ESFP LEADERSHIP : SENYUM SEMANGAT SUKSES!!!

   Maria Fernanda Dhone
   21.P1.0032




    ESFP (extrovert, sensing, feeling, perceiving) merupakan seseorang dengan tipe kepribadian yang menyukai pengalaman hidup, hidup penuh semangat, dan senang melakukan hal-hal yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Orang dengan kepribadian ini sangat menyukai kegiatan sosial, dan mendorong orang lain untuk melakukan kegiatan baik tersebut bersama. Kepribadian ESFP dinilai memiliki karakter sebagai penghibur, yang mampu menimbulkan aura keceriaan saat sedang bersama orang-orang disekitarnya.
    Kepribadian ESFP dalam kepemimpinan cenderung menciptakan lingkungan yang ramah, penuh semangat, dan kolaboratif. Mereka suka berinteraksi dengan orang lain, peka terhadap perasaan dan kebutuhan anggota tim, serta fleksibel dalam menghadapi perubahan. Kesederhanaan, kegembiraan, dan keinginan untuk membantu orang lain adalah ciri khas kepemimpinan ESFP.
    Sebagai pemimpin, mereka akan cenderung memotivasi tim dengan keceriaan dan energi positif. Mereka mampu membangun hubungan yang baik dengan anggota tim, menjadikan lingkungan kerja lebih menyenangkan, dan mendorong kolaborasi yang produktif. Kreativitas dan improvisasi juga menjadi kekuatan mereka dalam memecahkan masalah dan menghadapi tantangan yang muncul.
    Namun, pemimpin ESFP juga perlu berhati-hati agar tidak terlalu fokus untuk mencari persetujuan atau kesenangan dari orang lain sehingga keputusan yang diambil menjadi terlalu dipengaruhi oleh emosi. Pemimpin ESFP juga perlu belajar untuk lebih mendengarkan, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, dan tetap konsisten dalam menjalankan tugas kepemimpinan mereka.

MODEL KEPEMIMPINAN APA YANG COCOK UNTUK ESFP???

  1. Kepemimpinan Partisipatif : Model ini memungkinkan anggota tim untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Seorang pemimpin ESFP dapat menggunakan pendekatan ini untuk memperhatikan dan mengakomodasi berbagai sudut pandang dalam tim.
  2. Kepemimpinan Transformasional : Model ini fokus pada menginspirasi dan memotivasi anggota tim untuk mencapai tujuan bersama. Seorang pemimpin ESFP yang ekspresif dan mampu membangkitkan semangat dapat sukses menerapkan model ini.
  3. Kepemimpinan Karismatik : Model ini melibatkan kemampuan pemimpin untuk mempengaruhi orang lain melalui kepribadian dan karisma mereka. Seorang pemimpin ESFP yang memiliki daya tarik sosial dan kemampuan berkomunikasi yang baik dapat menjalankan model ini dengan efektif.
  4. Kepemimpinan Berorientasi pada Hubungan : Model ini menempatkan hubungan antara pemimpin dan anggota tim sebagai prioritas. Seorang pemimpin ESFP yang hangat, peduli, dan empatik cocok untuk menerapkan pendekatan ini.

MODEL KEPEMIMPINAN SEPERTI APA?

Kasus 1 : Kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di wilayah puskesmas
    Dalam penanganan kasus TB-HIV lintas program di wilayah Puskesmas, model kepemimpinan yang yang saya pilih adalah Kepemimpinan Transformasional. Mengapa? Karena model ini akan memungkinkan saya sebagai pemimpin untuk menginspirasi dan memotivasi anggota tim untuk mencapai tujuan bersama melalui pelaksanaan kegiatan advokasi, penguatan tim, monitoring, dan evaluasi penanganan TB-HIV. 

  • Advokasi : melakukan sosialisasi tentang TB-HIV di puskesmas untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang TB dan HIV, serta pentingnya deteksi dini dan pengobatan yang tepat. Dengan menggunakan kecerdasan emosional dan keterampilan komunikasi yang kuat, pemimpin dapat menginspirasi staf dan masyarakat lokal untuk mendukung upaya penanganan kedua penyakit tersebut.
  • Penguatan Tim : fokus pada penguatan tim di puskesmas dengan membangun hubungan yang baik antara anggota tim. Mendukung pengembangan keterampilan anggota tim, memfasilitasi kolaborasi dan komunikasi yang efektif di antara anggota tim, serta memberikan dukungan dan pengakuan atas kontribusi mereka dalam upaya penanganan TB-HIV.




  • Koordinasi lintas sektor : menggunakan keterampilan kolaborasi interpersonal untuk membangun jaringan kerja sama yang kuat antara puskesmas  dengan berbagai pihak terkait, seperti instansi pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan lembaga kesehatan, guna meningkatkan koordinasi lintas sektor dalam penanganan TB-HIV.
  • Kolaborasi Interprofesional : memfasilitasi kolaborasi antar profesi di puskesmas, seperti dokter, perawat, tenaga kesehatan masyarakat, dan tenaga medis lainnya. Dengan pendekatan yang inklusif, pemimpin dapat merangkul keahlian masing-masing individu serta mendorong kolaborasi tim yang efektif untuk memberikan pelayanan yang holistik kepada pasien TB-HIV.












  • Monitoring dan Evaluasi : memastikan adanya sistem monitoring dan evaluasi yang efektif dalam program penanganan TB-HIV di puskesmas. Dengan melibatkan staf puskesmas dalam proses ini, pemimpin dapat memastikan bahwa progres program terus dipantau secara sistematis dan evaluasi dilakukan secara berkala untuk memperbaiki kelemahan dan memperkuat kelebihan yang ada.










  • Tantangan : Tantangan yang mungkin muncul dalam penanganan kasus TB-HIV adalah koordinasi yang kompleks antara berbagai departemen atau unit terkait, perbedaan dalam pola kerja dan prioritas antara program TB dan HIV, serta kurangnya sumber daya atau dukungan yang memadai. Selain itu, stigma terhadap penderita TB dan HIV juga dapat menjadi hambatan dalam memberikan layanan yang optimal.
  • Peluang : memperbaiki sistem pelaporan dan penanganan kasus, meningkatkan koordinasi antarprogram, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan mengimplementasikan inovasi dalam penyuluhan dan pengawasan. Untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang tersebut, seorang pemimpin ESFP yang menerapkan model kepemimpinan transformasional dapat memotivasi tim untuk berkolaborasi, berinovasi, dan beradaptasi dengan dinamika yang ada.
  • Upaya Antisipatif : pelatihan untuk meningkatkan pemahaman tim tentang TB-HIV, memperkuat kerjasama lintas program di tingkat Puskesmas, membangun jaringan advokasi dengan pihak terkait, dan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya deteksi dini dan penanganan TB-HIV.
Kasus 2 : Keselamatan pasien dan petugas kesehatan di FKTL (safety surgery)
  • Tantangan
  1. Ketepatan Diagnosis : Meningkatkan ketepatan diagnosis sebelum pembedahan dapat menjadi tantangan yang signifikan dalam mengurangi risiko komplikasi selama dan setelah operasi.
  2. Koordinasi Tim : Memastikan koordinasi yang baik antara anggota tim medis dan staf dukungan dalam rangka meminimalkan kesalahan selama prosedur operasi merupakan tantangan yang perlu diatasi
  3. Tingkat Stres dan Tekanan : Faktor stres dan tekanan yang tinggi dalam lingkungan operasi dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dan ketrampilan klinis.
  • Peluang :
  1. Peningkatan Kesadaran : Kesempatan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya safety surgery dan pentingnya peran kepemimpinan transformasional dalam mencapainya.
  2. Pengembangan Tim yang Solid : Peluang untuk mengembangkan budaya kerja tim yang solid dan saling mendukung untuk meningkatkan koordinasi selama proses pembedahan.
  3. Inovasi Teknologi : Pemanfaatan teknologi terkini dalam prosedur pembedahan dapat menjadi peluang untuk meningkatkan keselamatan pasien dan efisiensi proses.
  • Upaya Antisipatif :
  1. Pelatihan dan Sertifikasi : Memberikan pelatihan yang intensif dan sertifikasi kepada anggota tim medis untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam safety surgery.
  2. Menerapkan Protokol Standar : Mengembangkan dan menerapkan protokol standar yang jelas dan terukur untuk memastikan keselamatan pasien selama prosedur pembedahan.
  3. Menggalang Dukungan : Menggalang dukungan dan partisipasi aktif dari seluruh anggota tim medis dan staf pendukung dalam menjaga keselamatan pasien selama proses operasi.
Kesimpulan : Dalam memimpin dengan gaya transformasional, ESFP dapat memotivasi tim untuk mencapai tujuan yang lebih besar dengan membimbing, memberi contoh, dan memberikan dukungan emosional. Kemampuan mereka untuk merangkul perbedaan dan memotivasi melalui keceriaan dan dorongan positif dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif dan produktif. Namun, sebagai seorang pemimpin ESFP, penting bagi mereka untuk tetap menyadari bahwa kepemimpinan transformasional juga memerlukan keterampilan dalam memberikan arah yang jelas, mengambil keputusan sulit, dan mengelola konflik secara efektif. Dalam situasi di mana perubahan atau ketidakpastian muncul, ESFP perlu meningkatkan kemampuan mereka dalam beradaptasi dan bertindak proaktif untuk memastikan keberhasilan tim dan organisasi secara keseluruhan.

Sumber :
  1. "The 16 Personality Types: Profiles, Theory & Type Development" dari situs web The Myers & Briggs Foundation.
  2. Bass, B. M. (1998). Transformational leadership: Industrial, military, and educational impact. Lawrence Erlbaum Associates Publishers.
  3. Northouse, P. G. (2018). Leadership: Theory and practice. Sage Publications.
  4. American College of Surgeons. (2021). *Optimal Resources for Surgical Quality and Safety.
  5. Avolio, B. J., & Yammarino, F. J. (2013). Transformational and charismatic leadership: The road ahead. Emerald Group Publishing
    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader