“ Membangun Harmoni Tim melalui Gaya Kepemimpinan Demokratis ”

 Nama : Gabriella Valleria Takimai

NIM : 21.P1.0001


“ Membangun Harmoni Tim melalui Gaya Kepemimpinan Demokratis ”




    Kepribadian ISFP (Introverted, Sensing, Feeling, Perceiving) merupakan salah satu dari 16 tipe kepribadian yang diklasifikasikan oleh Myers-Briggs Type Indicator (MBTI). Mereka membentuk sekitar 6,6% dari populasi umum, dengan angka perincian mencatat sekitar 7,5% untuk wanita dan 5,5% untuk pria. ISFP sering dianggap sebagai individu yang tenang, fleksibel, dan sangat peka terhadap keindahan estetika. Mereka adalah individu introvert yang cenderung lebih suka menyendiri atau berinteraksi dalam kelompok kecil, namun tetap perhatian, damai, dan peka terhadap kebutuhan orang lain. Mereka cenderung menikmati momen-momen spontan dalam hidup dan merespons tantangan dengan respons yang cepat tanpa perencanaan terlalu banyak. Meskipun fokus pada hal-hal praktis dan nyata, ISFP juga dikenal karena kedalaman emosional mereka dan nilai-nilai pribadi yang kuat, serta kepekaan terhadap perasaan orang lain. Orang dengan preferensi ISFP adalah penolong yang praktis, senang mendengarkan dan menyediakan dukungan yang dibutuhkan oleh orang lain. Mereka cenderung merenung dan menyukai pekerjaan yang memungkinkan mereka memberi manfaat tanpa mencari sorotan.1,2 


    ISFP-A adalah salah satu tipe kepribadian yang dijelaskan dengan singkatan MBTI untuk Introverted, Sensing, Feeling, Perceiving, dan assertive. Ini menggambarkan individu yang cenderung lebih suka sendiri atau dalam kelompok kecil yang dikenal, menggunakan pengalaman sensorik untuk memahami realitas yang konkret dan detail. Dalam membuat keputusan, mereka lebih memilih berdasarkan pada nilai-nilai pribadi dan pertimbangan emosional, mencari keseimbangan antara logika dan perasaan. Terdapat tambahan "A" dalam ISFP-A menandakan tingkat assertiveness yang lebih tinggi, menunjukkan bahwa mereka memiliki keyakinan diri yang kuat dalam mengekspresikan diri dan mencapai tujuan mereka. Meskipun cenderung menjadi pemikir yang introspektif, ISFP-A juga memiliki daya kreasi yang kuat dan sering menunjukkannya melalui seni dan bentuk ekspresi lainnya. Mereka adalah individu yang fleksibel, mudah menyesuaikan diri dengan perubahan, dan biasanya enggan terikat dengan struktur yang ketat atau aturan yang membatasi. 3 



Model Kepemimpinan ISFP-A


    ISFP-A, atau yang juga dikenal sebagai Adventurer dalam model MBTI, memiliki preferensi kepribadian yang mencerminkan sensitivitas, fleksibilitas, dan keinginan untuk mempertahankan harmoni. Tipe kepemimpinan ISFP-A (Adventurer) cenderung cocok dengan gaya kepemimpinan yang demokratis dan kadang-kadang karismatik, bergantung pada karakteristik individu. 


  • Gaya Kepemimpinan Demokratis:

    Gaya kepemimpinan demokratis, yang mendorong kolaborasi dan partisipasi aktif dari anggota tim dalam pengambilan keputusan, sering sesuai dengan karakteristik ISFP-A yang peka terhadap perasaan orang lain dan fokus pada hubungan harmonis serta kolaborasi kolektif. ISFP-A mendengarkan dengan penuh penghargaan dan memberi kesempatan bagi semua anggota tim untuk berkontribusi, menjadikan konsensus sebagai prioritas sebelum menetapkan keputusan akhir. Pendekatan ini memungkinkan ISFP-A untuk membangun ikatan personal yang erat dengan tim, menghargai nilai-nilai individual dan pentingnya kecocokan dalam bekerja sama.4 


  • Gaya Kepemimpinan Karismatik:

    Gaya kepemimpinan karismatik menonjolkan kemampuan seseorang untuk menginspirasi dan memotivasi orang lain dengan daya tarik pribadi mereka. Meskipun tidak umum, beberapa ISFP-A memiliki sifat-sifat karismatik yang memungkinkan mereka untuk mempengaruhi orang lain secara positif. ISFP-A yang memiliki gaya kepemimpinan karismatik menonjol karena keaslian mereka. Mereka tidak memaksakan kepribadian atau gaya yang tidak sesuai dengan diri mereka sendiri, tetapi justru menarik orang lain karena kesetiaan mereka pada nilai-nilai dan keyakinan pribadi. Pemimpin karismatik ISFP-A mampu membentuk ikatan emosional yang kuat dengan anggota tim. Mereka mengambil waktu untuk memahami dan merespons perasaan orang lain, menciptakan lingkungan di mana orang merasa didengar dan didukung. Melalui kepekaan mereka terhadap emosi dan nilai-nilai, ISFP-A dapat memotivasi orang lain untuk bekerja menuju tujuan bersama dengan memberikan inspirasi dan keyakinan.4  



Pengaplikasian model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama  

Contoh Kasus : Kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di wilayah Puskesmas X


    

    Dalam mendukung kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, penerapan model kepemimpinan yang saya ambil sesuai dengan tipe kepribadian saya adalah model kepemimpinan demokratis. Menurut saya model kepemimpinan ini  dapat mendorong semua orang terlibat aktif dalam proses pengambilan keputusan, sehingga setiap pendapat dianggap penting dan didengarkan.


  • Partisipasi Aktif

    Partisipasi aktif sebagai landasan utama. Pemimpin akan mengundang kontribusi dari seluruh tim kesehatan, termasuk dokter, perawat, ahli TB-HIV, serta masyarakat umum. Pemimpin memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil didasarkan pada konsensus tim, mempertimbangkan berbagai sudut pandang yang beragam untuk memperkuat kesepakatan bersama.


  • Advokasi

    Kegiatan akan difokuskan pada advokasi yang intensif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai TB-HIV. Misalnya dengan membuat brosur atau leaflet informatif tentang TB-HIV yang mudah dipahami dan dapat disebarluaskan kepada masyarakat setempat atau pasien yang datang ke Puskesmas.


  • Penguatan Tim

    Penguatan tim menjadi fokus utama dalam model ini. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan pelatihan reguler yang berbasis pada diskusi dan konsensus antara anggota tim. Misalnya, diskusi kelompok untuk merumuskan strategi penanganan kasus TB-HIV yang kompleks, di mana setiap anggota tim dapat berkontribusi dengan sudut pandang dan solusi mereka. Pemimpin menciptakan lingkungan kerja yang inklusif di mana setiap individu merasa didukung dan termotivasi untuk berkontribusi secara maksimal.


  • Koordinasi Lintas Sektor & Kolaborasi Interprofesional

    Koordinasi lintas sektor mengacu pada kerjasama dengan berbagai pihak termasuk instansi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta untuk mencapai tujuan bersama dalam penanganan TB-HIV.  Kolaborasi interprofesional melibatkan kerjasama antara berbagai disiplin ilmu dan profesi kesehatan untuk menyediakan perawatan holistik dan terintegrasi bagi pasien TB-HIV.  Pemimpin bekerja sama dengan berbagai pihak terkait untuk memastikan alur kerja yang terkoordinasi dengan baik, meningkatkan aksesibilitas layanan kesehatan, dan meminimalkan kesenjangan dalam penanganan TB-HIV di wilayah tersebut.


  • Monitoring dan Evaluasi

    Monitoring dan evaluasi menjadi bagian integral dari model kepemimpinan ini. Pemimpin mengembangkan sistem monitoring yang efektif untuk mengukur kinerja program secara teratur. Lalu juga melakukan evaluasi berkala untuk mengevaluasi keberhasilan implementasi program, mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan, dan menyesuaikan strategi sesuai kebutuhan. Misalnya dengan membuat checklist sederhana untuk memastikan bahwa semua langkah dalam penanganan TB-HIV terdokumentasi dengan baik dan dilakukan sesuai prosedur dan Menggunakan lembar observasi atau feedback form untuk mendapatkan umpan balik dari pasien atau keluarga mereka tentang pengalaman mereka dengan layanan yang diberikan.5 



    Dalam mendukung kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X, terdapat tantangan yang mungkin dihadapi seperti kurangnya sumber daya dan dukungan, resistensi terhadap perubahan dari beberapa pihak, serta tingginya tingkat stigmatisasi terhadap TB dan HIV di masyarakat. Namun, terdapat peluang dalam dukungan yang lebih besar dari pemerintah dan lembaga donor, partisipasi aktif masyarakat dalam advokasi, dan kemajuan dalam teknologi informasi untuk meningkatkan efisiensi operasional.


    Upaya antisipatif yang dapat dilakukan yaitu Puskesmas dapat mengadopsi pendekatan inklusif dengan melibatkan komunitas dalam perencanaan dan pelaksanaan program TB-HIV, memfasilitasi dialog terbuka tentang stigma terkait TB-HIV, memperkuat jejaring kerjasama dengan lembaga pendidikan dan organisasi masyarakat, meningkatkan penggunaan teknologi untuk pemantauan dan pelaporan data secara real-time, serta menyediakan pelatihan reguler bagi staf untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola kasus TB-HIV. Pendekatan ini akan mendukung keberlanjutan dan efektivitas program kesehatan masyarakat di Puskesmas.



