INFP DALAM KEPEMIMPINAN





Re Ullan Febronia Josefan Oni

21.P1.0026

                                                                                   Idealist sebagai seorang pemimpin


The purpose of the MBTI is not to put you in a box but to help you with your self-discovery by understanding the lens through which you see the world

                                                   ~Bryce C. Catherine~


1. Konteks dan latar belakang personal

Sebelum kita membahas bagaimana cara INFP menjadi seorang pemimpin, mari kita bedah apa arti dari INFP sendiri yuk!~


I - Introversi sendiri adalah konsep yang menunjukkan dari mana kita cenderung mendapatkan energi. Orang yang memiliki kecenderungan introversi lebih fokus pada dunia internal mereka. Mereka merasa lebih nyaman dan mendapatkan energi dari menghabiskan waktu untuk diri sendiri, daripada berinteraksi dengan orang lain. Bagi mereka, waktu sendirian adalah saat yang penting untuk merefleksikan diri, memproses pemikiran, dan mengisi ulang energi dan mereka lebih suka lingkungan yang tenang dan tidak terlalu ramai, di mana mereka bisa merasa tenang dan tidak terganggu oleh banyak rangsangan eksternal. Inilah yang membuat mereka merasa lebih berenergi dan siap menghadapi aktivitas sehari-hari.


N- intuisi yang dimaksud sebagai persepsi yang menunjukkan bagaimana seseorang cenderung mengumpulkan informasi. Individu yang mengutamakan intuisi cenderung konseptual dan fokus pada pola, makna, serta potensi masa depan. Mereka lebih suka memahami masalah melalui pemikiran daripada pengalaman langsung, dan lebih memilih melihat gambaran besar dibandingkan detail faktual. Seringkali, mereka tertarik pada berbagai kemungkinan tanpa harus menerapkannya secara nyata.


F- singkatan dari Feeling, merupakan fungsi yang menggambarkan bagaimana seseorang membuat keputusan. Individu yang lebih suka menggunakan perasaan dalam pengambilan keputusan cenderung fokus pada nilai-nilai yang berpusat pada orang lain. Walaupun mereka termotivasi oleh hasil subjektif, seperti mempertimbangkan dampak keputusan mereka terhadap kesejahteraan orang lain, ini tidak berarti bahwa keputusan mereka tidak rasional; sebaliknya, mereka lebih menekankan nilai-nilai subjektif dibandingkan dengan individu yang mengutamakan pemikiran logis.


P- berarti Perceiving. Huruf ini menunjukkan apakah seseorang memiliki sikap menilai atau mempersepsi terhadap dunia luar. Individu yang lebih menyukai sikap mempersepsi senang mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang dunia luar; mereka cenderung berfungsi paling baik ketika mereka dapat mengambil pendekatan yang fleksibel, mudah beradaptasi, dan spontan terhadap lingkungan mereka.



2. model kepemimpinan yang relevan


Meta Leadership sendiri memiliki 3 dimensi yaitu person, situation dan juga connectivity. yang kemudian akan kita bahas masing masing peran MBTI kita yaitu INFP dalam konsep meta leadership ini seperti :


  • Person : Sebagai pemimpin kedepannya, kita INFP dapat lebih menggunakan karakteristik kepribadian kita untuk lebih memahami kepribadian tiap individu anggotanya yang akan membantu dalam proses pengambilan keputusan dan tugas tugas yang akan dilakukan dalam organisasi atau tim.

  • situation : Pemimpin dengan tipe kepribadian dan karakteristik INFP, dapat menggunakan karakteristiknya untuk memahami dan mengarahkan keputusan dalam berbagai kondisi yang mana akan melibatkan adaptasi dari strategi kepemimpinan sesuai dengan situasi yang dapat selalu berubah-ubah.

  • Connectivity : dengan kepribadian INFP, untuk mencapai tujuan bersama sebagai seorang pemimpin dapat menggunakan karakteristik kepribadiannya untuk membangun dan memelihara hubungan yang kuat antara individu, kelompok, dan organisasi. Sehingga dapat memfasilitasi kolaborasi antar lintas organisasi, dan mempromosikan akan pentingnya jaringan dan hubungan dalam mencapai tujuan bersama.

 

dalam beberapa hal diatas telah dijelaskan bagaimana INFP bertindak sebagai pemimpin dalam kepemimpinan Meta Leadership yang mana pastinya akan memiliki beberapa kekurangan seperti lambat dalam pengambilan keputusan, kepribadian INFP cenderung mempertimbangkan berbagai nilai dan sudut pandang sebelum membuat keputusan, yang kadang-kadang dapat memperlambat proses pengambilan keputusan dalam situasi yang mungkin saja akan memerlukan respon yang cepat, Kesulitan dalam menghadapi konflik, Karena kecenderungan untuk menghindari konflik, INFP mungkin menemui kesulitan dalam mengelola atau menghadapi ketegangan interpersonal atau konflik yang muncul di antara anggota tim atau antar kelompok. beberapa hal yang mungkin dapat menjadi keterbatasan MBTI kita sebagai pemimpin tapi tentu saja dapat kita hindari jika kita lebih sadar akan kekurangan kita masing masing dan berusaha dan belajar untuk berubah.


3.Aplikasi Model Kepemimpinan Untuk Faskes Tingkat Pertama Untuk Kegiatan Lintas Program Penanganan TB-HIV


Kepemimpinan Meta-Leadership yang menekankan pada tiga dimensi utama yaitu person, situation, dan connectivity, Mari kita aplikasikan dalam mengelola program TB-HIV 

  • Person:

Dalam dimensi ini kita dapat mempelajari dan menerapkan pemahaman diri.Pemimpin harus memiliki kesadaran diri yang kuat mengenai kekuatan dan kelemahan mereka. Misalnya, pemimpin harus mengetahui bagaimana empati mereka bisa membantu dalam memberikan dukungan kepada pasien TB-HIV. dan dapat melakukan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan manajemen diri dan pengambilan keputusan di bawah tekanan.

  • Situation:

Dalam dimensi situasi kita dapat memahami konteks lokal penanganan TB-HIV, seperti prevalensi penyakit dan ketersediaan sumber daya dan Menyesuaikan pendekatan kepemimpinan sesuai dengan dinamika yang berubah, seperti perubahan dalam kebijakan kesehatan atau wabah baru.

  • Connectivity:

dalam dimensi konektivitas kita membangun jaringan dengan pemangku kepentingan, seperti pemerintah dan komunitas lokal. dan mengintegrasikan upaya dari berbagai program kesehatan untuk memastikan pendekatan yang holistik.

F. Menguraikan Kegiatan Pelaksanaan Penanganan TB-HIV

Berikut ini merupakan jenis jenis tugas yang dapat dilakukan berbagai divisi dalam kegiatan pelaksanaan penanganan TB-HIV

  • Advokasi:

Melibatkan pemangku kepentingan dalam kampanye kesadaran dan juga dapat mendorong dukungan kebijakan melalui dialog dengan pembuat kebijakan.

  • Penguatan Tim:

dapat menyelenggarakan pelatihan rutin dan seminar mengenai cara penularan, dampak dan bahaya dari TB-HIV sehingga  dapat meningkatkan kesadaran akan bahaya dari TB-HIV

  • koordinasi Lintas Sektor

dalam koordinasi lintas sektor dapat diadakan pertemuan lintas sektor secara berkala dan mengembangkan rencana aksi bersama.

  • Kolaborasi Interprofesional:

Untuk kolaborasi interprofesional dapat dibentuk tim kerja multidisiplin dan pelatihan bersama serta diskusi kasus.

  • Monitoring dan Evaluasi:

Untuk monitoring dan evaluasi dapat dilakukan pengembangkan sistem dan pengumpulan data yang terintegrasi serta harus dilakukan evaluasi dan umpan balik secara berkala.

Dengan menerapkan pendekatan ini, fasilitas kesehatan tingkat pertama dapat memastikan penanganan TB-HIV yang terkoordinasi, efektif, dan berkelanjutan, yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil kesehatan bagi pasien dan komunitas.

      J. Tantangan dan Peluang Yang Mungkin Terjadi dan Upaya Antisipasi

Orang : Tantangan  yang mungkin terjadi yaitu kesadaran diri yang kurang dan kurangnya Empati sementara peluang yang didapat yaitu pengembangan keterampilan dan peningkatan dukungan pasien.Upaya antisipasi yang dapat dilakukan yaitu pelatihan kesadaran diri dan pengembangan keterampialn pengambilan keputusan di bawah tekanan.

Situasi : Tantangan  yang mungkin terjadi yaitu FKTP mungkin menghadapi situasi yang berbeda-beda, termasuk prevalensi TB-HIV dan ketersediaan sumber daya yang tidak merata. dan kebijakan kesehatan yang berubah-ubah dapat mempengaruhi pendekatan dalam penanganan TB-HIV. Peluangnya yaitu  kesempatan untuk menyesuaikan pendekatan kepemimpinan sesuai dengan kondisi lokal dan dinamika yang berubah. dan upaya antisipasi yang dapat dilakukan yaitu melakukan analisis situasi secara berkala untuk memahami dinamika lokal.menyediakan pelatihan tentang cara beradaptasi dengan perubahan kebijakan dan situasi.

Konektivitas :  Tantangan  yang mungkin terjadi yaitu kesulitan dalam membangun dan memelihara hubungan yang efektif dan kurangnya koordinasi antara berbagai program kesehatan. Peluangnya yaitu kesempatan untuk membangun jaringan yang kuat dengan pemerintah, komunitas, dan organisasi lain. upaya antisipasi dengan mengadakan pertemuan lintas sektor secara berkala untuk membahas dan mengkoordinasikan upaya penanganan TB-HIV

Kegiatan Pelaksanaan Penanganan TB-HIV

Advokasi dapat dilakukan kampanye kesadaran dan mendorong dukungan kebijakan melalui dialo dengan pembuat kebijakan.

Penguatan Tim dapat menyelenggarakan pelatihan dan seminar rutin mengenai penularan, dampak, dan bahaya TB-HIV dan meningkatkan kesadaran staf kesehatan akan cara penanganan TB-HIV.

Koordinasi lintas sektor dapat diadakan pertemuan lintas sektor secara berkala.dan mengembangkan dan melaksanakan rencana aksi bersama

Kolaborasi Interprofesional dapat dibentuk tim kerja multidisiplin dan pelatihan bersama dan diskusi kasus untuk meningkatkan pemahaman bersama.

Monitoring dan Evaluasi dapat mengembangkan sistem pengumpulan data yang terintegrasi dan melakukan evaluasi dan umpan balik secara berkala.

4. Aplikasi Model Kepemimpinan untuk fasilitas kesehatan Tingkat Lanjut Untuk Peningkatan mutu

K. Model Kepemimpinan untuk Keselamatan Pasien dan Keselamatan Tenaga Kerja

  • Person: Pemahaman Diri dalam Keselamatan

Keselamatan Pasien:Kesadaran Diri dimana pemimpin harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang peran dan tanggung jawab mereka dalam memastikan keselamatan pasien. Ini termasuk mengenali keterbatasan diri dan mencari masukan dari tim untuk terus meningkatkan praktek keselamatan

Keselamatan Tenaga Kerja: Pemimpin harus memahami bagaimana perilaku dan kebijakan mereka mempengaruhi keselamatan tenaga kerja. Ini mencakup kesadaran akan resiko kesehatan dan keselamatan yang dihadapi oleh staf.

  •  Situation: Memahami Konteks Keselamatan

Keselamatan Pasien: dapat melakukan analisis risiko secara berkala untuk mengidentifikasi potensi bahaya bagi pasien dan menerapkan tindakan pencegahan yang sesuai.

Tenaga Kerja: Melakukan evaluasi lingkungan kerja untuk mengidentifikasi dan mengurangi risiko yang dapat membahayakan tenaga kerja. Ini termasuk ergonomi, penanganan bahan kimia, dan manajemen stres.

  •  Connectivity: Membangun Jaringan Keselamatan

Keselamatan Pasien: Mendorong kolaborasi antar tim medis untuk memastikan praktik keselamatan pasien yang holistik dan terpadu. Misalnya, koordinasi antara dokter, perawat, dan apoteker untuk mencegah kesalahan pemberian obat. dan membangun sistem komunikasi yang efektif untuk berbagi informasi kritis tentang keselamatan pasien secara tepat waktu.

Keselamatan Tenaga Kerja: dapat menjalin hubungan dengan lembaga eksternal seperti badan regulasi keselamatan dan organisasi kesehatan masyarakat untuk memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan dan mendapatkan sumber daya tambahan.

 L. Model Kepemimpinan Berdasarkan Sasaran Keselamatan Pasien “Komunikasi Efektif” Di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut

Kegiatan komunikasi sendiri adalah aktivitas pertukaran ide atau gagasan. Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku manusia. Keberhasilan misi sebuah rumah sakit sangat ditentukan oleh komunikasi setiap petugas, perawat dan dokter sehingga mereka harus memahami dan mengerti bagaimana cara berkomunikasi yang bisa diterapkan di segala situasi. Komunikasi sendiri dapat disebut efektif apabila pesan diterima dan dimengerti sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesan, dan pesan ditindaklanjuti dengan sebuah perbuatan oleh penerima pesan dan tidak ada hambatan untuk hal tersebut. Sebagai seorang pemimpin, sangatlah diperlukan komunikasi yang efektif dikarenakan di FKTL, diperlukan kerjasama yang efektif sebagai kelompok untuk mencapai keberhasilan berupa kesehatan dan kesembuhan pasien yang dapat kita lihat apa saja kriteria yang diperlukan dalam meta leadership dalam mencapai komunikasi yang baik 

  • Person: Pemahaman Diri dalam Komunikasi

Pemimpin yang memahami diri mereka sendiri, termasuk kekuatan, kelemahan, nilai-nilai, dan gaya komunikasi, akan lebih efektif dalam berkomunikasi dengan tim dapat melalui meningkatkan keterampilan komunikasi melalui pelatihan dan feedback dari tim, Gaya Komunikasi yang konsisten dan berempati.

  •        Situation: Memahami Konteks dalam Komunikasi

Pemahaman tentang situasi atau konteks adalah kunci untuk komunikasi yang efektif dalam FKTL seperti analisis konteks kesehatan, penyesuaian komunikasi selama situasi krisis, seperti wabah penyakit, dengan memberikan informasi yang jelas dan tepat waktu.

  •       Connectivity: Membangun dan Memelihara Jaringan

Komunikasi yang efektif juga melibatkan kemampuan untuk membangun dan memelihara hubungan yang baik di dalam dan di luar FKTL seperti untuk membangun kerjasama tim perlu untuk diadakan pertemuan rutin untuk memastikan semua anggota tim mendapatkan informasi yang diperlukan dan memiliki kesempatan untuk menyampaikan masukan dan juga diskusi terbuka untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan bersama. sedangkan untuk hubungan eksternal: dibutuhkan kolaborasi Lintas Sektor dan Mengembangkan jaringan komunikasi dengan profesional kesehatan dari berbagai disiplin ilmu untuk memastikan koordinasi yang baik.

M. Tantangan dan Peluang yang mungkin terjadi

  • Person tantangan yang mungkin didapat yaitu berupa kesadaran diri yang kurang dan pengembangan diri yang terbatas dengan antisipasi berupa Pelatihan Kesadaran Diri dan mencari feedback rutin dari tim untuk membantu memahami kekuatan dan area yang perlu diperbaiki dalam komunikasi mereka.

  • Situation tantangan yang mungkin didapat yaitu komunikasi dalam krisis dan antisipasinya yaitu dilakukanya latihan simulasi untuk mempersiapkan pemimpin dan tim dalam menghadapi situasi darurat.Tantangan dalam Membangun dan Memelihara Jaringan 

  • Connectivity tantangan yang mungkin didapat yaitu kolaborasi yang terbatas dan kurangnya koordinasi dengan antisipasinya yaitu dilakukanya jaringan kolaboratif dengan seperti pemerintah, LSM, dan komunitas, rapat rutin dan diskusi terbuka

5. Kesimpulan

INFP adalah tipe kepribadian MBTI yang berfokus pada introversi, intuisi, perasaan, dan persepsi. Dalam kepemimpinan, INFP dapat efektif menggunakan Meta-Leadership yang terdiri dari tiga dimensi: person, situation, dan connectivity. Ini memungkinkan mereka memahami diri sendiri dan tim, menyesuaikan gaya kepemimpinan dengan situasi yang berubah, serta membangun hubungan yang kuat untuk mengelola program TB-HIV di FKTP. Dengan menerapkan pendekatan ini, fasilitas kesehatan dapat meningkatkan koordinasi, efektivitas, dan keberlanjutan penanganan TB-HIV.


Daftar Pustaka

1.Chea Bryce C. The INFP Book: The Perks, Challenges, and Self-Discovery of an INFP. 2nd ed. 2023
2.Marcus LJ, Dorn BC, Henderson JM. Meta-Leadership: A Primer and 21st Century Leadership Skill. National Preparedness Leadership Initiative, Harvard School of Public Health; 2006.World Health 3.Organization. Collaborative TB/HIV Activities: Guidelines for National Programmes and Other Stakeholders. Geneva: WHO; 2012.
4.Centers for Disease Control and Prevention. TB and HIV/AIDS. Atlanta: CDC; 2020.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WARTA TALENTA PRO PATRIA ET HUMANITATE DI TANAH MINAHASA

INTP-T Sebagai Pemimpin

Logic Champion as a Leader