Implementasi Tipe Kepribadian ENTJ dan Gaya Kepemimpinan Demokratis pada Program Penanganan TB-HIV Fasilitas Kesehatan Pertama dan Lanjut


Nama : Jesdi Jaya Rahmanda Manihuruk

NIM : 21.P1.0007

 

A. Latar Belakang

        Tipe kepribadian atau Personality Type merupakan tingkah laku yang ditunjukkan pada lingkungan sosial, kesan mengenai diri yang diingkan agar dapat ditangkap oleh lingkungan sosial. Salah satu dari tipe kepribadian adalah ENTJ (Extraverted, Intuitive, Thinking, and Judging). ENTJ umumnya terorganisir, tegas, langsung, inovatif, dan terdorong untuk sukses. Tipe ini tertarik pada ide-ide baru dan mampu memahami hal-hal sulit atau kompleks informasi. Sering kali tipe ini juga disebut dengan “Komandan” karena cocok untuk dikaitkan dengan seseorang pemimpin di dalam organisasi dalam suatu kelompok dimasyarakat.1 Orang dengan tipe kepribadian ini memiliki tipe kepimpinan dengan ciri karismatik dan kepercayaan diri, dan memproyeksikan otoritas dengan cara menarik orang banyak untuk mencapai tujuan bersama.2 Individu dengan tipe kepribadian ENTJ sering kali dicirikan sebagai orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi, berorientasi pada tujuan dan bersemangat, sangat setia dan bertanggung jawab, serta menghargai integritas, kecerdasan, dan menghargai fakta. Oleh karena itu, tipe ini umumnya sangat senang untuk memimpin, mengambil kendali atas situasi dan orang lain, serta mengambil keputusan yang logis dengan cepat.3



B. Model Kepemimpinan yang Relevan

    Pemimpin adalah seorang yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mengarahkan ataupun mengkoordinasi untuk mencapai tujuan dalam suatu organisasi. Pemimpin sering dikaitkan dengan tipe dan gaya bagaimana mengimplantasikan kepada organisasi ataupun masyarkat. Tipe dan gaya kepemimpinan sangat berkaitan dengan norma perilaku pada diri seseorang saat mempengaruhi mempengaruhi perilaku orang lain. Tipe kepemimpinan meliputi tipe otoritas (autocrat), tipe paternalistis, tipe karismatik, tipe kepemimpinan demokratis, dan tipe militeristis. Sedangkan, gaya kepemimpinan meliputi gaya kepemimpinan demokratis, gaya kepemimpinan delegatif, gaya kepemimpinan birokratis, gaya kepemimpinan laissez faire, gaya kepemimpinan otoriter/ authoritarian, dan sebagianya.4

 

     ENTJ sangat relevan dan berhubungan dengan tipe kepemimpinan demokratis dan gaya kepimpinan demokratis. Tipe dan gaya kepemimpinan ini bersifat menghargai potensi setiap individu, terdapat kolaberasi antara pemimpin dan teamnya, mau mendengarkan nasihat dan sugesti bawahan. Sedangkan pada ENTJ bersifat mudah bersosialisasi dengan orang lain dan mudah bekerjasama dengan orang lain. Kedua sifat ini antara tipe kepimpinan demokratis dan ENTJ saling berkaitan dan berkesinambungan. Oleh karena itu, menurut saya ENTJ relevan dengan model tipe kepimpinan demokratis untuk mencapai tujuan dari suatu organisasi pada masyarakat.


C. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV

       Tuberkulosis adalah suatu penyakit kronik menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dengan gejala batuk lebih dari dua minggu.5 Estimasi insiden TBC Indonesia tahun 2021 sebesar 969.000 atau 354 per 100.000 penduduk serta kematian karena TBC diperkirakan sebesar 144.000 atau 52 per 100.000 penduduk dan kematian TBC-HIV sebesar 6.500 atau 2,4 per 100.000 penduduk.6 Angka ini akan meningkat jika tidak ditangani lebih lanjut terutama pada daerah endemi melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama (puskesmas). Penanganan TB-HIV di puskesmas yang dipimpin oleh seorang ENTJ menerapkan kombinasi tipe dan gaya kepemimpinan demokratis karena tipe ini merupakan seorang yang menghargai fakta serta menarik perhatian orang lain untuk bekerja sama mencapai tujuan yang diinginkan. Pada kasus TB-HIV dalam pembuatan program penanganannya, seseorang ENTJ dengan gaya demokratis haruslah berdiskusi dan bekerja sama dengan team atau bawahannya untuk menurunkan angka kejadian TB-HIV dari segi penularannya, logistik, ataupun cara penanganannya lebih lanjut untuk mencapai sebuah mitigasi. Seseorang dengan tipe dan gaya kepemimpinan demokratis akan membuat program penanganan TB-HIV yang akan di fokuskan sebagai berikut :


a) Advokasi

Sebagai seorang ENTJ dan gaya kepimpinan demokratis cenderung menjadi pemimpin yang efektif dalam advokasi. Pada tipe ini akan menggunakan kepercayaan diri dan kejelasan visi untuk mengkomunikasikan pentingnya penanganan TB-HIV kepada berbagai pemangku kepentingan, termasuk masyarakat umum dan pemimpin politik. Selain itu, pemimpin demokratis akan menarik perhatian orang lain untuk saling bekerja sama untuk mencapai tujuan penurunan pada kejadian penyakit TB-HIV.

 

b) Penguatan TIM

Seseorang pemimpin yang demokratis akan fokus pada pengembangan tim yang kuat dan efisien. Sebagai seorang yang percaya pada standar tinggi dan pencapaian, model kepimpinan ini akan menetapkan harapan yang jelas untuk anggota tim dan memberikan dukungan yang diperlukan untuk memastikan mereka dapat bekerja secara optimal.

 

c) Koordinasi lintas sektor

Dengan orientasi pada strategi dan pengorganisasian, Anda akan mendorong integrasi yang efektif antara sektor-sektor yang berbeda dalam penanganan TB-HIV. Anda akan melihat potensi sinergi antara berbagai bidang dan mencari cara untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia.

 

d) Kolaborasi interprofessional

Anda akan memfasilitasi kolaborasi yang kuat antara berbagai profesi yang terlibat, menggunakan kekuatan individu dan mempromosikan keterlibatan semua pihak untuk mencapai hasil yang lebih baik secara kolektif.

 

e) Monitoring dan Evaluasi

Anda akan memastikan bahwa sistem monitoring dan evaluasi didirikan dengan baik, dengan fokus pada pencapaian target dan perbaikan berkelanjutan. Anda akan menggunakan analisis data untuk mengidentifikasi area-area yang memerlukan perbaikan dan membuat keputusan berdasarkan bukti. Selain itu, pada model kepemimpinan ini melakukan pemantauan terus-menerus terhadap program-program yang sedang berjalan dan mengevaluasi hasilnya untuk memastikan efektivitasnya.

 

        Implementasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama dalam kegiatan lintas program penanganan TB-HIV dapat menghadapi tantangan dan peluang yang beragam. Berikut adalah deskripsi tentang tantangan yang mungkin muncul, peluang yang ada, dan upaya antisipatif yang bisa dilakukan:

 

A. Tantangan


  1. Keterbatasan sumber daya: Fasilitas kesehatan tingkat pertama sering menghadapi keterbatasan dalam hal personil, anggaran, dan infrastruktur. Ini dapat menghambat implementasi program yang komprehensif untuk penanganan TB-HIV.
  2. Koordinasi dan kolaborasi yang kompleks: Mengintegrasikan program TB-HIV memerlukan koordinasi yang baik antara berbagai unit dalam fasilitas kesehatan, serta kolaborasi dengan organisasi lain di luar kesehatan seperti lembaga pendidikan, sosial, dan masyarakat sipil.
  3. Kurangnya kesadaran dan penerimaan masyarakat: Masyarakat mungkin kurang menyadari pentingnya pencegahan, pengujian, dan perawatan TB dan HIV di tingkat pertama, yang dapat mempengaruhi tingkat partisipasi dan kepatuhan pasien.
  4. Kesenjangan dalam keahlian dan pelatihan: Tenaga kesehatan di tingkat pertama mungkin membutuhkan peningkatan dalam pemahaman dan keterampilan untuk menangani pasien TB dan HIV secara efektif.
  5. Tantangan dalam monitoring dan evaluasi: Mengumpulkan data yang akurat, melakukan pemantauan yang konsisten, dan mengevaluasi efektivitas program secara teratur bisa menjadi tantangan terkait kapasitas dan infrastruktur informasi.

 B. Peluang


  1. Pendekatan holistik: Integrasi program TB dan HIV dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas perawatan, serta memanfaatkan sumber daya yang ada secara lebih optimal.
  2. Peningkatan akses dan kualitas perawatan: Fokus pada model kepemimpinan yang kuat dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas untuk TB dan HIV.
  3. Penggunaan teknologi dan inovasi: Pemanfaatan teknologi seperti telemedicine, sistem informasi kesehatan, dan aplikasi mobile dapat meningkatkan pengawasan dan manajemen kasus, serta mendukung pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan.
  4. Penguatan kapasitas sumber daya manusia: Pelatihan yang intensif dan berkelanjutan dapat meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam mengelola TB dan HIV, serta meningkatkan kualitas layanan yang diberikan.
  5. Advokasi dan partisipasi masyarakat: Memperkuat partisipasi masyarakat dalam desain dan implementasi program dapat meningkatkan dukungan, pemahaman, dan kepatuhan terhadap perawatan TB dan HIV.

C. Upaya Antisipatif

  1. Pengembangan model kepemimpinan berbasis bukti: Menggunakan bukti-bukti dari penelitian dan praktik terbaik untuk merancang model kepemimpinan yang efektif dalam mengintegrasikan program TB dan HIV di tingkat fasilitas kesehatan pertama.
  2. Pelatihan dan pengembangan kepemimpinan: Menyediakan pelatihan intensif untuk pemimpin dan manajer fasilitas kesehatan dalam strategi kepemimpinan yang mempromosikan kolaborasi lintas program.
  3. Penguatan sistem informasi dan monitoring: Memperbarui infrastruktur informasi kesehatan untuk memfasilitasi pemantauan yang efektif terhadap penanganan TB dan HIV, serta mengevaluasi dampak program secara berkelanjutan.
  4. Kampanye advokasi dan pendidikan masyarakat: Menggunakan kampanye komunikasi dan pendidikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang TB dan HIV, serta pentingnya akses terhadap layanan kesehatan.
  5. Kolaborasi dan jaringan: Membangun jaringan yang kuat dengan organisasi kesehatan lokal, lembaga pendidikan, dan masyarakat sipil untuk mendukung integrasi program TB dan HIV, serta pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik.

D. Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk

peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)


        Model kepemimpinan demokratis dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam mendukung peningkatan mutu, termasuk keselamatan pasien dan petugas kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat lanjut. Kepemimpinan demokratis menekankan partisipasi aktif dan kolaboratif dari seluruh anggota tim atau organisasi dalam proses pengambilan keputusan, perencanaan, dan implementasi tindakan. Berikut adalah uraian tentang bagaimana model kepemimpinan demokratis dapat diaplikasikan untuk mendukung peningkatan mutu:


        A. Prinsip-Prinsip Kepemimpinan Demokratis:

  1. Partisipasi Aktif: Memfasilitasi partisipasi aktif dari semua anggota tim atau staf dalam mengidentifikasi masalah, merumuskan solusi, dan merencanakan tindakan untuk meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan.
  2. Pengambilan Keputusan Kolaboratif: Mendorong pengambilan keputusan yang kolaboratif dengan melibatkan berbagai perspektif dan keahlian dari seluruh unit atau departemen terkait.
  3. Transparansi Informasi: Memastikan akses terbuka terhadap informasi yang relevan tentang kinerja keselamatan pasien, kualitas layanan, dan risiko potensial, sehingga anggota tim memiliki pemahaman yang komprehensif tentang kondisi kerja dan keamanan pasien.
  4. Keterbukaan terhadap Umpan Balik: Mendorong budaya terbuka terhadap umpan balik dari staf, pasien, dan keluarga pasien, serta memperlakukan umpan balik sebagai sumber informasi berharga untuk perbaikan berkelanjutan.
  5. Pengembangan Kapasitas: Memberdayakan anggota tim dengan pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya yang diperlukan untuk mengatasi tantangan dan merancang solusi inovatif untuk meningkatkan keselamatan pasien dan mutu layanan.
  6. Keterlibatan Masyarakat: Mengintegrasikan keterlibatan dan partisipasi masyarakat dalam merancang kebijakan dan prosedur yang mempengaruhi mutu pelayanan dan keselamatan pasien.

        B. Implementasi Model Kepemimpinan Demokratis:

  1. Membangun Tim Multidisiplin: Membentuk tim yang terdiri dari perwakilan dari berbagai disiplin (misalnya dokter, perawat, farmasi, administrasi) untuk memastikan bahwa semua perspektif diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.
  2. Pengembangan Kepemimpinan Situasional: Memfasilitasi pengembangan kepemimpinan situasional di antara staf untuk menghadapi situasi yang kompleks dan berubah-ubah dalam perawatan pasien.
  3. Pelatihan dan Pengembangan: Menyediakan pelatihan dan pengembangan kontinu dalam kepemimpinan kolaboratif, komunikasi efektif, penyelesaian masalah, dan manajemen konflik.
  4. Pemantauan dan Evaluasi Berkelanjutan: Menerapkan sistem pemantauan yang efektif untuk memantau keberhasilan implementasi strategi mutu dan keselamatan, dan melakukan evaluasi secara berkala untuk mengidentifikasi area-area yang memerlukan perbaikan lebih lanjut.
  5. Promosi Budaya Keselamatan dan Kualitas: Memimpin dengan contoh dalam mempromosikan budaya keselamatan yang positif dan komitmen terhadap perbaikan berkelanjutan di seluruh organisasi.

        C. Manfaat dari Model Kepemimpinan Demokratis:

  1. Peningkatan Komunikasi dan Kolaborasi: Mendorong komunikasi terbuka dan kolaborasi antar-staf, yang mengarah pada peningkatan kualitas perawatan dan keselamatan pasien.
  2. Peningkatan Inovasi: Memfasilitasi inovasi dan ide-ide baru dari berbagai tingkatan organisasi, yang dapat menghasilkan solusi yang lebih efektif untuk masalah yang kompleks.
  3. Peningkatan Kepuasan Staf: Mendorong partisipasi dalam pengambilan keputusan dapat meningkatkan motivasi dan kepuasan staf, yang berpotensi mengurangi tingkat turnover dan meningkatkan retensi.
  4. Perbaikan Berkelanjutan: Memungkinkan organisasi untuk terus belajar dan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan dalam praktik klinis dan kebijakan, yang mendukung perbaikan berkelanjutan dalam mutu dan keselamatan.

            Untuk meningkatkan mutu, khususnya dalam hal keselamatan pasien dan petugas kesehatan melalui penggunaan model kepemimpinan demokratis, kita bisa fokus pada sasaran keselamatan pasien yang berkaitan dengan komunikasi efektif di fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL).


     A. Model Kepemimpinan Demokratis untuk Meningkatkan Komunikasi Efektif:


              Komunikasi efektif merupakan unsur kunci dalam mengurangi kesalahan dan    meningkatkan keselamatan pasien serta kualitas pelayanan di FKTL. Berikut adalah cara model kepemimpinan demokratis dapat diimplementasikan untuk mendukung sasaran keselamatan pasien ini:

  1. Pemberdayaan Tim Multidisiplin: Libatkan seluruh tim kesehatan, termasuk dokter, perawat, farmasi, dan staf pendukung lainnya, dalam proses komunikasi. Pastikan setiap anggota tim merasa dihargai dan memiliki peran yang jelas dalam memberikan informasi dan menerima masukan.
  2. Pengembangan Kebijakan Komunikasi: Bersama-sama dengan tim, buat kebijakan komunikasi yang jelas dan dapat dimengerti oleh semua pihak di FKTL. Kebijakan ini harus mencakup protokol komunikasi untuk situasi darurat, transfer pasien antar departemen, dan komunikasi kepada pasien dan keluarga.
  3. Pelatihan Komunikasi: Berikan pelatihan reguler kepada seluruh staf mengenai keterampilan komunikasi yang efektif, termasuk cara menyampaikan informasi dengan jelas dan tepat waktu, mendengarkan dengan empati, dan mengatasi konflik komunikasi.
  4. Mendorong Komunikasi Terbuka dan Jujur: Budayakan lingkungan di mana staf merasa nyaman untuk berkomunikasi secara terbuka tentang masalah dan kekhawatiran. Dorong praktik seperti brifing sebelum dan setelah prosedur atau perubahan penting dalam perawatan.
  5. Menggunakan Teknologi yang Mendukung: Manfaatkan teknologi informasi yang tepat, seperti rekam medis elektronik (EMR) atau sistem pesan aman, untuk meningkatkan komunikasi antar-profesional. Pastikan sistem ini mudah digunakan dan terintegrasi dengan baik dengan sistem lainnya di FKTL.
  6. Evaluasi dan Umpan Balik Berkelanjutan: Selenggarakan forum reguler untuk mengevaluasi kualitas komunikasi di FKTL. Libatkan staf dalam menyusun solusi untuk masalah yang diidentifikasi dan gunakan umpan balik untuk meningkatkan kebijakan dan praktik komunikasi.
  7.  Advokasi untuk Budaya Keselamatan: Sebagai pemimpin, aktif mempromosikan budaya keselamatan yang didasarkan pada komunikasi terbuka dan jujur. Beri contoh dan pahami bahwa komunikasi yang baik adalah kunci keamanan pasien dan kepuasan staf.

    B. Manfaat dari Model Kepemimpinan Demokratis dalam Meningkatkan Komunikasi                         Efektif:

  1. Peningkatan Keselamatan Pasien: Komunikasi yang tepat waktu dan akurat mengurangi risiko kesalahan diagnosis, pengobatan yang salah, dan perawatan yang tidak memadai.
  2. Peningkatan Kepuasan Pasien dan Staf: Komunikasi yang baik menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi pasien, serta meningkatkan kepuasan staf karena mereka merasa didengar dan dihargai.
  3. Efisiensi Operasional: Komunikasi yang efektif mengurangi kebingungan dan waktu yang terbuang, meningkatkan aliran kerja dan efisiensi di seluruh FKTL.
  4. Perbaikan Berkelanjutan: Melalui siklus evaluasi dan umpan balik, FKTL dapat terus memperbaiki dan menyesuaikan kebijakan serta praktik komunikasi untuk memenuhi kebutuhan dan tantangan baru.

            Implementasi model kepemimpinan demokratis dalam konteks fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk meningkatkan mutu, termasuk keselamatan pasien dan petugas kesehatan menghadapi tantangan dan peluang yang beragam. Berikut ini deskripsi tentang tantangan yang mungkin timbul, peluang yang ada, dan upaya antisipatif yang dapat dilakukan:

Tantangan yang Mungkin Terjadi:

  1. Keterbatasan Sumber Daya: Fasilitas kesehatan sering menghadapi keterbatasan dalam hal personil, anggaran, dan infrastruktur, yang dapat membatasi kemampuan untuk mengimplementasikan perubahan dan perbaikan dalam sistem.
  2. Kompleksitas Sistem Kesehatan: Sistem kesehatan yang kompleks dengan banyak regulasi, prosedur, dan hierarki dapat menghambat fleksibilitas dan kecepatan dalam pengambilan keputusan yang diperlukan untuk perbaikan mutu.
  3. Resistensi terhadap Perubahan: Perubahan dalam kebijakan atau praktik kerja sering kali dihadapi dengan resistensi dari beberapa pihak di dalam organisasi, yang dapat memperlambat implementasi inisiatif perbaikan.
  4. Kurangnya Kesadaran akan Keselamatan Pasien: Meskipun keselamatan pasien menjadi fokus utama, kesadaran dan kepatuhan staf terhadap protokol keselamatan dapat bervariasi, yang mengakibatkan risiko tinggi terjadinya kesalahan.
  5. Teknologi yang Tidak Memadai: Penggunaan teknologi yang ketinggalan zaman atau sistem yang tidak terintegrasi dengan baik dapat menghambat efisiensi dan akurasi dalam pelayanan kesehatan.

      Peluang yang Ada:

  1. Peningkatan Kesadaran dan Pendidikan: Peluang untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman staf tentang pentingnya keselamatan pasien melalui pelatihan yang terarah dan edukasi kontinu.
  2. Penggunaan Teknologi Canggih: Adopsi teknologi baru seperti sistem informasi kesehatan terintegrasi, alat bantu diagnostik yang canggih, dan sistem manajemen rumah sakit yang efisien untuk meningkatkan kualitas layanan dan keselamatan pasien.
  3. Kolaborasi Antar-Profesional: Peluang untuk memperkuat kolaborasi antar-profesional (dokter, perawat, farmasi, dll.) dalam merancang dan mengimplementasikan strategi keselamatan pasien.
  4. Pengembangan Kebijakan Bersama: Kesempatan untuk mengembangkan kebijakan dan prosedur bersama yang mendukung budaya keselamatan dan mutu yang tinggi di seluruh organisasi.
  5. Pendekatan Berbasis Bukti: Pemanfaatan penelitian terbaru dan praktik terbaik dalam merancang intervensi untuk meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.

        Upaya Antisipatif yang Dilakukan:

  1. Pemimpin yang Memfasilitasi Partisipasi: Memastikan bahwa pemimpin tidak hanya memberi perintah, tetapi juga memfasilitasi partisipasi aktif dari seluruh tim dalam proses pengambilan keputusan dan perencanaan strategi perbaikan mutu.
  2. Komunikasi yang Terbuka dan Transparan: Membangun budaya organisasi yang mendorong komunikasi terbuka dan transparan antara semua tingkatan staf, sehingga masalah dapat diidentifikasi dan diselesaikan dengan cepat.
  3. Evaluasi Rutin dan Umpan Balik: Menyelenggarakan evaluasi rutin tentang kinerja keselamatan pasien dan mutu layanan, serta memberikan umpan balik secara terbuka kepada staf untuk memperbaiki kualitas pelayanan.
  4. Pengembangan Keterampilan dan Pengetahuan: Investasi dalam pelatihan dan pengembangan staf untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam menangani situasi yang kompleks dan mendukung praktik terbaik.
  5. Adopsi Teknologi Inovatif: Mengidentifikasi dan mengadopsi teknologi baru yang dapat meningkatkan efisiensi operasional dan keakuratan dalam diagnosis serta pengobatan.

            Dengan mengantisipasi tantangan yang mungkin terjadi dan memanfaatkan peluang yang ada, fasilitas kesehatan tingkat lanjut dapat memperbaiki mutu layanan mereka secara signifikan, serta meningkatkan keselamatan pasien dan kepuasan staf. Model kepemimpinan demokratis yang mempromosikan partisipasi, transparansi, dan pendekatan berbasis bukti merupakan kunci keberhasilan dalam pencapaian tujuan ini.


F. Kesimpulan


        Model kepemimpinan demokratis, terutama yang cocok dengan tipe kepribadian ENTJ, memiliki aplikasi yang luas dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam manajemen fasilitas kesehatan, terutama dalam konteks penanganan TB-HIV dan peningkatan mutu di tingkat fasilitas kesehatan tingkat lanjut. Dengan memfasilitasi partisipasi aktif, kolaborasi lintas profesi, dan transparansi dalam komunikasi, kepemimpinan demokratis memungkinkan pengembangan tim yang kuat, implementasi kebijakan yang berbasis bukti, serta peningkatan keselamatan pasien dan kepuasan staf. Melalui pendekatan ini, tantangan seperti keterbatasan sumber daya dan kompleksitas sistem kesehatan dapat diatasi, sementara peluang seperti penggunaan teknologi inovatif dan peningkatan kesadaran masyarakat dapat dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian, model ini tidak hanya mendukung perbaikan berkelanjutan dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga mempromosikan budaya organisasi yang inklusif dan berorientasi pada hasil yang bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan.



G. Daftar Pustaka

 

  1. Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) ENTJ.
  2. ENTJ Personality (Commander) | 16Personalities [Internet]. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://www.16personalities.com/entj-personality
  3. ENTJ Personality Type, Characteristics And More [Internet]. Forbes Health. 2024 [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://www.forbes.com/health/mind/entj-personality-type/
  4. Besse Mattayang. TIPE DAN GAYA KEPEMIMPINAN: SUATU TINJAUAN TEORITIS. J Econ Manag Account. 2019;2.
  5. Pedoman Nasional Pelaynan Kedokteran Tatalaksan Tuberkolosis. Kementrian Kesehat Repub Indones. 2020;
  6. Laporan-Tahunan-Program-TBC-2022.pdf [Internet]. [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://tbindonesia.or.id/wp-content/uploads/2023/09/Laporan-Tahunan-Program-TBC-2022.pdf


H. Lampiran


Gambar Hasil Tes MBTI



 

 

 

 

 

 

                 

 

        

 

        

           

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader