Characteristics of Extroverted Leadership: Turning Your Traits into Strengths

Characteristics of Extroverted Leadership: Turning Your Traits into Strengths

 

Anesta Nugraha

21.P1.0014

 

 ENFP-A



    Karakter dan kepribadian individu mempengaruhi pola pikir, perilaku, emosi, etika, dan kebiasaan seseorang yang dapat menjadikan seseorang tersebut berbeda satu dengan yang lainnya. Menurut Isabel Briggs Myers yang merupakan orang yang mengembangkan tes kepribadian MBTI, terdapat 16 tipe kepribadian. Salah satu kepribadian tersebut adalah ENFP-A. Lalu apa itu tipe kepribadian ENFP-A? Tipe kepribadian ENFP-A (Extrovert, Intuition, Feeling, Perceiving, Assertive) adalah tipe kepribadian yang berjiwa bebas, ramah, ceria, kreatif, mandiri dan berpikiran terbuka. Kepribadian ini sering menonjol ditengah keramaian untuk memperkaya hubungan dan kehidupan sosial mereka. Seorang ENFP-A sering kali penuh gairah ketika telah menemukan ide imajinasi mereka sehingga seringkali antusiasme tersebut tertular kepada orang lain yang berada di dekatanya. Seorang ekstrovet menyukai tantangan serta terbuka dengan suasana baru yang dapat memperluas pandangan mereka tantang dunia. Sifat ENFP-A ini berbeda dengan seorang ENFP-T walaupun sama-sama memiliki kepribadian ekstrovert. Seorang ENFP-A cenderung lebih memiliki tingkat kepercayaan diri dan ketenangan dalam menghadapi stress serta tantangan dalam hidupnya. Mereka lebih cenderung menjaga keseimbangan, perasaan orang lain dan menghadapi setiap masalah dengan sikap positif. Seorang pemimpin yang memiliki kepribadian ENFP-A ini akan cenderung fleksibel dan adaptif ketika menghadapi suatu kondisi tertentu sehingga tidak selalu terikat pada jadwal atau struktur yang ketat, sifat ini akan lebih memudahkan seorang ENFP-A ketika menjadi seorang pemimpin dalam menghadapi suatu kondisi darurat atau mendesak yang membutuhkan penanganan cepat karena seorang ENFP-A dapat memunculkan ide-ide yang kreatif dan adaptif sesuai dengan kondisi yang ada.

    Namun, ketika seorang ENFP-A menjadi seorang pemimpin harus memperhatikan kelemahan yang ia miliki karena pribadi ini akan sulit mempertahankan konsistensi serta semangat yang dimilikinya ketika ide atau imajinasi yang ia miliki telah pudar. Oleh karena itu, sebagai pemimpin seorang ENFP-A harus sering berinteraksi dengan tim untuk mendapatkan umpan balik atau masukan akan setiap ide yang dimilikinya, melakukan re-evaluasi tim untuk memahami tujuan jangka panajang dari setiap ide yang dimiliki sehingga dapat membantu mempertahankan fokus dan semangat dalam jangka waktu yang lebih panjang. Lalu yang tak kalah penting, sebagai pemimpin yang sulit mempertahankan semangatnya terhadoap sebuah ide yang dimiliki harus melakukan self-care dan istirahat yang cukup agar menjaga energi dan semangatnya sehingga setiap pekerjaan tim jangka panjang yang dilakukannya tidak akan kehilangan semangat.

 

MODEL KEPEMIMPINAN APAKAH YANG RELEVAN BAGI ORANG ENFP-A?

Model kepemimpinan yang cocok bagi orang yang memiliki tipe kepribadian ENFP-A (Extrovert, Intuition, Feeling, Perceiving, Assertive) biasanya adalah kepemimpinan yang memungkinkan mereka untuk mengekspresikan kreativitas mereka, memberdayakan orang lain, dan menciptakan lingkungan yang inovatif. Beberapa model kepemimpinan berikut merupakan pendekatan kepemimpinan yang cocok untuk orang ENFP-A:

Transformational Leadership: Orang ENFP-A cenderung mampu menginspirasi dan memotivasi orang lain. Model kepemimpinan transformatif menekankan pada pengaruh yang kuat terhadap pengikutnya melalui visi yang kuat, idealisme, dan kemampuan untuk membangkitkan semangat.

Relationship Oriented Leadership: ENFP-A memiliki kemampuan alami untuk membangun hubungan yang kuat dan empatik dengan orang lain. Kepemimpinan berorientasi pada hubungan menekankan pada pentingnya membangun koneksi yang kuat dengan tim, memberikan dukungan, dan memahami kebutuhan individu dalam tim.

Collaborative Leadership: Karena ENFP-A cenderung kreatif dan berpikir di luar kotak, model kepemimpinan yang kolaboratif sangat cocok bagi mereka. Ini memungkinkan mereka untuk bekerja bersama orang lain, mendengarkan ide-ide mereka, dan menciptakan solusi inovatif secara bersama-sama.

Visionary Leadership: Orang ENFP-A sering memiliki visi yang besar dan kemampuan untuk melihat potensi yang belum terwujud. Model kepemimpinan berbasis visi memungkinkan mereka untuk menetapkan tujuan yang menantang namun bermakna, serta memimpin dengan menginspirasi orang lain untuk mencapai visi tersebut.

Responsive Leadership: ENFP-A memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan dan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi. Kepemimpinan responsif memungkinkan mereka untuk merespons kebutuhan tim atau organisasi secara efektif, sambil tetap mempertahankan fleksibilitas dan kreativitas mereka.

 

BAGAIMANA SEORANG PEMIMPIN ENFP-A DAPAT MELAKUKAN PENANGANAN TB-HIV DI FASKES TINGKAT PERTAMA?



Program penanagan TB-HIV di fasilitas kesehatan tingkat pertama memerlukan kerjasama tim, dimana dalam sebuah tim memerlukan seorang pemimpin. Sebagai orang yang memiliki kepribadian ENFP-A untuk menghadapi kasus tersebut dapat mengaplikasikan model kepemimpinan berbasis visi (visionary leadership). Pemilihan tipe kepemimpinan tersebut dikarenakan orang ENFP-A memiliki visi yang besar serta ide imajinasi mereka yang kreatif dapat  memungkinkan orang-orang dengan kepribadian ENFP-A untuk menetapkan tujuan yang menantang namun bermakna dalam menangani kasus TB-HIV, serta memimpin dengan menginspirasi orang lain untuk mencapai keberhasilan dalam program penangan TB-HIV. Selain itu, dalam mengahadap kasus ini memerlukan untuk menggerakkan orang-orang ke arah tujuan bersama yaitu berkurangnya penderita TB-HIV dan suksesnya program penanganan TB-HIV.

Advokasi

Pada dasarnya advokasi program penanganan TB-HIV dilakukan dengan prinsip promotive, preventif, kuratif, dan rehabilitative. Program yang dapat dilakukan yaitu penyuluhan mengenai TB-HIV terhadap masyarakat umum dan memberikan dukungan moral terhadap orang dengan HIV (ODHIV), dan mendukung kebijakan pemerintah untuk menangani TB-HIV sehingga visi puskesmas ataupun pemerintah untuk memberantas TB-HIV tercapai.

Penguatan Tim

Pembentukan tim khusus untuk program penangan TB-HIV sangatlah penting, tetapi dalam sebuah tim juga harus selalu dilakukan penguatan tim agar semua tujuan awal pembentukan tim tersebut tercapai. Cara penguatan tim yaitu dengan selalu mengingatkan anggota tim mengenai visi awal mereka terebentuk, menginspirasi dan memebrikan semangat kepada anggota tim agar selalu dapat bekerja dengan maksimal, memberikan pelatihan dan pengembangan ilmu serta keterampilan tim.

Koordinasi Lintas Sektor

Visi untuk keberhasilan program penangan TB-HIV ini tentu tak hanya dilakukan oleh puskesmas saja, tetapi perlu menggerakkan banyak orang dari berbagai sektor untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu, koordinasi lintas sektor perlu dibangun dengan melakukan rapat rutin dan forum terbuka lintas sektor yaitu sektor kesehatan, pendidikan, dan masyarakat.  

Kolaborasi Interprofesional

Kolaborasi ini bertujuan untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien TB-HIV. Kolaborasi ini melibatkan tim kesehatan yang terdiri dari dokter umum, dokter spesialis, perawat, farmasi atau apoteker, ahli gizi, psikolog, dan pekerja sosial.

Monitoring

Monitoring kasus TB-HIV dapat dilakukan dengan rutin identifikasi kasus baru, memperluas cakupan pemeriksaan pada pasien TB dan HIV, dan pemantauan pengobatan penderita TB-HIV.  

Evaluasi

Evaluasi dilakukan dengan cara melihat keberhasilan program yang ada serta memperhatikan jumlah kasus yang ada sehingga dengan begitu dapat menentukan pengembangan atau perbaikan program yang ada.

TANTANGAN DAN PELUANG YANG MUNGKIN TERJADI SERTA UPAYA ANTISIPASI YANG DILAKUKAN

Tantangan pelaksanan program penanganTB-HIV di faskes tingkat pertama tentunya sangatlah banyak, antara lain:

1.      Kurangnya pengetahuan terhadap TB-HIV

Banyak orangawam masih belum mengetahui mengenai kebenaran penyakit tersebut, bahkan terdapat ODHIV juga yang masih belum mengetahui bahwa dirinya memiliki faktor risiko untuk terkena TBl.

2.      Keterbatasan sumber daya dan fasilitas

Sumber daya yang dimaksudkan dapat berupa sumber daya manusia (tenaga medis), logistik, obat-obatan yang dapat mengahambat keberhasilan program penangan TB-HIV. Selain itu, fasilitas untuk mendiagnosis TB dan HIV di Indonesia belum tentu seluruh faskes memiliki fasilitas tersebut, sehingga untuk melakukan diagnosis pasti sangatlah sulit.

3.      Lokasi Faskes

Indonesia merupakan negara yang luas, banyak faskes-faskes yang berada jauh terpelosok dan transportasi yang ada terbatas sehingga dengan lokasi geografis Indonesia tersebut dapat menjadi tantangan bagi tim penangana TB-HIV untuk memberikan pelayan kesehatan bagi pasien.

Lalu bagaimana upaya antisipasif yang dapat dilakukan untuk menghindari tantangan yang ada?

1.      Melakukan penyuluhan mengenai TB-HIV terhadap masyarakat.

2.      Pengembangan insfrastruktur fasilitas kesehatan dan SDM yang dapat dilakukan oleh pemerintah.

3.      Memperbaiki infrastruktur transportasi di daerah terpencil untuk memudahkan akses tenaga kesehatan, pasokan medis, dan pasien. Ini termasuk memperbaiki jalan, menyediakan transportasi umum yang lebih baik, atau bahkan menggunakan transportasi udara untuk daerah yang sangat terpencil.

4.      Jaringan Telemedicine: Memanfaatkan teknologi telemedicine untuk konsultasi jarak jauh antara dokter spesialis dengan pasien dan tenaga kesehatan di daerah terpencil. Ini dapat membantu dalam diagnosis, manajemen kasus, dan monitoring pasien secara efektif tanpa harus berpindah tempat.

5.      Mobile Clinics: Menggunakan klinik-klinik keliling atau mobile clinics yang dilengkapi dengan fasilitas pemeriksaan dan pengobatan dasar untuk menjangkau masyarakat di daerah terpencil. Ini dapat meningkatkan aksesibilitas pelayanan kesehatan bagi mereka yang sulit dijangkau oleh fasilitas kesehatan tetap.

 

APLIKASI MODEL KEPEMIMPINAN UNTUK FASILITAS KESEHATAN TINGKAT LANJUT DALAM PENINGKATAN MUTU: KESELAMATAN PASIEN DAN PETUGAS KESEHATAN

Keselamatan pasien dan petugas kesehatan di FKTL mencakup enam sasaran keselamatan yaitu identitas pasien, komunikasi efektif, medication error, safety surgery, PPI, dan risiko jatuh. Salah satu sasaran yang akan dibahas adalah mengenai medication error. Medication error dapat terjadi dalam berbagai tahapan, mulai dari penulisan resep, pengisian resep, distribusi obat, hingga pemberian obat kepada pasien. Oleh karena itu, saya memilih model kepemimpinan yaitu Collaborative Leadership. Pemilihan model kepemimpinan ini dikarenakan dalam urusan penanganan medication error memerlukan kolaborasi tim antar departemen terkait seperti dokter, farmasi, dan manajemen. Dengan pendekatan ini, kepemimpinan berfokus pada pemecahan masalah bersama. Ketika terjadi medication error, penting untuk menganalisis penyebabnya secara menyeluruh dan menemukan solusi yang dapat diterima oleh semua pihak terlibat. Collaborative Leadership memfasilitasi proses ini dengan melibatkan semua pihak yang relevan dalam diskusi dan pengambilan keputusan.

TANTANGAN, PELUAN, DAN UPAYA ANTISIPASI YANG DILAKUKAN

Tantangan yang mungkin dialami ketika melakukan peningkatan mutu mengenai keselamtan pasien lebih tepatnya pada kasus medication error yaitu:

1.     ✔Kompleksitas sistem kesehatan FKTL

    Sistem kesehatan sering kali kompleks dengan banyak pemangku kepentingan (dokter, perawat,     apoteker, dll.), dan koordinasi yang buruk antara mereka dapat menyebabkan kesalahan dalam proses pengobatan.

2.      Sistem perubahan teknologi

    Perubahan dalam teknologi dan sistem informasi kesehatan dapat memperkenalkan risiko baru untuk kesalahan obat jika tidak dikelola dengan baik atau jika petugas tidak terlatih dengan baik dalam penggunaannya.

3.     Kurangnya pelatihan

Kurangnya pelatihan atau pemahaman yang memadai tentang prosedur yang tepat dalam penanganan obat dapat menyebabkan kesalahan, terutama di kalangan staf baru atau dalam situasi yang tidak biasa.

    Penanganan medication error memerlukan pendekatan yang holistik, termasuk peningkatan pelatihan, peningkatan sistem, dan budaya organisasi yang mendukung pelaporan dan pembelajaran dari kesalahan yang terjadi.

 

Peluang implementasi collaborative leadership dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap keselamatan pasien dalam mengurangi medication error. Beberapa peluan terkait hal tersebut yaitu kepemimpinan kolaboratif mendorong komunikasi terbuka dan kerjasama antar semua anggota tim seperti dokter, perawat, apoteker, dan tenaga medis lainnya sehingga dapat membantu memfasilitasi pertukaran informasi pengobatan pasien dengan akurat. Ketika kesalahan terjadi, kepemimpinan kolaboratif mendukung pendekatan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. Ini melibatkan identifikasi akar penyebab kesalahan, pengembangan solusi, dan implementasi perubahan untuk mencegah kesalahan serupa di masa depan.

Antisipasi kejadian medication error dapat diambil untuk meningkatkan keselamatan pasien seperti:

1.      Penggunaan Sistem Informasi Kesehatan Elektronik (HER)

Mengimplementasikan EHR dapat membantu mengurangi kesalahan penulisan resep dan kesalahan pengisian resep dengan menyediakan informasi yang jelas dan terkini tentang riwayat kesehatan dan obat-obatan pasien.

2.      Double-checking

Menerapkan kebijakan double-checking (pemeriksaan ganda) untuk proses yang kritis seperti penulisan resep, pengisian resep, dan pemberian obat. Hal ini melibatkan dua atau lebih profesional kesehatan dalam melakukan verifikasi untuk mengurangi risiko kesalahan.

3.     Pelatihan dan Edukasi

Memberikan pelatihan yang teratur kepada tenaga kesehatan tentang prosedur yang benar dalam penulisan resep, pengisian resep, pengelolaan obat, dan pemberian obat kepada pasien. Edukasi juga harus meliputi kesadaran akan faktor risiko yang dapat menyebabkan medication error.

4.      Standardisasi Proses

Menerapkan prosedur standar yang jelas dan konsisten dalam semua tahapan pengobatan, termasuk penulisan resep, label obat, dan proses pemberian obat kepada pasien. Hal ini dapat membantu mengurangi kebingungan dan kesalahan akibat interpretasi yang salah.

5.    Monitoring dan Pelaporan Kesalahan

Memfasilitasi sistem monitoring dan pelaporan kesalahan pengobatan yang efektif, sehingga kesalahan dapat teridentifikasi dan dianalisis untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

6.      Keterlibatan Pasien

Melibatkan pasien dalam proses perawatan mereka dengan memberikan informasi yang jelas tentang obat-obatan yang mereka terima, efek samping yang mungkin terjadi, dan pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan.

    Penerapan langkah-langkah ini secara sistematis dan terpadu dapat membantu mengurangi risiko medication error dan meningkatkan keselamatan pasien dalam pengelolaan obat-obatan di lingkungan pelayanan kesehatan.

 

KESIMPULAN

Kesimpulannya adalah tipe kepribadian ENFP-A (Extrovert, Intuition, Feeling, Perceiving, Assertive) adalah tipe kepribadian yang berjiwa bebas, ramah, ceria, kreatif, mandiri dan berpikiran terbuka. Kepribadian ini sering menonjol ditengah keramaian untuk memperkaya hubungan dan kehidupan sosial mereka. Seorang ENFP-A sering kali penuh gairah ketika telah menemukan ide imajinasi mereka sehingga seringkali antusiasme tersebut tertular kepada orang lain yang berada di dekatanya. Oleh karena itu, tipe kepribadian ini ketika menjadi seorang pemimpin dapat menerapkan model kepemimpinan yang sesuai, berikut terdapat beberapa model kepemimpinan yang dapat dipilih transformational leadership, relationship oriented leadership, collaborative leadership, visionary leadership, dan responsive leadership yang dapat disesuaikan penggunaannya dengan keadaan yang sedang dialami.


DAFTAR PUSTAKA

Myers, Isabel Briggs, et al. "MBTI Manual: A Guide to the Development and Use of the Myers-Briggs Type Indicator." Consulting Psychologists Press.

The 16 MBTI® Personality Types [Internet]. Tersedia pada: https://www.myersbriggs.org/my-mbti-personality-type/the-16-mbti-personality-types/

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader