INDEPENDEN BISA JADI PEMIMPIN?
Nama: Roull Cato Wibowo
NIM: 21.P1.0023
INTJ (Introvert, Intuitive, Thinking, and Judging) merupakan salah satu dari enam belas tipe kepribadian MBTI (Myers–Briggs Type Indicator). Tipe kepribadian INTJ (Arsitek) juga dikatakan sebagai ahli taktik yang suka akan detail, menerapkan kreativitas, dan rasionalitas pada semua yang mereka kerjakan.1 Kepribadian arsitek sangat introvert sehingga mereka lebih nyaman pada kesendirian dan ketenangan. Oleh karena itu, mereka akan sulit dalam berkonsentrasi apabila mereka berada dalam suasana yang ramai. INTJ cenderung mengutamakan logika dan informasi konkret untuk mengambil keputusan yang objektif sehingga dalam perencanaan mereka, dapat menentukan strategi yang sangat matang dari jauh-jauh hari. Dalam melihat dunia, INTJ bisa melihat pola-pola yang bagi sebagian orang tidak terlalu beraturan untuk sebuah pola. Maka dari itu, INTJ dalam memimpin akan berfokus pada strategi jangka panjang, memiliki standar yang tinggi, dan sangat rasional. Akan tetapi, tipe kepribadian ini cenderung suka bekerja sendiri karena mereka khawatir apabila pekerjaan timnya tidak sesuai dengan apa yang mereka rancangkan.2,3
Ketika memimpin sebuah tim, perlu untuk mengetahui jenis kepribadian kita masing-masing. Gaya kepemimpinan ada tiga jenis yaitu autokratik, demokratik, dan Laissez-Faire yang masing-masing jenis kepemimpinan ini memiliki gayanya masing-masing. Tipe autokratik merupakan tipe kepemimpinan yang berbasis pada keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman. Akan tetapi, tipe kepemimpinan ini tidak memperhatikan feedback dari bawahannya dan tidak memedulikan apa yang terjadi pada bawahanya sehingga hubungan antara bawahan dan pimpinan dapat makin memburuk. Kendati demikian, tipe kepemimpinan ini diperlukan untuk memberikan keputusan dengan cepat. Berbeda dengan tipe autokratik, tipe kepemimpinan demokratik cenderung mengutamakan gagasan-gagasan dari bawahannya sehingga dalam mengambil keputusan dapat melihat dari berbagai perspektif. Tipe Laissez-Faire cenderung memberikan kebebasan pada bawahannya dan memberikan otoritas dalam pengambilan keputusan. Namun, untuk menerapkan tipe kepemimpinan ini memerlukan bawahan yang sangat terampil dan berpengalaman.4 Oleh karena itu, dalam memimpin, INTJ sangat condong dalam tipe kepemimpinan autokratik tapi bisa juga kombinasi antara autokratik-demokratik.
TB-HIV merupakan kondisi serius yang mana penderita mengidap HIV dan TB sekaligus. Penanganan TB-HIV di Puskesmas X yang dipimipin oleh seorang INTJ menerapkan kombinasi gaya kepemimpinan autokratik-demokratik karena seorang INTJ merupakan seorang yang sangat rasional dan berfokus pada keputusan jangka panjang sehingga dalam kepemimpinan autokratik diperlukan dalam pengambilan keputusan yang segera. Namun, gaya kepemimpinan demokratik juga diperlukan oleh seorang INTJ karena diskusi dengan bawahan dapat memberikan ide-ide yang rasional. Meskipin demikian, tipe kepemimpinan autokratik lebih superior untuk INTJ dalam pengambilan keputusan dalam waktu cepat. Penerapan model ini mencakup:
a. Advokasi.
INTJ dapat menerapkan tipe kepemimpinan autokratik dalam advokasi untuk mengambil peran advokasi dengan tujuan memperbaiki layanan dan dukungan bagi penderita TB-HIV.
b. Penguatan Tim
Penguatan tim memerlukan hubungan pemimpin-bawahan yang baik. INTJ dapat menerapkan tipe kepemimpinan demokratik supaya dapat memfasilitasi setiap ide yang ada dari bawahannya.
c. Koordinasi Lintas Sektor
INTJ menggunakan tipe kepemimpinan autokratik dalam koordinasi lintas sektor karena INTJ akan menyusun kerangka kerja yang jelas dan memastikan komunikasi efektif lintas sektor demi keefektifan dan efisiensi program penanggulangan TB-HIV.
d. Kolaborasi Interprofesional
INTJ menggunakan tipe kepemimpinan demokratik sangat diperlukan dalam kolaborasi interprofesional karena dengan bertukar pikiran dengan disiplin ilmu yang lain, INTJ dapat merumuskan rencana yang lebih efektif dan efisien kedepannya.
e. Monitoring
INTJ menggunakan tipe kepemimpinan autokratik dalam monitoring program karena INTJ dapat memberikan standar capaian program yang ketat untuk mengidentifikasi setiap permasalahan yang ada.
f. Evaluasi
Evaluasi sangat diperlukan dalam suatu program demi kemajuan program tersebut. INTJ dapat menerapkan autokratik dan demokratik secara bersamaan tetapi model autokratik akan lebih dominan karena “judging” merupakan sifat natural mereka.
Meskipun dalam setiap pelaksanaan sudah direncanakan dengan matang, akan ada tantangan yang muncul dari hal tersebut seperti:
a. Keterbatasan Sumber Daya: Sumber daya yang terbatas, baik itu dalam hal anggaran, tenaga kerja medis, atau infrastruktur kesehatan menjadi salah satu tantangan besar. Dampaknya adalah kemampuan untuk memberikan perawatan yang memadai dan mengimplementasikan program pencegahan yang efektif dapat terpengaruh.
b. Stigma dan Diskriminasi: Pasien yang membutuhkan akses ke layanan kesehatan dan dukungan sosial dapat menghadapi hambatan karena adanya stigma terkait dengan HIV/AIDS dan TB. Untuk menghadapi tantangan ini, pemimpin perlu memiliki strategi advokasi yang kuat serta pendekatan edukasi yang berkelanjutan.
c. Kebutuhan akan Kolaborasi Lintas Sektor: Menghadapi tantangan besar, penting untuk menyelaraskan sektor-sektor seperti kesehatan, pendidikan, dan kebijakan sosial guna menciptakan pendekatan holistik dalam menangani TB-HIV. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan koordinasi yang efektif dan komunikasi yang baik antar-sektor.
d. Perubahan Kebijakan dan Lingkungan Politik: Program TB-HIV dapat terpengaruh oleh perubahan kebijakan pemerintah dan situasi politik. Para pemimpin harus mampu menyesuaikan strategi mereka sambil tetap mempertahankan komitmen jangka panjang terhadap tujuan program.
Selain itu, setiap tantangan yang ada akan muncul peluang-peluang yang muncul seperti:
a. Inovasi Teknologi: Perkembangan teknologi kesehatan seperti pengujian cepat, telemedicine, atau aplikasi mobile dapat memperbaiki aksesibilitas dan efisiensi layanan kesehatan untuk pasien TB-HIV.
b. Peningkatan Kesadaran dan Edukasi: Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang TB-HIV dapat memfasilitasi untuk meningkatkan pengujian dini, upaya pencarian perawatan lebih awal, serta pencegahan penyakit.
c. Kolaborasi dan Kemitraan: Meningkatkan kapasitas dan sumber daya yang tersedia untuk program TB-HIV dapat terwujud melalui peluang kerja sama dengan organisasi non-pemerintah, lembaga akademis, serta sektor swasta.
d. Pengembangan Kebijakan Berbasis Bukti: Memiliki dukungan yang didasarkan pada bukti-bukti dari hasil penelitian ilmiah dapat memastikan bahwa strategi yang diambil akan efektif dan berkesinambungan.
Untuk mengantisipasinya, akan diupayakan hal berikut:
a. Pengembangan Rencana Kontinjensi: Mengatur langkah pengamanan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis atau perubahan mendadak dalam situasi politik atau kebijakan.
b. Penguatan Kapasitas Tim: Dilakukan pelatihan dan pengembangan kapasitas secara berkelanjutan kepada tim agar mereka semakin terampil dalam menghadapi setiap tantangan yang muncul.
c. Mendorong Inovasi dan Penelitian: Mendorong penelitian ilmiah dalam teknologi kesehatan untuk menemukan solusi yang lebih baik dalam penanganan TB-HIV
d. Monitoring dan Evaluasi Rutin: Melaksanakan pemantauan dan penilaian secara teratur pada program guna mendeteksi masalah dengan cepat serta memastikan keberlangsungan yang sesuai dengan rencana.
Model kepemimpinan autokratik-demokratik
bagi seorang INTJ di fasilitas kesehatan tingkat lanjut, khususnya yang fokus
pada peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan), dapat
diuraikan sebagai berikut:
a. Keputusan Strategis dengan
Pendekatan Autokratis
· Pengembangan Visi dan Tujuan: Pemimpin INTJ akan menggambarkan visi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas di fasilitas kesehatan. Mereka akan terlibat secara aktif dalam merancang strategi dan tujuan jangka pendek serta jangka panjang, pastikan setiap langkah didasarkan pada analisis data yang kuat dan pemikiran sistematis.
· Pengaturan Standar Tinggi: Pemimpin akan menetapkan standar yang tinggi untuk keselamatan pasien dan petugas kesehatan dengan menggunakan pendekatan autokratik. Mereka akan menggarisbawahi betapa pentingnya patuh terhadap prosedur medis, protokol keamanan, dan praktik perawatan pasien yang terbaik.
· Kejelasan dalam Penugasan dan Tanggung Jawab: Agar setiap orang memahami perannya dalam mencapai tujuan peningkatan mutu, pemimpin harus memastikan bahwa penugasan dan tanggung jawab setiap anggota tim sudah jelas.
b. Inovasi dan kolaborasi diabdikan dalam prinsip-prinsip demokratis.
· Mendorong Inisiatif dan Inovasi: Walaupun INTJ cenderung mempunyai metode otoriter dalam mengambil keputusan strategis, mereka juga akan mendorong anggota tim untuk menyampaikan gagasan-gagasan kreatif yang bisa meningkatkan kualitas pelayanan. Mereka berencana untuk membuka forum diskusi dan mengallokasikan ruang bagi anggota tim agar dapat memberikan kontribusi melalui ide-ide baru.
· Kolaborasi Antar-Profesional: Pemimpin INTJ akan mendorong kolaborasi yang kuat di antara profesi-prosesi berbeda di fasilitas kesehatan, termasuk dokter, perawat, farmasis, serta tenaga medis lainnya. Mereka akan mengadakan pertemuan lintas-profesional untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi antar-tim, guna menjamin penerapan pendekatan holistik dalam perawatan pasien.
· Transparansi dalam Proses Keputusan: Dalam upaya untuk meningkatkan mutu layanan, pemimpin akan meminta pendapat anggota tim dalam pengambilan keputusan. Mereka akan menjamin agar proses ini terbuka dan didasarkan pada analisis data yang netral, sehingga keputusan dapat diterima oleh semua pihak yang terlibat.
c. Implementasi dan Monitoring
· Pengawasan dan Evaluasi Rutin: Pemimpin dengan tipe kepribadian INTJ akan menerapkan sistem pengawasan yang ketat agar dapat mengamati pelaksanaan strategi peningkatan mutu. Mereka akan menciptakan metrik yang spesifik untuk menilai sejauh mana program berhasil dan mematuhi standar keselamatan yang telah ditetapkan.
· Responsif terhadap Perubahan: Dalam pendekatan yang menggabungkan prinsip-prinsip autokratik dan demokratik, pemimpin akan tetap peka terhadap perubahan dalam kondisi pasien, tren epidemiologi, atau regulasi keamanan. Mereka akan memudahkan penilaian rutin dan melakukan pertimbangan untuk mengubah strategi jika diperlukan demi hasil yang lebih optimal.
· Komitmen terhadap Pembelajaran dan Peningkatan Berkelanjutan: Pemimpin akan lebih menegaskan komitmen terhadap pembelajaran berkelanjutan di semua bidang organisasi. Tujuan mereka adalah mendorong pengembangan profesional yang didukung oleh penelitian ilmiah, sehingga fasilitas kesehatan dapat menjadi pusat keunggulan dalam memberikan pelayanan kesehatan.
· Dengan menggabungkan elemen autokratik dan demokratik dalam kepemimpinan mereka, seorang INTJ bisa efektif memimpin fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk meningkatkan mutu, terutama dalam hal keselamatan pasien dan petugas.
Dalam hal keselamatan pasien, penting untuk berkomunikasi dengan efektif agar informasi yang dibutuhkan bisa diterima dan tindakan yang tepat bisa dilakukan. Bagi seorang INTJ yang mengadopsi gaya kepemimpinan autokratik-demokratik, berikut adalah cara mereka dapat mempertimbangkan komunikasi efektif:Bagi seorang INTJ yang mengadopsi gaya kepemimpinan autokratik-demokratik, berikut adalah cara mereka dapat mempertimbangkan komunikasi efektif:
a. Gaya Kepemimpinan Autokratik:
· Kepastian dan Klarifikasi: Kecenderungan INTJ adalah menentukan tujuan yang jelas dan memiliki standar tinggi dalam hal keselamatan pasien. Dalam gaya kepemimpinan autokratik, mereka akan menyampaikan aturan, kebijakan, dan prosedur dengan jelas kepada tim. Hal ini melibatkan memberikan arahan yang jelas dan harapan yang tidak samar terkait tindakan yang harus dilakukan untuk menjaga keselamatan pasien.
· Pengambilan Keputusan Cepat: Ketika menghadapi sebuah keadaan darurat atau situasi yang membutuhkan pengambilan keputusan dengan cepat, pemimpin INTJ dapat menggunakan gaya autokratik untuk secara tegas dan yakin mengambil inisiatif. Mereka akan dengan jelas menyampaikan keputusan dan memimpin tim menuju langkah-langkah yang diperlukan untuk secara efisien menangani masalah keselamatan pasien.
· Sistematisasi Komunikasi: INTJ akan berusaha untuk menggunakan pendekatan yang sistematik dalam komunikasi mereka, dengan tujuan memastikan bahwa informasi disampaikan secara logis dan terorganisir. Dengan cara ini, tim dapat menghindari kebingungan dan memahami situasi dengan jelas sehingga langkah-langkah yang harus diambil bisa ditentukan.
b. Gaya Kepemimpinan Demokratik:
· Konsultasi dan Partisipasi: Walaupun memperlihatkan ciri-ciri autokratik dalam membuat keputusan penting, pemimpin INTJ yang mengedepankan pendekatan demokratis akan mencari masukan dari anggota tim. Mereka akan menyampaikan betapa kolaborasi itu penting dalam pengambilan keputusan terkait keselamatan pasien, agar setiap orang merasa turut serta dan bertanggung jawab untuk menjaga standar keselamatan yang tinggi.
· Fasilitasi Diskusi: Pemimpin akan mengadakan forum diskusi dan pertemuan untuk membahas masalah dengan lebih jelas, menyelesaikan permasalahan, serta mencari solusi secara bersama-sama. Melalui komunikasi demokratik ini, berbagai perspektif dan pengetahuan dari anggota tim yang berbeda dapat disatukan, sehingga meningkatkan pemahaman kolektif mengenai tantangan yang sedang dihadapi.
· Transparansi dalam Keputusan: Pada pendekatan demokratis, pemimpin INTJ akan memaparkan alasan di balik setiap keputusan yang diambilnya, memberikan pemahaman mendalam mengenai proses pengambilan keputusan, serta menumbuhkan rasa percaya dalam tim. Hal ini perlu diutamakan demi memastikan bahwa setiap anggota tim merasa mereka didengar dan dipahami.
c. Integrasi Autokratik-Demokratik untuk Komunikasi Efektif dalam Keselamatan Pasien:
· Kejelasan Tujuan: Memastikan semua anggota tim benar-benar memahami pentingnya mengikuti protokol dan prosedur yang telah ditentukan dengan jelas dan konsisten, serta berkomunikasi secara efektif tentang visi dan tujuan keselamatan pasien.
· Komitmen terhadap Keselamatan: Menguatkan komitmen terhadap keselamatan pasien dengan melanjutkan komunikasi, mengenali rintangan yang ada, dan mencari solusi bersama.
· Evaluasi dan Pembelajaran: Melakukan komunikasi terbuka mengenai hasil evaluasi dan pembelajaran dari insiden atau kesalahan, agar tim dapat terus memperbaiki praktik mereka.
Dengan memadukan unsur-unsur autokratik (jelas dan pasti) dan demokratik (partisipasi dan transparansi), seorang INTJ dapat menciptakan gaya kepemimpinan yang dapat mendukung komunikasi efektif untuk meningkatkan keselamatan pasien di fasilitas kesehatan tingkat lanjut. Seorang pemimpin INTJ yang mengadopsi gaya kepemimpinan autokratik-demokratik harus siap melawan hambatan dan memanfaatkan peluang untuk menjaga keselamatan pasien di fasilitas kesehatan tingkat lanjut. Berikut adalah beberapa tantangan, peluang, dan upaya antisipatif yang dapat dipertimbangkan:Berikut adalah beberapa tantangan, peluang, dan upaya antisipatif yang dapat dipertimbangkan:
a. Tantangan:
· Kompleksitas Prosedur Medis: Salah satu kendala utama adalah mengelola prosedur medis yang kompleks dengan banyak langkah dan keterlibatan berbagai pihak. Situasi ini bisa membuat koordinasi dan komunikasi yang efisien di antara tim perawatan menjadi sulit.
· Variabilitas dalam Praktik Klinis: Salah satu tantangan lainnya adalah adanya variasi dalam praktik klinis antara para profesional yang dapat memengaruhi tingkat keberlanjutan dan mutu layanan perawatan kepada pasien.
· Tekanan Waktu dan Keputusan Cepat: Menghadapi situasi darurat atau yang kritis, pemimpin dihadapkan pada tekanan untuk membuat keputusan dengan cepat dan tetap menjaga standar keselamatan. Hal ini merupakan tantangan besar yang membutuhkan pertimbangan cermat terhadap informasi yang tersedia.
· Kebutuhan akan Keterampilan Komunikasi yang Kuat: Penggunaan komunikasi yang tidak efektif bisa berakibat pada kebingungan, kesalahpahaman, atau kesalahan dalam memberikan perawatan kepada pasien. Menjamin informasi yang diterima dan dipahami dengan jelas oleh seluruh tim merupakan tantangan penting.
b. Peluang:
· Peningkatan Teknologi Kesehatan: Peluang ini mencakup pengembangan sistem informasi kesehatan yang terintegrasi, pemantauan pasien secara real-time melalui teknologi, atau pemanfaatan aplikasi mobile guna meningkatkan efisiensi komunikasi tim.
· Kolaborasi Antar-Profesional yang Lebih Baik: Pemimpin dapat memfasilitasi forum diskusi lintas-profesional agar terjadi kolaborasi yang lebih baik antar para profesional. Forum ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman bersama tentang praktik terbaik dalam keselamatan pasien.
· Peningkatan Kesadaran akan Keselamatan Pasien: Peningkatan kesadaran masyarakat dan profesional kesehatan terhadap pentingnya keamanan pasien semakin meluas, membuka peluang untuk mengimplementasikan praktik-praktik terkini serta menggalakkan penggunaan standar keselamatan yang lebih canggih.
· Pengembangan Keterampilan Tim: Dengan memberikan kesempatan bagi setiap anggota tim untuk mengembangkan keterampilan komunikasi dan kepemimpinan, dapat dipastikan bahwa semua orang memiliki kemampuan yang diperlukan agar bisa berkontribusi secara efektif dalam menjaga keamanan pasien.
c. Upaya Antisipatif:
· Pengembangan Sistem Pengawasan dan Pemantauan: Membuat sistem pengawasan dan pemantauan yang kokoh guna mengidentifikasi masalah atau risiko potensial yang dapat berdampak pada keselamatan pasien sejak dini.
· Pelatihan dan Pengembangan Keterampilan: Dalam rangka meningkatkan efektivitas dalam situasi darurat, tim kami menyediakan pelatihan reguler yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi, manajemen waktu, dan kepemimpinan antara anggota.
· Edukasi dan Diseminasi Informasi: Melakukan sesi pendidikan dan kampanye informasi kepada anggota tim tentang betapa pentingnya komunikasi yang efektif serta praktik keselamatan pasien terkini.
· Perencanaan Kontinjensi: Membuat strategi cadangan untuk menghadapi situasi darurat atau perubahan yang tidak terduga dalam kondisi pasien, termasuk menjalin komunikasi yang efisien dalam melaksanakan strategi tersebut.
Seorang pemimpin INTJ yang dapat mengidentifikasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada, serta menggunakan langkah-langkah antisipatif yang sesuai, mampu efektif dalam meningkatkan keselamatan pasien di fasilitas kesehatan tingkat lanjut.
Dari paparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa seorang pemimpin dengan karakteristik kepribadian INTJ dan preferensi gaya kepemimpinan autokratik-demokratik memiliki keahlian khusus dalam menghadapi tantangan serta memanfaatkan peluang di bidang pengelolaan fasilitas kesehatan tingkat lanj Gaya kepemimpinan ini memungkinkan mereka untuk dengan cepat dan jelas membuat keputusan strategis (autokratik), sambil tetap mendorong inovasi, kolaborasi, dan partisipasi tim (demokratik).
Strategi pengembangan sistem, pelatihan, edukasi, dan perencanaan kontinjensi dapat mengatasi tantangan-tantangan seperti kompleksitas prosedur medis, variasi dalam praktik klinis serta tekanan waktu. Selain itu juga membantu memenuhi kebutuhan akan keterampilan komunikasi yang ku Pada saat yang sama, berbagai peluang seperti perkembangan teknologi kesehatan, kerjasama antara para profesional yang lebih baik, peningkatan kesadaran tentang keamanan pasien, dan pengembangan kemampuan tim memberikan dasar untuk peningkatan yang signifikan dalam mutu pelayanan kesehatan.
Pengembangan sistem pengawasan, pelatihan keterampilan, edukasi, dan perencanaan kontinjensi yang dilakukan secara proaktif akan mendukung fasilitas kesehatan dalam menanggapi tantangan dengan efektivitas serta memaksimalkan peluang untuk mencapai tujuan jangka panjang mereka.
Oleh karena itu, penggabungan gaya kepemimpinan autokratik dan demokratik yang disesuaikan oleh seorang INTJ dapat berperan penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan efisien di fasilitas kesehatan tingkat lanjut.
Daftar Pustaka:
1. INTJ Personality (Architect) | 16Personalities [Internet]. [cited 2024 Jul 6]. Available from: https://www.16personalities.com/intj-personality
2. Tipe kepribadianku adalah INTJ. Bagaimana denganmu? [Internet]. PsikologiLa.ID. [cited 2024 Jul 6]. Available from: https://psikologila.id/intj/
3. York A. INTJ Leadership: Maximizing Your Strengths in the Workplace [Internet]. ClickUp. 2024 [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://clickup.com/blog/intj-leadership/
4. Commerce Department, Polytechnic of Tuanku Sultanah Bahiyah, Kulim Hi-tech Park, 09000, Kedah, Malaysia, Jaafar SB, Mamat Zambi N, Commerce Department, Polytechnic of Tuanku Sultanah Bahiyah, Kulim Hi-tech Park, 09000, Kedah, Malaysia, Fathil NF, Commerce Department, Polytechnic of Tuanku Sultanah Bahiyah, Kulim Hi-tech Park, 09000, Kedah, Malaysia. Leadership style: Is it autocratic, democratic or laissez-faire? AJMBS. 2021 Apr 20;3(1):1–7.
Komentar
Posting Komentar