INTROVERT MENJADI PEMIMPIN? SIAPA TAKUT!

M. ILHAM PRATAMA
21.P1.0016

MARI MENGENAL KEPRIBADIAN INI LEBIH DEKAT

ISTJ (Introverted, Sensing, Thinking, Judging) adalah tipe kepribadian yang mendapatkan energi saat mereka menyendiri, lebih suka fakta konkret daripada gagasan abstrak, membuat keputusan berdasarkan logika bukan emosi, dan menghargai struktur serta perencanaan dibandingkan spontanitas. Mereka cenderung tenang, serius, fokus pada pencapaian dengan teliti, praktis, dan bertanggung jawab. ISFJ menyukai ketertiban, menghormati nilai-nilai tradisional, dan sangat setia pada nilai-nilai tersebut.1,2.


ISTJ-A (Assertive Logisticians) merupakan tipe kepribadian yang memiliki karakteristik yang khas dalam konteks kepemimpinan. Sebagai individu yang cenderung introvert, mereka lebih memilih untuk bekerja secara independen atau dalam lingkup yang lebih kecil daripada menjadi pusat perhatian dalam kelompok besar. Dalam menghadapi tantangan kepemimpinan, mereka memanfaatkan kekuatan mereka dalam memperhatikan detail dan fakta yang konkret. Pendekatan mereka dalam pengambilan keputusan didasarkan pada logika dan analisis rasional, yang menjadikan mereka terpercaya dalam membuat keputusan yang berdasarkan data yang terukur dan bukti yang kuat.

introvert
Sebagai pemimpin yang memiliki preferensi pada struktur dan kejelasan, ISTJ-A cenderung mengapresiasi jadwal yang teratur, prosedur yang jelas, dan penyelesaian tugas tepat waktu. Mereka bekerja keras untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dan memastikan bahwa setiap langkah yang diambil berada dalam kerangka yang terorganisir. Kepercayaan diri dan ketegasan yang dimiliki ISTJ-A membantu mereka dalam memimpin tim dengan efektif. Mereka mampu mengambil alih kendali dalam situasi yang menuntut keputusan cepat dan tegas.

Namun demikian, sebagai pemimpin, ISTJ-A juga perlu memperhatikan kemampuan mereka dalam beradaptasi dengan perubahan dan membuka diri terhadap ide-ide baru serta perspektif yang ditawarkan oleh anggota tim mereka. Keterbukaan ini akan membantu mereka memperluas pandangan dalam menghadapi tantangan yang beragam dalam lingkungan kerja yang terus berkembang. Dengan mempertimbangkan keseimbangan antara struktur dan fleksibilitas, pemimpin ISTJ-A dapat menjadi pilar yang stabil dan andal dalam membimbing tim menuju pencapaian tujuan bersama.

 

MODEL KEPEMIMPINAN APA YANG COCOK DENGAN ORANG INTROVERT? 


Kepemimpinan yang cocok dengan kepribadian ISTJ-A (Introverted, Sensing, Thinking, Judging) biasanya mencakup beberapa karakteristik yang sesuai dengan preferensi dan kecenderungan mereka. 


Berikut adalah beberapa model kepemimpinan yang dapat cocok dengan tipe kepribadian ISTJ-A:


pemimpin

1. Transactional Leadership 

Model ini cocok dengan ISTJ-A karena menekankan pada aturan, prosedur, dan transaksi yang jelas. Pemimpin transaksional memberikan arahan yang jelas kepada bawahan mereka, menetapkan ekspektasi yang terukur, dan memberikan penghargaan atau hukuman berdasarkan kinerja yang terukur dan terlihat. Hal ini sesuai dengan kebutuhan ISTJ-A akan struktur dan kejelasan dalam tindakan.


2. Servant Leadership 

Meskipun ISTJ-A cenderung lebih fokus pada tugas dan prosedur, konsep kepemimpinan pelayan (servant leadership) dapat juga relevan. Kepemimpinan pelayan menekankan pada pelayanan kepada orang lain, mendengarkan dengan baik, dan memastikan kebutuhan anggota tim dipenuhi. Bagi ISTJ-A, pendekatan ini dapat memberikan kesempatan untuk mengembangkan hubungan yang lebih kuat dan meningkatkan motivasi tim melalui pelayanan yang efektif.


3. Transformational Leadership

Meskipun kontras dengan preferensi ISTJ-A untuk fakta dan struktur, elemen dari kepemimpinan transformasional bisa menjadi relevan. Pemimpin transformasional menginspirasi dan memotivasi bawahan mereka dengan visi yang jelas, mengembangkan hubungan yang kuat, dan mendorong inovasi. Bagi ISTJ-A, pengenalan visi yang jelas dan tujuan yang memotivasi secara intelektual dapat memberikan arah yang bermanfaat dalam konteks kerja.


4. Democratic Leadership

Model kepemimpinan demokratis melibatkan keterlibatan anggota tim dalam pengambilan keputusan. ISTJ-A yang mampu menghargai perspektif dan masukan dari anggota tim dapat mengadopsi pendekatan ini dengan memastikan bahwa keputusan akhir tetap didasarkan pada data dan prosedur yang jelas, tetapi dengan memperhitungkan masukan dari berbagai pihak.


5. Strategic Leadership

Kepemimpinan strategis menekankan pada perencanaan jangka panjang, visi, dan pemikiran sistematis. ISTJ-A yang cenderung terstruktur dan sistematis dapat mengaplikasikan kekuatan ini dalam merencanakan strategi jangka panjang dan memastikan implementasi yang efektif berdasarkan analisis yang matang.


BAGAIMANA CARA MEREKA MEMIMPIN?

  •     Kasus 1: Penanganan TB-HIV

Model kepemimpinan yang saya ambil adalah model Strategic Leadership, hal ini dikarenakan sebagai seorang pemimpin saya perlu merencanakan suatu rencana atau program untuk jangka Panjang kedepannya, dan pada kasus ini yang dihadapi adalah kasus TB-HIV dimana dalam menangani kasus ini diperlukan strategi yang matang dan terlaksana secara terstruktur dan sistematis.

 

Advokasi

Melakukan kampanye dan penyuluhan kepada masyarakat tentang pencegahan dan pengobatan TB-HIV, serta memperjuangkan dukungan kebijakan dari pemerintah dan stakeholders terkait.


penyuluhan

Penguatan Tim

Mengadakan pelatihan dan pengembangan kapasitas bagi tim medis dan non-medis yang terlibat dalam penanganan TB-HIV untuk meningkatkan kualitas layanan dan pemahaman mereka.


Koordinasi Lintas Sektor

Menyelenggarakan pertemuan dan forum koordinasi antara berbagai sektor seperti kesehatan, sosial, dan pendidikan untuk menyatukan upaya dalam penanganan TB-HIV dan memperkuat sinergi di antara mereka.


Kolaborasi Interprofesional 

Membangun kerja sama aktif antara berbagai profesional kesehatan seperti dokter, perawat, psikolog, dan pekerja sosial untuk memberikan pendekatan holistik dalam pelayanan kepada penderita TB-HIV.


Monitoring

Melakukan pemantauan secara berkala terhadap kasus TB-HIV, penyebaran penyakit, dan respons terhadap pengobatan untuk memastikan peningkatan status kesehatan pasien dan efektivitas program.


Evaluasi

Menyusun dan melakukan evaluasi terhadap program penanganan TB-HIV untuk menilai pencapaian tujuan, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, serta mengembangkan rekomendasi perbaikan untuk masa depan.

    

Kegiatan-kegiatan ini penting untuk memastikan penanganan TB-HIV yang holistik, terkoordinasi, dan efektif dalam upaya menekan penyebaran penyakit dan meningkatkan kualitas hidup penderita.



KIRA-KIRA TANTANGAN APA SAJA YANG AKAN DIHADAPI? 


Tantangan implementasi kolaborasi antara TBC dan HIV dalam sistem kesehatan nasional meliputi perbedaan dalam pembiayaan, sistem rujukan, logistik, pencatatan dan pelaporan, terutama di poliklinik rumah sakit. Sistem poliklinik TBC dan HIV sering kali terpisah meskipun berada dalam satu gedung, dan ada juga keterbatasan sumber daya manusia yang tersedia. Desentralisasi pemerintahan juga menambah kompleksitas dalam menjalankan layanan satu atap untuk TBC dan HIV.3


tantangan

Beberapa tantangan yang mungkin akan dihadapi:


Stigma dan Diskriminasi

Individu yang menderita TB-HIV sering menghadapi pandangan negatif dari masyarakat, yang dapat menghalangi mereka dalam mencari perawatan medis dan dukungan sosial.


Keterbatasan Sumber Daya

Keterbatasan dalam anggaran, peralatan medis, obat-obatan, dan tenaga medis yang terlatih dapat menghambat kemampuan untuk memberikan layanan yang memadai kepada penderita TB-HIV.


Kesulitan dalam Diagnosis Dini

Tantangan dalam mendiagnosis TB-HIV secara dini karena gejala awal yang tidak spesifik dan keterbatasan akses terhadap uji laboratorium yang diperlukan.


Koordinasi Lintas Sektor yang Lemah

Kurangnya koordinasi yang efektif antara sektor-sektor seperti kesehatan, pendidikan, dan sosial dapat menghambat efektivitas program pencegahan dan pengobatan TB-HIV.

 


UPAYA ANTISIPATIF APA YANG PERLU DIAMBIL UNTUK MENGHADAPI TANTANGAN DIATAS? 


Penyuluhan dan Advokasi

penyuluhan
Melakukan kampanye penyuluhan dan advokasi untuk mengurangi stigma, meningkatkan kesadaran, dan mendukung penerimaan masyarakat TB-HIV.

Pengembangan Infrastruktur dan Kapasitas

Meningkatkan investasi dalam infrastruktur kesehatan dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia untuk meningkatkan aksesibilitas dan kualitas layanan.


Penguatan Koordinasi

Meningkatkan koordinasi antar sektor dan kolaborasi lintas profesi untuk meningkatkan efisiensi dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi program TB-HIV.


Pengembangan Sistem Monitoring

Menerapkan sistem monitoring dan evaluasi yang efektif untuk memastikan implementasi program yang efisien dan efektif, serta untuk perbaikan berkelanjutan.



APA SAJA SIH PELUANG YANG AKAN DIDAPATKAN?


Perkembangan Teknologi

Kemajuan dalam teknologi medis dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam diagnosis, pengobatan, dan manajemen TB-HIV.


Peningkatan Kesadaran Masyarakat

Kampanye edukasi yang intensif dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang risiko TB-HIV, mengurangi stigma, dan meningkatkan partisipasi dalam upaya pencegahan dan pengobatan.


Dukungan Kebijakan

Dukungan dari kebijakan pemerintah dapat memberikan dorongan untuk meningkatkan akses terhadap dana, infrastruktur, dan sumber daya manusia yang diperlukan untuk mengatasi TB-HIV.


Kolaborasi Profesional: Kolaborasi yang kuat antara berbagai profesional kesehatan dan non-kesehatan dapat memperkuat integrasi layanan dan pendekatan komprehensif dalam penanganan TB-HIV.

 

Dengan mengidentifikasi tantangan, memanfaatkan peluang yang ada, dan mengimplementasikan langkah-langkah antisipatif yang tepat, diharapkan penanganan TB-HIV dapat lebih berhasil dan dapat meningkatkan kualitas hidup penderita serta mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut.


  • Kasus 2: Keselamatan pasien dan petugas kesehatan dalam safety surgery

Keselamatan pasien dan tenaga kesehatan dalam konteks safety surgery adalah tentang memastikan bahwa prosedur bedah dilakukan dengan aman dan efektif, dengan meminimalkan risiko cedera atau komplikasi yang dapat terjadi selama atau setelah operasi. Maka dari itu, model kepemimpinan yang saya ambil adalah model Transactional Leadership. 


Mengapa? 


Karena kepemimpinan transaksional dalam safety surgery melibatkan pengaturan aturan yang ketat, memberikan insentif untuk kepatuhan pada prosedur keselamatan, dan mempromosikan komunikasi yang jelas di antara tim. Dengan memantau kinerja secara teratur dan menggunakan data evaluasi, pemimpin dapat meningkatkan kepatuhan pada checklist keselamatan dan kualitas perawatan kesehatan. Namun, pendekatan ini perlu disertai dengan kemampuan untuk berinovasi dan respons yang fleksibel dalam menghadapi situasi yang kompleks di ruang operasi, guna memastikan keselamatan pasien dan tenaga kesehatan secara menyeluruh.

 

APA SAJA TANTANGAN YANG AKAN DIHADAPI?
 

surgeryKoordinasi dan Komunikasi

Memastikan koordinasi yang efektif antara tim bedah dan tim medis lainnya serta komunikasi yang jelas selama prosedur bedah dapat menjadi tantangan karena kompleksitas dan dinamika situasi di ruang operasi.


Manajemen Risiko

Mengidentifikasi dan mengelola risiko potensial selama prosedur bedah, termasuk risiko infeksi, kesalahan medis, dan komplikasi lainnya, merupakan tantangan yang perlu diatasi.


Teknologi dan Sumber Daya

Memastikan ketersediaan dan penggunaan teknologi terbaru yang mendukung safety surgery, serta manajemen sumber daya seperti peralatan medis dan SDM terlatih, bisa menjadi kendala terutama di lingkungan dengan sumber daya terbatas.

 

UPAYA ANTISIPATIF APA YANG PERLU DILAKUKAN UNTUK MENANGANI TANTANGAN TERSEBUT? 

 

Pengembangan Protokol

Mengembangkan dan mengimplementasikan protokol safety surgery yang komprehensif dan disesuaikan dengan kebutuhan setempat.


Pelatihan dan Pendidikan

Melakukan pelatihan rutin kepada staf medis tentang praktik safety surgery, manajemen risiko, dan penggunaan teknologi baru.


Monitoring dan Evaluasi

Melakukan monitoring terus-menerus terhadap implementasi protokol safety surgery serta melakukan evaluasi secara berkala untuk mengevaluasi keefektifan upaya-upaya yang dilakukan.



APA SAJA PELUANG YANG BISA DIDAPATKAN? 


surgery
Peluang terkait dengan implementasi kepemimpinan transaksional dalam safety surgery termasuk peningkatan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, pengurangan risiko kesalahan manusia, dan peningkatan efisiensi operasional di rumah sakit. Selain itu, dengan memanfaatkan insentif dan penghargaan yang tepat, kepemimpinan transaksional dapat meningkatkan motivasi dan kinerja tim kesehatan. 

Komunikasi yang jelas dan terstruktur juga dapat memperbaiki koordinasi dalam ruang operasi, menyebabkan peningkatan dalam keselamatan pasien dan pengurangan komplikasi pascaoperasi. Dengan memonitor secara teratur dan menggunakan data evaluasi, kesempatan untuk terus memperbaiki dan mengembangkan praktik keselamatan juga menjadi lebih besar.

visit
Dengan mengatasi tantangan ini melalui pendekatan yang proaktif dan memanfaatkan peluang yang ada, keselamatan pasien dan tenaga kesehatan dalam safety surgery dapat ditingkatkan secara substansial. Model kepemimpinan Transactional Leadership berperan penting dalam mengarahkan upaya-upaya ini menuju pencapaian tujuan keselamatan yang lebih tinggi dalam praktik bedah. 

 

 

 KESIMPULAN 


Kepemimpinan ISTJ-A dikenal karena keandalan, ketelitian, dan fokus pada pencapaian tujuan dengan disiplin tinggi. Mereka efektif dalam mengatur struktur dan sistem yang jelas serta memastikan kepatuhan pada aturan dan standar. Meskipun demikian, mereka mungkin kurang fleksibel dalam menghadapi perubahan dan cenderung kurang memperhatikan aspek-aspek emosional dalam kepemimpinan. Kesimpulannya, ISTJ-A adalah pemimpin yang stabil dan terorganisir, namun dapat berkembang dengan memperhatikan adaptasi dan aspek interpersonal dalam kepemimpinan mereka.

 

 



Daftar Pustaka

  1. The 16 MBTI® Personality Types [Internet]. [dikutip 29 Juni 2024]. Tersedia pada: https://www.myersbriggs.org/my-mbti-personality-type/the-16-mbti-personality-types/
  2. Tipe Kepribadian ISTJ: Ahli Logistik MBTI [Internet]. 2024 [dikutip 29 Juni 2024]. Tersedia pada: https://www.simplypsychology.org/istj-personality.html
  3. Petunjuk Teknis Kolaborasi TBC HIV 2023. KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2023; halaman 26.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader