ENFJ Personality - What should you do as a leader?
21.P1.0006
ENFJ merupakan tipe yang hangat, suka berterus terang, dan memiliki ide dan nilai-nilai yang kuat. Mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dan memiliki energi yang tinggi. Dengan demikian, ENFJ sangat cocok untuk karir yang memungkinkan mereka untuk berinteraksi dengan orang lain dan membantu orang lain. Tipe ini mendukung perspektif mereka dengan energi kreatif untuk mencapai tujuan mereka. Seseorang dengan tipe kepribadian ENFJ (Protagonis) merasa terpanggil untuk melayani tujuan hidup yang lebih besar. Selain sikapnya yang bijaksana dan idealis, ENFJ berusaha untuk memberikan dampak positif pada orang lain dan dunia di sekitar mereka.1
Kepribadian seperti ini jarang menghindar dari kesempatan untuk melakukan hal yang benar, meskipun melakukan hal tersebut bukanlah hal yang mudah. ENFJ terlahir sebagai pemimpin, semangat dan karisma mereka memungkinkan mereka untuk menginspirasi orang lain tidak hanya dalam karier mereka tetapi juga di setiap bidang kehidupan mereka, termasuk hubungan mereka. Ada beberapa hal yang membuat orang dengan tipe kepribadian ENFJ merasakan kebahagiaan dan kepuasan yang lebih dalam daripada membimbing teman dan orang yang dicintai untuk tumbuh menjadi diri mereka yang terbaik.1
*Model kepemimpinan yang cocok untuk kepribadian ENFJ*
1. Kepemimpinan Transformasional
Model kepemimpinan transformasional memfokuskan pada transformasi diri dan orang lain. Seperti yang dikatakan Teori kepemimpinan transformasional didasarkan pada studi tentang kepemimpinan karismatik yang dipelajari oleh Weber, yang berpendapat bahwa otoritas para pemimpin karismatik bergantung pada kualitas luar biasa yang mereka miliki yang membuat mereka menonjol dari pada yang lain. ENFJ sangat peka terhadap perasaan orang lain dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi mereka. Mereka dapat membantu orang lain untuk berkembang dan mencapai tujuan yang lebih tinggi.2
Kasus 1 : Mendukung kegiatan lintas program kerja penanganan TB-HIV di wilayah puskesmas.3
Kenapa memakai Kepemimpinan Transformasional untuk mendukung kegiatan lintas program kerja penanganan TB-HIV di wilayah puskemas? Model Kepemimpinan Transformasional sangat efektif dalam mendukung kegiatan lintas program kerja penanganan TB-HIV di wilayah Puskesmas X. Dengan meningkatkan motivasi tim, pengaruh yang ideal, pertimbangan individu, dan stimulasi intelektual, tim dapat meningkatkan efektivitas penanganan TB-HIV dan meningkatkan keterlibatan komunitas. Oleh karena itu, model ini sangat penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengurangi kasus TB-HIV di wilayah tersebut. Dan langkah-langkah yang harus kita lakukan adalah :
1. Pelatihan Tugas
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan petugas medis dan non-medis dalam mengidentifikasi dan mengobati kasus TB-HIV. Dan contoh kegiatan yang dapat dilakukan seperti :
Memberikan pelatihan teoritis dan praktis tentang TB-HIV.
Meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan tes diagnosa dan pengobatan TB-HIV.
Meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan follow-up dan monitoring pasien TB-HIV.
2. Advokasi
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang TB-HIV dan pentingnya penanganan yang efektif. Dan contoh kegiatan yang dapat dilakukan seperti :
Melakukan kampanye edukasi melalui media massa, radio, dan televisi.
Membuat poster, brosur, dan bahan edukasi lainnya.
Meningkatkan kesadaran masyarakat melalui pengadaan pertemuan dan diskusi .
3. Penguatan Tim
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan koordinasi tim untuk meningkatkan efektivitas penanganan TB-HIV. Dan contoh kegiatan yang dapat dilakukan seperti :
Meningkatkan koordinasi antara petugas medis dan non-medis.
Meningkatkan koordinasi dengan organisasi masyarakat dan komunitas.
Meningkatkan koordinasi dengan pemerintah dan organisasi lainnya
4. Koordinasi Lintas Sektor
Koordinasi lintas sektor dalam penanganan TB-HIV di wilayah Puskesmas X Koordinasi Lintas Sektor memastikan bahwa semua aspek penanganan TB-HIV dilakukan secara efektif dan terkoordinir, sehingga meningkatkan kualitas pengobatan dan hasil program.4
Koordinasi Lintas Program:
· Koordinasi lintas program antara program TB dan HIV memastikan bahwa semua pasien TB mengetahui status HIV dan menerima pengobatan yang tepat. Koordinasi ini melibatkan berbagai sektor, seperti Dinas Kesehatan, Fasyankes, dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesling (BPJS).
Sosialisasi dan Rujukan:
· Sosialisasi pelaksanaan kolaborasi TB-HIV, mekanisme rujukan pengobatan HIV, dan PPINH ODHA dilakukan secara rutin untuk memastikan bahwa semua petugas kesehatan memahami peran mereka dalam penanganan TB-HIV. Rujukan pasien TB-HIV ke layanan HIV dan sebaliknya dilakukan secara efektif untuk memastikan pengobatan yang tepat
Validasi Data dan Supervisi:
· Validasi data kolaborasi TB-HIV dan umpan balik hasil kolaborasi TB-HIV dilakukan secara teratur untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan akurat dan dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pengobatan. Supervisi pelaksanaan kolaborasi TB-HIV juga dilakukan untuk memastikan bahwa semua petugas kesehatan mengikuti prosedur yang tepat.
Monev dan Diseminasi:
· Monev kolaborasi TB-HIV dilakukan untuk memantau kinerja program dan menemukan area perbaikan. Diseminasi hasil evaluasi dan pelaporan dilakukan untuk memastikan bahwa semua petugas kesehatan memahami hasil dan dapat mengaplikasikan perbaikan yang diperlukan.
Pengembangan Strategi:
Strategi menurunkan beban HIV pada pasien TB meliputi memastikan semua pasien TB mengetahui status HIV, meningkatkan pencegahan HIV, menyediakan pengobatan serta memastikan perawatan, dukungan, dan pengobatan pada pasien TB-HIV
6. Kolaborasi Interprofesional:
Kolaborasi interprofesional antara petugas kesehatan, dokter, dan lainnya sangat penting dalam penanganan TB-HIV. Petugas kesehatan lingkungan, misalnya, memiliki tugas menyusun rencana kegiatan Kesehatan Lingkungan berdasarkan data program Puskesmas dan melakukan evaluasi hasil kegiatan promosi kesehatan secara keseluruhan.
5. Monitoring dan Evaluasi
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas program penanganan TB-HIV dengan melakukan monitoring dan evaluasi. Dan contoh kegiatan yang dapat dilakukan seperti :
Melakukan monitoring dan evaluasi secara terus-menerus.
Meningkatkan kemampuan tim dalam mengidentifikasi dan mengobati kasus TB-HIV.
Meningkatkan kemampuan tim dalam melakukan follow-up dan monitoring pasien TB-HIV.
Tantangan
Keterkaitan TB-HIV TB dan HIV saling berkaitan dan sering menimbulkan koinfeksi TB-HIV di mana secara bersamaan seseorang menderita infeksi aktif atau laten TB dan infeksi HIV, Gejala yang tidak spesifik seperti Gejala infeksi TB pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tidak spesifik, sehingga diagnosis TB-HIV sering underdiagnosed, Pengobatan yang kompleks seperti Pengobatan TB-HIV memerlukan kombinasi obat antiretroviral (ARV) dan obat antituberkulosis (OAT), yang dapat menyebabkan interaksi obat yang berbahaya jika tidak diperhatikan, Keterbatasan sumber daya seperti Wilayah dengan prevalensi HIV/AIDS tinggi memiliki keterbatasan sumber daya, seperti dokter dan laboratorium, yang dapat menghambat pengobatan TB-HIV, Keterlibatan masyarakat seperti masyarakat perlu diwajibkan untuk skrining HIV dan TB untuk mendapatkan pengobatan yang tepat dan mencegah penyebaran infeksi.3
Peluang
Kolaborasi program TB-HIV di Puskesmas dapat meningkatkan efektifitas keberhasilan pengobatan dan penemuannya secara dini, Penggunaan teknologi seperti tes cepat molekuler (TCM) dan pemeriksaan biakan dapat meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas diagnosis TB-HIV, Pengobatan TB-HIV dengan kombinasi ARV dan OAT dapat meningkatkan efektivitas pengobatan dan mengurangi risiko resistensi obat, Pendidikan dan edukasi masyarakat tentang TB-HIV dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam program penanganan TB-HIV, Keterlibatan komunitas dalam program penanganan TB-HIV dapat meningkatkan dukungan dan partisipasi masyarakat dalam program tersebut.3
Upaya Antisipatif
- Penggunaan teknologi seperti tes cepat molekuler (TCM) dan pemeriksaan biakan dapat meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas diagnosis TB-HIV.
- Pengobatan TB-HIV dengan kombinasi ARV dan OAT dapat meningkatkan efektivitas pengobatan dan mengurangi risiko resistensi obat.
- Pendidikan dan edukasi masyarakat tentang TB-HIV dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam program penanganan TB-HIV.
Kasus 2 : Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)
Kenapa memakai model kepemimpinan Transformasi untuk mendukung kegiatan lintas program kerja Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan)?Karena model kepemimpinan Transformasional sangat efektif dalam meningkatkan keselamatan pasien dan petugas kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat lanjut. Dengan meningkatkan motivasi petugas kesehatan, pengaruh yang ideal, pertimbangan individu, dan stimulasi intelektual, tim dapat meningkatkan efektivitas keberhasilan pengobatan dan penemuannya secara dini. Oleh karena itu, model ini sangat penting dalam meningkatkan keselamatan pasien dan petugas kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat lanjut. Langkah-langkah yang harus kita lakukan adalah :
1. Pelatihan Petugas:
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keselamatan pasien dan petugas kesehatan dengan memberikan pelatihan teoritis dan praktis. Dan contoh kegiatan yang dapat dilakukan seperti :
Memberikan pelatihan teoritis tentang keselamatan pasien dan petugas kesehatan.
Memberikan pelatihan praktis tentang keselamatan pasien dan petugas kesehatan.
Identifikasi Pasien
Identifikasi pasien adalah prosedur yang penting untuk memastikan ketepatan pasien yang akan menerima layanan atau tindakan. Dalam FKTL, identifikasi pasien dilakukan menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien. Identifikasi pasien dilakukan sebelum pemberian obat, darah, atau produk darah, sebelum mengambil darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis, serta sebelum pemberian pengobatan dan tindakan/prosedur. 5
Komunikasi Efektif
Komunikasi efektif antara tim medis dan pasien sangat penting dalam menjamin keselamatan pasien. Komunikasi yang efektif melibatkan:
1. Komunikasi Jelas: Tenaga medis harus menjelaskan diagnosis, pengobatan, dan prosedur secara jelas dan terperinci kepada pasien, informed consent.
2. Komunikasi Terbuka: Pasien harus diberikan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi tentang pengobatan dan prosedur.
3. Komunikasi Berbasis Data: Tenaga medis harus menggunakan data klinis pasien untuk membuat keputusan yang tepat.
2. Kampanye Edukasi:
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keselamatan pasien dan petugas kesehatan. Dan contoh kegiatan yang dapat dilakukan seperti :
Melakukan kampanye edukasi melalui media massa, radio, dan televisi.
Membuat poster, brosur, dan bahan edukasi lainnya.
Meningkatkan kesadaran masyarakat melalui diskusi dan dialog.
3. Koordinasi Tim
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan koordinasi tim untuk meningkatkan efektivitas keberhasilan pengobatan dan penemuannya secara dini. Dan contoh kegiatan yang dapat dilakukan seperti :
Meningkatkan koordinasi antara petugas medis dan non-medis.
Meningkatkan koordinasi dengan organisasi masyarakat dan komunitas.
Meningkatkan koordinasi dengan pemerintah dan organisasi lainnya.
4. Monitoring dan Evaluasi
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas program dengan melakukan monitoring dan evaluasi. Dan contoh kegiatan yang dapat dilakukan seperti :
Melakukan monitoring dan evaluasi secara terus-menerus.
Meningkatkan kemampuan tim dalam mengidentifikasi dan mengobati kasus kesalahan diagnosa dan pengobatan.
Meningkatkan kemampuan tim dalam melakukan follow-up dan monitoring pasien.
Tantangan
Pandemi COVID-19
Pandemi COVID-19 telah menimbulkan tantangan signifikan dalam menjaga keselamatan pasien dan petugas kesehatan di FKTL. Kondisi pandemi memerlukan perubahan pola kerja yang cepat dan adaptif untuk menghadapi situasi yang dinamis.
Keterbatasan Sumber Daya
FKTL harus menghadapi keterbatasan sumber daya, seperti peralatan medis, obat-obatan, dan tenaga medis, yang dapat mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien.
Kesadaran dan Keterampilan
Petugas kesehatan harus memiliki kesadaran dan keterampilan yang baik dalam menghadapi situasi kesehatan yang kompleks dan dinamis, serta dalam menggunakan teknologi dan prosedur yang efektif untuk mengurangi risiko keselamatan.
Peluang
Teknologi Digital
Penggunaan teknologi digital dapat membantu meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan data pasien, komunikasi, dan prosedur operasional, sehingga meningkatkan keselamatan pasien dan petugas kesehatan.
Koordinasi dan Komunikasi
Koordinasi dan komunikasi yang efektif antara tim medis, petugas kesehatan, dan pasien dapat membantu mengurangi risiko keselamatan dan meningkatkan hasil pengobatan.
Pengembangan Keterampilan
Pengembangan keterampilan petugas kesehatan dalam menggunakan teknologi dan prosedur yang efektif dapat membantu meningkatkan keselamatan pasien dan petugas kesehatan.
Upaya Antisipatif
Penggunaan Peralatan Medis
Penggunaan peralatan medis yang modern dan efektif dapat membantu mengurangi risiko keselamatan pasien dan petugas kesehatan.
Pengembangan Prosedur Operasional
Pengembangan prosedur operasional yang efektif dan disiplin dapat membantu mengurangi risiko keselamatan dan meningkatkan hasil pengobatan.
3. Edukasi dan Pelatihan
Edukasi dan pelatihan yang rutin dan intensif dapat membantu meningkatkan kesadaran dan keterampilan petugas kesehatan dalam menghadapi situasi kesehatan yang kompleks dan dinamis.
Kesimpulan :
Model kepemimpinan Transformasional sangat efektif dalam meningkatkan keselamatan pasien dan petugas kesehatan di FKTL. Dengan meningkatkan motivasi petugas kesehatan, pengaruh yang ideal, pertimbangan individu, dan stimulasi intelektual, tim dapat meningkatkan efektivitas keberhasilan pengobatan dan penemuannya secara dini, Pelatihan petugas kesehatan yang teoritis dan praktis dapat meningkatkan keselamatan pasien dan petugas kesehatan, Monitoring dan evaluasi secara terus-menerus dapat meningkatkan efektivitas program dengan mengidentifikasi dan mengobati kasus kesalahan diagnosa dan pengobatan serta melakukan follow-up dan monitoring pasien. Penggunaan peralatan medis yang modern dan efektif, pengembangan prosedur operasional yang efektif dan disiplin, serta edukasi dan pelatihan yang rutin dan intensif dapat membantu mengurangi risiko keselamatan dan meningkatkan hasil pengobatan. Dengan demikian, FKTL dapat meningkatkan keselamatan pasien dan petugas kesehatan melalui upaya antisipatif yang efektif dan disiplin, serta memanfaatkan peluang yang tersedia. Tipe kepribadian ENFJ, seperti yang dijelaskan sebelumnya, sangat cocok untuk karir yang memungkinkan mereka untuk berinteraksi dengan orang lain dan membantu orang lain, sehingga mereka dapat berperan sebagai pemimpin yang efektif dalam meningkatkan keselamatan pasien dan petugas kesehatan di FKTL.
Daftar Pustaka
1. Myers & Briggs Foundation. The 16 MBTI Personality Types [Internet]. https://www.myersbriggs.org/. 2024. Available from: https://www.myersbriggs.org/my-mbti-personality-type/the-16-mbti-personality-types/
2. Curphy G, Ginnett R, Hughes R. Leadership: Enhancing the Lessons of Experience. 5th ed. New York: Mc Graw Hill; 2006.
3. Dinas Kesehatan. Model Kolaborasi Program TB - HIV di Puskesmas [Internet]. dinkes.banjarmasinkota.go.id. 2019. Available from: https://dinkes.banjarmasinkota.go.id/2019/10/model-kolaborasi-program-tb-hiv-di.html
4. RAKERKESDA. Rapat Kerja Kesehatan Daerah: Rencana Aksi Percepatan Eliminasi TB Peningkatan Cakupan Mutu Imunisasi Serta Percepatan Penurunan Stunting. 2018.
5. BKIM. Identifikasi Pasien dan Pelaporan IKP (Insiden Keselamatan Pasien) [Internet]. bkim.jatengprov.go.id. 2023. Available from: https://bkim.jatengprov.go.id/identifikasi-pasien-dan-pelaporan-ikp-insiden-keselamatan-pasien/

Komentar
Posting Komentar