In Game Leader

In Game Leader

Valentino Dhanu

21.P1.0041

 

    Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) adalah instrumen psikometrik yang dikembangkan berdasarkan teori tipe psikologis Carl Gustav Jung oleh Isabel Briggs Myers dan Katharine Cook Briggs. MBTI bertujuan untuk mengidentifikasi preferensi psikologis seseorang dalam memahami dunia dan membuat keputusan. MBTI mengklasifikasikan kepribadian menjadi 16 tipe yang berbeda, salah satunya adalah ISFP-T.

(Introversion): Mengacu pada individu yang cenderung fokus pada dunia internal mereka sendiri dan mendapatkan energi dari refleksi pribadi.

S (Sensing): Menunjukkan preferensi untuk fokus pada informasi konkret dan praktis daripada teori atau abstraksi.

F (Feeling): Menunjukkan bahwa individu ini membuat keputusan berdasarkan nilai-nilai personal dan perasaan subjektif.

P (Perceiving): Mengindikasikan preferensi untuk menjalani kehidupan yang spontan dan fleksibel daripada terstruktur dan terorganisir.

T (Turbulent): Merupakan tambahan dari teori MBTI yang menunjukkan kecenderungan individu untuk mengalami stres atau keraguan diri yang lebih tinggi dan bersikap lebih reaktif terhadap tekanan dibandingkan dengan tipe Assertive.

    Individu dengan kepribadian ISFP-T sering kali dikenal sebagai "Adventurers" atau "Pengelana" yang memiliki sifat artistik dan kreatif. Mereka cenderung sangat empatik, menghargai harmoni, dan berusaha menghindari konflik. Kepribadian ISFP-T memiliki kecenderungan untuk bersikap fleksibel dan adaptif, serta sering menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap dunia sekitar mereka. Mereka biasanya memiliki hubungan emosional yang kuat dengan pengalaman sensorik dan estetika, menjadikan mereka peka terhadap lingkungan dan detail-detail kecil.

    Model kepemimpinan yang cocok dengan kepribadian ISFP-T adalah kepemimpinan situasional. Model kepemimpinan ini menggunakan pendekatan yang menekankan pemimpin untuk menyesuaikan gaya kemepimpinan sesuai dengan kebutuhan situasi dan individu yang dipimpin. 

    Untuk penanganan TB-HIV di Faskes tingkat pertama perlu melakukan pendekatan yang terintegrasi dan kolaboratif. Dalam hal tersebut, model kepemimpinan situasional dapat menyesuaikan gaya kepemimpinan dengan tingkat kematangan dan kompetensi yang dimiliki tim. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk pelaksanaan penanganan TB-HIV mencakup:

  1. Advokasi: dengan menggunakan gaya kepemimpinan Delegating, pemimpin memberikan tanggung jawab kepada anggota untuk melaksanakan advokasi kepada masyarakat dan pemangku kepentingan
  2. Penguatan tim: dengan menggunakan gaya kepemimpinan Supporting, pemimpin berfokus pada pemberian motivasi pada anggota untuk mengembangkan diri 
  3. Koordinasi lintas sektor: dengan menggunakan gaya kepemimpinan Coaching, pemimpin berperan untuk memberikan arahan dan berkerja sama dengan berbagai sektor untuk memastikan koordinasi berjalan dengan baik
  4. Kolaborasi interprofesional: dengan menggunakan gaya kepemimpinan Directing, pemimpin memberikan arahan yang jelas dan spesifik dari berbagai profesi agar setiap anggota memahami peran dan tanggung jawab masing-masing dalam menangani TB-HIV
  5. Monitoring: dengan menggunakan gaya kepemimpinan Delegating, pemimpin mendelegasikan tugas monitoring kepada tim yang sudah berpengalaman dan terlatih untuk memastikan alat dan sumber daya yang diperlukan dapat digunakan.
  6. Evaluasi: dengan menggunakan gaya kepemimpinan Delegating, pemimpin mengawasi hasil dan memberikan umpan balik yang membangun
Dalam melakukan kegiatan penanganan tersebut akan muncul beberapa tantangan dan peluang tersendiri seperti:
  1. Kurangnya keterampilan anggota, dengan peluang untuk membangun tim melalui pelatihan dan mentoring
  2. Perbedaan prioritas dan tujuan antar sektor, dengan peluang dapat membentuk forum koordinasi dan mengembangkan Memorandum of Understanding (MoU) dengan sektor terkait
  3. Kurangnya data akurat dan terpercaya, dengan peluang untuk mengembangkan sistem informasi kesehatan yang terintegrasi
  4. Keterbatasan sumber daya, dengan peluang membangun kapasitas tim dan memperkuat sistem kesehatan
Namun, selalu ada upaya antisipatif yang dapat dilakukan untuk menapis setiap tantangan yang muncul
  1. Mengadakan pelatihan dan workshop secara berkala
  2. Mengadakan pertemuan koordinasi rutin dengan sektor terkait
  3. Mengembangkan sistem informasi yang mendukung pengumpulan dan analisis data secara real-time
  4. Mengembangkan rencana kontigensi untuk mengatasi keterbatasan sumber daya.
    Di fasilitas kesehatan tingkat lanjut, penerapan kepemimpinan situasional sangat penting untuk meningkatkan mutu keselamatan pasien dan petugas kesehatan, khususnya dalam mengelola risiko jatuh. Pemimpin yang mampu mengadaptasi gaya kepemimpinannya akan lebih efektif dalam mengurangi kerjadian jatuh. Selain itu, pendekatan ini mendorong kolaborasi antarprofesional dan memfasilitasi peningkatan keselamatan pasien secara menyeluruh di FKTL. Namun, ada juga tantangan dan peluang untuk mengurangi risiko jatuh pasien. Tantangan untuk mengurangi risiko jatuh pasien antara lain kompleksitas kasus pasien dimana setiap pasien memiliki profil risiko yang berbeda beda terkait dengan risiko jatuh, yang memerluksn evaluasi yang teliti dan penanganan yang tepat waktu atau sumber daya yang terbatas seperti peralatan, dan staf. Dari tantangan tersebut, terdapat peluangnya masing-masing seperti dapat dilakukannya penyediaan pelatihan berkala yang menyediakan pelatihan berkelanjutan kepada staf terkait identifikasi jatuh, penggunaan alat bantu, dan intervensi pencegahan atau dapat dilakukan pengembangan protokol standar untuk evaluasi risiko jauh yang terintegrasi. Oleh karena itu, dapat dilakuan upaya antisipatif yaitu, mengedukasi pasien dan keluarga mengenai faktor risiko dan langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil.

    MMTI dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi preferensi psikologis seseorang dalam memahami dunia dan membuat keputusan. MBTI mengklasifikasikan kepribadian sebanyak 16 pribadi yang berbeda dan salah satunya adalah ISFP-T. Kepribadian ISFP-T cocok dengan model kepemimpinan situasional dimana pemimpin perlu untuk menyesuaikan gaya kepemimpinannya tergantung dengan situasi dan kondisi sekitar serta bergantung dengan kemampuan individu yang dipimpin.

Referensi





Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader