"Pembela" Memimpin di Era Generasi Alpha

 Seorang “Pembela” Memimpin di Era Generasi Alpha

 

Nama  : Viola Carendya

NIM    : 21.P1.0048

 

         Derap perkembangan di semua aspek kehidupan terjadi semakin cepat. Proses perubahan yang cepat ini menyebabkan kepemimpinan model lama pun tidak akan efektif, tidak akan cocok lagi, sehingga harus dikoreksi dan dikembangkan. Generasi muda Indonesia yang tumbuh pesat ini membutuhkan kepemimpinan yang dapat menyesuaikan ritme dan pola perkembangannya.1 Bagi saya, kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memengaruhi dan menginspirasi orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Assessment yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik personal seseorang yang salah satunya berkaitan dengan kepemimpinan adalah Myers-Briggs Type Indicator (MBTI). Karakteristik personal saya berdasarkan assessment MBTI personality adalah ISFJ-T, atau yang disebut sebagai “Pembela” dalam MBTI.


ISFJ-T (Introverted, Observant, Feeling, Judging, Turbulent) adalah karakteristik kepribadian yang dikenal sebagai pelindung yang berdedikasi, bertanggung jawab, cenderung hangat dengan caranya sendiri, dan selalu membela orang yang mereka cintai. Hal ini sesuai dengan saya sebagai seorang introvert yang cenderung memilih berada di lingkungan yang sepi dan tenang karena akan membuat saya merasa lebih nyaman. Sebagai observant yang memiliki bakat dalam memperhatikan dan mengingat sesuatu, membuat saya dapat mengerti detail kecil dari apa yang dikatakan dan dilakukan seseorang, sehingga membuat saya memiliki gambaran kehidupan dan emosi orang lain. Saya merasa bahwa kepribadian saya yang perasa, penilai, dan turbulen dapat menjadi suatu kelebihan dan kelemahan. Menjadi kelebihan karena saya mampu menjadi seorang pribadi yang perfeksionis dan introspektif, dan akan menjadi kelemahan karena membuat saya selalu takut terhadap apa yang dipikirkan orang lain terhadap saya, pendapat orang lain, dan hal yang seharusnya tidak terlalu dipikirkan.2

Model kepemimpinan transformasi dan kolektif sangat relevan dengan kepribadian yang saya miliki sebagai ISFJ-T. Kepemimpinan ini memiliki tugas untuk berkoordinasi, berkolaborasi, dan kerja sama interprofesi yang kuat dengan demokratis sebagai dasar dalam menjalankan model kepemimpinan ini. Sebagai seorang pemimpin dengan model ini, saya akan memotivasi dan membangun pola pikir yang kreatif dan kolaboratif sehingga membuat tim berkomitmen penuh untuk bekerja sama mencapai tujuan yang diinginkan. Terkhusus  sebagai pemimpin dengan kepribadian ISFJ-T, dalam kepemimpinan ini saya menjalankan prinsip “memimpin sambil melakukan”, sehingga tim saya tidak semata-mata bekerja untuk saya, tetapi kita semua bekerja untuk tujuan bersama. Model kepemimpinan transformasi dan kolektif mengedepankan demokrasi dengan mempetimbangkan segala pandangan dari individu dalam tim hingga tercipta satu keputusan yang terbaik dengan harapan dalam pelaksanaannya semua akan berjalan dengan lancar.3

Sebagai salah satu contohnya, untuk mendukung kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di wilayah Puskesmas X, model kepemimpinan transformasi dan kolektif berdasar demokratis dapat digunakan untuk meningkatkan koordinasi, efektivitas, dan hasil yang berkelanjutan. Pada penanganan di fasilitas tingkat pertama dapat diawali dengan penetapan prinsip yang digunakan sebagai acuan pelaksanaan kegiatan, lalu membangun kolaborasi yang kuat antar semua pihak yang terlibat dengan memotivasi dan menginspirasi, selanjutnya bagi dan bangun tim lintas program untuk mengatasi tantangan yang ada disertai dengan keterbukaan dan transparansi di antara semua pihak, tidak lupa selalu memonitoring berjalannya rencana kegiatan, dan diakhiri dengan melakukan evaluasi. Setiap keputusan yang dibuat pasti akan menimbulkan adanya peluang dan tantangan, contoh peluang yang ada yaitu seperti terciptanya keputusan dan kolaborasi yang lebih baik, adanya inovasi dalam pengelolaan, dan pastinya keputusan yang diambil lebih efisien. Sedangkan untuk tantangan, yaitu bertambahnya kompleksitas masalah kesehatan yang dihadapi, keterbatasan sumber daya serta kurangnya komunikasi dan informasi antar pihak terlibat.4

Selain penanganan di fasilitas tingkat pertama, kegiatan lintas program penanganan TB-HIV juga dilaksanakan di fasilitas tingkat lanjut, dapat dilakukan dengan berfokus pada peningkatan mutu, yaitu memperhatikan keselamatan pasien dan petugas kesehatan yang ada. Salah satu contohnya, dengan memperhatikan kemampuan komunikasi yang efektif. Pemimpin yang transformasi dan kolektif harus memastikan bahwa terdapat alur komunikasi yang terbuka, transparan, dan terstruktur antara semua pihak yang terlibat. Strategi komunikasi efektif ini berlaku bagi antar petugas, petugas dengan pasien, maupun petugas dengan pimpinan. Hal ini digunakan untuk menghindari kemungkinan kesalahpahaman dan kesalahan dalam mengambil tindakan selanjutnya. Dengan berjalannya perkembangan saat ini, strategi komunikasi dapat memanfaatkan inovasi teknologi yang ada, seperti komunikasi pasien dengan pihak layanan kesehatan sebagai konsultasi jarak jauh, menyebarkan edukasi berbasis teknologi, dan masih banyak lagi. Peluang yang didapatkan dari upaya ini yaitu meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat, pemanfaatan inovasi teknologi, memperkuat kerjasama antar pihak terlibat, serta terciptanya strategi yang lebih terarah dan efektif. Tantangan yang mungkin terjadi adalah stigma dan diskriminasi dari berbagai pihak terutama masyarakat, keterbatasan sumber daya, bertambahnya kompleksitas penyakit yang dihadapi, serta perbedaan budaya dan bahasa yang ada.4

Jadi dapat disimpulkan bahwa karakteristik personal saya sebagai ISFJ-T relevan dengan model kepemimpinan transformasi dan kolektif berdasarkan demokratis. Contohnya pada lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X pada fasilitas tingkat pertama maupun tingkat lanjut. Selain itu, saat menjalankan model kepemimpinan apapun dalam suatu kegiatan perlu menyesuaikan dengan pola perkembangan yang ada dan berlaku, serta perlunya memperhatikan dan menyesuaikan dengan karakteristik individu masing-masing sehingga tercipta kerja sama yang baik dan menyenangkan terutama di era generasi alpha ini, dimana teknologi digital telah menjadi bagian integral dari manusia, sehingga perlunya rasa ingin terus belajar lagi dan lagi terlebih sebagai seorang pemimpin.1



 

 

                                                                 DAFTAR PUSTAKA 

1.    Putu N, Kusmana D. Kepemimpinan Ideal Pada Era Generasi Milenial . 2019;

2.    16 Personalities. 2024;

3.    Schwisow J. Transformational Leadership Is Collective . 2015;

4.    Victoria D, Savitri D, Agustin N. Kepemimpinan Transformasional dan Efikasi Kolektif Karyawan           Selama Pandemi Covid-19 . 2022;5.

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader