan
duplikasi dan meningkatkan efisiensi.
4. Kolaborasi
Interprofesional
a. Tim
Multi-disiplin: Membentuk tim yang terdiri dari dokter, perawat, petugas
kesehatan masyarakat, dan konselor untuk memberikan layanan holistik kepada
pasien.
b. Pertemuan
Rutin: Mengadakan pertemuan rutin untuk membahas kasus dan merancang strategi
intervensi yang komprehensif.
5. Monitoring
a. Sistem
Pelaporan: Menerapkan sistem pelaporan yang efektif untuk memantau perkembangan
kasus TB-HIV dan menilai efektivitas intervensi.
b. Indikator
Kinerja: Mengembangkan indikator kinerja untuk mengevaluasi kualitas dan hasil
layanan yang diberikan.
6. Evaluasi
a. Penilaian
Berkala: Melakukan penilaian berkala terhadap program dan kegiatan untuk
mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan serta mengembangkan rencana perbaikan.
b. Feedback
dari Pasien: Mengumpulkan umpan balik dari pasien untuk memahami pengalaman
mereka dan menyesuaikan layanan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Tantangan :
1. Koordinitas
a. Lintas
Program: Mengintegrasikan program TB dan HIV dapat menimbulkan kesulitan dalam
koordinasi antar program yang memiliki fokus dan prioritas berbeda.
b. Lintas
Sektor: Keterlibatan berbagai sektor, seperti sektor kesehatan, sosial, dan
pendidikan, dapat memperumit koordinasi dan komunikasi.
2. Adaptasi
terhadap perubahan
a. Tenaga Kesehatan: Beberapa tenaga kesehatan mungkin merasa terbiasa dengan cara kerja lama dan menunjukkan resistensi terhadap perubahan yang diperlukan untuk integrasi program TB-HIV.
b. Komunitas:
Masyarakat mungkin memiliki pemahaman atau stigma yang salah tentang TB dan
HIV, yang dapat menghambat implementasi program yang efektif.
3. Sumber
daya terbatas
a. Dana:
Keterbatasan dana dapat membatasi kemampuan untuk melaksanakan program dengan
optimal.
b. Tenaga
Kerja: Keterbatasan jumlah dan kapasitas tenaga kesehatan dapat menghambat
pelaksanaan kegiatan lintas program.
Peluang :
1. Meningkatkan
Kualitas Layanan
a. Layanan
Terpadu: Menggabungkan program TB dan HIV dapat memberikan layanan yang lebih
lengkap dan menyeluruh bagi pasien, sehingga meningkatkan kualitas dan
efektivitas perawatan.
b. Kompetensi
Tenaga kesehatan: Pelatihan bersama serta berbagi pengetahuan antara program TB
dan HIV dapat memperkuat kemampuan tenaga kesehatan.
2. Memperkuat
Hubungan
a. Masyarakat:
Melibatkan komunitas dalam program TB-HIV dapat meningkatkan kesadaran dan
pengetahuan tentang penyakit ini, serta mengurangi stigma.
b. Kemitraan
dengan Organisasi Lokal: Bekerja sama dengan organisasi lokal dapat memperkuat
dukungan dan partisipasi masyarakat dalam program.
3. Teknologi
a. Sistem
Informasi Kesehatan: Penggunaan teknologi informasi dapat memfasilitasi
koordinasi dan pelaporan yang lebih efisien.
b. Telemedicine:
Layanan kesehatan jarak jauh dapat memperluas jangkauan layanan ke daerah yang
sulit dijangkau.
Upaya Antisipatif :
1. Strategi
Koordinasi
a. Tim
Koordinasi Lintas Program: Membentuk tim koordinasi lintas program TB-HIV yang
terdiri dari perwakilan setiap program dan sektor terkait untuk memastikan
koordinasi yang efektif.
2. Pelatihan
Tenaga Kesehatan
a. Program
Pelatihan Bersama: Mengadakan pelatihan bersama bagi tenaga kesehatan tentang
penanganan TB-HIV untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan.
3. Sumber
Daya
a. Pendanaan
Terpadu: Mengembangkan proposal pendanaan terpadu untuk program TB-HIV dan
mencari dukungan dari donor dan pemerintah.
b. Optimalisasi
Tenaga Kerja: Mengoptimalkan penggunaan tenaga kerja yang ada dan merekrut
sukarelawan atau tenaga tambahan jika diperlukan.
Aplikasi model kepemimpinan untuk
fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien
dan petugas kesehatan)
Implementasi model
kepemimpinan demokratis, fasilitas kesehatan tingkat lanjut dapat meningkatkan
mutu dan keselamatan baik bagi pasien maupun petugas kesehatan. Melalui
partisipasi aktif, transparansi, dan pengambilan keputusan bersama, organisasi
dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan efisien. Upaya yang
terfokus pada komunikasi efektif sebagai salah satu sasaran keselamatan pasien
akan membantu dalam mengurangi kesalahan dan meningkatkan kualitas layanan
secara keseluruhan. Penerapan model kepemimpinan demokratis dalam meningkatkan
identifikasi pasien di FKTL dapat membawa perubahan signifikan dalam kualitas
perawatan dan keselamatan pasien. Melalui partisipasi aktif seluruh anggota
tim, transparansi, pelatihan berkelanjutan, penggunaan teknologi canggih, dan
evaluasi berkala, fasilitas kesehatan dapat mencapai tingkat keselamatan pasien
yang lebih tinggi dan mencegah kesalahan identifikasi yang berpotensi fatal.
1. Identifikasi
Pasien sebagai Sasaran Keselamatan Pasien :
Identifikasi pasien yang
tepat adalah langkah kritis untuk mencegah kesalahan medis, termasuk kesalahan
pemberian obat, prosedur yang salah, dan pengujian diagnostik yang tidak
akurat. Kesalahan dalam identifikasi pasien dapat berakibat serius, bahkan fatal.
Oleh karena itu, meningkatkan proses identifikasi pasien melalui pendekatan
kepemimpinan demokratis sangat penting.
2. Tantangan
yang Mungkin Terjadi :
a. Kesulitan
dalam Koordinasi Tim: Memastikan semua anggota tim berkomunikasi efektif dan
berkolaborasi secara sinergis mungkin menjadi tantangan, terutama dalam
lingkungan yang kompleks dan multitasking seperti fasilitas kesehatan tingkat
lanjut.
b. Keterbatasan
Sumber Daya: Terbatasnya sumber daya, baik dari segi finansial maupun personel,
dapat menghambat implementasi perubahan yang diperlukan untuk meningkatkan mutu
pelayanan dan keselamatan pasien.
3. Peluang
:
a. Peningkatan
Keselamatan Pasien: Dengan memfokuskan pada transparansi, komunikasi yang lebih
baik, dan partisipasi aktif, model ini dapat secara signifikan meningkatkan
keselamatan pasien dengan mengurangi kesalahan medis dan meningkatkan
pengawasan terhadap prosedur medis.
4. Upaya
Antisipatif yang dapat dilakukan :
a. Pelatihan dan Pembinaan: Melakukan pelatihan intensif kepada seluruh anggota tim tentang nilai dan praktik kepemimpinan demokratis, serta memberikan pembinaan untuk membantu mereka mengatasi resistensi dan ketidakpastian awal.
Kesimpulan dari aplikasi
model kepemimpinan demokratis dalam penanganan TB-HIV dan peningkatan mutu
fasilitas kesehatan adalah sebagai berikut:
a. Penanganan TB-HIV:
Kepemimpinan demokratis mendukung kolaborasi yang efektif antara berbagai
sektor dan tim lintas program, memastikan partisipasi aktif dalam pengambilan
keputusan, serta meningkatkan koordinasi dan komunikasi dua arah. Ini krusial
dalam mengatasi tantangan seperti koordinasi lintas program dan adaptasi
terhadap perubahan, sambil memanfaatkan peluang untuk meningkatkan kualitas
layanan melalui integrasi sumber daya dan teknologi.
b. Peningkatan Mutu Fasilitas Kesehatan: Implementasi model kepemimpinan demokratis di fasilitas kesehatan tingkat lanjut mengarah pada identifikasi pasien yang lebih baik, meningkatkan keselamatan pasien, dan mengurangi kesalahan medis melalui partisipasi aktif seluruh tim, transparansi, dan evaluasi berkala. Tantangan seperti koordinasi tim dan keterbatasan sumber daya dapat diatasi dengan pelatihan intensif dan pengelolaan sumber daya yang efektif.
Dengan pendekatan ini, baik program penanganan TB-HIV maupun peningkatan mutu fasilitas kesehatan dapat mencapai hasil yang lebih optimal dan berkelanjutan untuk kebaikan pasien dan masyarakat secara keseluruhan.
Daftar
Pustaka
1. Workplace
Habits | ENTJ Personality (Commander) | 16Personalities [Internet]. [cited 2024
Jul 7]. Available from: https://www.16personalities.com/entj-personality
2. ENTJ Personality Type, Characteristics
And More [Internet]. Forbes Health. 2024 [cited 2024 Jul 7]. Available from:
https://www.forbes.com/health/mind/entj-personality-type/
3. Sutikno MS. Pemimpin dan kepemimpinan:
Tips praktis untuk menjadi pemimpin yang diidolakan. 2018;
4. Salsabilla B, Lestari FI, Erlita M,
Insani RD, Santika R, Ningsih RA, et al. Tipe dan Gaya Kepemimpinan Pendidikan.
2022;6.
Komentar
Posting Komentar