Permainan Catur Kehidupan
Fransiska Nia Adelina Purba
21.P1.0044
"like a game of chess, strategy is a part of my life: INTJ"
![]() |
Integritas dan visi merupakan kualitas inti dari pemimpin transformasional sebagai INTJ yang memiliki visi model ini sangat khas dalam karakter mereka untuk mencapai tujuan dilakukan dengan jalur komunikasi yang terbuka dengan staf, dan rekan kerja yang mana menunjukkan integritas dan rasa hormat yang mereka terhadap pengalaman dan pengetahuan rekan kerja.
Kepemimpinan transaksional adalah model berbasis penghargaan yang lugas. menetapkan sasaran kinerja untuk staf, menjanjikan penghargaan, dan memberikan penghargaan tersebut setelah mereka berhasil menyelesaikan target atau memberikan konsekuensi jika staf tidak memenuhi sasaran mereka, tentu hal tersebut bukan hanya karena alasan sasaran ataupun target yang tidak terpenuhi namun INTJ tidak menyukai ketidakkompetenan dalam bekerja Model ini dapat menjadi pendekatan yang berguna untuk menetapkan dan memenuhi tujuan jangka pendek, seperti menyelesaikan tugas-tugas tertentu, mencapai sasaran kepuasan pasien yang terukur, dan berhasil mengikuti semua protokol keselamatan.
INTJ sebagai pemimpin yang melayani, mereka akan fokus pada kebutuhan yang lebih tinggi dari pada basa basi, sikap melayani ini tercermin dari kesungguhan mereka dalam bekerja, tidak suka akan popularitas semata tetapi lebih menyukai kualitas pelayanan mereka. Melalui refleksi diri dan kesadaran, mereka memperoleh wawasan tentang tujuan dalam hidup dan pekerjaan, makna dari inisiatif kepemimpinan mereka, dan karakter pribadinya. Dengan membimbing rekan kerja, mereka dapat mengangkat orang lain menuju kesuksesan yang lebih besar, meningkatkan moral dan peluang kesuksesan.
D. Demokratis
kepemimpinan demokratis, dikenal sebagai "kepemimpinan partisipatif." yang mencari masukan dan perspektif staf, meskipun keputusan akhir ada di tangan pemimpin. Penggunaan kolaborasi dan diskusi dapat memicu peningkatan kreativitas dan inovasi. Beberapa keputusan kepemimpinan dalam perawatan kesehatan memerlukan masukan dan pendapat staf untuk mengembangkan solusi kreatif terhadap tantangan yang sedang berlangsung.
F. Strategic
3. INTJ actions in leadership
A. Model kepemimpinan lintas program penanganan TB-HIV di wilayah Puskesmas X
Model kepemimpinan yang saya ambil dalam penanganan kasus TB-VIV ini adalah model kepemimpinan Transaksional dimana INTJ mendahulukan kekompetenan dalam bekerja, sehingga program yang dilaksanakan dapat terlaksana dengan baik. Model ini dapat menjadi pendekatan yang berguna untuk menetapkan dan memenuhi tujuan jangka pendek, seperti menyelesaikan tugas-tugas tertentu, mencapai sasaran kepuasan pasien yang terukur, dan berhasil mengikuti semua protokol keselamatan. Fokus utama program yang terarah dapat dilakukan dengan:1. Advokasi2. Penguatan Tim
Penguatan tim ini sangat dibutuhkan agar kualitas dan profesionalitas tim kesehatan dapat terjamin dan selalu terintegrasi. seperti pengembangan skill dan pengetahuan rekan kerja terlebih dalam penangan TB-HIV, pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan, dan keterbukaan tim terhadap kemajuan teknologi yang dapat membantu program kerja dan jangkauan kerja yang lebih luas.3. Koordinasi Lintas Sektor
Apabila program penangan TB-HIV dapat berjalanan dengan baik dan efektif tentu tenaga kesehatan tidak dapat berjalan sendiri, dengan koordinasi lintas sektor capaian program dapat dimaksimalkan, yaitu seperti sekolah, organisasi, RT/RW, pemerintah, menjadi rekan kerja dalam penguatan advokasi, dan management rujukan yang lebih mudah dilakukan.
4. Kolaborasi Interprofesional
Dalampenangan dan perawatan pasienn terdapat bahasa "raber" singkatan dari rawat bersama hal tersebut semakin menekankan adanya kerjasama interprofesional atau kerjasama multidisiplin, sehingga kualitas hidup pasien TB-HIV dapat terjamin dengan baik adapun manfaatnya sebagai berikut:
a. Perawatan Holistik: Perawatan pasien TB-HIV yang menyeluruh mencakup aspek medis, nutrisi, mental, dan sosial.
Dalam pelaksanaan suatu program sangat mungkin mengalami tantangan dalam pelaksaan penanganan TB-HIV seperti:
- Tenaga: 1.) Belum semua petugas di layanan HIV tersosialisasi mengenai kegiatan kolaborasi TB-HIV serta tingginya pergantian petugas dan terbatasnya anggaran pelatihan TB-HIV bagi petugas baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota maupun fasilitas kesehatan. 2.) Pelaksanaan penapisan TBC di layanan belum optimal, karena sebagian klinisi ragu akan efektivitas penggunaan kriteria tanda dan gejala dalam menyingkirkan TBC, dan skrining gejala belum dilakukan rutin oleh semua petugas di layanan TB-HIVHIV 3.) Komitmen petugas di dalam melaksanakan layanan TB-HIV, termasuk pencatatan dan pelaporan kegiatan TB-HIV di lapangan berpengaruh dalam rendahnya cakupan kegiatan. Tingginya beban kerja petugas, minimnya supervisi dari program menjadi kendala dalam pencatatan dan pelaporan
- Obat: 1.) Pengambilan obat sebagian ODHIV dilakukan oleh keluarga/pendamping, ODHIV yang sudah pindah atau tidak bisa dihubungi, sehingga skrining TBC tidak dapat dilakukan. 2.) Belum semua ODHIV diberikan TPT karena belum semua petugas kesehatan dan petugas penjangkau/pendamping ODHIV tersosialisasi mengenai TPT, masih adanya keraguan klinisi mengenai efektivitas TPT, kekhawatiran akan banyaknya beban obat, keterbatasan obat pencegahan TBC (PP INH) dan vitamin B6 dilaporkan oleh sebagian layanan PDP, obat yang datang sudah dengan masa kadaluarsa (expired) yang dekat, serta di beberapa tempat pasien diminta membeli sendiri obat TPT. Selain itu, klinisi juga mempertimbangkan pemberian ulang TPT pada ODHIV 3-5 tahun setelah mendapat TPT.
- Pelayanan: 1.) Terbatasnya akses dan jumlah layanan yang menyediakan tes cepat molekular (TCM) dan beberapa alat TCM yang tidak beroperasional dengan baik. Proses rujukan pemeriksaan TCM yang terkendala di lapangan serta hasil pemeriksaan TCM lama. 2.) Pengendalian Infeksi TBC di fasyankes, terutama di unit HIV, pemantauannya belum optimal. Situasi ruangan pemeriksaan/ruang tunggu unit HIV belum memadai untuk membuat layanan TBC satu atap. 3.) Terjadi penundaan pemberiaan ARV atau bahkan tidak diberikan ARV bagi pasien TB-HIV karena belum terintegrasinya layanan TB-HIV dan terbatasnya jumlah layanan ARV di beberapa provinsi, sehingga pasien harus dirujuk ke tempat lain. Selain itu jadwal pengambilan OAT dan ARV yang berbeda menyebabkan pasien membutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk melakukannya, mengalami kesulitan untuk mendapatkan ijin setiap bulan bagi yang bekerja.
- Pasien: 1.) Adherence atau kepatuhan pengobatan, baik ART maupun OAT, masih menjadi masalah. Tingginya stigma HIV di masyarakat masih menjadi tantangan bagi ODHIV untuk membuka status HIV pada keluarga. Pelibatan kelompok dukungan sebaya/ kader belum optimal.
2. Peluang yang ada dalam pelaksanaan penanganan TB-HIV
- Peran pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya sangat penting untuk perluasan layanan HIV, termasuk tes, perawatan, dukungan, dan pengobatan pasien TB-HIV.
- Layanan TB-HIV terintegrasi memudahkan pasien TBC untuk mendapatkan tes HIV dan ARV.
- Petugas TBC yang telah dibekali pengetahuan pelayanan HIV AIDS dan IMS komprehensif dapat meningkatkan penerapan layanan tes, pencegahan HIV,
- Kebijakan skrining TBC dan HIV di tempat-tempat orang berkumpul seperti Lapas/Rutan dan LPKA dan pesantren sangat membantu untuk temuan, penanganan dan pencegahan kasus TB-HIV.
- Petugas penjangkau dan pendamping berperanan dalam membantu memastikan pasien TBC untuk tes HIV, mendapatkan ARV, dan TPT.
- Adanya kerja sama lintas sektor terkait sistem rujukan pasien untuk tata laksana TB-HIV dapat meningkatkan temuan dan penanganan kasus.
- Kedua program memiliki sistem informasi yang semakin berkembang menguatkan validasi data pasien TBC dan HIV dilakukan mulai dari tingkat layanan sehingga lebih mudah penelusurannya.
B. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)
- Audit dan Evaluasi: Melakukan audit rutin dalam mengevaluasi standar keselamatan dan mutu pelayanan. audit data diri pasien dan rekam medis yang jelas, sehingga saat diperlukan rujukan atau pemulangan pasien tidak terjadi kendala dalam hal administrasi
- Protokol dan SOP: Membangkan dan memperbarui protokol serta SOP yang berfokus pada keselamatan pasien dan petugas. seperti:
- Tepat Obat, Tepat pasien, Tepat dosis, Tepat teknik pemberian (IV, IM, atau oral), Tepat waktu, Tepat diagnosis, Tepat resep, Tepat ruangan dll
- Teknologi: Pengembangan teknologi untuk memantau dan meningkatkan keselamatan, seperti sistem pelaporan insiden dan manajemen risiko
- Komunikasi Efektif: komunikasi antara tim medis dan manajemen untuk memastikan adanya aliran informasi yang baik, baik dalam perujukan, pemberian obat, perpindahan ruangan, pemulangan, dan perawatan.
- Budaya Keselamatan: Menciptakan dan membudaykan keselamatan sebagai prioritas utama melalui pelatihan, sosialisasi, dan kebijakan yang jelas.
- Komunikasi yang kurang antara tenaga kesehatan dalam pergantian shift kerja, dan diagnosis dokter yang kurang lengkap sehingga dokter yang bekerja pada shift lainnya mengalami kesulitan dalam perawatan dan mengulang diagnosis, ataupun perawat yang kurang komunikasi dalam kontrol pasien dalam jam-jam tertentu sehingga over control yang mengganggu waktu pasien dalam istirahat
- Komunikasi yang kurang dengan pasien mengenai identitas pasien apakah sesuai dengan obat, terapi, perpindahan, rujukan, dll kurang menggali faktor-faktor resiko lain
- Kesalahan dokumentasi dari segi administatif, kesalahan penyimpanan obat, kelelahan dalam jam kerja yang tinggi
- SDM yang kurang mengenai teknologi didalam peningkatan pelayanan baik secara administratif ataupun teknis klinis
- Pelatihan skill dan pendidikan yang lebih lanjut
- Pemanfaatan teknologi yang mampu mendukung pelayanan kesehatan
- Menegaskan kembali SOP tindakan dan kerja di fasilitas kesehatan
- Meningkatkan kerjasama antara non medis, medis, pemerintah, maupun swasta dalam upaya advokasi yang lebih menyeluruh
- Evaluasi secara berkala setiap program yang dijalankan
- lebih inovatif dan kreatif didalam pelaksanaan program kesehatan
- Pelayanan yang semakin terintegrasi dan standar kompetensi pelayanan yang semakin baik
- Feedback dan kepercayaan masyarakat yang semakin baik terhadap pelayanan kesehatan
- Tenaga kesehatan yang semakin terampil dan profesional
- Kefasihan dalam pengguaan teknologi yang menunjang pelayanan kesehatan
Kesimpulan
Daftar Pustaka
- Fisher TL. Medico-Legal: Check the label. Canadian Med Assoc J. 1967;97:337.
- Kemenkes RI. Rencana Aksi Nasional Kolaborasi TB-HIV 2020-2024 [Internet]. 2021. Available from: https://tbindonesia.or.id/wp-content/uploads/2022/09/RAN-Kolaborasi-TB-HIV-2020-2024.pdf
- Kemenkes RI. Rencana Aksi Nasional Kolaborasi TB-HIV 2020-2024 [Internet]. 2021. Available from: https://tbindonesia.or.id/wp-content/uploads/2022/09/RAN-Kolaborasi-TB-HIV-2020-2024.pdf
- INTJ Personality (Architect) | 16Personalities [Internet]. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://www.16personalities.com/intj-personality
- 12 Leadership Models That Can Define Your Style | USAHS [Internet]. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://www.usa.edu/blog/leadership-models/
- Aronson JK. Medication errors: definitions and classification. Br J Clin Pharmacol. 2009 Jun;67(6):599–604.






Komentar
Posting Komentar