"Mengungkap Kepemimpinan ENTJ-A: Strategi Transformasional dalam Konteks Kesehatan"
Nama : Felicia Michel Evelyn
NIM : 21.P1.0022
Sebagai seorang mahasiswa kedokteran
dengan kepribadian ENTJ-A, saya dikenal memiliki karakteristik yang tegas,
percaya diri, dan berorientasi pada hasil. ENTJ-A
adalah singkatan dari salah satu tipe kepribadian dalam MBTI (Myers-Briggs
Type Indicator), yang menggambarkan individu yang extraverted (E), intuitive
(N), thinking (T), judging (J), dan memiliki sifat assertive
(A). Berdasarkan
assessment MBTI, ENTJ-A cenderung mengambil inisiatif dan memiliki kemampuan
untuk memimpin serta mengarahkan tim dalam mencapai tujuan bersama.1
Kepribadian ini membantu dalam merencanakan, mengorganisir, dan menginspirasi
tim untuk bekerja secara efektif dan efisien, yang sangat penting dalam
lingkungan kesehatan yang dinamis seperti di Puskesmas. Sebagai mahasiswa
kedokteran, saya sering berada dalam situasi di mana saya harus cepat
beradaptasi dan mengambil keputusan yang tepat, sehingga karakteristik ini
sangat relevan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Tipe pemimpin seperti apa yang
relevan dengan karakteristik ENTJ-A?


Model kepemimpinan yang paling
relevan dengan karakteristik ENTJ-A adalah kepemimpinan transformasional. Model
ini menekankan pada visi jangka panjang, inspirasi, dan perubahan.2
Pemimpin transformasional mampu menginspirasi tim dengan visi yang kuat dan
memotivasi mereka untuk bekerja keras demi mencapai tujuan tersebut. Pendekatan
ini sangat cocok untuk situasi yang memerlukan inovasi dan perubahan
berkelanjutan.3 Dalam praktiknya, saya berusaha untuk menerapkan
model ini dengan fokus pada efisiensi operasional dan pengembangan kompetensi
anggota tim. Sebagai pemimpin transformasional, saya tidak hanya memberikan
arahan yang jelas tetapi juga berusaha untuk memahami kebutuhan individu
anggota tim dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan untuk berkembang.
Implementasi transformation leadership dalam penanganan kasus TB-HIV
Dalam mendukung kegiatan lintas
program penanganan TB-HIV di Puskesmas, saya berencana menggunakan pendekatan
kepemimpinan transformasional dengan beberapa implementasi nyata. Langkah
pertama yaitu advokasi yang akan saya ambil adalah mengadakan sesi pelatihan
rutin bagi tim medis mengenai penanganan TB-HIV. Sebagai contoh, saya berencana
mengundang pakar dari universitas atau dinas kesehatan setempat untuk
memberikan pelatihan dan workshop singkat sebulan sekali di Puskesmas sebagai
bentuk penguatan tim. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan tim medis serta memotivasi mereka untuk berkomitmen pada
penanganan TB-HIV. Selain itu, saya akan mengadakan rapat koordinasi dengan
berbagai sektor setiap dua minggu sekali. Saya berencana mengorganisir
pertemuan dengan perwakilan dari dinas kesehatan, LSM (Lembaga Swadaya
Masyarakat), dan kader kesehatan masyarakat untuk membahas dan
mengkoordinasikan program TB-HIV. Koordinasi lintas sektor ini bertujuan untuk
memastikan bahwa semua pihak yang terlibat memiliki pemahaman yang sama dan
bekerja menuju tujuan yang sama.4 Sebagai mahasiswa kedokteran, saya
akan mengambil peran aktif dalam menyusun agenda rapat dan membuat laporan yang
dapat digunakan untuk evaluasi dan perencanaan lebih lanjut. Langkah ketiga
yang akan saya lakukan adalah membentuk tim interprofesional yang terdiri dari
dokter, perawat, bidan, dan kader kesehatan. Saya berencana membuat kelompok
kerja kecil yang bertemu mingguan untuk mendiskusikan kasus-kasus TB-HIV yang
membutuhkan perhatian khusus dan membuat rencana tindakan bersama. Kolaborasi
interprofesional ini memungkinkan berbagai perspektif dan keahlian untuk
digabungkan, sehingga penanganan pasien menjadi lebih komprehensif dan efektif.5
Saya juga akan memastikan bahwa setiap anggota tim memiliki peran dan tanggung
jawab yang jelas, sehingga tidak terjadi tumpang tindih tugas. Untuk memastikan
program berjalan sesuai rencana, saya berencana mengimplementasikan sistem
pelaporan mingguan dan evaluasi bulanan. Saya akan menggunakan buku catatan
sederhana atau aplikasi pelaporan berbasis WhatsApp untuk memonitor kemajuan
setiap pasien TB-HIV. Setiap minggu, tim medis akan melaporkan perkembangan
kasus dan setiap bulan kami akan mengadakan sesi evaluasi untuk meninjau data
yang terkumpul dan menyusun strategi yang lebih baik. Dengan sistem monitoring
dan evaluasi yang ketat, diharapkan kami dapat segera mengidentifikasi masalah
dan mengambil tindakan korektif yang diperlukan.
Tantangan, Peluang, dan upaya
antisipatif apa yang dilakukan?
Tantangan utama dalam implementasi
model kepemimpinan ini adalah resistensi terhadap perubahan dan keterbatasan
sumber daya. Beberapa anggota tim mungkin merasa nyaman dengan cara kerja yang
lama dan enggan untuk mencoba metode baru. Selain itu, keterbatasan sumber daya
seperti kurangnya fasilitas dan alat medis juga menjadi hambatan. Namun, saya
percaya bahwa dengan pelatihan berkelanjutan dan dukungan dari semua pihak,
tantangan ini dapat diatasi. Peluang yang ada sangat besar, termasuk
meningkatkan kualitas layanan dan mencapai hasil yang lebih baik dalam
penanganan TB-HIV Untuk mempersiapkan implementasi program
lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas dengan lebih baik, saya akan
mengambil langkah-langkah antisipatif yang mencakup beberapa aspek kunci.
Pertama, saya akan menyediakan pelatihan rutin bagi tim medis untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam penanganan TB-HIV, dengan
mengundang pakar dari universitas atau dinas kesehatan setempat. Selain itu,
saya akan melakukan advokasi untuk optimalisasi sumber daya dengan
mengidentifikasi dan mengatasi keterbatasan fasilitas dan alat medis yang
mungkin ada. Kolaborasi juga akan diperkuat melalui rapat koordinasi reguler
dengan LSM dan kader kesehatan untuk memastikan pemahaman yang konsisten dan
dukungan yang kuat terhadap program. Terakhir, implementasi sistem monitoring
dan evaluasi yang ketat akan membantu dalam mengidentifikasi masalah dengan
cepat dan mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan agar program berjalan
efektif sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.6
Model kepemimpinan apa yang
dilakukan untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)?
Untuk mendukung peningkatan mutu di
fasilitas kesehatan tingkat lanjut, saya berencana menerapkan model
kepemimpinan transformasional dengan fokus pada 6 sasaran keselamatan pasien di
FKTL: identifikasi pasien, komunikasi efektif, medication error, safety
surgery, PPI (pencegahan dan pengendalian infeksi), dan risiko jatuh.
Implementasi nyata yang dapat saya lakukan sebagai mahasiswa kedokteran di
Puskesmas meliputi beberapa tindakan sederhana namun efektif, terutama dengan
fokus pada identifikasi pasien. Identifikasi pasien yang tepat adalah langkah
kritis dalam memastikan keselamatan pasien dan mencegah kesalahan medis.
Kesalahan dalam identifikasi pasien dapat menyebabkan berbagai masalah serius,
seperti pemberian obat yang salah, prosedur medis yang salah, atau pengujian
diagnostik yang tidak sesuai. Oleh karena itu, memastikan bahwa setiap pasien
dapat diidentifikasi dengan benar adalah prioritas utama.7 Saya
mengusulkan penggunaan kartu identifikasi sederhana untuk setiap pasien yang
datang ke Puskesmas. Setiap pasien akan diberi kartu identifikasi dengan nama
dan nomor rekam medis yang harus mereka bawa setiap kali berkunjung. Kartu
identifikasi ini akan berfungsi sebagai alat verifikasi yang mudah dan efektif,
mengurangi risiko kesalahan identifikasi. Kartu identifikasi akan didesain
sederhana namun informatif. Kartu ini akan mencantumkan nama lengkap pasien,
nomor rekam medis, dan tanggal lahir. Kartu akan memiliki kode warna tertentu
untuk pasien dengan kondisi khusus seperti alergi atau penyakit kronis, yang
akan memudahkan tenaga medis dalam memberikan perhatian khusus. Saya akan
bekerja sama dengan staf Puskesmas untuk memastikan setiap pasien menerima
kartu ini saat pertama kali mereka datang ke fasilitas kesehatan. Kartu
identifikasi ini juga akan dijelaskan kepada pasien mengenai pentingnya membawa
dan menunjukkan kartu ini setiap kali berkunjung ke Puskesmas untuk menghindari
kesalahan identifikasi.7,8 Saya akan mengusulkan dan membantu
mengadakan sesi pelatihan bagi staf Puskesmas mengenai pentingnya identifikasi
pasien yang benar dan cara menggunakan kartu identifikasi ini. Pelatihan ini
akan mencakup prosedur verifikasi identitas pasien menggunakan kartu
identifikasi, serta langkah-langkah yang harus diambil jika terjadi kesalahan
identifikasi. Untuk memastikan implementasi yang efektif, saya akan mengusulkan
sistem monitoring dan evaluasi berkala. Setiap insiden kesalahan identifikasi
akan dicatat dan dianalisis untuk menentukan penyebabnya dan menemukan solusi
yang tepat. Saya akan membantu dalam mengumpulkan data mengenai penggunaan
kartu identifikasi dan melaporkan hasil evaluasi kepada manajemen Puskesmas
untuk perbaikan berkelanjutan.
Tantangan, Peluang, dan upaya antisipatif apa yang dilakukan?
Dalam
mendukung peningkatan mutu di fasilitas kesehatan tingkat lanjut, saya akan
menghadapi tantangan seperti resistensi terhadap perubahan dan kesalahan
identifikasi pasien. Peluang yang ada termasuk penggunaan kartu identifikasi
sederhana namun efektif sebagai solusi praktis untuk meningkatkan efisiensi
identifikasi pasien, mengurangi waktu verifikasi, dan mencegah kesalahan medis
yang dapat dicegah. Upaya antisipatif yang saya lakukan yaitu mengimplementasikan
kartu identifikasi untuk setiap pasien di Puskesmas, menyelenggarakan pelatihan
intensif mengenai identifikasi pasien, dan menetapkan sistem monitoring untuk
memantau dan mengevaluasi efektivitasnya. Dengan pendekatan ini, diharapkan dapat
meningkatkan kesadaran staf terhadap keselamatan pasien dan mengurangi risiko
kesalahan identifikasi secara signifikan.
Kepemimpinan transformasional sangat
relevan dan dapat diimplementasikan secara nyata oleh mahasiswa kedokteran di
Puskesmas. Dengan fokus pada visi, motivasi, dan perubahan, kita dapat
menginspirasi tim untuk bekerja secara efektif dan efisien. Implementasi
praktis ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
tetapi juga keselamatan dan kesejahteraan pasien. Melalui langkah-langkah
sederhana namun efektif, seperti pelatihan rutin, koordinasi lintas sektor,
kolaborasi interprofesional, dan sistem monitoring yang ketat, kita dapat
mengatasi tantangan yang ada dan memanfaatkan peluang untuk mencapai hasil yang
lebih baik. Sebagai mahasiswa kedokteran, peran saya dalam implementasi model
kepemimpinan ini adalah untuk mendukung dan menginisiasi perubahan yang
positif, sehingga memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas
pelayanan kesehatan di Puskesmas.
Daftar Pustaka:
- Mari A, Paredes
AM, Arboleda E. Analysis of personality traits using Myers-Briggs type
indicator in correlation to the academic performance of BS ECE
undergraduates. Int J Sci Res Arch. 2024;11:2139-2147.
doi:10.30574/ijsra.2024.11.1.0297.
- Saad Alessa G. The
Dimensions of Transformational Leadership and Its Organizational Effects
in Public Universities in Saudi Arabia: A Systematic Review. Front
Psychol. 2021;12:682092. doi:10.3389/fpsyg.2021.682092.
- Kim HD, Cruz AB.
Transformational Leadership and Psychological Well-Being of
Service-Oriented Staff: Hybrid Data Synthesis Technique. Int J Environ Res
Public Health. 2022;19(13):8189. doi:10.3390/ijerph19138189.
- Cahyadin C.
Penilaian Implementasi Provider Initiated HIV Testing and Counseling
(PITC) pada Pasien TB di Puskesmas di Kabupaten Blora. Prepotif: Jurnal
Kesehatan Masyarakat. 2023;7(3):16675-16688.
doi:10.31004/prepotif.v7i3.22057.
- Moreno R, Ravasi
G, Avedillo P, Lopez R. Tuberculosis and HIV coinfection and related
collaborative activities in Latin America and the Caribbean. Rev Panam
Salud Publica. 2020;44. doi:10.26633/RPSP.2020.43.
- Loveday M,
Zweigenthal V. TB and HIV integration: obstacles and possible solutions to
implementation in South Africa. Trop Med Int Health. 2011;16(4):431-438.
doi:10.1111/j.1365-3156.2010.02721.x.
- Fitria D, Mentari
Tarigan A, Panjaitan R. Implementasi Pemakaian Gelang Identitas terhadap
Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Umum Mitra Medika Tanjung Mulia. Zahra:
Journal of Health and Medical Research. 2023;3(1):44-72. Available from: https://adisampublisher.org/index.php/aisha/article/view/288.
- Anggraini A,
Kur’aini S, Prasastin O, Krisdianto M. Implementasi Patient Safety
Menggunakan Indikator Instrument Akreditasi JCI (Joint Comission
International) di Rumah Sakit di Kabupaten Salatiga. J Kesehatan Indra
Husada. 2023;11(2):150-159. doi:10.36973/jkih.v11i2.505.



Komentar
Posting Komentar