ISFJ, BISA GA YA JADI PEMIMPIN?

Nama : Andrea Hannesya
Nim : 21P10029



MARI MENGENAL ISFJ

ISFJ merupakan biasanya dikenal sebagai pribadi yang perfeksionis dan teliti. Orang dengan ISFJ dikenal dengan istilah "PELINDUNG" hal ini didasari dengan perhatian dan kehangatan yang diberikan kepada orang-orang terdekat mereka. ISFJ sendiri merupakan bagian dari domain interovert, sensing, feeling, judging. ISFJ lebih menyukai ketenangan dan kesendirian dibandingkan melakukan interaksi dengan dengan banyak orang. Tetapi jangan salah hal ini bukan berarti mereka tidak mampu justru mereka memiliki kemampuan komunikasi yang baik, namun mereka lebih membutuhkan waktu istirahat yang lebih dari pada berinteraksi yang lebih. 

Sensing artinya orang dengan ISFJ memiliki individu yang realistis. Mereka akan memandang situasi sesuai dengan apa yang sedang terjadi dihadapan mereka. 

Feeling artinya orang dengan ISFJ merupakan orang yang perasa. Mereka lebih mementingkan perasaan dalam memutuskan sesuatu. Hal ini termaksud perasaan pribadi dan orang lain.

Judging artinya orang dengan ISFJ memiliki kepribadian yang tegas. Mereka juga memiliki kepribadian yang baik. Umumnya mereka akan sulit untuk diajak bernegosiasi jika hal tersebut berhubungan dengan pendiriannya. 

Dengan demikian seorang ISFJ ialah seorang introvert yang dapat memahami situasi berdasarkan realistis (sensing), mengambil keputusan berdasarkan perasaan (feeling), dan cenderung tegas (judging). 

Umumnya seorang ISFJ ialah seseorang yang terstruktur, perfeksionis, peka terhadap perasaan, cenderung tertutup, dan susah menerima perubahan. 

MODEL KEPEMIMPINAN UNTUK SEORANG ISFJ

Untuk seorang ISFJ dalam konteks kepemimpinan, ada beberapa strategi dan model kepemimpinan yang dapat efektif, seperti :

1. Pendekatan Kolaboratif : ISFJ cenderung peduli dengan kebutuhan orang lain dan suka bekerja dalam kerangka kolaboratif. Mereka biasanya menghargai pendekatan yang membangun konsensus dan memperhatikan perasaan dan kebutuhan individu dalam tim mereka.

2. Mendengarkan Aktif : Kepemimpinan ISFJ cenderung efektif ketika mereka mendengarkan dengan baik dan memperhatikan detail-detail penting dari sudut pandang orang lain. Hal ini membantu mereka untuk membuat keputusan yang mempertimbangkan berbagai perspektif.

3. Menghargai Tradisi dan Nilai : ISFJ umumnya cenderung menghargai nilai-nilai tradisional dan stabilitas dalam suatu organisasi. Kepemimpinan mereka dapat mengintegrasikan nilai-nilai ini ke dalam keputusan dan strategi organisasi.

4. Pendekatan Tugas : Meskipun ISFJ fokus pada hubungan dan kebutuhan individu, mereka juga dapat memimpin dengan ketegasan terhadap pencapaian tujuan-tujuan konkret. Mereka cenderung disiplin dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka.

5. Membangun Kepercayaan : Karena ISFJ umumnya dapat membangun hubungan yang kuat dan berkelanjutan dengan orang lain, mereka dapat memanfaatkan kualitas ini untuk membangun kepercayaan dan loyalitas di antara anggota tim mereka.

6. Manajemen Konflik : Kepemimpinan ISFJ cenderung efektif dalam menangani konflik dengan cara yang empatik dan memperhatikan perasaan orang lain. Mereka dapat menciptakan lingkungan yang mendukung bagi individu-individu dalam tim untuk menyelesaikan perbedaan mereka secara konstruktif.

7. Keteladanan Pribadi : Sebagai pemimpin, ISFJ dapat menjadi contoh yang baik dengan konsisten menunjukkan nilai-nilai mereka, seperti kejujuran, kerendahan hati, dan tanggung jawab pribadi.

Saat mengimplementasikan model kepemimpinan untuk seorang ISFJ, penting untuk mengakomodasi kekuatan alami mereka dalam membangun hubungan dan memperhatikan detail, sambil tetap fokus pada pencapaian tujuan organisasi secara efisien dan efektif.

CARA SEORANG ISFJ DALAM MEMIMPIN

Model kepemimpinan yang akan saya ambil yaitu "Menejemen konflik" dikarenakan TB-HIV ialah salah satu penyakit menular yang dapat memiliki resiko untuk terkena penularan sehingga harus di tangani dengan cara yang benar dan sesuai dengan prosedure yang ada.

1. Advokasi

Melakukan penyuluhan kepada masyarakat terkait dengan penularan dan penanganan tentang TB-HIV serta meminta dukungan dari pememerintah untuk lebih memperdulikan masyarakat terkait hal kesehatan terutama untuk masyarakat-masyarakat yang minim dalam edukasi pencegahan penyakit menular seperti TB-HIV.

2. Penguatan tim

Melakukan pelatihan terhadap tim yang sudah dibentuk, sehingga dapat lebih terstruktur dan memahami betul apa yang akan dilakukan pada saat melakukan tugas tersebut.

3. Koordinasi lintas sektor

Melakukan integrasi layanan, seseorang yang menderita TB-HIV sering memerlukan layanan dari berbagai sektor seperti layanan kesehatan primer, spesialis TB, spesialis HIV/AIDS, kesehatan masyarakat, dan bahkan sektor sosial seperti dukungan psikososial dan keamanan pangan. Koordinasi lintas sektor memungkinkan integrasi layanan ini sehingga pasien tidak terlewatkan atau tidak mendapat perawatan yang terputus-putus.

4. Kolaborasi interprofesional

Melakukan kolaborasi dengan beberapa sektor tertentu yang lebih profesional sehingga dapat melakukan penanganan yang mengikuti prosedur kesehatan

5. Monitoring

Melakukan pemantauan terhadap pasien TB-HIV sehingga dapat mengikuti prosedur secara baik dan benar serta mencegah terjadinya pengawasan penularan secara berkala.

6. Evaluasi

Melakukan evaluasi terhadap program kerja apakah sudah mencapai tujuan, efisiensi penggunaan sumber daya, dan dampak yang dihasilkan oleh program tersebut.

TANTANGAN APA SAJA YANG AKAN DITERIMA OLEH ISFJ

Dalam menangani TB-HIV sering terdapat sebuah tantangan yang kompleks karena kedua kondisi ini saling mempengaruhi dan membutuhkan pendekatan yang terintegrasi. Seperti:

1. Diagnosa Tertunda atau Tidak Tepat : Kedua kondisi ini sering kali sulit didiagnosis secara tepat waktu. Pasien dengan HIV memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan TB, namun gejala awal TB dapat disamarkan oleh efek dari HIV atau obat antiretroviral.

2. Interaksi Obat : Pengobatan TB dan HIV dapat saling mempengaruhi. Beberapa obat TB dapat mengurangi efektivitas antiretroviral atau sebaliknya. Manajemen yang tidak tepat dapat menyebabkan komplikasi atau kegagalan pengobatan.

3. Kepatuhan Terhadap Pengobatan : Pasien dengan TB-HIV sering menghadapi tantangan besar dalam mematuhi rejimen pengobatan yang kompleks dan jangka panjang. Ini bisa disebabkan oleh efek samping obat, kompleksitas regime, atau faktor sosial dan ekonomi.

4. Resistensi Obat : Peningkatan resistensi obat TB dan HIV merupakan ancaman serius dalam pengobatan kedua kondisi ini. Penanganan kasus yang tepat dan pengawasan yang ketat sangat penting untuk mengurangi risiko resistensi obat.

5. Komplikasi dan Infeksi Oportunistik : Pasien dengan TB-HIV rentan terhadap infeksi oportunistik dan komplikasi lainnya. Penanganan yang tepat diperlukan untuk mencegah atau mengatasi komplikasi yang dapat mempengaruhi prognosis pasien.

6. Stigma dan Diskriminasi : Stigma terhadap HIV dan TB masih merupakan tantangan besar dalam beberapa komunitas. Hal ini dapat menghambat pencarian perawatan, pemantauan, dan dukungan yang diperlukan oleh pasien.

7. Akses Terhadap Perawatan : Di beberapa wilayah, akses terhadap layanan kesehatan yang menyediakan perawatan terpadu untuk TB dan HIV masih terbatas. Ini termasuk akses terhadap pengujian, diagnosis, dan obat-obatan yang diperlukan.

8. Keterbatasan Sumber Daya : Program penanganan TB dan HIV membutuhkan sumber daya yang signifikan, termasuk fasilitas kesehatan, obat-obatan, personel medis yang terlatih, dan sistem pendukung lainnya. Keterbatasan ini bisa menjadi hambatan dalam memberikan perawatan yang optimal.

Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan pendekatan holistik yang melibatkan kolaborasi antar berbagai sektor, pendidikan masyarakat yang intensif, dukungan psikososial, pemantauan yang cermat, dan kebijakan yang mendukung. Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan hasil klinis bagi individu, tetapi juga untuk mengurangi beban penyakit TB-HIV secara keseluruhan di tingkat populasi.

MODEL KEPEMIMPINAN ISFJ

Untuk meningkatkan mutu kesehatan, terutama dalam konteks penanganan TB-HIV, diperlukan model kepemimpinan yang efektif dan berorientasi pada hasil, seperti :

1. Pemimpin Berorientasi Pasien : Model ini menempatkan pasien sebagai pusat perhatian. Pemimpin yang berorientasi pasien memastikan bahwa keputusan dan strategi yang diambil selalu mempertimbangkan kepentingan dan kebutuhan pasien. Mereka mendorong pelayanan yang empatik, responsif, dan terkoordinasi.

2. Kepemimpinan Transformasional : Pemimpin transformasional mendorong perubahan yang signifikan dan positif dalam sistem kesehatan. Mereka memotivasi tim untuk mencapai tujuan yang ambisius, menginspirasi inovasi, dan berkomitmen pada peningkatan kualitas pelayanan. Dalam konteks TB-HIV, ini bisa berarti memperkenalkan praktik terbaik baru, mengembangkan strategi pengobatan yang lebih efektif, atau memperluas akses terhadap layanan kesehatan.

3. Kepemimpinan Berbasis Bukti : Pemimpin yang berbasis bukti menggunakan data dan bukti ilmiah untuk mendukung pengambilan keputusan. Mereka mengadvokasi praktik berdasarkan bukti yang kuat dan mempromosikan penggunaan penelitian terbaru dalam perawatan pasien. Ini penting dalam mengembangkan protokol pengobatan yang efektif untuk TB-HIV.

4. Kepemimpinan Kolaboratif : Kepemimpinan kolaboratif melibatkan kerjasama lintas sektor dan lintas disiplin untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks TB-HIV, pemimpin kolaboratif bekerja dengan berbagai pihak seperti spesialis TB, spesialis HIV, konselor, perawat, dan organisasi masyarakat sipil untuk meningkatkan koordinasi perawatan, mendukung pendidikan masyarakat, dan mempromosikan akses yang lebih luas terhadap layanan kesehatan.

5. Kepemimpinan Berkelanjutan : Pemimpin berkelanjutan fokus pada perbaikan berkelanjutan dalam kualitas pelayanan kesehatan. Mereka membangun sistem pemantauan dan evaluasi yang kuat, mendorong inisiatif untuk meningkatkan efisiensi, dan mengevaluasi dampak dari kebijakan dan program yang diterapkan. Dalam penanganan TB-HIV, pemimpin berkelanjutan akan terus mendorong untuk meningkatkan hasil klinis dan mengurangi beban penyakit dalam jangka panjang.

6. Kepemimpinan Etis : Pemimpin etis berkomitmen pada nilai-nilai moral dan etika dalam pelayanan kesehatan. Mereka memastikan bahwa keputusan yang diambil selalu mempertimbangkan keadilan, kejujuran, dan menghormati hak asasi manusia. Dalam konteks TB-HIV, ini termasuk memastikan bahwa semua pasien diperlakukan dengan menghormati, mengurangi stigma, dan mempromosikan akses universal terhadap perawatan yang layak.

Melalui penerapan model kepemimpinan ini, diharapkan bahwa organisasi kesehatan dan sistem kesehatan mampu meningkatkan mutu layanan, mencapai hasil yang lebih baik bagi pasien, dan mengatasi tantangan kompleks dalam penanganan kondisi kesehatan seperti TB-HIV dengan lebih efektif.

SASARAN KESELAMATAN PASIEN DI FKTL MENURUT ISFJ

Sasaran keselamatan yang akan saya pilih ialah "Identifikasi Pasien" 

Model kepemimpinan dalam manajemen konflik sangat penting dalam konteks keselamatan pasien, khususnya dalam proses identifikasi pasien di lingkungan pelayanan kesehatan. Kepemimpinan yang efektif dalam hal ini bukan hanya tentang menyelesaikan konflik yang muncul, tetapi juga mencegah terjadinya kesalahan identifikasi yang dapat mengancam keselamatan pasien.

Pertama-tama, seorang pemimpin harus memastikan bahwa timnya memahami pentingnya prosedur identifikasi pasien yang benar dan mematuhi standar operasional yang telah ditetapkan. Hal ini melibatkan edukasi terus-menerus dan pelatihan yang menyeluruh bagi semua anggota tim untuk mengurangi risiko kesalahan identifikasi yang dapat berdampak negatif pada pasien.

Selanjutnya, model kepemimpinan yang efektif dalam manajemen konflik akan mengutamakan komunikasi yang jelas dan terbuka di antara anggota tim. Pemimpin harus memfasilitasi dialog yang konstruktif tentang prosedur identifikasi pasien, serta memberdayakan anggota tim untuk saling mengingatkan dan memeriksa satu sama lain untuk memastikan keakuratan informasi pasien.

Kemudian, pemimpin juga harus memiliki kemampuan untuk mengelola konflik yang mungkin timbul terkait dengan identifikasi pasien. Misalnya, ketika terjadi ketidaksepakatan atau kebingungan tentang identitas pasien, seorang pemimpin yang efektif akan memfasilitasi diskusi yang objektif dan memimpin tim untuk mencari solusi yang tepat dengan mengutamakan kepentingan keselamatan pasien.

Selain itu, penting bagi seorang pemimpin untuk menciptakan budaya kerja yang mendukung kesalahan yang dapat diperbaiki (learn from mistakes) dan pembelajaran berkelanjutan. Ini mencakup penerimaan bahwa kesalahan identifikasi dapat terjadi meskipun upaya pencegahan yang baik, dan penting untuk melakukan analisis pasca-insiden untuk meningkatkan sistem identifikasi pasien di masa depan.

Terakhir, model kepemimpinan yang efektif dalam manajemen konflik dalam konteks keselamatan pasien akan mengadvokasi untuk perbaikan terus-menerus dalam prosedur identifikasi pasien dan mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengurangi risiko kesalahan identifikasi. Ini termasuk menggunakan teknologi pendukung, seperti pengenal medis elektronik atau gelang identifikasi yang aman, serta mempromosikan kepatuhan terhadap praktik terbaik di antara seluruh tim pelayanan kesehatan.

Secara keseluruhan, pemimpin yang efektif dalam manajemen konflik dalam sasaran keselamatan pasien dalam identifikasi pasien bukan hanya mengelola konflik yang muncul tetapi juga membangun budaya kerja yang mendukung keamanan pasien melalui komunikasi terbuka, penerapan prosedur yang ketat, dan pembelajaran dari setiap kesalahan yang terjadi.

UPAYA ANTISIPASI YANG AKAN DILAKUKAN OLEH ISFJ

Upaya antisipasi dari identifikasi pasien adalah langkah-langkah proaktif yang diambil untuk mencegah terjadinya kesalahan atau kebingungan dalam mengidentifikasi pasien di lingkungan pelayanan kesehatan. Berikut beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi masalah identifikasi pasien:

1. Pelatihan dan Edukasi : Memberikan pelatihan reguler kepada seluruh staf tentang pentingnya identifikasi pasien yang benar, prosedur yang harus diikuti, dan konsekuensi dari kesalahan identifikasi. Edukasi ini harus melibatkan pemahaman tentang berbagai teknik identifikasi yang digunakan di unit atau fasilitas pelayanan kesehatan.

2. Penggunaan Teknologi : Mengimplementasikan teknologi seperti pengenal medis elektronik (EMPI - Electronic Medical Record Identifier) yang memfasilitasi pencocokan data pasien secara akurat. Sistem ini dapat membantu dalam mengurangi risiko kesalahan yang terkait dengan identifikasi manual atau pencatatan yang tidak tepat.

3. Verifikasi Silang : Mendorong praktik verifikasi silang di antara anggota tim perawatan kesehatan. Ini dapat mencakup pemeriksaan ulang oleh dua atau lebih anggota tim terhadap identitas pasien sebelum memberikan perawatan atau prosedur medis tertentu.

4. Gelang Identifikasi yang Aman : Menggunakan gelang identifikasi yang aman dan sesuai standar untuk setiap pasien, dengan informasi yang jelas dan mudah dibaca. Hal ini membantu memastikan bahwa identitas pasien dapat dengan mudah dipahami dan diverifikasi oleh semua anggota tim perawatan.

5. Penggunaan Tanda Pengenal : Memastikan bahwa setiap pasien memiliki tanda pengenal yang sesuai, seperti kartu identitas atau dokumen lain yang diperlukan untuk verifikasi identitas. Ini juga bisa termasuk verifikasi tambahan seperti bertanya langsung kepada pasien tentang identitas mereka.

6. Budaya Keselamatan yang Diterapkan : Membangun dan memelihara budaya keselamatan di seluruh organisasi kesehatan, di mana setiap anggota tim merasa bertanggung jawab untuk memastikan identifikasi pasien yang benar dan mengambil langkah-langkah untuk melaporkan potensi masalah atau ketidakcocokan.

7. Audit dan Evaluasi Rutin : Melakukan audit rutin terhadap prosedur identifikasi pasien dan mengevaluasi kepatuhan terhadap pedoman yang ada. Hasil dari audit ini dapat digunakan untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan sistem identifikasi pasien di masa depan.

Dengan mengimplementasikan langkah-langkah ini, pelayanan kesehatan dapat meningkatkan keamanan pasien dengan mengurangi risiko kesalahan identifikasi yang berpotensi berbahaya. Upaya antisipasi ini penting untuk memastikan bahwa setiap pasien menerima perawatan yang aman dan efektif sesuai dengan kebutuhan mereka.

KESIMPULAN

Sebagai seorang ISFJ dalam kepemimpinan, Anda cenderung mendekati tanggung jawab dengan perhatian terhadap detail, memprioritaskan kesejahteraan tim, dan membangun lingkungan kerja yang harmonis melalui konsistensi, keteraturan, serta keterbukaan terhadap umpan balik untuk mencapai tujuan dengan tanggung jawab yang kuat dan perhatian pada kebutuhan individu.

DAFTAR PUSTAKA 

  1. The 16 MBTI® Personality Types [Internet]. [dikutip 29 Juni 2024]. Tersedia pada: https://www.myersbriggs.org/my-mbti-personality-type/the-16-mbti-personality-types/
  2. World Health Organization. Collaborative TB/HIV Activities: Guidelines for National Programmes and Other Stakeholders. Geneva: World Health Organization; 2012.
  3. Centers for Disease Control and Prevention. TB and HIV/AIDS. Atlanta: Centers for Disease Control and Prevention; 2020.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader