Ahli Logistik yang Bukan Ahli Distribusi Barang

Nama : Mikael Trisna Sanjaya Putra
NIM : 21.P1.0039

Myers-Briggs Type Indicator dan Kepemimpinan

Pernahkah kamu mendengar mengenai MBTI atau Myers-Briggs Type Indicator? MBTI adalah tes kepribadian yang didasari oleh teori tipe psikologis Carl Jung. Menurutnya, memahami perilaku seseorang berarti memahami tipe kepribadiannya. Teori ini selanjutnya diperluas oleh Katharine Cook Briggs dan anaknya, Isabel Briggs Myres yang menambahkan dimensi keempat.Secara garis besar, terdapat 5 dimensi pada tes MBTI yang disediakan oleh NERIS Analytics Limited, yaitu energi, pola pikir, sifat, taktik, dan identitas. Pada tes ini terdapat 16 tipe kepribadian berbeda yang diperoleh dari penggolongan dimensi energi, pola pikir, sifat, dan taktik menjadi dua.Penilaian kepribadian melalui MBTI dapat digunakan untuk bermacam-macam hal seperti pengembangan diri, komunikasi, manajemen stres, dan pengembangan kepemimpinan.Melalui sebuah studi, kepemimpinan dan MBTI terbukti secara empiris memiliki hubungan.Oleh karena itu, tes ini menjadi relevan ketika kita membahas karakteristik personal seseorang yang berhubungan dengan konteks kepemimpinan. Selanjutnya artikel ini akan lebih lanjut menjelaskan karakteristik penulis yang memiliki kepribadian ISTJ-A. Kamu juga dapat mengetahui kepribadianmu dengan mengikuti tes MBTI yang dapat kamu akses secara gratis pada laman 16Personalities.

Si Ahli Logistik

Apabila kamu berpikir bahwa ahli logistik adalah seseorang yang mahir dalam distribusi suatu barang, maka kamu tidak salah. Namun, dalam konteks kepribadian ahli logistik adalah seseorang yang praktis dan mengutamakan fakta. Ketika seorang ISTJ bersungguh-sungguh dengan apa yang mereka ucapkan dan ketika mereka berkomitmen untuk melakukan sesuatu, mereka akan memastikan agar hal tersebut mereka tepati. Ketika kebanyakan orang lain mengatakan apa yang menurut mereka ingin didengar oleh orang lain, ISTJ justru tetap mengedepankan pemikiran logisnya. Hal inilah yang membuat ISTJ menonjol sebagai orang yang berdedikasi, bertanggung jawab, dan jujur. Bagi ISTJ, kejujuran jauh lebih penting daripada kebohongan yang ditujukan untuk membuat orang lain terkesan. ISTJ dikenal sebagai orang yang agak keras atau tidak berempati. Hal ini dikarenakan ISTJ kerap kali mengutarakan penliaian terhadap seseorang yang mereka curigai bermalas-malasan atau tidak jujur padahal sebenarnya orang tersebut sedang menghadapi masalah lain.5

Bagaimana Peran ISTJ-A dalam Kepemimpinan?

Suatu studi juga mengungkapkan bahwa dalam suatu tim, ISTJ adalah seorang pembentuk yang termotivasi untuk meraih tujuan lebih tinggi, bertekad untuk menang, dan agresif.6 Kemampuan untuk membentuk inilah yang dapat menjadikan ISTJ seorang pemimpin yang dapat diandalkan. Dimensi ISTJ dapat diuraikan sebagai berikut:

Energi : Introver (I) VS Ekstrover (E)

Seorang ISTJ memiliki energi introver yang cenderung untuk lebih menikmati interaksi sosial yang lebih bermakna dibandingkan lebih sering. Mereka sering merasa terisi kembali setelah menghabiskan waktu sendirian. ISTJ adalah orang yang menikmati waktu sendiri untuk berpikir lebih fokus dan lebih dalam.7 Dalam suatu kepemimpinan, ISTJ akan membawa sifat introvernya ini untuk menjalani segala sesuatu dengan perlahan, hati-hati, dan tidak melakukan hal yang bersifat mengundang keramaian.5

Pola Pikir : Penyimak (S) VS Intuitif (N)

Pola pikir seorang ISTJ adalah penyimak, mereka lebih suka fokus pada fakta dan detail yang terjadi pada saat ini. Mereka tidak suka penafsiran yang tidak sesuai dengan apa yang mereka lihat.7 Mereka ingin pemikiran dan pembicaraan tidak hanya berhenti pada gagasan, tetapi juga diaplikasikan dalam suatu tindakan.Sifat ISTJ yang lebih fokus pada fakta menjadikan mereka pemimpin yang dapat dipercaya.

Sifat : Pemikir (T) VS Perasa (F)

Pada dimensi sifat, ISTJ adalah seorang pemikir. Dalam berargumen, mereka mengutamakan logika dan bukti fakta. Dalam memutuskan suatu hal, ISTJ kerap kali memikirkan bagaimana agar hal yang dilakukannya membantu daripada memikirkan siapa yang akan terbantu.7 ISTJ mengandalkan informasi yang berdasarkan fakta daripada perasaan orang. ISTJ sering merasa tidak puas jika mereka merasa sesuatu dilakukan tanpa dipikirkan dengan baik.5 Hal ini membuat mereka menjadi pemimpin yang kritis dan objektif terhadap suatu hal.

Taktik: Penilai (J) VS Eksploratif (P)

Seorang dengan kepribadian ISTJ lebih nyaman ketika apa yang mereka lakukan memiliki rencana yang sudah jelas. Mereka menganggap peraturan, hukum, dan standar adalah kunci dari keberhasilan. Dalam konteks kepemimpinan taktik penilai seorang ISTJ menjadi penting karena ketika dihadapkan dengan situasi yang tidak terduga, ISTJ dapat diandalkan untuk mengembangkan rencana.5

Identitas : Asertif (-A) VS Turbulen (-T)

Dimensi yang ditambahkan oleh NERIS Analytics Limited adalah identitas. Di mana hal ini menunjukkan seberapa yakin kita terhadap kemampuan dan keputusan kita. Dimensi ini melihat bagaimana reaksi seseorang terhadap keberhasilan atau kegagalan, kritik atau saran dari orang lain, peristiwa yang tiba-tiba mengubah banyak hal, dan masa depan. Mereka tidak tenggelam dalam kegagalan yang terjadi di masa lampau. Mereka tidak akan membiarkan kegugupan menjadi penghambat. Seorang yang asertif akan percaya diri, terlihat tenang, dan tahan terhadap stres. Kepercayaan diri yang dimiliki menjadi aspek penting dalam kepemimpinan karena kemampuannya untuk menggerakan orang-orang yang masih dalam keraguan.5

Lantas, Model Kepemimpinan Apa yang Sesuai untuk ISTJ-A?

Kemampuan ISTJ-A untuk bersifat hati-hati, berfokus pada fakta, kritis, objektif, sigap dalam menghadapi situasi tak terduga, dan percaya diri menjadikan meta leadership model kepemimpinan yang sesuai untuk ISTJ-A. Meta leadership sendiri adalah kepemimpinan yang menghasilkan aksi dan dampak menyeluruh, memperhatikan seluruh aspek; kohesif, mampu menyatukan aspek-aspek menjadi satu kesatuan solutif; aksi dan dampak tersebut mampu memengaruhi dan memberi manfaat kepada banyak pihak. Meta leadership digunakan pada pemecahan masalah kompleks, di mana di dalamnya melibatkan peran dari berbagai pemangku kepentingan dan bersifat multidimensional.8

Dimensi person pada meta leadership menyatakan bahwa seorang meta leader adalah seorang yang big thinker, Ia mau menghadapi masalah yang besar dan kompleks dengan yakin dan mencari solusi sebanyak-banyaknya. Kriteria tersebut terpenuhi dengan sifat pemikir dan taktik penilai dari ISTJ-A. Dimensi situation, di mana meta leader mencari solusi yang paling dapat dilakukan sesuai dengan masalah dan membedakan mana yang objektif dan subjektif dapat dipenuhi oleh seorang ISTJ-A dengan sifat pemikirnya yang objektif dalam menyelesaikan masalah. Dimensi connectivity yang diperlukan kepemimpinan meta leadership untuk menerapkan hubungan antar pihak terpenuhi oleh ISTJ-A dengan energi introvernya yang membawa ketenangan dalam mengatasi sebuah masalah. Lalu dengan pola pikir penyimak, ISTJ-A dapat menjadi orang yang dipercaya oleh semua pihak karena fokusnya yang tertuju pada suatu fakta.

Bagaimana Aplikasi Model Kepemimpinan Meta Leadership?

Setelah mengetahui apa itu meta leadership dan bagaimana hubungannya dengan kepribadian ISTJ-A. Contoh aplikasi dari meta leadership pada suatu kasus akan memberi penjelasan lebih mengenai model kepemimpinan ini.

Meta leadership dalam mendukung kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di Puskesmas

Tuberkulosis (TB) dan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia dan di Indonesia, yang mendapat prioritas untuk segera diakhiri pada tahun 2030.9 TB-HIV adalah penyakit di mana seseorang yang telah terinfeksi HIV terkena TB. Tuberkulosis menjadi penyakit yang paling umum di antara orang yang terinfeksi HIV di seluruh dunia.10 Dalam mendukung kegiatan lintas program penanganan TB-HIV di suatu wilayah Puskesmas, meta leadership memiliki keunggulan karena pendekatan multidimensionalnya yang komprehensif dan terintegrasi. Hal ini berarti meta leadership tidak hanya fokus pada satu aspek kepemimpinan, tetapi mencakup berbagai dimensi seperti pemahaman diri, situasi, konektivitas ke segala arah. Meta leadership memungkinkan peningkatan koordinasi dan kolaborasi, penggunaan sumber daya yang lebih efisien, dan manajemen krisis yang lebih efektif.

Kegiatan pelaksanaan penanganan TB-HIV

Dalam pelaksanaan penanganan TB-HIV terdapat berbagai macam kegiatan seperti advokasi, penguatan tim, koordinasi lintas sektor, kolaborasi interprofesional, monitoring, dan evaluasi. Semua kegiatan ini merupakan terapan dari model kepemimpinan meta leadership.
1) Advokasi
Dimensi yang berperan dalam kegiatan advokasi adalah dimensi konektivitas. Pada dimensi ini dijelaskan mengenai hubungan kepemimpinan yang harus dijaga, baik secara vertikal maupun horizontal. Artinya, pemimpin dapat secara vertikal melakukan advokasi untuk mendapatkan dukungan kebijakan dari pemerintah dan stakeholder lainnya.

2) Penguatan tim
Dimensi konektivitas secara vertikal telah dijelaskan pada kegiatan advokasi. Pada penguatan tim, pemimpin melakukan hubungan secara horizontal dengan memastikan bahwa semua anggota tim memiliki peran yang jelas dan bekerja sama dengan baik untuk mencapai tujuan bersama. Agar anggota tim lebih terampil dan kompeten dalam menangani kasus TB-HIV, maka diperlukan penekanan terhadap pelatihan dan pengembangan tim. 

3) Koordinasi lintas sektor
Meta leadership adalah model kepemimpinan yang memungkinkan kerja sama yang lebih baik antara berbagai sektor. Contohnya dibangun jaringan dan kemitraan yang kuat untuk mendukung program TB-HIV antara Puskesmas, rumah sakit, dan komunitas penyandang atau lembaga kemasyarakatan agar layanan yang diberikan dapat terkoordinasi dengan baik. Selain itu, juga dapat dilakukan kerja sama dalam bidang pendidikan atau sosial untuk mengatasi determinan sosial dari TB-HIV.

4) Kolaborasi interprofesional
Dalam penanganan TB-HIV diperlukan kolaborasi antara dokter, perawat, apoteker, dan profesi kesehatan lainnya. Untuk memastikan hal ini terjadi, meta leader melalui dimensi konektivitas dapat mengadakan pertemuan rutin untuk mendiskusikan kasus, berbagi informasi, dan merencanakan manajemen intervensinya bersama. Selain itu, dapat juga dikembangkan jalur komunikasi melewati aplikasi berpesan terenkripsi seperti WhatsApp atau Telegram yang bertujuan untuk menjaga kerahasiaan pasien, tetapi juga dapat menjaga sinergitas dari berbagai profesi kesehatan yang terlibat dalam penanganan TB-HIV  

5) Monitoring
Dalam pelaksanaan suatu program, diperlukan adanya suatu monitoring agar kasus yang ditangani jelas perkembangannya. Setiap pelaku penanganan TB-HIV perlu untuk mengetahui perkembangan dari hasil kerja mereka. Oleh karena itu, pemimpin dapat mengembangkan sistem monitoring yang terintegrasi agar seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan TB-HIV dapat memantau kinerja program secara bersama.

6) Evaluasi
Setelah dilakukannya monitoring, penting untuk dilakukannya evaluasi yang bertujuan untuk mengetahui area mana yang memerlukan perbaikan. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan pemimpin adalah menarik feedback dari peserta atau pelaku program penanganan TB-HIV untuk meningkatkan kualitas dan optimalisasi pelayanan yang diberikan.

Tantangan atau peluang dan upaya antisipatif dalam penanganan TB-HIV

Dalam pelaksanaan program penanganan TB-HIV pada suatu Puskesmas, tentu terdapat tantangan ataupun peluang yang dapat muncul. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya antisipatif yang dapat dilakukan untuk menanggulangi atau menanggapi tantangan dan peluang yang mungkin muncul. 

Banyaknya profesi, divisi, dan kegiatan program dapat membuat koordinasi program penanganan TB-HIV menjadi kompleks. Sebagai upaya antisipatifnya, dapat dibuat alur komunikasi yang jelas dengan pelaksanaan pertemuan yang rutin dan pemanfaatan platform digital untuk berbagi informasi. Sumber daya yang terbatas merupakan masalah yang juga dapat muncul ketika melakukan penanganan TB-HIV pada Puskesmas. Tenaga kesehatan (nakes), peralatan medis, obat-obatan perlu untuk dioptimalkan penggunaannya. Upaya antisipatif yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan advokasi kepada pemerintah untuk memberikan bantuan kepada Puskesmas yang kesulitan sumber daya. Tantangan lain yang dapat muncul berupa keengganan anggota tim untuk berubah dan berkolaborasi antar sektor. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pengertian bahwa sudah terdapat bukti nyata dari hasil kolaborasi.

Di lain sisi, juga terdapat peluang dalam penanganan TB-HIV. Dengan adanya kolaborasi yang lebih baik, terdapat peluang bahwa pelayanan dapat menjadi lebih efisien dan lebih efektif. Dalam menanggapi hal tersebut pemimpin dapat mendorong kolaborasi dengan memberikan apresiasi kepada anggota tim yang mampu melakukan kolaborasi dengan baik. Pengembangan profesional dan kapasitas tim adalah peluang yang dapat muncul ketika anggota tim mengikuti pelatihan interprofesional dan pengembangan kapasitas diri. Upaya yang dapat dilakukan dalam menanggapi peluang ini adalah dengan menyediakan program pelatihan berkelanjutan dan memfasilitasi  akses ke sumber daya pendidikan terbaru. Kepuasan pasien adalah peluang agar pasien patuh melakukan pengobatan. Oleh karena itu, dalam proses evaluasi layanan, pasien dapat ikut serta dengan mengisi survei kepuasaan pasien.

Meta leadership dalam peningkatan mutu rumah sakit

Meta leadership tidak hanya dapat diimplementasikan dalam penanganan TB-HIV di Puskesmas. Namun, kebermanfaatannya juga dapat ditemukan pada peningkatan mutu rumah sakit, khususnya dalam hal keselamatan pasien dan petugas kesehatan. Dengan meta leadership para pemimpin rumah sakit dapat melihat permasalahan keselamatan pasien dan petugas kesehatan dari perspektif yang lebih luas. Dengan model kepemimpinan ini, pemimpin dapat mengidentifikasi titik-titik kritis yang memengaruhi keselamatan dan merancang intervensi yang lebih holistik dan terkoordinasi. Sebagai contoh, pemimpin dapat melihat bagaimana kebijakan departemen keuangan memengaruhi ketersediaan alat pelindung diri di unit perawatan intensif, atau bagaimana prosedur yang rumit memengaruhi tingkat stres dan kesejahteraan mental petugas kesehatan. Dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien, penting bagi pemimpin rumah sakit untuk melibatkan berbagai pihak seperti dokter, perawat, staf administratif, dan bahkan pasien serta keluarga mereka. Dengan diadakannya kolaborasi, berbagai perspektif dan keahlian dapat digabungkan untuk menciptakan solusi yang lebih inovatif dan efektif. Misalnya, dapat dikembangkan protokol keselamatan yang lebih komprehensif atau program pelatihan yang lebih efektif untuk semua staf serta pasien. Setelah pelaksanaan program, penting untuk dilakukan tindakan berkelanjutan dan evaluasi terus-menerus. Keselamatan pasien dan petugas kesehatan bukanlah hasil dari sekali tindakan saja, tetapi memerlukan upaya yang konsisten dan berkesinambungan. Meta leadership mengajarkan pentingnya menetapkan tujuan jangka panjang, memantau kemajuan, dan melakukan penyesuaian berdasarkan data monitoring dan masukan dari pasien atau staf rumah sakit. Dengan ini, rumah sakit dapat terus meningkatkan standar keselamatan mereka.

Komunikasi efektif


Untuk meningkatkan mutu rumah sakit, rumah sakit perlu untuk memenuhi sasaran keselamatan pasien. Komunikasi efektif adalah salah satu sasaran keselamatan pasien yang penting di rumah sakit. Meta leadership menjadi landasan untuk memastikan komunikasi yang efektif di semua tingkatan organisasi rumah sakit. Meta leadership, yang berfokus pada kolaborasi interprofesi dan tindakan berkelanjutan dapat meningkatkan kualitas komunikasi yang selanjutnya akan meningkatkan keselamatan pasien.

Meta leadership membantu para pemimpin untuk memahami pentingnya sistem komunikasi yang holistik. Perlu untuk dilakukan identifikasi terhadap saat-saat yang rawan terjadinya miskomunikasi seperti pada saat pergantian shift atau saat pasien dipindahkan dari satu unit ke unit lain. Dengan meta leadership, pemimpin dapat merancang proses komunikasi yang lebih terstruktur dan memastikan bahwa informasi penting tidak hilang atau salah ditafsirkan. Sebagai contoh, penerapan alat bantu komunikasi seperti SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) dapat menjadi standar untuk semua staf agar informasi disampaikan dengan cara yang konsisten dan jelas.

Pemimpin perlu menciptakan lingkungan di mana semua staf, dari dokter hingga staf administrasi, merasa nyaman dan terdorong untuk berkomunikasi secara terbuka. Untuk menciptakan lingkungan tersebut, pemimpin dapat menyediakan pelatihan komunikasi yang efektif atau pembentukan kebiasaan agar komunikasi antar profesi dapat terbentuk. Misalnya, melalui diadakannya rapat tim dan interaksi interprofesi secara rutin. Dengan demikian semua pihak dapat lebih memahami sudut pandang dan kebutuhan satu sama lain, sehingga meminimalisir kesalahan komunikasi.

Tantangan atau peluang dan upaya antisipatif dalam peningkatan mutu (keselamatan pasien dan petugas kesehatan) 

Dalam peningkatan mutu rumah sakit, terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi. Contohnya adalah banyaknya dan kompleksnya departemen atau spesialisasi yang ada di rumah sakit. Pemimpin perlu untuk menerapkan protokol dan prosedur standar operasional yang jelas mengenai alur komunikasi antar departemen atau interprofesi. Selain itu, dapat juga dibentuk tim koordinasi antar departemen yang bertanggung jawab mengelola dan memastikan informasi yang penting disampaikan tepat waktu dan tepat sasaran. Pendekatan teknologi juga dapat dilakukan dengan mengintegrasikan data dan komunikasi antar departemen melalui suatu sistem rekam medis elektronik yang dapat diakses oleh seluruh departemen secara realtime. Tantangan selanjutnya adalah mengenai adanya budaya untuk bersembunyi atau tidak melaporkan setelah terjadinya suatu insiden atau kesalahan. Pemimpin perlui utnuk membangun budaya pelaporan insiden tanpa takut akan adanya sanksi. Fokus pelaporan insiden ini dapat dialihkan kepada pembelajaran dan perbaikan daripada menyalahkan seseorang.

Peningkatan mutu rumah sakit juga dapat mendatangkan peluang. Pemanfaatan tekonologi seperit rekam medis elektronik dapat meningkatkan koordinasi dan akses informasi pasien yang lebih akurat. Program pelatihan mengenai keselamatan pasien dan komunikasi efektif dapat juga meningkatkan kualitas perawatan dan mengurangi kesalahan dalam pelayanan. Namun, pelatihan ini harus dilakukan secara terus menerus agar perilaku yang terbentuk menjadi budaya atau kebiasaan. Kolaborasi lintas disiplin dapat membawa pandangan baru dan solusi inovatif. Analisis data dari insiden keselamatan pasien memberikan wawasan berharga untuk memperbaiki proses dan prosedur yang ada.

Kesimpulan

ISTJ-A atau si ahli logistik adalah pemimpin yang menunjukkan dedikasi, tanggung jawab, dan kejujuran. ISTJ-A memprioritaskan fakta dan logika, serta cenderung berkomitmen untuk menjalankan tugas dengan tepat dan efisien. Karakteristik ini membuat mereka menjadi pemimpin yang dapat diandalkan dan objektif dalam pengambilan keputusan. Dalam konteks kepemimpinan, meta leadership adalah model yang cocok untuk mereka. Hal ini dikarenakan dimensi-dimensi dalam meta leadership, seperti person, situation, dan connectivity, selaras dengan sifat ISTJ-A yang praktis, objektif, dan fokus pada fakta. Penerapan model kepemimpinan seperti meta leadership dapat dilihat dalam berbagai bidang seperti dalam penanganan masalah kesehatan masyarakat seperti TB-HIV di Puskesmas dan peningkatan mutu rumah sakit. Pemimpin yang menerapkan meta leadership dapat memastikan koordinasi lintas sektor, kolaborasi interprofesional, dan penguatan tim yang efektif.

Daftar Pustaka

  1. Stein R, Swan AB. Evaluating the validity of Myers‐Briggs Type Indicator theory: A teaching tool and window into intuitive psychology. Social & Personality Psych. 2019. 
  2. Xiao B. Identifying 16 Personalities Based on Daily Writing by Random Forest and Logistic Regression. HSET. 2023. 
  3. The Myers‐Briggs Company. Myers‐Briggs Type Indicator (MBTI)—A positive framework for life‐long people development. 2018. 
  4. Zárate-Torres R, Correa JC. How good is the Myers-Briggs Type Indicator for predicting leadership-related behaviors? Front Psychol. 2023. 
  5. NERIS Analytics Limited. ISTJ Personality (Logistician). 2024. 
  6. Diab-Bahman R. The Impact of Dominant Personality Traits on Team Roles. TOPSYJ. 2021. 
  7. Li K. The Personalities of Political Identity The Personalities of Political Identity: Analyzing the Relationship Between the Myers-Briggs Indicator Traits and Identification with Political Liberalism and Conservatism. 2021. 
  8. Marcus LJ, Ashkenazi I, Dorn B, Henderson J. The Five Dimensions of Meta-Leadership. 2008. 
  9. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Rencana Aksi Nasional Kolaborasi TB-HIV 2020–2024. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2021. 
  10. Raviglione MC, Gori A. Tuberculosis. In: Loscalzo J, Fauci A, Kasper D, Hauser S, Longo D, Jameson JL, editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine, 21e. New York, NY: McGraw-Hill Education; 2022.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader