Leaders Have Rules

Nama: Denny Sukro Handoyo

NIM: 21.P1.0033



ISTJ-T (Introverted, Sensing, Thinking, Judging, Turbulent), dikenal sebagai individu yang cenderung menyukai interaksi sosial yang lebih sedikit, tetapi mendalam dan bermakna, bersifat pragmatis, rendah hati dan memiliki perhatian besar terhadap kondisi yang sedang terjadi atau sangat berpotensi terjadi. Mereka berfokus pada objektivitas dan rasionalitas sehingga kerap mengesampingkan emosi demi logika. Seorang yang memiliki sifat tegas, cermat, sangat teratur, dan sangat menghargai kejelasan, keteraturan dan perencanaan daripada spontanitas. ISTJ-T memiliki sifat sadar diri dan peka. mereka merasakan desakan dalam emosi dan cenderung memiliki hasrat untuk berkembang.1

Model kepemimpinan transaksional sangat relevan dengan karakteristik ISTJ-T yang terstruktur, disiplin, dan berorientasi pada hasil konkret. Model ini mengedepankan pertukaran antara pemimpin dan anggota tim berdasarkan aturan, struktur, dan tujuan yang jelas. Karakteristik ISTJ-T akan menerapkan aturan dan prosedur yang konsisten untuk memastikan bahwa setiap anggota tim memahami harapan dan tanggung jawab mereka secara jelas dan akan membangun sistem insentif yang adil dan transparan berdasarkan kinerja dan pencapaian, memberikan motivasi bagi anggota tim untuk mencapai target yang ditetapkan dengan efektif.2

Model kepemimpinan transaksional dengan kepribadian ISTJ-T dalam upaya mendukung kegiatan lintas program TB-HIV di wilayah fasilitas tingkat pertama akan berfokus dalam menciptakan lingkungan kerja yang terorganisir sesuai prosedur dan pencapaian target yang jelas, sambil memberikan dukungan dan penghargaan yang diperlukan bagi tenaga kesehatan. Misalnya membuat sebuah SOP mengenai program skrining pada pasien TB-HIV dan memberikan bonus atau penghargaan kepada tim atau individu yang mencapai target skrining dan pengobatan TB-HIV secara efektif. Penerapan model kepemimpinan ini dalam FKTP mencakup:

a.     Advokasi

Advokasi bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan dari berbagai sektor. Misalnya mengadakan mengadakan pertemuan dengan pemimpin komunitas, organisasi non-pemerintah, dan pejabat pemerintah untuk membahas pentingnya program TB-HIV serta Menyampaikan informasi melalui media massa dan sosial untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

b.     Penguatan Tim

Penguatan tim bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi tenaga kesehatan dalam menangani TB-HIV. Misalnya membentuk tim khusus yang terdiri dari dokter ahli TB, dokter ahli HIV, perawat, pekerja sosial dan mengadakan pelatihan rutin untuk memastikan pelayanan yang komprehensif.

c.     Koordinasi Lintas Sektor

Mengadakan rapat koordinasi secara rutin dengan berbagai pemimpin organisasi dan komunitas untuk membahas perkembangan dan tantangan serta mencari solusi bersama.

d.     Kolaborasi Interprofesional

Mengembangkan protokol bersama yang mengatur peran dan tanggung jawab masing-masing profesi dalam penanganan TB-HIV.

e.     Monitoring

Mengumpulkan data secara berkala melalui survei, wawancara, dan laporan lapangan untuk memastikan bahwa program berjalan sesuai dengan rencana dan menggunakan laporan sebagai bahan evaluasi progam.

f.      Evaluasi

Melanjutkan program yang berjalan baik dan memperbaiki program yang dirasa kurang baik sesuai dengan hasil laporan.

Dalam melakukan program yang telah disusun, tantangan dan hambatan akan selalu muncul. Tantangan yang mungkin muncul seperti: Timbulnya stigma terhadap pasien TB dan HIV, sehingga menghalangi pasien dalam melakukan pemeriksaan dan pengobatan. Namun dapat dilakukan kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam upaya mengurangi stigma dan diskriminasi misalnya melalui media sosial atau platform lain. Terbatasnya dana, tenaga kesehatan, dan peralatan menyebabkan terhambatnya pelaksanaan program.3 Hal ini dapat diatasi dengan menyusun rencana kegiatan menyeluruh yang didalamnya telah mencakup pertimbangan mengenai pendanaan dan sumber daya lainnya. Koordinasi Lintas Sektor yang Kurang Efektif. Tantangan dalam koordinasi antara berbagai sektor dan profesi dapat menghambat penanganan yang terpadu. Sebagai upaya mencegah hal ini terjadi dapat menggunakan telekomunikasi.

Setiap kegiatan yang dilaksanakan memiliki tantangan dan peluangnya masing-masing, adapun peluang yang mungkin muncul: Penelitian dan Inovasi, Penelitian terus mengembangkan metode baru untuk diagnosis dan pengobatan TB-HIV. Kolaborasi dengan organisasi komunitas, Melibatkan komunitas dalam perencanaan dan pelaksanaan program untuk memastikan relevansi dan keberlanjutan kemitraan

Model kepemimpinan transaksional dengan kepribadian ISTJ-T dalam upaya mendukung peningkatan mutu, terutama dalam hal keselamatan pasien dan petugas kesehatan dapat dilakukan dengan beberapa cara, meliputi:

Menetapkan dan menegakkan standar keselamatan pasien dan petugas kesehatan yang jelas dan terukur, dengan mengembangkan dan menerapkan Prosedur Operasional Standar (SOP) untuk semua kegiatan klinis dan non-klinis. Pengawasan dan Evaluasi Berkala, melakukan inspeksi mendadak untuk memeriksa kepatuhan terhadap SOP dan standar keselamatan. Penggunaan Insentif dan Disinsentif, memberikan penghargaan dan insentif finansial atau pengakuan publik kepada staf yang menunjukkan kepatuhan tinggi terhadap prosedur keselamatan dan menerapkan sanksi atau pembinaan bagi mereka yang melanggar SOP keselamatan.

Dalam menerapkan strategi tersebut terdapat berbagai tantangan yang mungkin nantinya dapat timbul seperti: Kepatuhan Staf yang kurang terhadap Prosedur, meskipun sudah ada SOP, kepatuhan staf dalam menerapkan prosedur bisa bervariasi. Upaya yang dapat dilakukan misalnya melakukan audit internal secara rutin untuk memonitor dan menilai kepatuhan staf terhadap SOP dan memberikan insentif pada staf yang menunjukan kepatuhan tinggi terhadap SOP.

Sama halnya dengan kegiatan yang diterapkan pada FKTP, kegiatan pada FKTL juga memiliki peluang yang dapat muncul, seperti meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya menerapkan SOP dalam segala kegiatan yang dilakukan, sehinggi tingkat keselamatan petugas maupun pasien dapat meningkat.

Berdasarkan uraian diatas, kepribadian ISTJ-T dengan model kepemimpinan transaksional cenderung menghargai ketertiban dan kejelasan dalam setiap aspek kerja. Sebagai pemimpin transaksional, maka akan cenderung memanfaatkan kekuatan dalam menerapkan aturan dan prosedur yang konsisten untuk memastikan bahwa setiap anggota tim memahami harapan dan tanggung jawab mereka secara jelas. Hal tersebut akan membangun sistem insentif yang adil dan transparan berdasarkan kinerja dan pencapaian, memberikan motivasi bagi anggota tim untuk mencapai target yang ditetapkan dengan efektif.







   Daftar Pustaka:

1. Personality test, type descriptions, relationship and career advice | 16Personalities [Internet]. [cited 2024 Jul 6]. Available from: https://www.16personalities.com/

2.        2. Transactional Leadership Basics [Internet]. [cited 2024 Jul 6]. Available from: https://www.verywellmind.com/what-is-transactional-leadership-2795317

3. Buku Rencana Aksi Nasional (RAN) Kolaborasi TB-HIV - TBC Indonesia [Internet]. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://tbindonesia.or.id/pustaka_tbc/buku-rencana-aksi-nasional-ran-kolaborasi-tb-hiv/



Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader