Mampukah seorang introvert menjadi pemimpin program outreach TB-HIV ?!?!

Nama: Cyntia Grace Allobua

NIM: 21.P1.0019

“Mampukah seorang introvert menjadi pemimpin program outreach TB-HIV”

Perkenalkan nama saya Cyntia Grace, karakteristik personal saya berdasarkan assessment MBTI personality adalah INFJ-T (Introverted, Intuitive, Feeling, Judging, Turbulent). Kepemimpinan yang penuh perhatian dan mendalam kerap kali menjadi ciri khas INFJ-T, yang sering dikenal sebagai “Advokat” dalam kepribadian MBTI.1 INFJ-T merupakan pribadi yang cenderung lebih introvert, intuitif, perasa, penilai dan turbulen. Setelah merefleksikan dengan diri saya sendiri, saya merasa hampir sesuai dengan pribadi saya sendiri seperti kepribadian yang cenderung introvert, saya lebih suka berpikir mendalam serta menciptakan suasana bekerja yang nyaman dan mendukung. Pola pikir yang intuitif, membuat saya untuk selalu melihat gambaran besar serta merancang strategi jangka panjang untuk masa depan. Kemudian memiliki sifat perasa kadang membuat saya sulit untuk berpikir secara rasional, namun saya berusaha mengimbanginya dengan menjadi tegas ketika diperlukan dan menetapkan batasan yang jelas namun tetap menghargai orang lain. Kemudian pribadi judging dan turbulensi juga menjadi sisi lemah dalam diri saya, dimana saya menjadi cemas dan ragu dalam merencanakan atau menyusun strategi, namun hal ini mendorong saya untuk terus belajar beradaptasi dan fleksibel dengan sebuah perubahan serta memahami tantangan yang saya hadapi dan ketika saya menjadi pemimpin. Sebagai pemimpin saya berusaha mendukung dan memberi bimbingan dalam perkembangan tim. Kesejahteraan anggota tim serta lingkungan kerja yang harmonis dan inklusif merupakan fokus saya dalam memimpin.

Model kepemimpinan yang transformasional sangat relevan dengan karakteristik saya sebagai INFJ-T. Kepemimpinan transformasional adalah salah satu gaya kepemimpinan modern yang mampu mengubah visi misi menjadi aksi dan dilakukan dengan membuat visi yang jelas, memotivasi anggota tim menjadi kreatif, inovatif, membangun budaya belajar dan membangun komunikasi yang efektif. Sebagai seorang pemimpin transformasional, saya berusaha menginspirasi dan memotivasi anggota tim melalui visi jangka panjang dan tujuan yang jelas. Kepemimpinan yang efektif melibatkan penciptaan hubungan yang kuat dan penuh empati dengan anggota tim, sehingga dapat memahami kebutuhan dan membantu mereka untuk mencapai potensi yang mereka miliki.2,3 

Kepemimpinan transformasional yang selaras dengan karakteristik seorang INFJ-T yaitu memiliki visi yang jelas, memiliki empati dan rasa peduli, pengambilan keputusan yang didasarkan pada nilai dan prinsip moral yang kuat dengan mempertimbangkan dampaknya bagi semua pihak yang terlibat. Melalui karakteristik ini memungkinkan saya untuk menjadi pemimpin yang inspiratif, empatik dan berfokus pada pengembangan anggota tim serta pencapaian tujuan jangka panjang. Saya berusaha menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan adil serta penuh motivasi bagi tim untuk mencapai potensi penuh mereka dengan cara bermakna dan berprinsip.

        

Dalam mendukung kegiatan lintas program TB-HIV di wilayah Puskesmas X dengan model kepemimpinan transformasional, saya berfokus pada inspirasi dan motivasi anggota tim dengan visi dan tujuan yang jelas. Penanganan TB-HIV tentu memerlukan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif, dimana semua pemangku kepentingan berperan aktif dalam upaya advokasi, penguatan tim, koordinasi lintas sektor, kolaborasi interprofesional, monitoring dan evaluasi. Sebagai pemimpin saya akan menyuarakan pentingnya penanganan TB-HIV kepada masyarakat dan pihak yang terlibat, lalu dengan visi yang kuat saya akan menginspirasi perubahan perilaku dan kebijakan yang mendukung upaya penanganan TB-HIV. Penguatan tim juga diperlukan untuk memastikan tim memiliki dukungan untuk bekerja secara efektif. Dukungan pada tim dapat berupa pelatihan dan pengembangan keterampilan serta kebebasan anggota tim dalam menyuarakan pendapatnya.

Koordinasi lintas sektor juga diperlukan dalam penanganan kasus TB-HIV karena penyakit ini merupakan penyakit yang menular dan harus diselesaikan bersama. Pentingnya komitmen bersama dengan lintas sektor dalam upaya penemuan, pemantauan pengobatan dan wajib lapor pasien. Sehingga sebagai pemimpin saya akan melakukan kerjasama dengan lembaga atau komunitas yang berkaitan erat dengan penanganan TB-HIV di Indonesia. Kerjasama dengan lembaga atau komunitas seperti ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) serta LSM yang bergerak dengan bidang TB-HIV merupakan langkah penting dalam penanggulangan penyakit ini. Kolaborasi dengan dua lembaga ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Melalui komunitas ODHA dapat dilakukan pendekatan dengan pasien dan memberikan dukungan moral, sosial dan edukasi kepada pasien sementara melalui LSM yang berkaitan dengan TB-HIV dapat memberikan pelayanan medis, bantuan pengobatan dan program pencegahan yang komprehensif. Selain itu, kerjasama dengan peneliti juga sangat krusial dalam upaya penemuan dan pengembangan metode diagnostik serta pengobatan yang lebih inovatif dan efisien. Penelitian kolaboratif ini memungkinkan pengumpulan data yang lebih luas dan mendalam, sehingga dapat mengidentifikasi pola penyebaran penyakit dan efektivitas intervensi medis secara lebih akurat. Dengan sinergi ini, diharapkan dapat tercapai penurunan angka kejadian TB-HIV serta peningkatan kualitas hidup pasien secara signifikan. Aspek penting lainnya adalah kolaborasi interprofesional, pada aspek ini saya akan melibatkan kerjasama antara dokter, perawat, konselor serta perwakilan dari tiap lembaga atau komunitas ODHA, LSM, peneliti dan petugas kesehatan lainnya sehingga dapat memberikan perawatan yang komprehensif dan holistik kepada pasien TB-HIV. Langkah terakhir yang akan saya sebagai pemimpin adalah melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala serta menilai efektivitas program penanganan TB-HIV sehingga kita dapat terus meningkatkan strategi dan pendekatan yang digunakan.4

            Pelaksanaan penanganan TB-HIV tentunya akan menghadapi berbagai kemungkinan tantangan, sehingga diperlukan kerjasama dan komunikasi antar tim yang baik. Kerjasama dengan lintas sektor pun tentu akan memiliki berbagai tantangan. Tantangan kerjasama dengan ODHA dalam penanganan TB-HIV ini dapat berupa stigma dan diskriminasi yang masih sangat banyak terjadi di masyarakat sehingga mereka menjadi lebih tertutup dan tidak mau berpartisipasi dalam program penanganan yang ada. Untuk mencegah hal ini perlu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat melalui kempanye edukasi untuk mengurangi stigma dan diskriminasi serta menciptakan lingkungan yang mendukung serta inklusif bagi ODHA. Keterbatasan akses ke layanan kesehatan juga sering menjadi hambatan seperti jarak yang jauh, biaya yang tinggi atau kurangnya informasi.Hal ini dapat diatasi dengan mengadakan layanan kesehatan keliling atau program outreach  untuk membawa layanan kesehatan lebih dekat dengan komunitas dan menyediakan informasi yang mudah diakses mengenai layanan yang tersedia.Hambatan sosial dan budaya dapat berpengaruh dalam pelaksanaan penanggulangan TB-HIV ini dimana adanya pandangan sosial dan budaya negatif terhadap penderita TB-HIV. Upaya yang dapat dilakukan dengan mengadakan program edukasi masyarakat dan pelatihan yang sensitif budaya untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan terhadap ODHA di masyarakat.4,5

Bukan hanya dengan ODHA, tentu kerjasama dengan LSM pun tentunya akan mengalami tantangan. Koordinasi yang rumit karena kerjasama dengan LSM sering melibatkan banyak pihak sehingga menyelaraskan jadwal dan prosedur pelaksanaan dapat menjadi hambatan. Upaya dalam mengatasi permasalahan ini dengan melakukan pertemuan rutin dan membentuk tim koordinasi yang khusus untuk mengelola kerjasama dan menyelaraskan tujuan serta kegiatan antara LSM dan pemangku kepentingan lainnya.Setiap LSM mungkin memiliki visi misi dan pendekatan yang berbeda sehingga perlu dilakukan diskusi awal untuk menyelaraskan visi dan misi serta kesepakatan tujuan bersama.Komunikasi yang tidak efektif antara LSM dan pemangku kepentingan dapat menyebabkan miskomunikasi dan ketidakpahaman yang berdampak pada pelaksanaan program.Bukan hanya pada ODHA, tantangan sosial dan budaya juga dapat dialami LSM karena harus beradaptasi dengan nilai sosial dan budaya lokal yang mungkin berbeda dengan pendekatan meraka.Keberlanjutan dana juga merupakan salah satu tantangan yang dapat dialami dalam setiap program, sehingga perlu untuk membangun kemitraan strategis  dengan berbagai pihak untuk diversifikasi sumber dana dan mencari pendanaan jangka panjang yang lebih stabil.Peluang kerjasama dengan ODHA dan LSM dapat meningkatkan kualitas perawatan dengan menyediakan dukungan holistik yang mencakup aspek medis, psikososial dan edukatif.Melalui pelatihan dan pengembangan keterampilan, kerjasama ini dapat meningkatkan kapasitas tim kesehatan dalam penanganan TB-HIV. Dengan dukungan LSM, upaya advokasi dapat diperkuat untuk mempengaruhi kebijakan dan meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan bagi ODHA.

Sesuai dengan model kepemimpinan yang saya pilih yaitu  model kepemimpinan transformasional saya akan berfokus pada dukungan peningkatan mutu dan keselamatan pasien serta petugas kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL), dengan fokus pada komunikasi efektif sebagai salah satu dari enam sasaran keselamatan pasien karena komunikasi yang efektif sangat penting untuk mencegah kesalahan medis, memastikan informasi yang tepat disampaikan dengan jelas dan tepat waktu, serta meningkatkan koordinasi antar tim kesehatan. Model ini menekankan inspirasi dan motivasi anggota tim melalui visi yang jelas dan tujuan yang bermakna, serta mendorong perubahan positif melalui dukungan, pelatihan, dan pengembangan keterampilan. Tantangan yang mungkin dihadapi meliputi resistensi terhadap perubahan, keterbatasan teknologi, dan hambatan bahasa serta budaya. Namun, peluang yang ada termasuk peningkatan kualitas perawatan, pengembangan profesional, dan penciptaan budaya keselamatan. Upaya antisipatif meliputi menyediakan pelatihan berkelanjutan dalam keterampilan komunikasi, mengadopsi teknologi komunikasi yang tepat, membangun budaya umpan balik yang konstruktif, serta menggalakkan kampanye edukasi untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya komunikasi efektif dalam keselamatan pasien.

 

 

 

 

Referensi

  1.  Advokat (INFJ-T) | 16Personalities [Internet]. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://www.16personalities.com/id/hasil/infj-t/x/4lwled2rw?utm_source=results-turbulent-advocate&utm_medium=email&utm_campaign=id&utm_content=view-results
  2. Choi SL, Goh CF, Adam MBH, Tan OK. Transformational leadership, empowerment, and job satisfaction: The mediating role of employee empowerment. Hum Resour Health. 2016 Dec 1;14(1).
  3. Bass BM, Riggio RE. Transformational leadership: Second edition. Transformational Leadership: Second Edition. 2005 Oct 5;1–282.
  4. Kesehatan K, Indonesia R. Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia.
  5. Rizaldi R, Wibowo P, Ilmu Pemasyarakatan P, Kunci K, Pemsyarakatan U. Strategic Steps To Prevent And Control Tuberculosis In The Technical Implementing Unit. Jurnal Pendidikan Kesehatan [Internet]. 2020 Oct 25 [cited 2024 Jul 7];9(2):175–83. Available from: https://ojs.poltekkes-malang.ac.id/index.php/jpk/article/view/1927

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader