Dari Keingintahuan Hingga Memimpin
Nama : Putri Artamedya
NIM: 21.P1.0031
Karakteristik Personal
Seseorang dengan personality ENTP (extrovert,intuitive,thinking,perceiving) tipe “debaters”.
Entp memiliki kepribadian energik yang fokus pada pengembangan solusi terhadap masalah teknis dan intelektual yang menarik dan beragam. Artinya, ENTP cenderung menghargai karier yang memberi mereka kebebasan untuk bereksplorasi, bereksperimen, dan terlibat dengan berbagai ide dan perspektif. ENTP membawa energi dan semangat intelektual ke dalam hubungan di tempat kerja mereka dan biasanya merupakan peserta paling aktif dalam pertemuan tim atau sesi curah pendapat, senang bertukar ide dan bercanda.
Untungnya, kepribadian ENTP juga tahu cara bersantai, dan permainan kata-kata mereka yang cerdas, selera humor yang sehat, dan sifat ramah biasanya membantu mereka mendapatkan teman baru dengan cepat dan mudah. Selalu bersedia untuk memanfaatkan pengetahuan mereka, percakapan dengan tipe orang yang inventif ini bersifat informatif dan menghibur, yang memudahkan mereka untuk menjadi orang yang tepat untuk mengatasi masalah sulit yang memerlukan pendekatan yang lebih dapat diprediksi. ENTP adalah orang yang tepat untuk mengatasi tantangan yang kompleks dan proyek yang beragam.
Entp memiliki kelemahan dan kelebihan.
Kelebihan nya adalah:
1. Knowledgeable : suka mempelajari sesuatu yang baru.
2. Quick thinkers : Kepribadian ENTP memiliki pikiran yang sangat fleksibel dan mampu beralih dari satu ide ke ide lain dengan sedikit usaha.
3. Original : kepribadian ENTP mampu membuang sistem dan metode yang ada dan mengumpulkan ide-ide yang berbeda dari basis pengetahuan mereka yang luas untuk merumuskan ide-ide baru yang berani.
4. Excellent brainstormers : Menggabungkan pengetahuan dan orisinalitas mereka untuk menjelaskan setiap aspek subjek yang ada, menolak pilihan yang tidak berhasil tanpa penyesalan, dan menghadirkan lebih banyak kemungkinan.
5. Charismatic : Kepercayaan diri, pemikiran cepat, dan kemampuan mereka untuk menghubungkan ide-ide, gaya komunikasi yang menawan, bahkan menghibur, dan sekaligus informatif.
6. Energetic: ENTP sangat mengesankan dalam antusiasme dan energi mereka, tidak segan-segan meluangkan waktu siang dan malam yang panjang untuk menemukan solusi.
Kelemahan nya adalah:
1. Very argumentative : ENTP adalah latihan mental untuk memperdebatkan suatu ide.
2. Insentive : ENTP sangat rasional sehingga sering salah menilai perasaan orang lain dan memaksakan perdebatan mereka melampaui tingkat toleransi orang lain.
3. Intolerant: ENTP kemungkinan besar akan menolak tidak hanya ide-ide tersebut tetapi juga orang-orang itu sendiri.
4. Can Find It Difficult to Focus : Kebosanan datang dengan mudah bagi tipe orang aktif ini, dan pemikiran segar adalah solusinya, meski tidak selalu membantu.
5. Dislike Practical Matters: ENTP, yang lebih menyukai spontanitas dan hal-hal baru, sering kali kesulitan dengan organisasi, struktur, dan semua hal praktis1.
Model Kepemimpinan Yang Relevan
Jika ENTP jadi pemimpin maka kemungkinan akan menjadi pemimpin yang bisa menyenangkan namun bisa juga menjengkelkan karena suka berdebat dengan bawahannya, dan penuh ide-ide gila yang bahkan bisa tidak masuk akal sama sekali. ENTP juga pemimpin yang inovatif, percaya diri, open minded, tidak terlalu mengekang bawahannya. Jika ENTP jadi pemimpin, maka mereka cenderung jadi penggagas ide dan selebihnya biarkan para bawahannya yang mengeksekusinya.
Berdasarkan karakter seorang ENTP dan penjelasan diatas, model kepemimpinan yang relevan untuk ENTP adalah kepemimpinan transformasional.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk kegiatan lintas program penanganan TB-HIV
1. Memicu visi dan inspirasi: ENTP pandai melihat gambaran besar dan memunculkan ide-ide baru yang inovatif. Kemampuan ini memungkinkan mereka untuk menginspirasi tim dan mengarahkan mereka menuju tujuan bersama.
2. Mendorong partisipasi dan pemberdayaan: ENTP senang berdiskusi dan bertukar ide. Mereka menghargai pemikiran individu dan mendorong partisipasi tim dalam pengambilan keputusan. Hal ini menciptakan lingkungan yang dinamis dan memberdayakan bagi anggota tim.
3. Belajar dan beradaptasi: ENTP selalu terbuka terhadap informasi dan ide baru. Mereka fleksibel dan mampu beradaptasi dengan perubahan, yang penting dalam dunia yang terus
Kegiatan pelaksanaan penanganan TB-HIV melibatkan berbagai aspek yang penting untuk memastikan bahwa program tersebut berjalan efektif dan memberikan hasil yang optimal:
1. Advokasi: Pemimpin transformasional dapat menginspirasi dan memotivasi orang lain untuk bertindak dan memperjuangkan perubahan dalam kebijakan dan program yang terkait dengan kesehatan masyarakat, dapat membangun koalisi dan kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung upaya advokasi, dapat mengkomunikasikan pesan advokasi secara jelas dan persuasif kepada berbagai audiens. Contoh: Seorang pemimpin transformasional di Puskesmas dapat mengadvokasi peningkatan pendanaan untuk program TB-HIV.
2. Penguatan tim: Pemimpin transformasional dapat menciptakan lingkungan kerja yang positif dan mendukung di mana staf merasa diberdayakan dan termotivasi untuk berkontribusi pada tujuan tim, dapat mengembangkan keterampilan dan pengetahuan staf melalui pelatihan dan pengembangan profesional, dapat mendorong kerja sama tim dan kolaborasi antar anggota tim. Contoh: Seorang pemimpin transformasional di Puskesmas dapat memperkuat timnya dengan memberikan pelatihan tentang perawatan pasien yang berpusat pada pasien.
3. Koordinasi Lintas Sektor: Pemimpin transformasional dapat memfasilitasi komunikasi dan koordinasi yang efektif antara berbagai program dan organisasi yang terlibat dalam upaya kesehatan masyarakat. Contoh: Bekerjasama dengan sektor lain untuk meningkatkan penemuan kasus TB-HIV.
4. Kolaborasi Interprofesional: Pemimpin transformasional dapat mendorong kolaborasi antar profesional kesehatan yang berbeda dari berbagai disiplin ilmu. Contoh: dapat mendorong kolaborasi antara dokter dari berbagai disiplin ilmu untuk mengatasi masalah TB-HIV.
5. Monitoring dan Evaluasi: Pemimpin transformasional dapat menetapkan tujuan dan sasaran yang jelas untuk program dan kegiatan kesehatan masyarakat, dapat mengembangkan indikator dan sistem pengukuran untuk memantau kemajuan dan efektivitas program, dapat menggunakan hasil monitoring dan evaluasi untuk meningkatkan program dan kegiatan. Contoh: seorang pemimpin transformasional di puskesmas dapat memantau dan mengevaluasi efektivitas program TB-HIV.
Tantangan dan Peluang
Berbagai tantangan yang berkontribusi di dalam belum maksimalnya pencapaian indikator menurunkan beban TB-HIV, antara lain:
1. Terbatasnya akses dan jumlah layanan yang menyediakan tes cepat molekular (TCM) dan beberapa alat TCM yang tidak beroperasional dengan baik. Proses rujukan pemeriksaan TCM yang terkendala di lapangan serta hasil pemeriksaan TCM lama.
2. Pengendalian Infeksi TBC di fasyankes, terutama di unit HIV, pemantauannya belum optimal. Situasi ruangan pemeriksaan/ruang tunggu unit HIV belum memadai untuk membuat layanan TBC satu atap.
3. Minimnya pembiayaan untuk pelatihan TB-HIV bagi petugas HIV dan terbatasnya pembiayaan untuk melaksanakan monitoring maupun evaluasi TB-HIV.
4. Adherence atau kepatuhan pengobatan, baik ART maupun OAT, masih menjadi masalah. Tingginya stigma HIV di masyarakat masih menjadi tantangan bagi ODHIV untuk membuka status HIV pada keluarga. Pelibatan kelompok dukungan sebaya/kader belum optimal.
5. Komitmen petugas di dalam melaksanakan layanan TB-HIV, termasuk pencatatan dan pelaporan kegiatan TB-HIV di lapangan berpengaruh dalam rendahnya cakupan kegiatan. Tingginya beban kerja petugas, minimnya supervisi dari program menjadi kendala dalam pencatatan dan pelaporan3.
Beberapa peluang untuk memperbaiki capaian target dan indikator juga diidentifikasi dari praktik-praktik baik yang telah diterapkan oleh berbagai pihak, dan antara lain mencakup:
1. Peran pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya sangat penting untuk perluasan layanan HIV, termasuk tes, perawatan, dukungan, dan pengobatanpasien TB-HIV.
2. Adanya kerja sama lintas sektor terkait sistem rujukan pasien untuk tata laksanaTB- HIV dapat meningkatkan temuan dan penanganan kasus.
3. Petugas penjangkau dan pendamping berperanan dalam membantu memastikan pasien TBC untuk tes HIV, mendapatkan ARV, dan TPT.
4. Validasi data pasien TBC dan HIV dilakukan mulai dari tingkat layanan sehingga lebih mudah penelusurannya.
5. Layanan TB-HIV terintegrasi memudahkan pasien TBC untuk mendapatkan tes HIV dan RAV3.
Aplikasi model kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas Kesehatan)
Kepemimpinan transformasional memainkan peran penting dalam meningkatkan mutu di fasilitas kesehatan tingkat lanjut, khususnya dalam aspek keselamatan pasien dan petugas kesehatan. Karakteristik gaya kepemimpinan ini adalah visi dan misi yang jelas, keterampilan komunikasi yang efektif dan keberanian untuk mengambil risiko. Contohnya penerapannya dalam keselamatan pasien yaitu safety surgery.
Sasaran keselamatan pasien di FKTL (Safety Surgery)
Pelaksanaan SSC di Indonesia sendiri diperkenalkan oleh Komisi Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKP-RS) dalam rangkaian dengan six goals gerakan keselamatan pasien. Lebih lanjut, implementasi SSC diformalkan dalam standar nasional akreditasi rumah sakit sejak tahun 2012. Seluruh rumah sakit di Indonesia yang telah terakreditasi hampir pasti telah menerapkan SSC pada saat persiapan survei akreditasi.
Tantangan
1. Walaupun dirancang untuk dapat digunakan secara universal, diduga penerapannya tidak konsisten pada saat sumber daya yang diperlukan untuk penerapannya secara penuh tidak tersedia.
2. Dalam konteks sehari-hari, infrastruktur yang tersedia dan keberadaan peralatan dan tenaga terlatih menjadikan penerapan SSC adalah tantangan unik di banyak tempat.
3. Masalah hirarki, penundaan pelayanan, penambahan beban kerja, situasi darurat, kecemasan pasien, kurangnya pemahaman terhadap esensi, dan masalah saat operasi selesai sebagai kendala dalam penerapan SSC.
4. Tidak jarang kita jumpai tenaga kesehatan yang lebih junior atau lebih sedikit jumlah tahun pelatihannya tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan suatu usulan atau peringatan di kamar bedah.
5. Terdapat kendala yang unik pada saat pengisian ceklis untuk sign out karena adanya perbedaan persepsi waktu selesai operasi menurut dokter bedah, dokter anestesi, dan perawat4.
Peluang
1. Meningkatkan koordinasi antar instansi terkait, seperti Kementerian Kesehatan, Konsil Kedokteran Indonesia, dan Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia, dalam menyusun dan memperbarui regulasi dan standar keselamatan operasi.
2. Memastikan bahwa semua rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya mematuhi regulasi dan standar keselamatan operasi yang berlaku serta monitoring dan evaluasi terhadap kepatuhan terhadap regulasi dan standar keselamatan operasi secara berkala.
3. Mengembangkan program edukasi dan pelatihan keselamatan operasi yang berkelanjutan dan terstandarisasi.
Upaya antisipatif
1. Diperlukan suatu kerja sama yang baik antara perawat kamar bedah, dokter bedah, dan dokter anestesi.
2. Memilih champion, meningkatkan pelatihan, mulai secara perlahan dengan target terukur, menyesuaikan format ceklis dengan muatan lokal, dan audit berkala.
3. Mengembangkan sistem checklist keselamatan operasi yang elektronik dan
Kesimpulan
Setiap kepribadian mampu menjadi pemimpin, jangan takut untuk mengambil kesempatan menjadi seorang pemimpin. Kepribadian ENTP adalah kepribadian yang energik dan menyukai hal baru, mereka terbuka oleh berbagai pendapat. Oleh karena itu, model kepemimpinan yang relevan untuk ENTP adalah kepemimpinan transformasional.
DAFTAR PUSTAKA
1. Workplace Habits | Debater (ENTP) Personality [Internet]. 16Personalities. Available from: https://www.16personalities.com/entps-at-work
2. Wikipedia Contributors. Transformational leadership [Internet]. Wikipedia. Wikimedia Foundation; 2019. Available from: https://en.wikipedia.org/wiki/Transformational_leadership
3. Kemenkes RI. Rencana Aksi Nasional Kolaborasi TB-HIV 2020-2024 [Internet]. 2021. Available from: https://tbindonesia.or.id/wp-content/uploads/2022/09/RAN-Kolaborasi-TB-HIV-2020-2024.pdf
4. User S. Penerapan Surgical Safety Checklist dan Tantangannya [Internet]. Mutu Pelayanan Kesehatan. 2020 [cited 2024 Jul 7]. Available from: https://www.mutupelayanankesehatan.net/3536-penerapan-surgical-safety-checklist-dan-tantangannya





Komentar
Posting Komentar