Mengapa Dunia Butuh Lebih Banyak ENTJ?
Mengapa Dunia Butuh Lebih Banyak ENTJ?
Nama : Elizabeth Angelia
NIM : 21.P1.0018
Latar Belakang
ENTJ Merupakan MBTI Terlangka Ke-2
Kepribadian ENTJ (Extroversion, Intuition, Thinking, Judging) adalah salah satu dari 16 tipe kepribadian yang diidentifikasi oleh tes Myers-Briggs Type Indicator (MBTI). Secara keseluruhan, ENTJ merupakan kepribadian seorang komandan yang cenderung bersifat terorganisir, tegas, inovatif, dan fokus pada kesuksesan, sehingga seorang ENTJ mampu memberikan pemecahan masalah yang baik. Namun, mereka juga memiliki tingkat rasionalitas yang tinggi sehingga cenderung menggunakan segala cara dalam mencapai apa yang mereka inginkan demi kepentingannya sendiri, yaitu dengan mencoba mengontrol segala hal. ENTJ merupakan sosok yang menyukai kebersamaan dengan orang lain. Seorang ENTJ sering kali peduli dengan orang lain, namun mereka tetap mengedepankan kelogisan dalam mengambil keputusan. ENTJ menganggap bahwa emosi merupakan suatu kelemahan, sehingga mereka cenderung menyembunyikan perasaan mereka. Ketidakpekaannya terhadap emosi dirinya juga mempengaruhi ketidakpekaannya terhadap orang lain. ENTJ cenderung tidak sabaran, keras kepala, dan cukup agresif. Hal ini membuat kepribadian ENTJ dipandang sebagai orang yang keras hati karena keputusannya yang logis. Keunikan inilah yang membuat seorang ENTJ menjadi MBTI terlangka ke-2 di dunia setelah INFJ, dengan persentase sebesar 1,8% dari populasi dunia.1,2,3
Model Kepemimpinan yang Relevan: Pemimpin yang Autokratis dan Demokratis
Pemimpin yang Autokratis dan Demokratis
Pemimpin adalah seorang yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mengarahkan ataupun mengkoordinasi untuk mencapai tujuan bersama. Seorang ENTJ mampu mengambil peran kepemimpinan dalam berbagai situasi, karena merupakan pemimpin dengan gaya kepemimpinan campuran antara autokratis dan demokratis. Gaya kepemimpinan autokratis merupakan gaya kepemimpinan yang memusatkan segala keputusan dan kontrol secara sepenuhnya. Pemimpin autokratis sangat fokus terhadap efisiensi dan tujuan, serta cenderung cepat dalam mengambil keputusan, karena kelogisan dan otoritas yang terpusat.4 Meskipun demikian, seorang ENTJ dapat menempatkan diri pada situasi dimana memerlukan masukan-masukan dari anggota tim, meskipun pengambilan keputusan tetap berdasarkan logika dan data. Hal ini sejalan dengan tipe kepemimpinan yang demokratis, yang memedulikan partisipasi kolektif dalam pengambilan keputusan. Seorang ekstrovert mampu menempatkan dirinya dalam lingkup sosial dengan baik, sehingga sebagai pemimpin, mereka dapat mengkoordinasi dengan memberikan motivasi dan inspirasi kepada tim mereka untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Kemampuan pengambilan keputusan yang baik dari seorang ENTJ dapat menyeimbangkan kedua komponen autokratis dan demokratis, sehingga tercipta keseimbangan antara kreativitas, kelogisan, dan efisiensi.5
Strategi ENTJ sebagai Komando Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
Pemimpin di fasilitas kesehatan harus mampu menerapkan model leadership autokratis dan demokratis yang cerdas agar dapat mengatasi tantangan-tantangan yang terjadi. Tantangan kesehatan yang terjadi saat ini adalah dalam penanganan kasus TB-HIV. Infeksi dari bakteri Mycobacterium tuberculosis merupakan infeksi oportunistik kedua yang paling banyak ditemukan pada kasus HIV/AIDS, terutama di Indonesia.6 Sehingga, penanganan TB-HIV perlu ditangani secara profesional dengan menerapkan implementasi model kepemimpinan sesuai dengan kepribadian INTJ terutama dalam fasilitas tingkat pertama di wilayah Puskesmas X.
Model kepemimpinan autokratis yang dapat diterapkan adalah pengambilan keputusan yang cepat dan tepat, serta kordinasi yang jelas dan menyeluruh. Hal ini disebabkan karena penanganan HIV secara keseluruhan memutuhkan pengambilan keputusan yang cepat karena merupakan penyakit infeksius yang berbahaya. Namun, secara bersamaan, kepemimpinan yang demokratis juga sangat diperlukan, terlebih dalam program-program penanggulangan yang sangat membutuhkan kerja sama dari tim dan komunikasi 2 arah dari pemimpin maupun anggota.
Advokasi
Penanganan TB-HIV pada fasilitas kesehatan tingkat pertama memerlukan kemampuan pengambilan keputusan dengan efisiensi dan kreativitas yang tinggi, sehingga tipe kepemimpinan autokratis dan demokratis yang seimbang dapat digunakan. Tipe kepemimpinan ini dapat diterapkan dalam pengambilan keputusan sulit, misalnya apabila terdapat dilema terkait penyakit. Biasanya, penegakan diagnostik TB-HIV tidak mudah karena gejala yang dialami pasien tidak sesifik. Dalam permasalahan ini, pemimpin harus menindak secara efisien dengan melakukan deteksi dini, baik terkait HIV maupun TB, sehingga pemimpin harus melakukan tindakan yang autokratis dengan mengambil tindakan cepat untuk memutuskan program-progam apa saja yang paling efisien.
Penguatan tim
Pasien yang terdiagnosa TB-HIV nantinya akan diberikan pengobatan yang sesuai dengan pedoman, sehingga pemimpin yang baik harus dapat memberikan perintah yang tepat terkait pedoman yang harus diikuti dengan efisiensi komunikasi kepada tim mereka, secara autokratis. Dapat juga memberikan pelatihan rutin bagi staff puskesmas untuk meningkatkan kompetensi mereka. Selain itu, harus ada pembuatan protokol kesehatan dan evaluasi untuk memastikan kualitas dan konsistensi dalam penanganan pasien. Kendati demikian, kondisi lapangan cenderung berubah-ubah, sehingga diperlukan adanya kreatifitas dan inovasi baru dalam penanganan. Pada saat tersebut, pemimpin harus membuka kesempatan untuk berdiskusi antar tim dengan model kepemimpinan demokrasi, sehingga program serta pengobatan terbaik dapat segera diberikan dengan maksimal.
Koordinasi lintas sektor
Pendekatan autokratis dan demokratis dapat diterapkan dalam pembangunan kerja sama dengan memfasilitasi koordinasi antar sektor, seperti sektor kesehatan, pendidikan, serta sosial. Hal ini dapat dilakukan dalam upaya pencegahan penyakit.
Kolaborasi interprofesi
Dalam penerapan prinsip demokrasi, peningkatan kolaborasi interprofesi juga cukup baik, misalnya dari dokter, perawat, departemen farmasi, departemen gizi, laboratoris, hingga sektor kebersihan. Sektor-sektor ini nantinya akan bekerja sama dalam peningkatan kualitas pelayanan. Kerjasama ke eksternal, misalnya pemerintah lokal maupun organisasi non-pemerintah dapat dilaksanakan dengan penerapan prinsip kepemimpinan tersebut. Pelayanan puskesmas yang baik akan juga akan tercapai apabila koordinasi yang tepat diberikan ke departemen-departemen yang kompeten di bidang mereka masing-masing, sehingga prinsip kepemimpinan laissez faire dapat diterapkan.
Kolaborasi interpersonal yang berkualitas dapat dicapai apabila terdapat rasa saling menghormati antar profesi, misalnya dari dokter junior terhadap perawat senior. Kebudayaan dalam profesi tertentu terkadang menjadi hambatan dalam hubugan interprofesi, namun dengan komunikasi yang baik, maka akan tercipta keharmonisan. Dalam koordinasi tim, pemimpin harus memastikan bahwa semua orang memahami kewajiban yang dimiliki dan dapat beradaptasi dengan baik.7
Monitoring dan evaluasi
Berbeda dengan tipe kepribadian lainnya, ENTJ yang memiliki tipe kepemimpinan autokratis dan demokratis sangat mengandalkan data dan pemikiran logis dalam pola pikirnya. Setiap program puskesmas yang berjalan akan dilakukan analisis data untuk penilaian kualitas dan melihat apakah tujuan program tersebut sudah tercapai atau belum. Pemikiran yang rasional sangat diperlukan dalam proses ini, sehingga seorang pemimpin dapat bertindak dengan tegas apabila terdapat kesalahan. Pribadi ENTJ cenderung tidak mentolerir kesalahan dan perfeksionis, sehingga mereka akan berusaha mewujudkan program yang sesempurna mungkin dengan menerapkan prinsip autokratis.
Upaya mengatasi tantangan dan peluang yang mungkin terjadi
Dalam pelaksanaannya, pasti terdapat berbagai tantangan utama yang mungkin tibul adalah mengenai komunikasi dan sumber daya. Permasalahan koordinasi yang kompleks sangat mungkin terjadi, mengingat adanya berbagai sektor dan profesi yang mengaruskan komunikasi efektif. Apabila koordinasi tidak dilakukan dengan maksimal, akan timbul bebagai kesalahpahaman yang dapat berisiko fatal, atau bahkan dapat mengancam nyawa pasien. Sistem ketenagakerjaan juga berisiko mengalami kekurangan karena puskesmas juga merupakan salah satu fasyankes yang cukup sibuk. Tantangan pendanaan yang mungkin terjadi juga harus disiapkan.
Meskipun begitu, terdapat berbagai upaya antisipatif yang dapat diterapkan oleh seorang pemimpin, yaitu dengan melakukan pelatihan rutin dan berkala. Pelatihan ini akan membantu para staff untuk mengerti tugasnya masing-masing sehingga dapat mengasah kemampuan mereka baik dalam bidang kesehatan maupun komunikasi. Selain itu, manajemen sumber daya yang efisien dapat dilakukan dengan memperhatikan prioritas-prioritas dengan pemikiran logis.
Aplikasi Model Kepemimpinan Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut
Kepemimpinan dengan model autokratis dan demokratis dapat diterapkan untuk memimpin Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL), dimana fokus utamanya adalah untuk meningkatkan mutu terutama mengenai keselamatan pasien dan petugas kesehatan. Pemimpin yang autokratis memiliki ketelitian yang tinggi, terutama dalam melakukan identifikasi pasien. Identifikasi pasien dapat melalui identitas, serta penanda-penanda seperti gelang maupun pin, yang merupakan benda yang cukup sederhana. Meskipun begitu, ketelitian dari autokratis dan kepekaan dari demokratis akan sangat diperlukan agar keamanan dan keselamatan pasien baik. Tidak hanya pasien, keselamatan dari tenaga kesehatan juga perlu diperhatikan demi terjaganya struktur organisasi yang telah ditentukan. Dalam penanganan penyakit menular maupun tidak menular, diperlukan adanya kerja sama antar sektor dan ketertiban dari seluruh staff rumah sakit dalam menggunakan alat pelindung diri (APD) serta penerapan protokol kesehatan lain. Pemimpin harus menerapkan model autokratis, dimana komando yang tegas harus diberikan demi menjaga keselamatan tenaga kesehatan maupun staff rumah sakit.
Komunikasi dari seorang pemimpin autokratis adalah komunikasi efektif dengan menggunakan teknik SBAR (Situation, Background, Assesment, Recommendation), dimana kedua model baik autokratis dan demokratis diperlukan untuk penilaian secara cepat kondisi dan informasi yang terjadi pasien. Teknik SBAR dapat dilakukan untuk pengkajian pasien dengan mempertimbangkan saran-saran dokter/perawat lainnya, serta mendiskusikan apa yang harus dilakukan untuk menatalaksana pasien dengan menggunakan teknik komunikasi yang baik.
Tantangan yang mungkin terjadi di FKTL adalah kasus-kasus pasien akan cenderung lebih rumit. Selain itu, sarana serta sumber daya yang dibutuhkan akan cenderung lebih kompleks dibandingkan layanan tingkat pertama, koordinasi terkait efektifitas dan pengelolaan sumber daya akan cenderung lebih kompleks. Permasalahan terkait identitas pasien, misalnya resusitasi pada pasien DNR yang disebabkan oleh kurangnya ketelitian juga sangat mungkin terjadi. Oleh sebab itu, seorang pemimpin yang visioner harus melakukan pencegahan dengan melakukan pelatihan rutin, memberikan edukasi serta motivasi agar semua staff dapat melakukan tugasnya dengan baik. Selain itu, dilakukan program inovasi yang lebih mengedepankan teknologi agar dapat meningkatkan kecepatan penyembuhan pasien, sehingga dapat mencegah kekurangan sumber daya. Pemimpin juga harus menegaskan mengenai bahaya dari tindakan yang tidak teliti, sehingga para staff dapat memiliki kesadaran yang tinggi tak terkecuali mengenai hal-hal yang kecil sekalipun.
Kesimpulan
Kepribadian ENTJ merupakan kepribadian yang cukup langka, yang memiliki sifat kepemimpinan autokratis dan demokratis sehingga merupakan seorang pemimpin yang unggul. Seorang ENTJ mampu menerapkan sifat kepemimpinannya pada fasilitas kesehatan tingkat pertama dengan strategi advokasi, penguatan tim, koordinasi lintas sektor, kolaborasi interprofesional, monitoring serta evaluasi. Pengaplikasian model kepemimpinan pada fasilitas kesehatan tingkat lanjut dapat dilakukan dengan menggunakan strategi yang efektif serta kemampuan komunikasi yang baik. Model kepemimpinan autokratis dan demokratis yang diterapkan secara seimbang dapat memberikan hasil yang baik terutama dalam bidang kesehatan, karena pengambilan keputusan yang cepat, tepat, kreatif, dan visioner dapat mengantisipasi terjadinya kesalahan dan risiko yang mungkin terjadi. Saya sebagai kepribadian ENTJ akan mengambil peranan besar dalam kepemimpinan dengan penerapan strategi-strategi kepemimpinan tersebut.
Daftar Pustaka:
- Inc M at C com. How Rare is Your Personality Type? [Internet]. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://www.careerplanner.com/MB2/TypeInPopulation.cfm
- Myers-Briggs Type Indicator: ENTJ. Univ Sask. 2020.
- 16 Personalities [Internet]. [cited 2024 Jul 7]. Kepribadian ENTJ (Komandan). Available from: https://www.16personalities.com/id/kepribadian-entj
- Binus University. Autocratic Leadership [Internet]. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://psychology.binus.ac.id/2021/12/20/autocratic-leadership/
- LSPR Institute. Gaya Kepemimpinan Demokratis dan Contohnya [Internet]. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://www.lspr.ac.id/gaya-kepemimpinan-demokratis-dan-contohnya/
- Cahyawati F. Tatalaksana TB pada Orang dengan HIV/AIDS. 2018;45(9).
- Weller JM, Barrow M, Gasquoine S. Interprofessional collaboration among junior doctors and nurses in the hospital setting: Interprofessional collaboration. Med Educ. 2011 May;45(5):478–87.
Komentar
Posting Komentar