MELIHAT ENTJ SEBAGAI SEORANG PEMIMPIN
Nama : Yohanes Kellen Wilianto
NIM : 21.P1.0004
Latar Belakang Personal
ENTJ adalah seseorang dengan tipe kepribadian yang Extraverted, Intuitive, Thinking, dan Judging. Tipe kepemimpinan ini juga dikenal dengan “komandan”. Kepribadian ini memiliki dorongan, tekad, dan pemikiran yang tajam dalam mencapai tujuannya.1 Extraverted merupakan kepribadian paling efektif dalam kepemimpinan karena dapat membangun suatu interaksi dengan baik. Interaksi ini diperlukan dalam memotivasi seseorang dalam melakukan tugasnya.2 Dalam kepemimpinan ini terdapat kelebihan dan kekurangannya. Intuitive dipahami sebagai suatu persepsi yang didasari dari pengalaman terhadap lingkunganya.3 Thinking dapat berpikir atau mengambil keputusan berdasarkan fakta dan informasi secara objektif.4 Judging merasa lebih nyaman terhadap sesuatu hal yang sudah jelas, dengan membuat rencana terlebih dahulu. Dalam tipe kepribadian ENTJ terdapat kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah efisien, energik, percaya diri, berkemampuan kuat, dan pemikir strategis. Sedangkan kekurangannya adalah keras kepala, ketidaksabaran, sombong, dan tidak dapat mengatur emosi.1
Model kepemimpinan yang relevan
Kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang dalam mengarahkan suatu kegiatan kelompok agar tercapainya tujuan bersama. Kepemimpinan sering kali dikaitkan dalam dunia bisnis, namun kepemimpinan juga sangat berguna dalam aspek layanan kesehatan.5 Tipe dalam kepemimpinan sendiri sering kali dibedakan menjadi autocratic, democratic, dan laissez-faire. Menurut saya, tipe kepemimpinan yang sesuai dengan seorang ENTJ adalah democratic. Democratic merupakan pemimpin yang satu orang mengambil kontrol dan terbuka pada setiap masukan yang ada. Pada pemimpin dengan tipe kepemimpinan ini mengandalkan musyawarah kelompok dalam pengambilan keputusan. Pemimpin ini sering melihat ke bawah dalam mengambil keputusan. Hal ini berguna untuk melihat dan menggabungkan setiap ide dan pendapat yang ada. Masukan yang ada dapat menjadi kontribusi dalam perencanaan yang lebih baik. Sehingga dalam menyelesaikan tugas ini merupakan suatu tanggung jawab setiap anggotanya. Anggota memiliki kesempatan dalam mengembangkan kapasitas yang dimilikinya melalui pengembangan ide dan kapasitas yang dimilikinya. Kebersamaan antara seorang pemimpin dan anggota juga lebih dapat dirasakan dengan hubungan yang terjalin lebih erat. Model tipe kepemimpinan democratic menunjukkan hubungan yang sebanding dengan peningkatan motivasi anggotanya.6
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV
Di Indonesia memiliki harapan untuk melakukan eradikasi Tuberkulosis (TB) dan HIV dalam tujuan mencapai pembangunan berkelanjutan pada tahun 2030. Pada keberhasilan HIV diharapkan adalah 95-95-95. Pertama 95% Orang dengan HIV (ODHIV) mengetahui status. Kedua 95% ODHIV mendapatkan pengobatan. Ketiga 95% ODHIV yang diobati mengalami supresi virus. Sedangkan pada TB menurunkan 90% menurunkan kasus kematian akibat TB.7 Salah satu cara dalam mencapainya yaitu dengan melakukan penguatan pelayanan kesehatan dasar. Kepemimpinan democratic berguna dalam mendukung kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas X. Kepemimpinan ini karena terbuka terhadap setiap masukan yang ada sehingga hal ini berguna sebagai penghubungan yang baik dalam suatu program. Kegiatan penanganan program TB-HIV. Kepemimpinan demokratis yang juga dikenal sebagai kepemimpinan partisipatif melibatkan anggota tim dalam pengambilan keputusan. Dalam konteks penanganan TB-HIV, pendekatan ini dapat memberikan manfaat besar dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam setiap langkah. Berikut adalah bagaimana setiap aspek kegiatan dapat diterapkan berdasarkan tipe kepemimpinan demokratis:
1) Advokasi
Pendekatan demokratis dapat melibatkan komunitas, pasien dan organisasi nonpemerintah dalam advokasi. Melakukan diskusi forum guna memperoleh input dari berbagai pihak tentang strategi- strategi advokasi efektif. Implementasi dapat Menggelar lokakarya dan seminar dengan melibatkan berbagai stakeholder untuk mengungkapkan pandangan mereka dan ikut serta dalam merancang pesan-pesan advokasi.
2) Penguatan tim
Pendekatan demokratis mendorong keterlibatan aktif oleh anggota tim kesehatan dalam pelatihan dan pengembangan kapasitas. Memberi kesempatan bagi mereka untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. Implementasi dengan mengadakan sesi brainstorming untuk menentukan apa yang perlu dilakukan agar tercapai hasil yang optimal dari latihan itu. Libatkan petugas kesehatan dalam merancang program pelatihan medis.
3) Koordinasi lintas sektor
Pendekatan demokratis dengan membentuk kelompok kerja yang terdiri dari perwakilan berbagai sektor. Memastikan bahwa setiap sektor diberikan kesempatan untuk mengemukakan pandangannya dan usulan. Implementasi melenggarakan pertemuan rutin yang terbuka untuk diskusi dan koordinasi lintas sektor. Gunakan sistem konsensus dalam pengambilan Keputusan.
4) Kolaborasi interprofesional
Pendekatan demokratis memfasilitasi komunikasi terbuka dan penghormatan saling pada profesi kesehatan yang beragam. Mendorong kolaborasi dan tim kerja melalui dialog terbuka. Implementasi mengadakan tahapan pertemuan berkala yang memungkinkan masing-masing profesional menjelaskan perkembangan dan tantangan yang mereka hadapi, serta perlu mencari solusinya bersama-sama.
5) Monitoring
Pendekatan Demokratis: Libatkan semua anggota tim dan pemangku kepentingan dalam proses monitoring. Adakan pertemuan rutin untuk membahas data yang dikumpulkan dan mendapatkan masukan dari semua pihak yang terlibat. Implementasi dengan membuat kelompok kerja yang terdiri dari perwakilan berbagai pihak (tenaga kesehatan, pasien, komunitas, organisasi non-pemerintah) dan gunakan alat monitoring yang transparan dan mudah diakses oleh semua anggota tim.
6) Evaluasi
Pendekatan Demokratis: Libatkan semua pemangku kepentingan dalam proses evaluasi untuk memastikan bahwa semua suara didengar dan diperhitungkan. Implementasi membentuk tim evaluasi yang terdiri dari perwakilan berbagai pihak terkait dan mengadakan sesi evaluasi berkala (misalnya setiap tiga bulan atau enam bulan) di mana semua pemangku kepentingan dapat memberikan umpan balik dan menyarankan perbaikan.
Tantangan dan peluang yang mungkin dihadapi dalam pencapaian indikator penurunan beban TB:7
1) Tidak semua staf di layanan HIV mendapat informasi tentang kegiatan kolaboratif TB dan HIV. Pergantian staf yang tinggi dan terbatasnya dana pelatihan TB-HIV bagi staf di tingkat negara bagian, kabupaten/kota, dan fasilitas kesehatan.
2) Penerapan skrining tuberkulosis di layanan PDP telah menyebabkan beberapa dokter mempertanyakan efektivitas penggunaan kriteria tanda dan gejala dalam memberantas tuberkulosis, dan skrining gejala belum dilaksanakan oleh semua pekerja HIV/AIDS belum digunakan secara rutin.
3) Pengumpulan obat-obatan untuk beberapa orang HIV-positif, terutama kelompok kunci, dilakukan oleh anggota keluarga, teman, dan orang HIV-positif yang berpindah tempat atau tidak terjangkau, sehingga tes tuberkulosis tidak mungkin dilakukan.
4) Komitmen pihak berwenang terhadap penyelenggaraan layanan TBC-HIV, termasuk pencatatan dan pelaporan kegiatan TBC-HIV di lapangan, turut menyebabkan rendahnya cakupan kegiatan. Beban kerja polisi yang berat dan minimnya pengawasan terhadap program menciptakan hambatan dalam pencatatan dan pelaporan.
5) Tidak semua ODHIV diberikan TPT karena tidak semua petugas kesehatan dan petugas penjangkau/pendukung ODHA mendapat sosialisasi melalui TPT. Selain itu, dokter sedang mempertimbangkan untuk memberikan kembali TPT kepada orang yang terinfeksi HIV 3 hingga 5 tahun setelah menerima TPT.
6) Terbatasnya akses dan jumlah layanan yang menawarkan pengujian molekuler cepat (TCM) dan beberapa alat TCM tidak berfungsi dengan baik. Proses rujukan pemeriksaan TCM dan hasil pemeriksaan TCM lama yang menimbulkan permasalahan di lapangan.
Tantangan dan peluang yang mungkin dihadapi dalam pencapaian indikator penurunan beban HIV:7
1) Kesiapan petugas dalam melakukan tes HIV dikarenakan belum terlatih dalam melakukan pemeriksaan
2) Kelengkapan data pasien di pelayanan kesehatan dari sumber yang berbeda sehingga menimbulkan perbedaan hasil pencapaian.
3) Pelatihan, pemantauan, dan evaluasi yang diberikan masih belum komprehensif dan dilaksanakan terpisah antar program-program.
Antisipasi yang dapat diberikan dalam menghadapi tantangan dan peluang yang ada:
1) Membuat tim yang saling terhubung antar program yang ada. Dengan setiap tim terdapat ketua koordinator yang selalu memberikan progres dalam tim.
2) Melakukan pelatihan skrining TB dan HIV pada setiap petugas kesehatan yang ada.
3) Melakukan pendataan data pasien yang baik dengan membuat sistem data pasien yang saling terkoneksi, sehingga dimanapun pasien berada tetap dapat diakses.
4) Mengetahui gejala klinis pasien atau mengetahui pemeriksaan dasar dengan baik sehingga tidak sangat ketergantungan terhadap alat diagnosis yang ada.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)
Implementasi model kepemimpinan democratic dalam peningkatan mutu terutama keselamatan pasien dan petugas kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat lanjut dalam aspek komikasi efektif. Komunikasi merupakan salah satu hal yang penting dalam mempengaruhi tingkah laku manusia. Dalam penerapan model kepemimpinan ini, pasien dan petugas kesehatan dapat saling terbuka satu sama lain melalui komunikasi efektif. Komunikasi efektif dapat diartikan sebagai komunikasi yang berhasil dalam mencapai tujuan, dapat diterima, dan mengubah perilaku melakukan suatu aksi. Komunikasi efektif memberikan keuntungan seperti membantu kita dalam membantu seseorang, memecahkan masalah, membantung trust dan respect, membangun suatu lingkungan yang menyenangkan, dan meningkatakn hubungan dengan orang lain. Dalam komunikasi efektif dikenal dengan 7 C yang dapat mendukung dalam berkomunikasi sebagai berikut:
1) Completeness
Informasi yang diberikan harus lengkap. Kelengkapan informasi bisa didasarkan atas 5W dan 1H
2) Conciseness
Tidak menggunakan kata-kata yang bertele-tele (penggunaan kata yang berlebih)
3) Consideration
Memperhatikan sudut pandang orang lain dalam berbicara. Meliputi pola pikir, tingkat pendidikan, kebutuhan, dan kepentingan.
4) Concreteness
Komunikasi yang didukung dengan fakta-fakta yang ada.
5) Clarity
Menggunakan kata-kata yang tepat dan dapat menimbulkan persepsi lain.
6) Courtesy
Memiliki tata krama yang baik dalam cara penyampaian pembicaraan.
7) Correctness
Pesan yang disampaikan harus benar dari segi tata bahasa, waktu, dan sasaran.
Tantangan yang mungkin yang dihadapi:
1) Kompleksitas informasi
2) Bahasa dan budaya
3) Keterbatasan waktu
Antisipasi yang dapat dilakukan:
1) Mempelajari informasi sehingga dapat memberikan informasi dengan cara yang mudah dipahami oleh semua pihak
2) Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga dapat dipahami oleh semua orang
3) Menggunakan waktu dengan sebaik mungkin sehingga dapat berjalan dengan baik.
Kesimpulan
Tipe kepribadian ENTJ memiliki potensi besar dalam kepemimpinan, terutama dalam lingkungan layanan kesehatan, karena mereka memiliki dorongan, tekad, dan kemampuan berpikir strategis yang kuat. Model kepemimpinan demokratis sangat cocok bagi seorang ENTJ, karena mereka terbuka terhadap masukan dan mendorong kolaborasi dalam pengambilan keputusan. Dalam penanganan lintas program TB-HIV di Indonesia, pendekatan demokratis dapat meningkatkan advokasi, penguatan tim, koordinasi lintas sektor, kolaborasi interprofesional, serta proses monitoring dan evaluasi. Meski demikian, tantangan seperti pergantian staf, pelatihan yang terbatas, dan kurangnya komitmen dari pihak berwenang harus diantisipasi dengan pelatihan yang komprehensif, sistem data pasien yang terintegrasi, serta meningkatkan kemampuan deteksi klinis. Di fasilitas kesehatan tingkat lanjut, komunikasi efektif berdasarkan prinsip 7 C dapat memperkuat hubungan antara pasien dan petugas kesehatan, meskipun menghadapi tantangan seperti kompleksitas informasi dan keterbatasan waktu.
DAFTAR PUSTAKA
1. ENTJ Personality (Commander) | 16Personalities [Internet]. [cited 2024 Jul 5]. Available from: https://www.16personalities.com/entj-personality
2. Zhang J, Yin K, Li S. Leader extraversion and team performance: A moderated mediation model. PLOS ONE [Internet]. 2022;17(12). Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9733865/
3. Zander T, Öllinger M, Volz KG. Intuition and Insight: Two Processes That Build on Each Other or Fundamentally Differ? Front Psychol [Internet]. 2016;7. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5020639/
4. Nature: Thinking (T) vs. Feeling (F) | 16Personalities [Internet]. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://www.16personalities.com/articles/nature-thinking-vs-feeling
5. Al-Sawai A. Leadership of Healthcare Professionals: Where Do We Stand? Oman Med J. 2013 Jul;28(4):285–7.
6. Commerce Department, Polytechnic of Tuanku Sultanah Bahiyah, Kulim Hi-tech Park, 09000, Kedah, Malaysia, Jaafar SB, Mamat Zambi N, Commerce Department, Polytechnic of Tuanku Sultanah Bahiyah, Kulim Hi-tech Park, 09000, Kedah, Malaysia, Fathil NF, Commerce Department, Polytechnic of Tuanku Sultanah Bahiyah, Kulim Hi-tech Park, 09000, Kedah, Malaysia. Leadership style: Is it autocratic, democratic or laissez-faire? ASEAN J Manag Bus Stud. 2021 Apr 20;3(1):1–7.
7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Rencana Aksi Nasional Kolaborasi TB-HIV 2020-2024. 2021;
.png)
.jpeg)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar