Autokratis tapi Transformasional
Eugene Talentino - 21.P1.0030
KEPRIBADIAN INTJ
Kepribadian INTJ (Introverted, Intuitive, Thinking, Judging) merupakan individu yang memiliki rasa ingin tahu secara intelektual dan sangat haus akan pengetahuan. Pribadi INTJ cenderung menghargai kecerdikan kreatif, rasionalitas yang lugas, dan pengembangan diri. Orang-orang yang memiliki kepribadian ini secara konsisten berupaya meningkatkan kemampuan intelektual dan sering kali didorong oleh keinginan kuat untuk menguasai topik apapun yang menarik minat mereka.
Kepribadian INTJ memiliki kekuatan dalam :
- Pemikiran yang rasional, INTJ dapat mengubah tantangan menjadi peluang untuk mengasah keterampilan berfikir rasional dan memperluas pengetahuan. Dengan pola pikir tersebut, INTJ dapat merancang solusi inventif untuk masalah yang paling sulit.
- Mandiri, kepribadian INTJ adalah orang yang kreatif dan memiliki motivasi diri untuk melakukan sesuatu dengan cara mereka sendiri.
- Bertekad, INTJ dikenal sebagai pribadi yang ambisius dan berorientasi pada tujuan. INTJ tidak akan berhenti sampai mencapai definisi sukses menurut mereka sendiri. Kepribadian ini tidak dikenal mengambil jalan keluar yang mudah sehingga dirasa untuk mencapai kesuksesan adalah menghadapi tantangan secara langsung.
- Rasa penasaran, kepribadian INTJ terbuka terhadap ide-ide baru apabila ide tersebut rasional dan berdasarkan bukti. Secara alami, INTJ sangat tertatik pada sudut pandang yang tidak biasa atau bertentangan.
- Orisinal, kehidupan sehari-hari INTJ kadang memaksakan orang-orang di sekitar mereka untuk mempertimbangan cara baru dalam memandang sesuatu.
Namun, kepribadian INTJ juga memiliki kelemahan dalam :
- Sombong, INTJ memiliki pengetahuan luas, namun mereka tidak sempurna. Kepercayaan diri mereka dapat membutakan mereka terhadap masukan berguna dari orang lain terutama orang-orang yang dianggap rendah secara intelektual.
- Mengabaikan emosi, menurut INTJ, rasionalitas merupakan hal yang sangat penting. INTJ bisa menjadi tidak sabar terhadap siapapun yang tampaknya lebih menghargai perasaan daripada fakta.
- Terlalu kritis, INTJ cenderung memiliki pengendalian diri yang tinggi, terutama dalam hal pikiran dan perasaan. Ketika orang lain gagal untuk menyesuaikan diri, INTJ dapat terlihat dangat kritis. Namun, kritik ini mungkin tidak adil karena didasarkan pada standar sewenang-wenang dan bukan pemahaman penuh tentang sifat manusia.
- Socially Clueless, rasionalitas INTJ menyebabkan frustasi dalam kehidupan sosial mereka. Upaya mereka untuk menentang ekspektasi mungkin membuat mereka merasa terisolasi atau terputus dari orang lain. Terkadang, kepribadian ini mungkin menjadi sinis terhadap nilai hubungan.
MODEL KEPEMIMPINAN INTJ
Dengan adanya kekuatan dan kelemahan dalam kepribadian INTJ, model-model kepemimpinan yang relevan dengan kepribadian ini adalah,
- Kepemimpinan Tranformasional, kepemimpinan yang berfokus pada menginspirasi dan memotivasi tim untuk mencapai hasil yang luar biasa. Pemimpin transformasional sering memiliki visi yang jelas untuk masa depan dan mampu mengkomunikasikannya dengan efektik. Sesuai dengan kecenderungan INTJ untuk berpikir strategis dan memotivasi orang lain menuju visi jangka panjang.
- Kepemimpinan Strategis, INTJ sering dikenal sebagai pemikir strategis yang hebat. Kepemimpinan strategis melibatkan perencanaan jangka panjang, analisis mendalam, dan pengambilan keputusan berdasarkan data dan bukti. Pemimpin strategis berfokus pada pengembangan dan pelaksanaan rencana yang memaksimalkan peluang dan meminimalkan risiko.
- Kepemimpinan Visioner, pemimpin visioner memiliki kemampuan untuk melihat kemungkinan masa depan dan menginspirasi orang lain untuk mengikuti visi tersebut. Pemimpin visioner cenderung inovatif dan berpikiran maju, yang sesuai dengan INTJ yang sering memiliki visi unik dan kreatif tentang masa depan.
- Kepemimpinan Autokratis, meskipun kepemimpinan autokratis bisa terlihat negatif, dalam beberapa situasi, gaya ini bisa efektif. INTJ cenderung tegas dan yakin dalam pengambilan keputusan mereka, yang bisa membuat mereka cocok untuk situasi di mana diperlukan keputusan cepat dan tegas.
- Kepemimpinan Berbasis Data, kepemimpinan berbasis data melibatkan pengambilan keputusan berdasarkan analisis data dan fakta. INTJ yang analitis dan logis akan unggul dalam gaya kepemimpinan ini, karena mereka cenderung membuat keputusan yang informatif dan berdasarkan bukti.
- Kepemimpinan Berbasis Proyek, INTJ seringkali unggul dalam manajemen proyek karena mereka dapat melihat gambaran besar sekaligus memperhatikan detail-detail penting. Kepemimpinan berbasis proyek berfokus pada penyelesaian tugas-tugas tertentu dalam jangka waktu tertentu dengan efisiensi tinggi.
CARA INTJ MEMIMPIN PADA FASILITAS KESEHATAN
Kasus Penanganan TB-HIV
Berdasarkan kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam kepribadian INTJ, model kepemimpinan yang akan diambil pada kasus penanganan TB-HIV adalah kepemimpinan autokratis. Model kepemimpinan ini diambil dikarenakan situasi TB-HIV memerlukan tindakan cepat dan tegas. Selain itu, kepemimpinan autokratis dapat menjadi sangat efektif karena arahan yang diberikan jelas dan dapat mengatasi hambatan dengan cepat. Pada pelaksanaan penanganan TB-HIV, kegiatan yang difokuskan mencakup,
- Advokasi, Pada kegiatan advokasi akan diadakan kegiatan dengan cara yang terstruktur, efisien, dan berfokus pada hasil. Dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran publik dengan kampanye menggunakan media massa tertuju kepada masyarakat yang paling membutuhkan informasi dan intervensi.
- Penguatan tim, Penguatan tim diawali dengan adanya rekrutmen dan seleksi dalam pemilihan anggota tim sesuai berdasarkan keahlian, pengalaman, dan rekam jejak yang relevan dengan penanganan TB-HIV. Selain rekrutmen, pelatihan dan pengembangan kapasitas dalam tim dilakukan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan anggota tim dalam penanganan TB-HIV. Kemudian melakukan pembagian tugas dalam tim dan menerapkan komunikasi serta koordinasi yang efektif.
- Koordinasi lintas sektor, Pada koordinasi lintas sektor, diperlukan pembangunan kemitraan yang strategis dengan mengidentifikasi organisasi yang dapat berkontribusi dalam penanganan TB-HIV serta memastikan komitmen dan tanggung jawab yang jelas. Kemudian, dilakukan pertemuan dan rapat koordinasi reguler dengan memberi arahan kepada mitra terkait, menetapkan prioritas dan upaya terfokus kepada tujuan utama, serta mendelegasikan tugas dan tanggung jawab yang jelas kepada berbagai sektor dan memantau pelaksanaannya secara ketat.
- Kolaborasi interprofesional, Pada kolaborasi interprofessional, dapat dilakukan penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang mencakup peran dan masing-masing profesi dalam penanganan TB-HIV. Melakukan pengembangan pedoman praktik terbaik berdasarkan bukti ilmiah yang dapat diterapkan oleh semua profesi.
- Monitoring, Monitoring pada penanganan TB-HIV dilakukan dengan menyusun tim khusus yang bertanggung jawab atas kegiatan monitoring dan evaluasi. Kemudian mengoptimalkan penggunaan teknologi untuk memastikan monitoring yang efisien dan akurat. Kemudian melakukan tindakan kolektif segera berdasarkan temuan monitoring untuk memastikan kontinuitas dan peningkatan program.
- Evaluasi, Melakukan penetapan indikator kinerja utama dari seluruh aspek program penanganan TB-HIV seperti, tingkat kesembuhan, kepatuhan pengobatan, dan deteksi kasus. Kemudian mengumpulkan dan menganalisis data kuantitatif dan kualitatif untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang kinerja program. Melakukan evaluasi proses (menilai efektivitas dan efisiensi proses operasional, termasuk alur kerja, distribusi sumber daya dan kolaborasi antar tim) dan hasil (mengevaluasi hasil akhir program, seperti tingkat penurunan kasus TB-HIV, tingkat keberhasilan pengobatan, dan dampak pada kualitas hidup pasien). Setelah mengevaluasi, akan dilakukan pemberian umpan balik pada pemangku kepentingan (tenaga kesehatan yang berkaitan) dan melakukan pelaporan dan dokumentasi.
Tantangan yang mungkin muncul dalam penanganan TB-HIV oleh pemimpin INTJ pada model kepemimpinan autokratis adalah
- Kurangnya partisipasi dan komitmen tim akibat kurang melibatkan anggota tim dalam proses pengambilan keputusan.
- Resistennsi terhadap perubahan akibat dari keputusan diambil oleh pemimpin dan tim merasa “terpaksa” untuk mengikuti tanpa konsultasi dengan tim.
- Keterbatasan kreativitas dan inovasi akibat keputusan hanya dibuat oleh pemimpin tanpa input dari anggota tim yang memiliki ide berharga.
- Komunikasi satu arah dapat mengurangi arus informasi balik yang juga penting untuk penyesuaian strategi dan kinerja.
Namun, peluang yang dapat ditemukan dalam kepemimpinan ini juga ada beberapa yaitu
- Keputusan cepat dan efisien pada kondisi darurat dan krisis seperti penanganan TB-HIV merupakan hal yang sangat penting.
- Implementasi kebijakan yang konsisten karena terdapat standar yang tinggi dari control ketat dalam proses pelaksanaan.
- Pengelolaan krisis yang efektif mengurangi kebingungan dan meningkatkan efektivitas penanganan.
Sehingga dapat dilakukan upaya antisipatif untuk menghaadapi tantangan yang ada seperti,
- Meningkatkan partisipasi dan komitmen tim dengan mendelegasikan tugas tertentu pada anggota tim untuk meningkatkan keterlibatan dan tanggung jawab tim. Selain itu, dapat dilaksanakan forum diskusi terbatas sehingga anggota tim dapat menyuarakan pendapat mereka.
- Mengatasi resistensi terhadap perubahan dengan melakukan komunikasi yang efektif untuk mengurangi ketidakpastian dan melibatkan anggota kunci dalam perencanaan perubahan untuk mendapatkan dukungan dari anggota tim.
- Meningkatkan kreativitas dan inovasi dengan melakukan sesi brainstorming disertai dengan program penghargaan guna memberikan apresiasi pada ide-ide inovatif yang diimplementasikan dengan sukses.
- Meningkatkan komunikasi dua arah dengan survei karyawan untuk mengumpulkan umpan balik dari anggota tentang proses dan kebijakan yang ada serta one on one session untuk mendengarkan kekhawatiran dan saran dari anggota tim.
Keselamatan Pasien dan Petugas Kesehatan Dalam Safety Surgery
Pada kasus ini, model kepemimpinan dengan kepribadian INTJ yang dapat digunakan adalah model kepemimpinan tranformasional. Pada model kepemimpinan ini, pemimpin INTJ dapat merumuskan visi jangka panjang yang jelas dan strategis untuk mencapai standar keselamatan yang tinggi dan memastikan bahwa semua prosedur operasi memenuhi standar tersebut. Selain itu, pemimpin INTJ juga dapat memberikan solusi baru dan inovatif untuk masalah yang kompleks. Seperti pada kasus risiko jatuh, pemimpin INTJ akan
- Memberikan visi yang berfokus pada pengurangan risiko jatuh selama dan setelah operasi dengan inovasi menggunakan teknologi monitoring dan peralatan bantuan.
- Memberikan teladan keselamatan dan menetapkan standar yang tinggi bagi tim dengan membangun kepercayaan tim untuk imlementasi protocol keselamatan.
- Memberikan motivasi kepada tim dengan mengkomunikasikan visi secara inspiratif, menjelaskan pentingnya setiap anggota tim dalam mencapai tujuan tersebut dan meningkatkan semangat tim untuk berusaha lebih keras dalam mengurangi risiko jatuh dan mencapai tujuan keselamatan melalui pengakuan dan penghargaan.
- Memberikan stimulasi intelektual dengan mendorong kreativitas tim untuk berpikir kreatif dalam menemukan cara baru untuk mencegah jatuhnya pasien. Serta menggunakan data dan analisis untuk mengidentifikasii faktor risiko dan mengembangkan strategi pencegahan yang efektif.
- Memberikan pelatihan dan pengembangan dengan menyediakan pelatihan yang sesuai dan dukungan pengembangan profesional untuk anggota tim agar mereka dapat berkontribusi secara maksimal dalam upaya keselamatan. Serta melakukan mentoring personal dengan memberikan bimbingan dan dukungan individu untuk membantu anggota tim mengatasi tantangan dan meningkatkan keterampilan mereka dalam mencegah pasien jatuh.
Dalam kepemimpinan ini akan dihadapi beberapa tantangan, namun pasti terdapat upaya antisipatif untuk setiap tantangan tersebut seperti,
- Resistensi terhadap perubahan dalam protokol keselamatan karena sudah terbiasa dengan kebiasaaan lama atau ketidakpastian terhadap efektivitas perubahan. Dapat diupayakan adanya komunikasi efektif (jelas dan persuasif) untuk menjelaskan manfaat dari perubahan dan bagaimana hal tersebut akan meningkatkan keselamatan pasien. Selain itu, dapat dilaksanakan pelibatan tim dalam proses perencanaan dan implementasi untuk mendapatkan dukungan tim.
- Keterbatasan sumber daya berupa anggaran dan sumber daya lain dapat menghambat implementasi teknologi baru atau program pelatihan yang diperlukan untuk pencegahan jatuh. Hal tersebut dapat diantisipasi dengan adanya pengelolaan sumber daya efektif dengan mengalokasikan sumber daya dengan bijaksana dan mencari alternatif yang lebih ekonomis. Serta dapat mencari pendanaan tambahan melalui hibah atau sponsor untuk mendukung inisiatif keselamatan.
- Kompleksitas proses implementasi protokol keselamatan yang membutuhkan koordinasi ketat. Dapat diantisipasi dengan adanya rencana implementasi yang detail dan melaksanakan pemantauan pelaksanaan secara berkala serta melakukan penyesuaian jika diperlukan.
- Kesenjangan kompetensi akibat terdapat perbedaan penerapan protocol keselamatan yang baru. Dapat diantisipasi dengan menyediakan pelatihan yang komprehensif dan berkelanjutan untuk semua anggota tim. Serta menerapkan program mentoring untuk membantu anggota tim yang kurang berpengalaman.
Selain tantangan, dalam kepemimpinan untuk kasus risiko jatuh pada safety surgery juga terdapat peluang yaitu :
- Peningkatan kualitas perawatan pasien dan mengurangi insidensi jatuh pada pasien. Hal tersebut dapat diperoleh dari adanya evaluasi berkelanjutan dan memperhatikan feedback dari pasien.
- Peningkatan moral dan kepuasa kerja, tim yang merasa bekerja dalam lingkungan yang aman dan didukung oleh kepemimpinan yang kuat akan memiliki moral dan kepuasan kerja yang lebih tinggi. Ditunjukkan melalui adanya pengakuan dan penghargaan kepada anggota tim serta menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dengan adanya komunikasi.
- Inovasi dan pembelajaran berkelanjutan bagi tim dalam mengembangkan teknik dan prosedur keselamatan yang dapat diadopsi oleh institusi lain. Dapat dicapai dengan melakukan riset dan pengembangan terhadap protokol yang sudah dijalankan saat ini, kemudian melakukan kolaborasi interdisipliner untuk mengembangkan solusi iniovatif.
KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa kepribadian INTJ dengan segala kekuatan maupun kelemahan pada pribadinya dapat menjadi pemimpin dengan model kepemimpinan yang bermacam-macam. Model kepemimpinan yang akan digunakan dapat menyesuaikan dengan kasus atau masalah yang sedang dihadapi oleh pemimpin INTJ. INTJ memang lebih suka melakukan segala sesuatunya sendiri, tetapi bekerja dengan orang lain juga bisa dilakukan oleh pemimpin INTJ. Meskipun dalam model kepemimpinan autokratis, INTJ tidak akan meninggalkan timnya begitu saja, pemimpin INTJ akan tetap mengawasi serta membantu secara detail jalannya program untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pada model kepemimpinan transformasional, pemimpin INTJ memiliki potensi besar untuk meningkatkan mutu dalam pencegahan risiko jatuh dengan visi dan inovasi yang ia kembangkan bersama dengan timnya.
DAFTAR PUSTAKA
- The 16 MBTI® Personality Types [Internet]. [dikutip 5 Juli 2024]. Tersedia pada: https://www.myersbriggs.org/my-mbti-personality-type/the-16-mbti-personality-types/
- Bass BM. From transactional to transformational leadership: Learning to share the vision. Organizational Dynamics. 1990;18(3):19-31.
- Kotter JP. Leading Change. Harvard Business Review Press; 1996.
- Avolio BJ, Yammarino FJ. Transformational and Charismatic Leadership: The Road Ahead 10th Anniversary Edition. Emerald Group Publishing Limited; 2013.
- Robbins SP, Judge TA. Organizational Behavior. 15th ed. Pearson Education Limited; 2013.
- Yukl G. Leadership in Organizations. 8th ed. Pearson; 2013.
- Amabile TM. How to kill creativity. Harvard Business Review. 1998;76(5):77-87.
- Goleman D. Leadership That Gets Results. Harvard Business Review. 2000;78(2):78-90.




Komentar
Posting Komentar