Kepemimpinan Memerlukan Logika?

KHAMAS PURBO PUTRO PURNOMO

21.P1.0010

Adakah yang penasaran dengan tipe kepribadian INTP-A?

INTP-A (Introvert, Intuitiive, Thinking, Perceiving - Assetive) adalah subtipe dari kepribadian INTP. INTP dikenal sebagai logician/ahli logika. Orang dengan tipe kepribadian INTP bangga dengan cara pandang yang unik, mereka cenderung selalu bertanya-banya tentang banyak hal, hal ini menjelaskan mengapa beberapa filfus dan ilmuan memiliki kepribadian INTP. 

Orang dengan tipe kepribadian INTP cenderung menyukai kesendirian, mereka tidak takut untuk mengekspresikan cara berfikir baru dan tampil berbeda dari orang lain. Orang dengan tipe kepribadian INTP suka menganalisis pola tanpa benar-benar tahu bagaimana cara melakukannya, mereka memliki bakat detektif untuk menemukan keanehan dan kejanggalan, sehingga berhobong kepada orang dengan tipe kepribadian ini adalah ide yang buruk.

Perbedaan INTP-Assertive dan INTP-Turbulent?

  • INTP-A cenderung lebih konsisten dibandingkan INTP-T karena keyakinan terhadap pilihan yang dibuat tidak mudah dipengaruhi orang lain
  • INTP-A tidak terlalu bergantung dengan orang lain sehingga lebih tampak mandiri
  • INTP-T fleksibel dalam mengubah tujuan akhir, hal ini membuat INTP-T dapat memecahkan masalah dengan lebih luwes
  • INTP-T lebih terbuka, dikarenakan keputusannya cenderung membutuhkan pendapat dan persetujuan dari orang lain
Dalam kepemimpinan, tipe kepribadian INTP-A dan INTP-T tentunya memiliki pendekatan yang berbeda walaupun keduanya sama-sama Intovert, Intuitive, Thinking, Perceiving. 

Tipe Asertif adalah tipe yang lebih stabil, percaya diri, dan tenang dalam menghadapi tantangan.
Tipe Turbulen adalah tipe yang lebih sensitif, emosional dan cenderung mengalami perubahan mood yang cepat.

Setelah mengerti apa itu INTP dan subtipenya, lalu model kepemimpinan apa yang cocok dengan kepribadian ini?

Kepemimpinan INTP-A
  • Kepemimpinan Transformasional : INTP-A cenderung memiliki visi yang jelas dan kemampuan untuk berpikir di luar kotak. Mereka bisa menginspirasi dan memotivasi tim mereka dengan ide-ide inovatif dan visi jangka panjang.
  • Kepemimpinan Mandiri (Laissez-Faire) : INTP-A menghargai kebebasan dan otonomi. Mereka sering kali memberikan kebebasan kepada anggota tim untuk bekerja secara mandiri dan mengambil inisiatif sendiri, sementara mereka bertindak sebagai mentor atau sumber konsultasi.
  • Kepemimpinan Visioner : Dengan kemampuan analitis dan pemikiran strategis yang kuat, INTP-A sering kali memiliki pandangan yang jelas tentang masa depan dan bagaimana mencapainya. Mereka bisa menjadi pemimpin yang baik dalam mengarahkan tim menuju tujuan jangka panjang dengan cara yang inovatif.
  • Kepemimpinan Stategis : INTP-A pandai dalam merumuskan strategi dan rencana untuk mencapai tujuan tertentu. Mereka bisa mengidentifikasi masalah dan solusi dengan cepat, serta mengembangkan rencana yang efektif.
  • Kepemimpinan Berbasis Pengetahuan : INTP-A sering kali memiliki pengetahuan mendalam di bidang tertentu. Mereka bisa menjadi pemimpin yang sangat efektif dalam lingkungan yang menghargai keahlian dan pemahaman mendalam.
Kepemimpinan INTP-T
  • Kepemimpinan Demokratis : INTP-T dapat menggunakan pendekatan ini untuk melibatkan anggota tim dalam proses pengambilan keputusan. Dengan berbagi tanggung jawab dan mendengarkan masukan dari orang lain, mereka dapat mengurangi tekanan pada diri sendiri dan mendapatkan perspektif yang beragam.
  • Kepemimpinan Kolaboratif : Pendekatan ini mendorong kerjasama dan partisipasi aktif dari semua anggota tim. INTP-T dapat merasa lebih nyaman dengan berbagi beban kepemimpinan dan bekerja bersama tim untuk mencapai tujuan bersama.
  • Kepemimpinan Pelayanan : INTP-T dapat mengadopsi pendekatan ini dengan fokus pada kebutuhan dan perkembangan anggota tim. Dengan membantu orang lain sukses dan mencapai potensi penuh mereka, INTP-T dapat mengurangi tekanan pada diri sendiri dan membangun hubungan yang kuat dengan tim.
  • Kepemimpinan Situasional : INTP-T dapat menyesuaikan gaya kepemimpinan mereka berdasarkan kebutuhan situasi dan anggota tim. Fleksibilitas ini memungkinkan mereka untuk mengatasi ketidakpastian dan menemukan pendekatan yang paling efektif untuk setiap situasi.
  • Kepemimpinan Delegatif : Dengan mendelegasikan tanggung jawab dan memberikan kebebasan kepada anggota tim untuk membuat keputusan, INTP-T dapat fokus pada aspek strategis dan analitis dari kepemimpinan, sementara anggota tim mengambil peran aktif dalam pelaksanaan tugas.

KEPEMIMPINAN DENGAN KASUS PENANGANAN TB-HIV

Dengan berbagai model kepemimpinan yang sudah dijelaskan diatas, penulis sebagai INTP-A memilih jenis Kepemimpinan Visioner dengan gabungan Kepemimpinan Strategis. Sebagai seorang pemimpin dengan tipe kebribadian INTP-A, penulis memilih tipe kepemimpinan ini untuk berfokus pada targetnya dimasa depan, dimana penanganan TB-HIV perlu berfokus pada terget dan ditunjang dengan strategi yang tepat.

Advokasi
Menetapkan visi yang kuat untuk masa depan tanpa TB HIV.  Menginspirasi komunitas dan para pemangku kepentingan melalui kampanye yang menggugah dan berbasis data. Melalui analisis kebijakan yang mendalam dan mengidentifikasi celah dan peluang untuk mengadvokasi perubahan yang diperlukan. Strategi advokasi dirancang untuk mempengaruhi pengambil keputusan dan menggalang dukungan luas, memastikan bahwa setiap suara terdengar dan setiap kebijakan mendukung eradikasi TB HIV.

Penguatan Tim
Membangun tim yang berkomitmen pada visi bersama untuk mengakhiri TB HIV. Dengan mendorong budaya inovasi, memastikan bahwa setiap anggota tim memiliki kesempatan untuk berkontribusi dengan ide-ide kreatif. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan, serta menetapkan tujuan yang jelas dan realistis. Memberdayakan tim untuk memberikan dampak nyata dalam penanganan TB HIV.

Koordinasi Lintas Sektor
Mencakup kolaborasi yang erat dengan berbagai sektor seperti kesehatan, pendidikan, dan sosial. Membangun aliansi yang kuat untuk memastikan integrasi upaya penanganan TB HIV di semua lini. Rencana koordinasi menjabarkan tanggung jawab yang jelas untuk setiap sektor yang terlibat, serta memastikan pengelolaan dan alokasi sumber daya yang efisien. Dengan sinergi antar sektor ini diharapkan menciptakan pendekatan komprehensif yang mempercepat pencapaian tujuan.

Kolaborasi Interpersonal
Hubungan interpersonal yang kuat adalah kunci keberhasilan program ini. Dengan mengembangkan empati dan membangun kepercayaan, kolaborasi interpersonal memastikan setiap pemangku kepentingan merasa dihargai dan didengar. Menerapkan komunikasi terbuka di semua tingkatan demi menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan produktif. Dengan menyelesaikan konflik secara konstruktif, hal ini memastikan kolaborasi yang efektif dan berkelanjutan.

Monitoring
Menetapkan indikator kinerja yang selaras dengan visi jangka panjang untuk memantau kemajuan. Transparansi dalam pelaporan hasil dan kemajuan untuk memastikan akuntabilitas. Melalui sistem monitoring yang efektif, melacak kinerja dan hasil secara real-time, memungkinkan untuk segera mengidentifikasi dan mengatasi masalah. Analisis data yang rutin dilakukan membantu memahami tren dan merumuskan strategi perbaikan.

Evaluasi
Evaluasi yang komprehensif adalah fondasi perbaikan berkelanjutan. Mendorong budaya pembelajaran dan adaptasi, menggunakan hasil evaluasi untuk memperbaiki strategi dan pelaksanaan program. Metode evaluasi  yang dikembangkan memastikan efektivitas program secara akurat, dan perbaikan berkelanjutan menjadi bagian dari pendekatan untuk mencapai visi tanpa TB HIV.

Dalam sebuah program, tentunya memiliki tantangan dan peluang, dalam hal ini, berikut adalah tantangan dan peluang penanganan TB-HIV yang mungkin terjadi 

Peluang :
1. Kolaborasi dengan sektor swasta
2. Pengembangan kapasitas SDM
3. Kemajuan teknologi medis
4. Dukungan pemerintah daerah, nasional maupun internasional
5. Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat

Tantangan:
1. Resistensi terhadap pengobatan
2. Keterbatasan sumber daya
3. Deskriminasi terhadap penderita/pasien

Upaya antisipatif yang dapat dilakukan adalah :
1. Meningkatan penelitian dan penanganan obat baru
2. Meningkatkan pengelolaan penggunaan sumber daya yang efisien
3. Pelatihan bagi tenaga kesehatan tentang penanganan yang penuh empati dan tanpa diskriminasi.

KEPEMIMPINAN DENGAN KASUS FASILITAS KESEHATAN TINGKAT LANJUT UNTUK KESELAMATAN PASIEN DAN PETUGAS KESEHATAN

Dalam konteks fasilitas kesehatan tingkat lanjut, keselamatan pasien dan petugas kesehatan adalah prioritas utama. Mengingat karakteristik INTP-A yang analitis, logis, kreatif, dan mandiri, model kepemimpinan yang cocok untuk situasi ini adalah kombinasi dari kepemimpinan Transformasional dan Strategis. Mencakup 6 poin penting, yaitu :

Indetifikasi Pasien
Untuk memastikan keselamatan pasien, teknologi gelang identifikasi barcode diterapkan dan staf menerima pelatihan tentang pentingnya identifikasi akurat. Analisis risiko rutin untuk mengembangkan prosedur identifikasi yang lebih baik, memastikan setiap pasien diidentifikasi sesuai standar.

Komunikasi Efektif
Budaya komunikasi terbuka didorong dengan penggunaan teknologi seperti sistem paging (sistem komunikasi yang biasa digunakan di fasilitas kesehatan) dan aplikasi pesan internal. Pelatihan keterampilan komunikasi rutin diselenggarakan. Rencana komunikasi yang jelas dikembangkan dan dievaluasi untuk memastikan efektivitas komunikasi antar departemen dan staf.

Medication Error
Komitmen untuk mencapai nol kesalahan pengobatan dengan sistem CPOE (Computerized Physician Order Entry) dan verifikasi obat menggunakan barcode. Pelatihan rutin tentang pengelolaan obat yang aman dilakukan. Data kesalahan pengobatan dianalisis untuk mengembangkan SOP ketat dan melakukan audit rutin.

Safety Surgery
Budaya keselamatan dalam tim bedah dibangun dengan komunikasi visi dan tujuan keselamatan. Teknologi terbaru diterapkan untuk meningkatkan keselamatan operasi. Pelatihan simulasi dilakukan untuk meningkatkan keterampilan tim bedah. Protokol pra-bedah seperti checklist keselamatan operasi WHO diterapkan dan dievaluasi rutin.

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
Lingkungan bebas infeksi nosokomial diupayakan dengan teknologi sterilisasi canggih dan praktik pengendalian infeksi terbaru. Program edukasi tentang PPI terbaik dilakukan untuk semua staf. SOP untuk pencegahan infeksi dikembangkan, dan audit rutin dilakukan untuk memastikan kepatuhan.

Risiko Jatuh
elatihan rutin tentang risiko jatuh diberikan kepada staf. Penilaian risiko jatuh komprehensif diterapkan untuk setiap pasien, dan SOP pencegahan jatuh dievaluasi secara rutin.

Tantangan dan peluang yang mungkin dihadapi adalah:

Tantangan
1. Adaptasi teknologi
2. Perubahan budaya
3. Kesalahan input dan interpretasi

Peluang
1. Meningkatkan keselamatan pasien
2. Efisiensi operasional
3. Integrasi data yang lebih baik
4. Peningkatan kualitas perawatan

Upaya antisipatif yang dapat dilakukan adalah :
1. Pelatihan intensif
2. Dukungan teknis
3. Komunikasi dan dukungan staf yang baik
4. Audit dan Evaluasi

KESIMPULAN
Kepribadian INTP-A memiliki pendekatan yang khas dan efektif. INTP-A, atau "Logician", cenderung memiliki karakteristik analitis, inovatif, dan fokus pada pemecahan masalah dengan pendekatan yang rasional dan sistematis. Dengan memanfaatkan kelebihan analitis, inovatif, dan sistematis dari kepribadian INTP-A, fasilitas kesehatan dapat mengoptimalkan penanganan dari kasus dan permasalahan yang ada, contohnya pada TB-HIV serta keselamatan pasien dan petugas kesehatan. Ini tidak hanya meningkatkan kualitas perawatan, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung untuk semua pihak yang terlibat dalam penanganan kasus ini, yang mana tentunya setiap kepribadian memiliki kelebihannya masing-masing. 


Daftar Pustaka
  1. MBTI 16 Personality Types [Internet]. [dikutip 7 Juli 2024]. Tersedia pada: https://www.16personalities.com/id/kepribadian-intp?utm_source=results-assertive-logician&utm_medium=email&utm_campaign=id&utm_content=get-profile-button#ebook 
  2. Janitra Mawardi. 2021. 7 Macam Gaya Kepemimpinan. [dikutip 7 Juli 2024]. Quipper Blog. Tersedia pada: https://www.quipper.com/id/blog/quipper-campus/campus-life/n-macam-macam-gaya-kepemimpinan/#:~:text=Secara%20umum%2C%20terdapat%207%20macam,faire%2C%20karismatik%2C%20dan%20otokratis.
  3. KEMENKES RI. 2016. Buku Petunjuk TB-HIV untuk petugas. 
  4. Kurniawati Putri. 2021. Keselamatan Pasien dan Kesehatan Kerja. Vol. 01, Universitas Nusantara PGRI Kediri. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader