Pemimpin Win Win Solution
Dini
Frisca Isklisiana
Nomor
21.P1.0035
Kepribadian
INFP menurut MBTI terdiri dari Introvert, Intuisi,Feeling, Perceiving termasuk
juga dengan sebutan Idealis. Hal ini dapat dilihat dari sikap setiap
kelompoknya, yaitu :
Saya : Introvert
Pribadi yang berjiwa introvert cenderung memperoleh kekuatan
dari dalam diri (kesendirian, berpikir dan berwawasan intropeksi serta
merasakan dan mengolah emosi). Introvert tidak hanya diartikan sebagai pribadi
yang pendiam atau tidak berani berbicara di depan umum, apabila seseorang
dipengaruhi oleh profesi ataupun keadaan pribadi yang pendiam dapat berubah
menjadi pribadi yang pandai untuk berbicara ataupun melakukan Public
Speaking, memang yang menjadi dominan khas seorang Introvert adalah
cara berprestasi untuk meraih prestasi. mengembalikan energi yang dimilikinya
dan dalam menyelesaikan masalah. Orang Introvert dalam menyelesaikan masalah
seringkali memilih mencari tempat yang tenang, meluangkan waktu sendiri dan
memikirkannya sampai dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.
N : Intuisi
Pribadi
yang memiliki intuisi cenderung mengandalkan informasi berdasarkan intuisi yang
biasanya dimiliki orang lain seperti (“Indera ke-6”), hal ini terjadi karena
mereka mementingkan apa yang dirasakan dan melihat kemungkinan-kemungkinan yang
muncul atau akan terjadi. Orang yang intuitif memiliki kepekaan dalam
mendengarkan suara hati, seringkali dalam mengambil keputusan, dia lebih
mendengarkan suara hatinya dan telah dapat mengantisipasi sesuatu yang terjadi
di depannya.
F
: Perasaan
Pribadi yang memiliki perasaan cenderung mengorganisasikan dan menyusun informasi yang diperoleh dan menghasilkan keputusan berdasarkan nilai pribadi dan kemanusiaan. Hal ini menjadi perasaan pribadi apabila tidak diimbangi oleh Thinking akan mengakibatkan pribadi terlihat menjadi pribadi yang plin-plan dalam mengambil keputusan dikarenakan terlalu memikirkan perasaan orang lain atau dapat dikatakan pribadi yang kurang tegas. Namun, pemimpin yang memiliki perasaan akan lebih mudah berempati dengan perasaan orang lain dan dapat menyeimbangkan-imbang keputusan yang ia ambil dengan melihat kondisi yang ada.
P : Persepsi
Bagaimana dengan orang yang memiliki Perceiveng. Pribadi ini cenderung memiliki kehidupan yang fleksibel dan spontan. Pribadi yang nampaknya begitu santai dalam menanggapi kehidupan. Seringkali melihat keadaan bukan menjadi beban melainkan sesuatu yang perlu dinikmati pada hari ini. Pribadi ini tidak terikat dengan pemikiran yang mendalam, ia mudah beradaptasi dengan lingkungan atau keadaan yang baru. Hal yang menarik dari seorang perceiver adalah ia akan lebih mudah mengimprovisasi suatu rencana apabila rencana yang sebelumnya dirancang seketika berubah atau tidak sesuai dengan keadaan, itulah yang menjadikan perception pribadi nampak kreatif dalam menangani kehidupan. Meskipin sikapnya yang santai seringkali menjadikan pribadi yang mudah menggamangkan sesuatu dan menunda-nunda pekerjaan.
Dari keempat karakter tersebut apabila dimiliki oleh pribadi INFP akan memiliki karakter yang sangat perhatian dan peka terhadap perasaan orang lain, penuh dengan antusiasme dan kesetiaan, tetapi biasanya hanya untuk orang dekat, yang belajar pada banyak hal. Cenderung mengambil terlalu banyak dan menyelesaikan sebagian, cenderung idealis dan sempurna, memikirkan solusi menang-menang, mempercayai dan mengoptimalkan orang lain. Hal ini akan dimiliki seorang pemimpin yang bersemangat, berempati, penuh perhatian kepada anggotanya, sangat terampil dalam perencanaan kegiatan yang akan dilakukan semaksimal mungkin mengurangi tingkat kesalahan dalam pencapaian yang ideal. Namun, sifatnya yang win win solution, ia akan mendengarkan pendapat orang lain dari berbagai sudut pandang dan ketika mengambil keputusan, ia harus terlebih dahulu memeriksa bagaimana keputusan tersebut selaras dengan nilai-nilai moral.
Model Kepemimpinan INFP adalah...
Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang berdasarkan demokrasi. Yang penting di sini, bukanlah pemimpin yang dipilih secara demokratis oleh para pengikutnya, melainkan cara ia menjalankan kepemimpinannya secara demokratis. Pemimpin bertindak sedemikian rupa sehingga suatu keputusan merupakan keputusan bersama semua anggota kelompok. Setiap anggota kelompok harus tunduk pada keputusan mayoritas anggota kelompok. Fungsi pemimpin di sini adalah untuk membimbing dan mengkoordinasikan proses pengambilan keputusan. Meskipun dia memberikan ketentuan, ketentuannya adalah bagaimana anggota kelompok dapat berpikir dan mengambil keputusan, bukan apa yang harus mereka pikirkan dan putuskan. Di sini tidak ada yang lebih super dari siapa pun. Setiap orang dari setiap anggota kelompok adalah sama nilainya, oleh karena itu setiap orang memiliki hak yang sama untuk mengambil keputusan mengenai hidupnya.
Pribadi yang INFP memiliki
karakter win win solution sehingga dalam berorganisasi sebagai seorang pemimpin
yang demokratif sehingga mendiskusikannya kepada anggota yang lain.
·
fasilitas kesehatan tingkat pertama pada kegiatan
lintas program penanganan TB-HIV
Dalam penanganan masalah TB dan HIV yang merupakan penyakit menular, apabila disuatu daerah wabah ini meluas. Sebagai seorang pemimpin yang demokratif.Pemimpin akan melakukan tindakan dengan mengumpulkan penanggung jawab seperti dibagian sarana dan prasarana, dalam penangan TB-HIV ini. kemudian memecahkan masalah yang ada dengan sistem mencari prioritas masalah terlebih dahulu yang perlu ditangani terlebih dahulu lalu mencari solusi pada permasalahan tersebut.2
Advokasi : Dalam penangan
TB-HIV yaitu meningktakan kesadaran dengan melakukan Pendidikan public untuk
dapat memahami rencana pencegahan pada TB-HIV.
Penguatan Tim : Sebagai
pemimpin demokratif maka melihat kemampuan yang dimiliki dari setiap tim yang
ada. Mengkoordinasi kegiatan kolabarasi TB-HIV dengan memberi forum komunikasi
dan melibatkan unsur-unsur organisasi terkait dalam kegiatan kolaborasi TB-HIV
Koordinasi Lintas Sektor : Ikut serta mendefinisikan masalah,
prioritas kebutuhan,pengumpulan, dan interpretasi informasi serta mengevaluasi
pada program penanganan TB-HIV. Bebagai sektor yang ada seperti Pendidikan, social,
ekonomi dan lingkungan sehingga dapat langsung diterapkan kepada Masyarakat.Pemantauan
pada ketersedian logistik, pada kebutuhan pendanaan dalam program tersebut.
Kolabaorasi interprofessional : Koordinasi
dan perencanaan bersama antara program TBC dan HIV dari tingkat pusat dan
daerah sampai dengan fasyankes dan LSM/Komunitas perlu dilakukan secara
berkala, begitu juga monitoring dan evaluasi kegiatan. Pelibatan LSM/Komunitas
dalam kegiatan TB-HIV sangat diperlukan untuk mendukung tatalaksana yang
optimal.
Monitoring : menggunakan sumber data sekunder yang
berasal dari hasil kegiatan pelayanan dan surveilans pasif di fasyankes, yang
dilaporkan melalui sistem informasi yang telah ada dan digunakan. Laporan
bulanan dengan format baku dikumpulkan dari semua fasyankes, unit kegiatan, dan
mitra LSM/Komunitas pelaksana kegiatan rutin.3
Evaluasi : Evaluasi dilakukan untuk pengawasan
program,sosialisasi, advokasi dalam perencaanan dan pembuatan dan terubahan
kebijakan pada kolaborasi TB-HIV.3
Tantangan dan Peluang
: tantangan
pada petugas di layanan TB-HIV yang belum terlatih secara professional, pelaksanaan
penapisan TBC di layanan PDP belum optimal karena Sebagian klinisi ragu akan
efektivitas penggunannya. Pada pengobtan Sebagian ODHIV pada pengambilan dilakukan
oleh pendamping/keluarga. Pasien yang sudah pindah akan sulit dihubungan.Sedangkan
pelu ang pada peran pemerintah daerah
dan pihak terkait sangat penting untuk perluasan layanan HIV, termasuk tes, perawatan,
dukungan dan pengobatan pasien TB-HIV.3
·
Fasilitas Kesehatan Tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (
Keselamatan Pasien dan Petugas Kesehatan)
Dalam penerapan model
kepemimpinan demokratif demi keselamatan berani untuk berbicara dengan benar terkait
pekerja sesuai prosedurnya, meskipun anggota yang lebih senir tetap dengan kata
yang sopan untuk mau membicarakan dan memberikan solusi yang tidak hanya untuk
menghakimi saja. Adanya kerja sama dalam satu tim yang transparan dan terbuka
dengan masukan yang diberikan. Keselamatan pasien sangatlah utama terkait pada
ketepatan identifikasi pasien, tetap memantau kerja tim dan mendiskusikan
apabila ada kesulitan dalam penanganannya.
·
Pengurangan Pasien
Jatuh
Sebagai pemimpin
yang demokratif dalam mengurangi resiko pasien jatuh maka melibatkan tim Kesehatan
secara aktif dan mendorong partisipasi serta kolaborasi dalam pengambilan Keputusan.
Langkah – Langkah yang perlu dilakukan adalah melakukan rapat rutin untuk
membicarakan rencana berikutnya dan melakukan pemantaun melalu penilaian resiko
jatuh dan data Analisa yang ada. Melakukan komunikasi yang efektif antar sesame
kerja tim dengan cara melakukan briefing sebelum berkerja kemudian penutupnya
melakukan pelaporan dan juga memberikan masukan pada setiap tim. Memberikan
penghargaan kepada anggota yang telah menjalankan dengan baik terlebih pada pasien jatuh demi keselamatan
pasien.
·
Tangtangan dan
Peluang
Tantangannya
adalah bagi petugas Kesehatan yang terkadang melalaikan hal yang sederhana dan
mudah dilakukan sehingga tetap harus berani untuk mengingatkan dan membenarkan
sesuatu yang keliru, dalam pelaksanaannya saja terkait penyampaian saran
ataupun masukan setiap pribadi belum tentu langsung dapat menerimanya,
terkadang ada penolakan dengan berbagai reaksi pribadi yang berbeda, oleh sebab
itu model kepemimpinan yang otoriter terkadang juga perlu untuk dilakukan
meskipun tidak mendominasi dan sesuai dengan situasi dan keadaan
Refrensi:
1. Waedoloh
H, Purwanta H, Ediyono S. Gaya Kepemimpinan dan Karekteristik Pemimpin yang
Efektif. Soc Humanit Educ Stud SHEs Conf Ser. 2022 Jan 3;5(1):144.
2. Kementrian Kesehatan RI. Strategi
Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 2021. In: 2nd ed. 2021.
3. Kementrian Kesehatan RI. Rencana Aksi
Nasional Kolaborasi TB-HIV 2020-2024. 2021.



Komentar
Posting Komentar