Pengaplikasian model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu  

Sasaran Keselamatan Pasien : Risiko Jatuh


    


Model kepemimpinan demokratif untuk meningkatkan keselamatan pasien dan petugas kesehatan melibatkan partisipasi tim dalam pengambilan keputusan. Pemimpin mengajak dokter, perawat, terapis, dan staf lainnya untuk merumuskan kebijakan dan strategi pencegahan jatuh secara kolektif. Kolaborasi antardepartemen seperti klinis, keperawatan, dan rehabilitasi ditekankan untuk mengembangkan program pencegahan jatuh yang terintegrasi. Pelatihan rutin tentang teknik pencegahan jatuh dan penggunaan peralatan keselamatan diberikan kepada staf untuk meningkatkan keterampilan mereka. Mendorong budaya di mana pelaporan insiden atau risiko jatuh dihargai untuk memungkinkan pembelajaran terbuka dari kesalahan.


Tantangan dalam Penerapan Model Kepemimpinan Demokratif:

  1. Resistensi terhadap Perubahan: Beberapa anggota tim kesehatan mungkin resisten terhadap perubahan baru dalam praktik pencegahan jatuh jika mereka merasa kurang terlibat dalam proses pengambilan keputusan.

  2. Keterbatasan Sumber Daya: Keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia dapat menjadi hambatan dalam implementasi program pencegahan jatuh yang komprehensif dan efektif.

  3. Kesadaran dan Pemahaman yang Berbeda: Tantangan dalam menyatukan pemahaman dan komitmen staf terhadap praktik keselamatan, terutama di antara mereka yang memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman yang berbeda.5 


Peluang dalam Penerapan Model Kepemimpinan Demokratif:

  1. Kolaborasi Tim yang Kuat: Model ini memfasilitasi kerjasama yang erat antardepartemen, memungkinkan pengembangan solusi pencegahan jatuh yang holistik dan terintegrasi.

  2. Peningkatan Keterlibatan dan Motivasi: Melalui partisipasi aktif dalam pengambilan keputusan, model ini dapat meningkatkan keterlibatan staf dan motivasi untuk menerapkan praktik keselamatan.

  3. Inovasi : Dukungan terhadap ide-ide baru dan inovatif dari seluruh tim dapat merangsang perkembangan solusi baru dalam pencegahan jatuh.5 


Upaya Antisipatif dalam Mengatasi Tantangan:

  1. Peningkatan Komunikasi: Menguatkan komunikasi internal antara departemen untuk membangun kesadaran kolektif tentang tujuan dan manfaat praktik keselamatan.

  2. Pelatihan dan Pendidikan: Mengembangkan program pelatihan yang terstruktur dan berkala untuk memperbarui pengetahuan staf tentang teknik pencegahan jatuh dan praktik keselamatan terbaru.

  3. Manajemen Konflik: Menerapkan pendekatan yang inklusif dalam manajemen perubahan, dengan memperlakukan resistensi sebagai peluang untuk mendengarkan dan menyesuaikan solusi yang lebih baik.5 


Kesimpulan :

    Penerapan model kepemimpinan demokratis dengan karakteristik ISFP-A dalam penanganan TB-HIV di Puskesmas X menjanjikan pendekatan yang kolaboratif dan inklusif. Hal ini tidak hanya meningkatkan efektivitas program, tetapi juga memperkuat hubungan tim dan mempromosikan keterlibatan aktif dari masyarakat. Meskipun dihadapkan pada tantangan seperti keterbatasan sumber daya, resistensi terhadap perubahan, dan stigmatisasi masyarakat terhadap TB-HIV, model ini menawarkan peluang dalam dukungan eksternal, partisipasi masyarakat, dan teknologi untuk meningkatkan hasil kesehatan secara keseluruhan.


Daftar Pustaka :

  1. Kepribadian ISFP (Petualang) [Internet]. 16Personalities. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://www.16personalities.com/id/kepribadian-isfp
  2. Karier ISFP - Pekerjaan untuk Tipe Kepribadian ISFP | MBTIonline [Internet]. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://www.mbtionline.com/en-US/MBTI-Types/ISFP/Careers
  3. Segala Hal Tentang Tipe Kepribadian ISFP | True You Journal [Internet]. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://www.truity.com/blog/personality-type/isfp
  4. Rahayu S, Kurniati I, Suryani I, Wahidin D, Muchtar HS. Hakikat Kepemimpinan dan Tipe-Tipe Kepemimpinan Pendidikan. Eduprof: Jurnal Pendidikan Islam. 2022;4(2):187-98.
  5. United Nations Development Programme (UNDP). (2018). Leadership for Health: A Framework and Action Agenda for the Global Health Sector. New York: UNDP.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader