MENJADI SEORANG PEMIMPIN
Nama: Randy Jefrianus Bria
NIM: 21.P1.0028
a. Konteks
dan latar belakang personal
Tes kepribadian atau psikotes
merupakan suatu kegiatan pengukuran atau penilaian melalui upaya yang
sistematik untuk mengungkap aspek-aspek psikologi tertentu dari individu. Berdasarkan hasil dari assessment
MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) merupakan ahli logistik, merujuk pada tipe kepribadian ISTJ
(Introverted, Sensing, Thinking, Judging).
Ahli Logistik (ISTJ) bangga dengan integritas mereka.
Orang dengan tipe kepribadian ini bersungguh-sungguh dengan apa yang mereka
katakan, dan ketika mereka berkomitmen untuk melakukan sesuatu, mereka pasti
akan menepatinya. Tipe kepribadian ini merupakan sebagian besar dari
keseluruhan populasi, dan meskipun Ahli Logistik mungkin tidak terlalu mencolok
atau mencari perhatian, mereka melakukan lebih dari apa yang menjadi tugas
mereka untuk menjaga masyarakat pada landasan yang kokoh dan stabil. Di keluarga
dan komunitas mereka, Ahli Logistik sering kali dihormati karena keandalan,
kepraktisan, dan kemampuan mereka untuk tetap membumi dan logis, bahkan dalam
situasi yang paling penuh tekanan.
Tipe
kepribadian ini: Pendiam, teliti, kukuh pendiriannya dan
cenderung serius. Praktis, jujur, realistis, dan bertanggung jawab.
Kesuksesannya diraih karena memang dapat diandalkan karena kemampuannya. Dalam
mengambil keputusan selalu logis dan penuh keyakinan. Segala sesuatunya selalu
fokus kepada prosedur dan struktur. Menyenangi hal-hal yang teratur baik
dilingkungan kerja, rumah dan kehidupan kesehariannya.1
b. Model
kepemimpinan yang relevan
Model
kepemimpinan yang sesuai dengan tipe kepribadian saya yakni Transactional Leadership. Transactional Leadership merupakan
model
kepemimpinan yang berfokus pada pertukaran
antara pemimpin dan bawahan, di mana pemimpin memberikan arahan, struktur, dan
jaminan reward atau punishment sesuai dengan pencapaian kinerja yang
diharapkan. Definisi lain
menyatakan bahwa kepemimpinan transaksional merupakan suatu gaya kepemimpinan
dimana terjadi suatu proses pertukaran antara atasan dan bawahan seperti
bawahannya dapat membantu mengidentifikasikan sesuatu yang harus dilakukan
untuk mencapai hasil yang diharapkan bersama sehingga bawahan akan diberi
imbalan karena kinerjanya yang sudah baik.2
c. Aplikasi
model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan
lintas program penanganan TB-HIV
alasan mengapa transactional
leadership dapat menjadi pemimpin dalam kegiatan
lintas program penanganan TB-HIV di wilayah Puskesmas X
1) 1) Imbalan yang Mengiringi (Kemungkinan yang tinggi dalam pemberian imbalan)
Pemimpin akan menetapkan tujuan SMART yang
disepakati bersama dan mengaitkannya dengan skema kompensasi. Mereka menetapkan
ekspektasi dengan jelas dan menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk
mencapai tujuan.
2)
Manajemen Aktif
Pemimpin transaksional secara aktif memantau
pekerjaan bawahan mereka, mengawasi penyimpangan dari aturan dan standar, dan
mengambil tindakan korektif untuk mencegah kesalahan.
3)
Manajemen Pasif
Pemimpin transaksional melakukan intervensi hanya
ketika standar tidak terpenuhi atau ketika kinerja tidak sesuai harapan. Mereka
bahkan mungkin menggunakan hukuman sebagai tanggapan atas kinerja yang tidak
dapat diterima.
4) Laissez-faire
Pemimpin menyediakan lingkungan di mana bawahan
mendapatkan banyak kesempatan untuk membuat keputusan. Pemimpin sendiri
melepaskan tanggung jawab dan menghindari pengambilan keputusan dan oleh karena
itu bawahan sering kekurangan arahan.
Kegiatan
pelaksanaan penanganan TB-HIV melibatkan berbagai aspek yang penting untuk
memastikan bahwa program tersebut berjalan efektif dan memberikan hasil yang
optimal.
1) Advokasi:
Kegiatan advokasi bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan
dukungan terhadap upaya penanganan TB-HIV. Ini meliputi kampanye publik,
penyuluhan, dan komunikasi strategis untuk mengurangi stigma, meningkatkan
pemahaman tentang penyakit ini, dan mendukung kebijakan yang mendukung program
penanganan TB-HIV.
2) Penguatan Tim:
Penguatan tim melibatkan pengembangan kapasitas anggota tim yang terlibat dalam
penanganan TB-HIV. Ini mencakup pelatihan, pengembangan keterampilan, dan
pengelolaan kinerja. Hal ini dapat meningkatkan
pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta dengan penguatan pelayanan
kesehatan dasar (primary health care) dan mendorong peningkatan upaya promotif
dan preventif, didukung oleh inovasi dan pemanfaatan teknologi.
3) Koordinasi lintas sektor:
Penanganan TB-HIV membutuhkan koordinasi yang baik antara berbagai sektor,
seperti kesehatan, pendidikan, sosial, dan pemerintahan. Adanya kerja sama
lintas sektor terkait sistem rujukan pasien untuk tatalaksana TB-HIV dapat
meningkatkan temuan dan penanganan kasus.
4) Kolaborasi interprofesional:
Kolaborasi antara berbagai profesi atau disiplin ilmu, seperti dokter, perawat,
ahli gizi, konselor, dan pekerja sosial, sangat penting dalam penanganan
TB-HIV. Kolaborasi ini memungkinkan pengintegrasian pendekatan yang
komprehensif dalam perawatan dan dukungan kepada pasien, serta memastikan bahwa
berbagai aspek kesehatan dan kesejahteraan mereka tercakup.
5) Monitoring:
Monitoring berkaitan dengan Melaksanakan penemuan kasus secara aktif, Mitigasi
dampak HIV pada kasus TBC, Memperluas pemberian TPT kepada seluruh kontak dari
kasus TBC yang terkonfirmasi secara bakteriologis serta ODHIV, Mengintensifkan kegiatan kolaborasi
TB-HIV
6) Evaluasi:
Evaluasi dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas dan dampak dari program
penanganan TB-HIV. Evaluasi memungkinkan penyebab kegagalan untuk mencapai
hasil yang diharapkan sesuai jadwal untuk dieksplorasi dan koreksi di tengah
jalan yang diperlukan untuk diterapkan. Evaluasi proses menilai kemajuan dalam
implementasi dan cakupan program.3
Tantangan yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan
penanganan TB-HIV
Sebagai seorang pemimpin tentunya banyak tantangan dalam
melakukan program tersebut, diantaranya:
1)
Komitmen petugas di dalam melaksanakan
layanan TB-HIV, termasuk pencatatan dan pelaporan kegiatan TB-HIV di lapangan
berpengaruh dalam rendahnya cakupan kegiatan. Tingginya beban kerja petugas,
minimnya supervisi dari program menjadi kendala dalam pencatatan dan pelaporan.
2)
Terbatasnya akses dan jumlah layanan yang
menyediakan tes cepat molekuler
(TCM) dan beberapa alat TCM yang tidak beroperasional dengan baik.
3)
Situasi ruangan pemeriksaan/ruang tunggu
unit HIV belum memadai untuk membuat layanan TBC satu atap.
4)
Minimnya pembiayaan untuk pelatihan TB-HIV
bagi petugas HIV dan terbatasnya pembiayaan untuk melaksanakan monitoring
maupun evaluasi TB-HIV
Peluang yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan penanganan
TB-HIV
1)
Peran pemerintah daerah dan pihak terkait
lainnya sangat penting untuk perluasan layanan.
2)
Petugas TBC yang telah dibekali
pengetahuan pelayanan TB-HIV.
3) Petugas penjangkau dan pendamping berperanan dalam membantu memastikan pasien TB-HIV,
Oleh karena itu, sebagai seorang pemimpin perlu melakukan upaya antisipasif sebagai berikut:
1)Menyediakan tes cepat molekuler (TCM) dan memastikan alat TCM yang dipakai beroperasional dengan baik.
2) Mengajukan proposal kepada pemerintah setempat untuk mendapat dukungan pembiayaan sehingga ruangan pemeriksaan/ruang tunggu unit HIV dapat memadai untuk membuat layanan TBC satu atap.
3) Menyediakan pembiayaan yang cukup untuk pelatihan TB-HIV bagi petugas HIV
4) Pelatihan, bimbingan teknis, pemantauan dan evaluasi TB-HIV yang komprehensif dan terpadu kepada petugas.3
d. Aplikasi
model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjutan untuk peningkatan mutu (keselamatan
pasien dan petugas kesehatan)
Penerapan
model kepemimpinan yang tepat dalam fasilitas kesehatan tingkat lanjut,
terutama untuk meningkatkan mutu dengan fokus pada keselamatan pasien dan
petugas kesehatan, sangat krusial. Model
kepemimpinan transactional Leadership menjadi
pemimpin yang dapat memperhatikan hal-hal tersebut. Kepemimpinan transaksional
akan memprediksi kepribadian kolektif dan kepribadian kolektif akan secara
signifikan terkait dengan kinerja kolektif. Gaya kepemimpinan berpengaruh
terhadap kinerja dalam meningkatkan upaya keselamatan pasien. Peningkatan
keselamatan pasien melalui kepemimpinan harus ada komitmen. Komitmen organisasi
dan kepatuhan manajer rumah sakit terhadap kepemimpinan dapat meningkatkan
kinerja perawat dalam hal keselamatan pasien. Dalam konteks
keselamatan pasien dan petugas kesehatan, pemimpin transaksional akan
menetapkan standar keselamatan yang tinggi dan mengukur kinerja berdasarkan
kepatuhan terhadap protokol keselamatan. Mereka akan memberikan reward kepada
individu atau tim yang mengimplementasikan praktik keselamatan yang efektif,
sementara juga mengambil tindakan korektif jika ada pelanggaran atau insiden
keselamatan.4
Sasaran keselamatan pasien di FKTL (medication error)
Perpindahan
dalam perawatan pasien sangat beresiko tinggi mengalami ketidaksesuaian
pengobatan karena perbedaan dalam pengobatan sangat mempunyai kontribusi yang
besar pada kesalahan pengobatan (medication errors). Kesalahan pengobatan di rumah sakit dapat terjadi saat pasien masuk rumah sakit, perpindahan
intra rumah sakit dan pemulangan.
Tantangan yang mungkin terjadi: 1) kompleksitas proses pengobatan, 2) variasi dosis dan
formulasi serta 3) teknologi dan sistem informasi yang
tidak terintegrasi atau perangkat medis yang kompleks dapat menyebabkan
kesalahan dalam penanganan obat.
Peluang yang mungkin terjadi: 1) Penggunaan teknologi seperti sistem
pencatatan medis elektronik (EMR), barcode scanning, dan sistem pendukung
keputusan klinis, 2) Audit dan umpan
balik, 3) Komitmen Kepemimpinan: dukungan dan komitmen dari pimpinan rumah
sakit dalam meningkatkan keselamatan obat menjadi kunci untuk menciptakan
budaya keselamatan yang kuat.
Sehingga seorang pemimpin upaya antisipasif yang dapat dilakukan: memastikan bahwa prosedur yang dilakukan oleh bawahannya harus sesuai
petunjuk seperti melakukan rekonsiliasi.Rekonsiliasi obat merupakan proses
pembuatan daftar paling akurat dari semua pengobatan yang diterima pasien
termasuk nama obat, dosis, frekuensi dan rute serta dibandingkan dengan
membandingkan daftar pengobatan saat masuk, pemindahan dan keluar rumah sakit
dengan tujuan menyediakan obat yang benar untuk pasien di semua titik transisi.
Melalui hal ini proses rekonsiliasi merupakan salah satu hal yang dapat
dilakukan untuk mencegah terjadinya kesalahan obat (medication error) seperti
obat tidak diberikan, duplikasi, kesalahan dosis atau interaksi obat. 5
e. Kesimpulan
Tes kepribadian ahli logistik, merujuk pada tipe kepribadian ISTJ
(Introverted, Sensing, Thinking, Judging). Sehingga dalam pelaksanaannya sebagai seorang pemimpin,
Model kepemimpinan yang sesuai dengan tipe kepribadian saya yakni Transactional Leadership. Transactional Leadership merupakan
model
kepemimpinan yang berfokus pada pertukaran
antara pemimpin dan bawahan, di mana pemimpin memberikan arahan, struktur, dan
jaminan reward atau punishment sesuai dengan pencapaian kinerja yang
diharapkan. Transactional
leadership dapat menjadi pemimpin yang efektif dalam kegiatan
lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X karena kecenderungan
terhadap kerangka kerja yang terstruktur dan jelas, pengambilan keputusan berbasis fakta, keterampilan manajerial
yang kuat, dan kesadaran terhadap detail. Selain itu model
kepemimpinan transactional pada fasilitas
kesehatan tingkat lanjutan selalu memperhatikan kinerja dalam meningkatkan
upaya keselamatan pasien. Peningkatan keselamatan pasien melalui kepemimpinan
harus ada komitmen. Dalam konteks keselamatan pasien dan
petugas kesehatan, pemimpin transaksional akan menetapkan standar keselamatan
yang tinggi dan mengukur kinerja berdasarkan kepatuhan terhadap protokol
keselamatan. Mereka akan memberikan reward kepada individu atau tim yang
mengimplementasikan praktik keselamatan yang efektif, sementara juga mengambil
tindakan korektif jika ada pelanggaran atau insiden keselamatan
DAFTAR PUSTAKA
1. Tim Riset
Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia. Personality Type Bankir 2021. 2022;
Available from:
https://lppi.or.id/site/assets/files/2041/1__kajian_riset_tipe_kepemimpinan_bankir_-_2021.pdf
2. Darmasaputra
IKA, Sudibya IGA. Pengaruh Kepemimpinan Transaksional, Budaya Organisasi, dan
Komunikasi Terhadap Kinerja Karyawan. E-Jurnal Manajemen [Internet].
2019;8(9):5847–66. Available from:
https://ojs.unud.ac.id/index.php/Manajemen/article/view/46943
3. Kemenkes
RI. Rencana Aksi Nasional Kolaborasi TB-HIV 2020-2024 [Internet]. 2021.
Available from:
https://tbindonesia.or.id/wp-content/uploads/2022/09/RAN-Kolaborasi-TB-HIV-2020-2024.pdf
4. Mulyatiningsih
S, Sasyari U. Gaya Kepemimpinan yang Efektif dalam Meningkatkan Keselamatan
Pasien. Healthcare Nursing Journal [Internet]. 2021;3(1):59–64. Available from:
https://journal.umtas.ac.id/index.php/healtcare/article/view/1093/594
5. Manuel
JT, Wiyono WI, Jayanti M. Identifikasi Ketidaksesuaian Pengobatan pada Proses
Rekonsiliasi Obat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit. Jurnal Biomedik
[Internet]. 2021;13(3):241–50. Available from:
https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/31769/32085
Komentar
Posting Komentar