Menjadi Seorang Leader Ekstrovert yang Mempelopori Pelayanan TB-HIV secara Eksklusif di Poli Visite

 Nama : Karen Nathania Wijono

NIM : 21.P1.0043


Menjadi Seorang Leader Ekstrovert yang Mempelopori Pelayanan TB-HIV 

secara Eksklusif di Poli Visite 

  1. Latar Belakang

MBTI atau Myers-Briggs Type Indicator dikenal luas dalam bidang psikologi. Tes ini digunakan untuk melihat gambaran kepribadian seseorang. Salah satu kegunaan MBTI adalah sebagai alat mengumpulkan data untuk memahami bentuk kepemimpinan tiap kepribadian, nilai dalam mempromosikan kesadaran diri tentang perilaku mereka dan meningkatkan pembelajaran dan pengembangan tim dalam pengaturan organisasi. ESFP-A (penghibur) adalah salah satu dari 16 kepribadian, dan memiliki kepanjangan extrovert, observant, feeling, prospective dan assertive. Deskripsi karakter ini secara umum adalah orang yang spontan, energik, antusias dan hidup tidak pernah membosankan disekitar mereka, senang bersosialisasi, menghabiskan waktu bersama orang lain. Hal itu membuat orang ESFP-A populer di kalangannya dan disenangi orang-orang sekitarnya. 

Dalam bidang kepemimpinan, kepribadian ESFP-A tentu memiliki kekurangan dan kelebihan. ESFP-A memiliki kelebihan sebagai pemimpin yang optimis, berani, spontan, energik, dan kooperatif. Mereka dapat membantu orang lain dan mencapai hasil nyata, membuat mereka sangat efektif dalam mengelola tim dan menghadapi tantangan. Namun, ESFP-A juga memiliki kekurangan seperti impulsif, mudah bosan, tidak suka teori, tidak suka perencanaan, dan tidak suka dikritik. Kekurangan ini dapat membuat mereka sulit dalam menghadapi situasi yang kompleks dan memerlukan perencanaan yang detail. Dari penjelasan tersebut menurut saya, kepemimpinan yang cocok berdasarkan piramida adalah mikro dengan model kepemimpinan profesional. Dimana dalam bidang kesehatan, saya bisa langsung berkomunikasi dengan pasien, melakukan perawatan dan mengedukasi pasien.

 

  1. Kegiatan Lintas Program di FKTP  

Bentuk kegiatan yang akan saya lakukan adalah langsung bertemu dengan pasien dengan melakukan bina rapor dan membangun empati kepada pasien yang terdiagnosis TB-HIV, yaitu poli visite. Saya akan mengajukan untuk pembentukan tim yang terdiri atas dokter, perawat dan analis laboratorium untuk membantu penanganan penyakit sekaligus mengasah kemampuan anggota tim dalam penanganan TB-HIV. Kegiatan yang akan dilakukan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) adalah dengan skrining awal, anamnesis, dan rujukan ke dokter spesialis di rumah sakit bila diperlukan. Tantangan yang dihadapi adalah menggali anamnesis tentang kehidupan pribadi pasien, seperti:

  1. Apakah pasien sudah memiliki keluarga ?

  2. Dengan siapa sajakah pasien perhubungan badan?

  3. Apakah mereka sudah mengetahui tentang kondisi pasien ?

  4. Apakah pasangan dan keluarga pasien tahu tentang kondisi pasien saat ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi hal yang sensitif bagi pasien untuk dibahas, jadi saya harus membangun empati untuk menggali informasi tersebut. Dari data yang sudah didapatkan diharapkan dapat segera ditindaklanjuti dengan menghubungi pihak yang berhubungan dengan pasien dan diminta untuk melakukan skrining awal, supaya jika memang tertular dapat diberikan tatalaksana awal dan jika tidak tertular dapat diberikan terapi pencegahan. Peluang yang dimiliki pemimpin adalah memberikan semangat dan memotivasi rekan tim kerja untuk membuat program menjadi lebih efektif. Selama program berjalan tentu tetap harus dilakukan monitoring dan evaluasi mengenai program tersebut, agar program dapat menjadi lebih baik dan lebih sempurna.


C.   Peningkatan Mutu di FKTL

Dalam model kepemimpinan profesionalisme dengan sasaran keselamatan pasien maka yang saya pilih adalah komunikasi efektif. Komunikasi efektif sangat penting dalam menjamin keselamatan pasien karena dapat meminimalkan kesalahan dan meningkatkan koordinasi antar tim. Kegiatan dapat dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL) adalah poli visite, poliklinik yang menawarkan layanan kesehatan untuk pemeriksaan dan pengobatan berbagai jenis penyakit. Poli visite biasanya dilengkapi dengan dokter-dokter spesialis yang memiliki keterampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan bidang spesialisasi masing-masing. Hal tersebut menciptakan kolaborasi interprofesional, yang diperlukan dalam menangani wabah TB-HIV di rumah sakit. Tantangan yang dihadapi pemimpin di FKTP dan FKTL hampir sama, namun tetap ada yang membedakan :

  1. Keterbatasan sumber daya : FKTL memiliki keterbatasan sumber daya yang dapat mempengaruhi efektivitas program

  2. Kesulitan dalam penerapan budaya keselamatan : jika petugas tidak memiliki kesadaran yang cukup akan pentingnya keselamatan pasien dan petugas kesehatan maka penerapan budaya keselamatan akan menjadi sulit

Peluang yang dimiliki pemimpin pada FKTL :

  1. Peningkatan kesadaran pekerja : sebagai pemimpin dapat meningkatkan kesadaran rekan-rekan tentang pentingnya keselamatan pasien dan petugas kesehatan

  2. Peningkatan efektivitas program : pemimpin dapat meningkatkan koordinasi dalam tim supaya program dapat berjalan lebih efektif

Pada FKTL, terdapat 2 macam pasien, yaitu pasien yang memang dari awal langsung memeriksakan diri ke rumah sakit dan pasien yang datang ke rumah sakit setelah mendapat rujukan dari puskesmas. Jadi, karena program yang saya ambil adalah poli visite, otomatis saya akan melakukan skrining awal pada pasien (identifikasi pasien), memberikan edukasi bahaya dari penyakit tuberkulosis dan HIV, kemudian juga memberikan edukasi tentang terapi tuberkulosis yang lama dan efek samping dari obat yang dikonsumsi contohnya konsumsi rifampisin membuat urin berwarna merah dan itu wajar tidak perlu panik (medication error). 


D.   Kesimpulan

Disimpulkan bahwa model kepemimpinan profesionalisme sangat penting dalam meningkatkan profesionalisme petugas kesehatan. Kepribadian ESFP-A memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai pemimpin, meski begitu menurut saya model kepemimpinan mikro sangat tepat, dimana saya sebagai pemimpin akan melakukan kegiatan poli visite. Dengan demikian, model kepemimpinan profesionalisme dapat membantu FKTP maupun FKTP dalam meningkatkan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan) dengan mengembangan budaya keselamatan yang kuat, membangun empati dalam membina rapor dan meningkatkan koordinasi antar tim.


Referensi :

  1. Zárate-Torres R, Correa JC. How good is the Myers-Briggs Type Indicator for predicting leardership-related behaviors? Front phychol [Internet]. 2023 [cited 2024 Jul 7];14. Available from:/pmc/articles/PMC10017728

  2. ESP Personality (Entertainer) | 16Personalities [Internet]. [cited 2024 Jul 7]. Available from https://www.16personalities.com/esfp-personality

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader