Dokter dengan kepribadian petualang, memangnya ada ?
Benedictus Adi Utomo Pandelaki
21.P1.0011
SEPERTI APA ORANG INTROVERT YANG SEBENARNYA?
ISFP-T (Introvert, Observant, Feeling, Prospecting, Adventurer) adalah sebuah kepribadian yang dimiliki oleh seorang petualang. Kepribadian tipe ini merupakan tipe kepribadian yang bebas dalam menjelajah hal-hal yang baru di dunia. Individu dengan tipe kepribadian ini adalah pribadi yang unik dan juga memiliki jiwa seniman, seperti seorang seniman dengan kertas kanvas putih polosnya, menjelajah semua hal yang unik, baru, lalu mengekspresikannya melalui coretan lukisan yang diterapkan di kertas kanvas itu, menjadi sebuah lukisan yang elok dan menawan. Semua tindakan dan pikirannya terkoordinasi terfokus kepada keinginan dan impiannya. Hal-hal baru dan unik seringkali membuat hasrat dan minat dari individu dengan kepribadian ini naik. Rasa rendah hati dan menyadari dirinya hanyalah makhluk seadanya melekat dalam kepribadian ini, sehingga orang-orang akan cenderung melihat individu dengan kepribadian ini adalah individu yang luar biasa. Pola pikir yang sangat fleksibel menjadi ciri-ciri dari kepribadian ini, individu tersebut tidak terkurung dengan aturan-aturan maupun hal-hal yang sifatnya “sempit”. Apapun hasil yang mereka temukan adalah apa adanya dan terus menyisakan sisa ruang di dalam pikiran mereka untuk diisi penemuan-penemuan yang unik lainnya. Namun, kepribadian petualang ini tidak terlepas dari kelemahannya, seperti sulit untuk menentukan rencana yang menghasilkan impact jangka Panjang dan terkadang pikiran mereka juga tidak terlepas dari pengaruh/tindakan yang membuat orang lain kecewa. Individu dengan kepribadian ini biasanya dapat menangkap perasaan yang sedang dirasakan oleh orang lain. Kritik yang tajam dapat mempengaruhi cara berpikir mereka yang mungkin saja bisa melampiaskannya dalam bentuk yang membuat orang-orang harus memberikan perhatian kepada individu tersebut.1
Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh kepribadian ini adalah sebagai Berikut:1
·
Sangat imaginatif
Inspirasi dan ide-ide yang kreatif menjadikan individu dengan kepribadian ini tampak spesial di mata orang-orang. Orang-orang yang berkaitan dengannya bisa merasakan keragaman ide-ide yang dicurahkan dari individu dengan kepribadian ini.
·
Bergairah
Gairah
dalam diri individu dengan kepribadian ini begitu menggebu-gebu jika sudah
berhadapan apa yang mereka anggap menarik dan seru. Pikiran-pikiran lain akan
mereka lewati begitu saja dan memilih untuk menghadapi hal yang unik itu.
·
Terlihat menawan
Biasanya,
individu dengan kepribadian ini terlihat begitu santai dan nampak aura “kebebasan
makhluk di alam” mereka kental sekali. Ini membuat orang-orang tertarik dan
suka kepada individu tersebut.
·
Sensitif terhadap
perasaan
Penangkapan
dan pemahaman yang sensitif terhadap emosi orang lain pada individu dengan
kepirbadian ini membantu mereka dalam membangun sebuah hubungan atau ikatan
yang baik.
·
Pemberi semangat
Individu
dengan kepridaian ini dapat menjadi penebar semangat dan getaran yang positif
terhadap orang-orang sekitarnya. Watak mereka selalu memberikan semangat dan
kegembiraan tersendiri untuk orang-orang, sehingga memberikan ruang yang aman
untuk individu tersebut untuk mengutarakan ide-ide dan ekspresinya.
Selain beberapa
kelebihan diatas, terdapat beberapa hal yang menjadi kelemahan untuk
kepribadian tipe ini, seperti:
·
Harga diri yang kadang
seperti roller-coaster
Individu
dengan kepribadian ini kesulitan dalam suatu hal yang menuntut sebauh
kompetensi keterampilan. Biasanya, usaha mereka dianggap remeh oleh sebagian
orang.
·
Mudah sekali stres
Mereka
selalu penuh emosi di situasi yang tidak terkendali dan menutup diri mereka
sampai kehilangan kharisma yang mereka miliki, dan ini membuat kreativitas
mereka terhambat.
·
Kesulitan dalam
mencari solusi masalah
Tipe
kepribadian seperti mereka tidak dibuat untuk bisa mengatasi hal yang terkait
isu teknis. Karena mereka terbiasa dengan melakukan hal-hal yang sifat
observative dan minim akan keterlibatan langsung dengan permasalahan
menghalangi mereka dalam menemukan pemecahan masalah teknis itu.
·
Sulit diprediksi
Ketidaksukaan
mereka dengan suatu hal yang sifatnya jangka Panjang menyebabkan mereka
kesulitan dalam memperdalam hubungan romantic dan situas finansial di kemudian
hari
·
Kesulitan dalam
kaitannya dengan sebuah strukturisasi
Hal
yang terkait dengan strukturisasi menjadi sebuah kekontrasan dengan konsep dari
individu dengan kepribadian ini. Aturan, tradisi, dan apapun yang menyebabkan
pembatasan terhadap kebebasannya akan menjadi sebuah tekanan untuk individu
tersebut.
Disamping dari semua
kelebihan dan kekurangan itu semua, individu tersebut tahu, apa yang harus
diprioritaskan, tanpa harus memikirkan hal-hal kecil yang tidak penting, fokus
terhadap apa yang mereka jelajahi dan mampu mengapresiasi hal-hal yang ada di dalam
kehidupan. Apa yang mereka cari, tentu adalah sebuah sumber kebahagiaan dan
kesenangan untuk mereka yang untuk orang lain mungkin terlewatkan.
APA MODEL KEPEMIMPINAN YANG PAS BAGI SEORANG
INTROVERT?
Kepribadian ISFP memiliki beberapa model kepemimpinan
yang cocok dengan karakteristik mereka, seperti:
·
Model kepemimpinan
yang inspiratif
·
Model kepemimpinan
yang kolaboratif
Orang introvert seperti
ini lebih cenderung untuk bekerja dalam sebuah kolaborasi dan mendapatkan
masukan dari berbagai pihak. Mereka bisa menjadi pemimpn yang efisien untuk tim
yang mengandalkan kerjasam dan komunikasi.
·
Model kepemimpinan yang
fleksibel
Individu dengan
kepribadian ini mampu beradaptasi dengan mudah terhadap lingkungan dan kondisi
yang tidak menentu. Mereka menjadi pemimpin yang efektif
SEPERTI APA CARA MEMIMPIN MEREKA?
·
Kasus 1: Penanganan
TB-HIV
Dengan model kepemimpinan saya, program TB-HIV
untuk aspek advokasinya adalah mengadakan pertemuan atau sosialisasi kepada
masyarakat mengenai peran masyarakat dalam penanggulangan TB-HIV. Disini, saya
dengan tim lebih memfokuskan kearah program pendidikan dan kampanye serta berkoordinasi
dengan masyarakat terhadap kesadaran dan penanggulangan TB-HIV serta mengurangi
stigma yang beredar di masyarakat.
Penguatan Tim
Mengadakan pelatihan untuk para petugas dalam
halnya penanganan TB-HIV. Penguatan tim dalam konteksnya TB-HIV adalah
mengembangkan kapasitas tim yang komprehensif dan efektif dalam implementasinya
program TB-HIV.
Koordinasi Lintas Sektor
Perlunya Kerjasama dengan lintas sektor memberikan
efektifitas untuk mengintegrasikan. Upaya yang dapat dilakukan yaitu seperti
mengadakan pertemuan (forum) dengan berbagai pihak, seperti pihak sektor
pemerintah setempat, pendidikan, dan sosial.
Kolaborasi Interprofesional
Tidak terlepas dari profesi-profesi lain yang ada
di sektor kesehatan, seperti dokter, perawat, petugas lab, hingga apoteker dan
lainnya, saya pada dasarnya juga akan membutuhkan bantuan dari bidang-bidang
tersbut untuk menjalani program penanganan TB-HIV secara menyeluruh dan
komprehensif, sehingga pasien-pasien TB-HIV bisa terjangkau dan mendapatkan
penanganan secara menyeluruh.
Monitoring
Monitoring berarti mengumpulkan dan menganalisis data secara rutin untuk menemukan varians dan usulan rekomendasi atas temuan. Menyusun jadwal monitoring untuk evaluasi progress suatu program dan analisis data secara rutin untuk menemukan varians dan memberikan usulan rekomendasi atas temuan.
Evaluasi
Setelah melakukan kegiatan monitoring tentang progress
dari program yang dilakukan, akan ada sebuah kegiatan evaluasi mengenai hasil-hasil
yang ditemukan dari pengawasan sebelumnya. Melakukan evaluasi terhadap program
penanganan TB-HIV untuk menilai dari sisi efektivitas pengobatan, diagnostik,
hingga distribusi regimen obat yang diterima oleh pasien.
Dari berbagai aspek yang telah disebutkan diatas,
perlunya opsi-opsi ide dan inovasi dari setiap aspek untuk bisa memberikan gambaran
rencana yang tepat dan holistic untuk bisa memenuhi tujuan program penanganan
kasus TB-HIV tersebut.
APA KEMUNGKINAN TANTANGAN DAN PELUANG YANG
MUNGKIN TERJADI?
Tantangan dalam pelaksanaan kolaborasi TBC HIV berkaitan dengan sistem kesehatan nasional yaitu seperti pembiayan yang berbeda, sistem rujukan, sistem logistik, sistem pencatatan pelaporan dan khususnya pada poliklinik ditingkat rumah sakit, terpisahnya sistem poliklinik TBC dan HIV meskipun dalam satu gedung dan keterbatasan sumber daya manusia yang tersedia. Desentralisasi sistem pemerintahan tidak terlepas menjadi tantangan tersendiri dalam implementasi kolaborasi TBC HIV dan sistem one stop service.2
Beberapa hal yang mungkin menjadi tantangan adalah
sebagai berikut:
Kurangnya kesadaran masyarakat
Kurangnya kesadaran yang dimiliki oleh masyarakat
tentang pencegahan, pengobatan dan penanggulangan TB-HIV menjadi faktor yang
dapat mempersulit untuk menekan angka kasus TB-HIV
Lemahnya koordinasi dengan lintas sektor
Kurang kuatnya koneksi atau komunikasi dengan
lintas sektor bisa mempelambat efektifitas keberhasilan program penanganan kasu
TB-HIV secara holistic dan komprehensif.
Kurangnya sumber daya manusia yang memenuhi
standar
Kekurangan tenaga kerja/profesi seperti dokter,
perawat dapat mempersulit untuk mengidentifikasi dan mengobati kasus TB-HIV.
Kompleksitas pengelolaan dual diagnosis
Membutuhkan pengetahuan medis yang mendalam
terkait multi diagnosis dari pasien TB-HIV dan ini berkaitan dengan poin
sebelumnya yaitu memerlukan sumber daya manusia yang kompeten dan terstandar.
Beberapa hal yang mungkin menjadi peluang adalah
sebagai berikut:
Penggunaan tes dan diagnostik
Pengembangan metode diagnostic yang lebih canggih
dan sensitive untuk mendeteksi TB-HIV dapat meningkatkan kemungkinan diagnosis
tepat waktu dan pengobatan awal.
Pengintegrasian perawatan
Peluang utama adalah untuk mengintegrasikan
perawatan TB-HIV secara lebih efektif, melibatkan pengaturan sistem Dimana pasien
dapat menerima perawatan TB-HIV dalam satu tempat dan oleh suatu tim perawatan
yang terkoordinasi.
Inovasi teknologi
Penerapan teknologi informasi dan komunikasi dalam
manajemen kasus dapat membantu memantau kepatuhan pasien, mengelola suplai
obat, dan memberikan fasilitas konsultasi antar spesialis terkait.
Peningkatan pengawasan dan evaluasi
Peluang untuk membangun sistem pengawasan dan
evaluasi dapat mengidentifikasi temuan yang ada dan memberikan peluang untuk
perbaikan dalam pengelolaan pasien TB-HIV.
APA UPAYA ANTISIPATIF YANG DILAKUKAN?
Kesdaran masyarakat tentang TB-HIV perlu
ditingkatkan, termasuk gejala hingga cara pencegahannya serta pentingnya
mencari pengobatan dan perawatan yang tepat waktu. Ini juga menepiskan stigma
yang beresdar di masyarakat mengenai TB-HIV.
Pelatihan tenaga kesehatan
Pelatihan untuk tenaga kesehatan terhadap penanganan
TB-HIV, termasuk pengenalan gejala, diagnosis hingga pengelolaan terapi yang
efektif.
Peningkatan sistem monitoring dan evaluasi
Penguatan sistem montoring untuk memantau
kepatuhan pasien terhadap pengobatan yang sedang dijalankan dan
mengidentifikasi kasus resistan terhadap regimen obat, dan evaluasi mengenai efektivitas
program TB-HIV secara keseluruhan.
Pengembangan kelembagaan dan kemitraan lintas
sektor
Membangun kerja sama lintas sektor seperti dengan
pemerintah , organisasi non-pemerintah dan sekor swasta untuk meningkatkan aksesibilitas
meningkatkan efektifitas secara holistic mengenai program penanganan kasus TB-HIV.
·
Kasus 2: Keselamatan
pasien dan petugas kesehatan dalam PPI
Model kepemimpinan yang saya ambil adalah Model
kepemimpinan yang inspiratif. Dengan model kepemimpinan yang seperti ini, saya bisa
mencurahkan inspirasi ide dan inovasi mengenai pelaksanaan untuk sebuah penecegahan
penyakit infeksius di lingkungan rumah sakit; penyebaran infeksi pada pasien,
petugas, pengunjung, dan masyarakat di sekitar fasilitas pelayanan kesehatan
(rumah sakit). Dengan sinergisitas yang ada dalam sebuah tim pastinya, ide-ide
yang saya curahkan bisa menjadi inspirasi dan motivasi untuk semua orang yang
ada dalam tim dan meminimalkan risiko penularan penyakit infeksius di rumah
sakit.
APA KEMUNGKINAN TANTANGAN DAN PELUANG YANG
MUNGKIN TERJADI?
Hal-hal yang bisa menjadi sebuah tantangan dalam
meningkatkan mutu dalam aspek pencegahan dan pengendalian infeksi adalah
sebagai berikut:
Manajemen risiko infeksi
Pengelolaan risiko menjadi sebuah tantangan
tersendiri. Indikator-indikator risiko perlu secara cermat diidentifikasi lalu
dibuat sebuah penanganan atas itu. Mengelola risiko infeksi di sebuah fasilitas
kesehatan tingkat lanjut memerlukan pemantauan yang teliti terhadap kejadian
infeksi yang berisiko muncul di lingkungan fasilitas kesehatan tersebut.
Kesadaran dan kepatuhan
Sedikit berhubungan dengan poin sebelumnya, kesadaran
akan risiko yang dimiliki juga menjadi sebuah tantangan yang harus diselesaikan,
khususnya bagi para tenaga kesehatan. Kesadaran kepatuhan yang penuh oleh
tenaga kesehatan terhadap praktik-praktik pencegahan infeksi seperti penggunaan
alat pelindung diri (APD), dan sterilisasi perlatan medis.
Infrastruktur dan lingkungan
Keterjangkauan fasilitas yang tersedia di lingkungan
fasilitas kesehatan tingkat lanjut menjadi tantangan penting dalam kaitannya
pencegahan infeksi pada pasien, pengunjung, petugas dan masyarakat sekitar
fasilitas, seperti tempat cuci tangan, ventilasi efektif, pemeliharaan
kebersihan lingkungan.
Surveilans dan pelaporan
Menjalankan sistem surveilans infeksi yang efektif
dan pelaporan yang cermat adalah tantangan dalam hal identifikasi dan tindakan
lanjut terhadap sebuah kejadian infeksi yang sedang terjadi di lingkungan
fasilitas kesehatan (infeksi nosokomial).
Selain itu, ada juga peluang yang mungkin bisa
didapatkan sebagai berikut:
Pendidikan dan pelatihan
Melakukan peningkatan edukasi dan pelatihan bagi
para petugas kesehatan mengenai praktik-praktik pencegahan infeksi yang efektif
Protokol dan panduan
Memperbarui dan menegakkan protokol standar dan
panduan pencegahan infeksi yang didasarkan pada bukti ilmiah terbaru.
Penelitian dan inovasi
Dengan peningkatan mutu ini, bisa menjadi peluang
untuk memunculkan penelitian dan inovasi teknologi baru untuk pencegahan dan
pengendalian infeksi di lungkunganfasilitas kesehatan tingkat lanjut.
Penggunaan teknologi
Peningkatan monitoring dan pengendalian infeksi
seperti sistem informasi yang terintegrasi untuk melacak infeksi terkait
perawatan kesehatan dengan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan
APA UPAYA ANTISIPATIF YANG DILAKUKAN?
Monitoring dan deteksi dini
Mengembangkan sistem monitoring yang kuat untuk
mendeteksi infeksi atau kejadian yang berpotensi membahayakan sejak dini.
Simulasi dan Latihan krisis
Edukasi dan pelatihan berkelanjutan
Mengadakan edukasi dan pelatihan berkelanjutan
untuk para petugas kesehatan tentang perkembangan terbaru dalam pencegahan dan
pengendalian infeksi, pentingnya penggunaan APD, dan Teknik sterilisasi
peralatan medis yang efektif.
Kolaborasi dan keterlibatan pasien
Kolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu kesehatan
dan melibatkan pasien serta keluarga sebagai mitra dalam upaya pencegahan
infeksi, termasuk edukasi mengenai peran mereka dalam menekan angka risiko
infeksi.
Kesimpulan
Kepribadian ISFP-T memiliki karakteristik yang begitu unik dari kepribadian lainnya. Ambisi untuk menjelajahi hal-hal yang baru dan mencoba apapun dan tidak terpaku dengan sebuah kekakuan strukturisasi serta sensitif terhadap perasaan atau emosi orang membuat model kepemimpinan mereka lebih cenderung memberikan sebuah motivasi dan inspirasi untuk orang-orang yang ada di dalam tim itu. namun, perlu menjadi catatan bahwa kepribadian ini sulit di dalam sebuah kondisi dengan tekanan yang intens.
Daftar pustaka
1. The 16 MBTI® Personality Types [Internet]. [dikutip 5 Juli 2024]. Tersedia pada: https://www.myersbriggs.org/my-mbti-personality-type/the-16-mbti-personality-types/
2. RI KK.
Petunjuk Teknis Kolaborasi TBC HIV. Luhukay L, Adhi GBL, editors. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI; 2023.







Komentar
Posting Komentar